Jumat, 31 Januari 2014

CINTA ITU MEMBUTAKAN









:: CINTA ITU MEMBUTAKAN..!! ::
[ Buta Mata dan Buta Hati ]

Abu Usaamah Sufyan Bin Ranan

Saudaraku...
Mencintai seseorang terkadang banyak keliru nya dibanding benarnya, dicintai seseorang hanya berdasarkan asas tertentu yang bisa membangun rasa cinta kepada seseorang itu, entah lantaran cantik/tampannya, bisa juga lantaran kaya harta meskipun kerdil hatinya, atau selainya, dan tentu sangat sedikit orang mencintai sesamanya lantaran RabbNya. oleh karena itu Cinta itu terkadang membutakan..!!

Cinta mencintai adalah sesuatu yang lumrah dan sangat manusiawi,
berbicara cinta membuat pelakunya dimabuk kepayang,
berbicara cinta membuat seseorang lupa akan keyakinannya sehingga iya dengan bangganya memurtadkan diri lantaran cinta,
cinta membuat pahit itu menjadi manis,
cinta membuat sakit menjadi sehat, akan tetapi tak mengubah hakikatnya karena semua itu fatamorgana sebuah tipuan yang menjangkiti seseorang yang terkena virus merah jambu.

Saudaraku...
Tentu kita bertanya-tanya kalau sekiranya cinta itu lumrah dan manusiawi lalu kenapa cinta itu buta..?

Manusia saling mencintai adalah sifat manusiawi namun agar tidak jatuh pada kecintaan yang buta butuh pengelolaan cinta dalam diri, butuh manajemen diri dimana kedudukan cinta itu sebenarnya, apakah cinta itu kita kuasai ataukah kita dikuasai cinta sehingga menjadi buta..?

Seseorang yang tidak menguasai cinta alias 'buta' karena cinta hakikatnya adalah ia tidak dalam mencintai dan tidak mengetahui apa definisi cinta itu, sehingga ia terombang ambing tanpa arah mengikuti apa yang seharusnya ia tidak lakukan sehingga jatuh pada lembah atau jurang yang dalam bagaikan orang yang buta akan tetapi ini lebih parah buta mata dan buta hatinya karea cinta.

adapun orang yang menguasai cinta, inilah orang yang tulus dalam cintanya, ia mempunyai prinsip bahwa tak selamanya cinta itu manis, tak selamanya cinta itu suka, dan tak selamanya cinta itu tak berujung, ia mengetahui lia-liku jalan yang mana harusnya ia berbelok dan kapan waktunya ia lurus, itulah orang yang mencintai dengan ketulusan dan itu adalah memandang setiap kecintaanya lantaran RabbNya, lantaran Allah ta'ala rabb yang menguasai alam, Rabb yang al hakim di hari akhir, dan Dia yang akan menghakimi orang-orang yang salah dalam mencinta terlebih cinta berujung pemurtadan dan malapetaka. waiyyadzubillah.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Siapa saja yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Cinta karena Allah adalah prinsip yang kuat, tembok yang kokoh meskipun orang lain mencoba itu mendobraknya, cinta karena Allah adalah kecintaan yang tak bertepi dan tak berujung, inilah prinsip seorang muslim, sebuah prinsip dimana kecintaan yang mendasar berbuah suatu ibadah dan pengokohan iman. wallahu'alam

Minggu, 26 Januari 2014

LEBAY MENILAI SALAFY








:: BERSIKAP "LEBAY" MENILAI SALAFY ::
[ SAVE HANG BATAM]


Saudaraku,
Tahukah anda, apa itu Lebay..?
Adalah sikap yang terdapat pada seseorang dalam hal menyikapi sesuatu yang melampaui batas dari garis finish yang telah ditetapkan, alias berlebihan.

Kita memuji Allah atas tersebarnya Dakwah Tauhida dan Sunnah di Bumi Nusantara ini, meskipun ada halangan serta hambatan dalam dakwah itu adalah hal yang lumrah, suatu hal yang biasa, jangankan kita sebagai makhluk terbelakang lihatlah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pun mengalami pahitnya medan dakwah dan lebih pahit perjuangannya dibanding perjuangan kita, oleh karena itu tidaklah heran terjangan benalu dan anak panah dari arah manapun pasti akan menghadang dakwah yang haq ini karena sudah sunatullah lihatlah wasiat kekasih kita, qudwahserta uswah kita Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Islam awalnya asing dan kelak akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya maka beruntunglah bagi al-Ghuraba' (orang-orang yang asing)." - HR Muslim, no. 145

Asing..? saya tidak mengatakan asingnya seseorang melainkan asingnya Islam, asing terhadap islam dengan kesempurnaannya serta kemurnian agama ini ditengah kebanyakan orang lalai terhadapnya.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mensifatkan mereka yang mengamalkan dienul islam adalah
"Orang-orang shalih yang berada di tengan banyaknya orang-orang yang buruk, orang yang mendurhakai (menentang) mereka lebih banyak daripada mentaati mereka. – HR Ahmad 2/177.

Terbukti..!!

Saat ini adalah saat dimana keterasingan itu terjadi, orang yang mendakwahkan tauhid dianggap menyimpang, mendakwahkan sunnah dianggap salah, lalu apa yang dianggap bener ..? janganlah 'LEBAY' menilai sesuatu wahai saudaraku..!!

Tauhid adalah Tauhid dan sunnah adalah Sunnah, kenapa harus dihujat..?
janganlah 'lebay saudaraku..!!

Salafy dipandang 'mengkafirkan' kaum muslimin, memecah belah persatuan islam, antek yahudi, dan segala unek-unek lainya..!!
janganlah 'lebay' saudaraku..!!

Buktikan dari burhan yang kalian miliki dimana letak pengkafiran terhadap kaum muslimin, sedangkan kami pun dituduh murji'ah [lembek] oleh kaum takfiri.

Buktikan dari burhan yang kalian miliki secara ilmiyyah dimana letak memecah belah barisan kaum muslimin, sedangkan kami berdakwah untuk bersatu diatas tauhid dan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Buktikan dari burhan kalian bahwa kami adalah antek Yahudi sedangkan kami bersikap keras terhadap kaum orang-orang kafir..?

Buktikan..?
Buktikan secara ilmiyyah bukan dengan statement spanduk yang asal ngomong, asal ucap, yang mana jika demikian Anak SD pun bisa melakukan sebagaimana kalian lakukan, bukankah kalian adalah orang-orang yang 'alim, orang orang yang Allah anugerahi dan diberi petunjuk ..?

Bukan dengan kekerasan,!!
Bukan dengan anarkis..!!
jika demikian, maka apa beda antara preman dengan orang berilmu.

TIPS MENCARI calon ISTRI

PRINSIP BAGI ANDA YANG HENDAK MENCARI calon ISTRI :
:: WANITA ITU TIDAK PERLU CANTIK MELAINKAN MENARIK ::
:: KARENA CANTIK BELUM TENTU MENARIK ::


ABU USAAMAH SUFYAN BIN RANAN

Bismillah,
Menjadi suatu fenomena yang menjangkiti para 'pencari istri' bahwa mereka memiliki prinsip yang dikedepankan adalah persoalan 'cantik atau tidak cantik' saking mengedepankan prinsip ini al hasil tidak pernah nikah-nikah, karena selalu pilah pilih, padahal hakikatnya itu tidaklah penting kenapa..?

Ketahuilah saudaraku sesuatu yang terdapat didunia ini akan musnah, begitupun istilah' cantik' pada wanita akan musnah seiring peradaban zaman yang ia lalui, maka cantik itu tidaklah penting dan terkadang 'cantik' itu dipandang berbeda dipandang oleh mata-mata lelaki, oleh sebab itu apa yang hendak dicari untuk memilih Istri agar menghadirkan rasa cinta ..?

Yang dicari adalah bukan kecantikannya, akan tetapi Menarik. Maksudnya adalah bagus akhlaknya, bagus agamanya karena wanita cantik itu belum tentu menarik, wanita cantik belum tentu pandai karena kecantikan itupun berbeda-beda tidak mempunyai standar baku ataupun sertifikat kecantikan, maka kalau sekiranya anda mempersunting calon istri yang ia telah di tazkiyyah akhlaknya, di rekomendasikan kefahaman agamanya jangan ragu dan jangan tengok kanan kiri lagi itulah yang hakikatnya dibutuhkan oleh hamba Allah yang shalih, lelaki yang shalih jika anda merasa lelaki yang baik-baik tentu anda memilih yang baik-baik.

Maka dari itu tekadkan prinsip ini sehingga anda tidak dilabeli 'abu nadzor' terlalu pilah pilih akhirnya tak nikah-nikah, sedangkan wanita setiap tahunnya selalu hadir dan lahir, yang kalau anda hanya mengikuti keinginan dari pada kebutuhan anda tidak akan dapat nikah sampai zaman yang akan menjawabnya, sampai anak bayi perempuan yang hari ini lahir melihat anda 20 tahun yang akan datang masih membujang. wallahul musta'an

BANJIR LAGI, LAGI-LAGI BANJIR










:: ANONIM : "BANJIR LAGI, LAGI-LAGI BANJIR" ::

Abu Usaamah Sufyan Bin Ranan

Saudaraku,
Siapa yang betah mendapatkan musibah yang Allah berikan dengan rahmatnya kepada kita..?
Siapakah yang ingin memilih musibah sekiranya jika hidup itu sebuah pilihan antara nikmat atau musibah, tentu kita akan memilih nikmat.
Akan tetapi banyaknya nikmat akan membuat kita lalai sehingga sedikit diantara kita mensyukurinya, karena manusia kebanyakan terlebih di akhir zaman ini belum teringat bagaimana mensyukuri nikmat yang telah kita peroleh, coba anda bisa membayangkan desahan nafas, gurihnya lidah mengunyah makanan, sampai indahnya pemandangan yang menyegarkan mata memandang bukankah itu suatu nikmat..?

Akan tetapi diantara kita tidak menganggap itu suatu nikmat, inilah musibah yang mendera manusia yang belum mengerti bagaimana ia mensyukuri nikmat yang semestinya ia sadari, sehingga wajar sekirannya Allah ta'ala mengulang-ulang kalimat dalam QS. Ar Rahman :

"Nikmat Rabbmu yang mana lagi, yang engkau dustakan???"

Inilah ayat yang semestinya menjadikan renungan bagi kita yang sebenarnya tidak perlu risau akan datangnya musibah sekecil musibah BANJIR meskipun mayoritas manusia mengeluh, namun bagi kita ini adalah musibah kecil lantaran telah banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita akan tetapi kita tidak mensyukurinya, sehingga menganggap musibah sekecil banjir adalah musibah yang besar laksana air laut menghantam rumahnya sehingga diantara kita sering berkata "BANJIR LAGI, LAGI-LAGI BANJIR". wallahulmusta'an

Oleh karena itu sudah semestinya kita sebagai seorang muslim, harus menyadari sudah ribuan bahkan tak terhingga nikmat yang Allah berikan kepada kita, kalaulah ada musibah yang mendatangi kita maka anggaplah itu rasa cinta Allah kepada kita untuk menghapus dosa-dosa kita yang sudah tertutup awan hitam agar kembali cerah dengan kecerahan sinar yang menghapus kehtaman awan menjadi cerah membiru.

Bukankah Allah ta'ala telah menyampaikan kepada kita lewat firmannya :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”. (Terj QS. Al-Baqaroh : 155-157).

Lihatlah sedikit ketakutan, sedikitnya musibah Allah berikan kepada kita, akan tetapi kita menganggap itu suatu musibah besar sampai menjadi agenda atau program Gubernur yang harus dan mesti diatasi, kalaulah kita mencoba mensyukuri nikmat yang sebelumnya Allah telah berikan kepada kita, dengan beribadah kepadanya [tidak melakukan acara-acara pengundang murka,], tawakal kepadanya [dengan tidak menyalahkan hujan sebagai penyebab banjir] makainsya Allah kita menjadi salah satu orang yang menjadikan musibah menjadi pahala, dosa terhapus lantaran sebab musibah tersebut atas ijin Allah. wallahu'alam

Rabu, 22 Januari 2014

LAKSAMANA TNI DUKUNG RADIO HANG FM BATAM





JAKARTA (gemaislam) – Usaha untuk menutup radio Hang Fm Batam terus dilakukan oleh sebagian kelompok masyarakat. Setelah menggunakan cara damai dimentahkan oleh pihak Kementrian Agama dan KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) Batam, orang-orang yang kontra terhadap dakwah Salafiyah ini menggunakan cara-cara kasar, seperti demonstrasi bahkan disertai ancaman-ancaman.

Ditengah merebaknya isu yang dihembuskan oleh para pendengki radio Hang, perwira tinggi TNI malah mendukung radio pertama dakwah salafiyah di Indonesia ini.

“Bagi saya, radio Hang sangat membawa manfaat sekali, saya mendapati betapa indahnya Islam dari radio ini,” kata Komandan GUSKAMLABAR (Gugus Keamanan Laut Armada Kawasan Barat) Laksamana TNI Harjo Susmoro, S.Pi, S.Sos, SH, MH dalam acara Talk Show Tokoh dan Profil bersama radio Hang FM Selasa malam (21/1).

Berbeda dengan oknum yang mengatasnamakan kaum muslimin Batam, mantan Danlanal Cirebon ini justru mendapati radio Hang FM tidak pernah menyampaikan dakwah secara kasar.

“Saya sering mendengar radio ini dan belum pernah mendapati isi dakwahnya keras, justru malah sangat menganjurkan untuk berakhlak baik dan santun,” katanya.

Meski demikian, suami dokter Tita Komara ini berpendapat, jika ada ustadz radio Hang yang pernah salah berbicara sebaiknya dinasehati dengan baik.

“Apabila ada ustadz yang keseleo berbicara maka sebaiknya datang dan dinasehati dengan baik, Rosulullah kan mengajarkan demikian,” ujarnya. (bms)

SUMBER : gemaislam.com

Kamis, 09 Januari 2014

AUTIS TANPA SADAR









:: AUTIS TANPA SADAR ::
ANTARA KEBUTUHAN ATAU GAYA HIDUP..?


Abu Usaamah Sufyan Bin Ranan

Manusia seolah ditaqdirkan sebagai makhluk yang konsumtif, terlebih pada era zaman modrn saat ini, betapa banyak barang-barang menggugah selera pada semua lini misalkan saja pernak-pernik yang diinginkan oleh wanita, Gadget yang membuat orang autis, kendaraan yang kian hari kian canggih dngan bermacam-macam bentuknya dan sejenisnya.

Sepertinya manusia zaman ini sudah dibuat Autis oleh barang-barang mewah, terbaru, update dan segaka istilah lainya, mereka berprinsip "tak apalah rumah masih kontrak yang penting penampilan gadgetku banyak".

Maka pilihlah antara Kebutuhan atau Gaya Hidup..?
Jika anda tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan gaya hidup maka dikhawatirkan anda menjadi autis terhadap barang-barang terbaru, anda menjadi tersibuki dalam dunia style yang tidak ada habisnya.

Kalaulah anda sudah mempunyai Handphone yang anda butuh hanya telp dan sms saja, maka buat apa anda membeli i-phone, blackberry dan sekelasnya maka ketahuilah itu adalah gaya hidup.

Kalaulah anda telah mempunyai motor sebagai kendaraan meskipun usianya sudah lanjut namun tetap bisa jalan, maka buat apa anda membeli motor sport, atau bergelya mengambil motor terbaru meskipun kredit, ini sudah gaya hidup buat apa membeli yang semestnya sudah memiliki.

Kalaulah anda telah memiliki apapun barangnya yang mana sudah mencukupi kebutuhan anda, knapa anda membeli barang yang sama meskipun itu mewah dan berkelas maka anda sudah digandrungi oleh lifestyle yang mebuat anda autis.

Bukankah Allah ta'ala telah memperingatkan kita :

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Ter. QS. Al Isro’ [17]: 26-27).

maksud tabdzir disini adalah sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbas “Tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan harta untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan [keliru].”

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

"Allah murka jika kalian tersibuki [di autiskan] dengan desa-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.”

Maka dari itu belilah barang sesuai dengan kebutuhan, pada prinsipnya "Dahulukan kebutuhan dari pada gaya hidup, jika kebutuhan itu telah terpenuhi dan anda ingin mengharapkan lebih dari itu maka itulah gaya hidup, maka hindarilah"

Kalau anda mempunyai HP hanya untuk tlp n sms maka jangan membeli HP Smartphone.
Kalau anda mempunyai motor untuk berkendara meskipun butut namun bisa jalan maka buat apa anda nekat beli baru meskipun itu cash apalagi kredit.
Kalau anda telah mempunyai Tas hanya sekedar menaruh barang saat berpergian maka buat apa anda membeli tas yang harganya jutaa'an sedangkan fungsinya sama.

maka pilihlah kebutuhan bukan gaya hidup..!!

Jumat, 03 Januari 2014

SIAPA YANG BERHAK BERPOLITIK ? DAN KAPAN ?













SIAPA YANG BERHAK BERPOLITIK ? DAN KAPAN ?

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani


Menyibukkan diri dengan politik pada saat ini adalah membuang-buang waktu ! Meskipun kami tidak mengingkari adanya politik dalam Islam, hanya saja dalam waktu yang sama kami meyakini adanya tahapan-tahapan syar'i yang logis yang harus dilalui satu per satu.

Kami memulai dengan aqidah, yang kedua ibadah, kemudian akhlak, dengan mengadakan pemurnian dan pendidikan, kemudian akan datang suatu hari dimana kita pasti masuk dalam fase politik secara syar'i, karena berpolitik berarti mengatur urusan-urusan umat. Dan yang mengatur urusan-urusan umat ? Bukanlah Zaid, Bakar, ataupun Umar, yang mendirikan kelompok atau memimpin gerakan atau suatu jama'ah !! Bahkan urusan ini khusus bagi ulil amri yang dibaiat di hadapan kaum muslimin. Dia (ulil amri) lah yang diwajibkan mengetahui politik dan mengaturnya. Apabila kaum muslimin tidak bersatu -seperti keadaan kita saat ini- maka setiap ulil amri hanya berkuasa dan memikirkan sebatas wilayah kekuasaannya saja.

Adapun menyibukkan diri dalam urusan-urusan (politik) maka seandainya pun kita benar-benar mengetahui urusan-urusan tersebut, pengetahuan kita itu tidak memberi manfaat kepada kita, karena kita tidak memiliki keputusan dan wewenang untuk mengatur umat. Satu hal ini pun sudah cukup menjadikan usaha kita sia-sia.

Kami akan memberikan suatu contoh : Peperangan yang terjadi melawan kaum muslimin pada kebanyakan negeri-negeri Islam. Apakah bermanfaat jika kita menyulut semangat kaum muslimin untuk menghadapi orang kafir padahal kita tidak memiliki "jihad wajib" yang diatur oleh imam yang bertanggung jawab yang telah dibaiat ?! Tidak ada gunanya perbuatan tersebut. Kami tidak berkata bahwa menolong orang-orang yang tertindas itu tidak wajib, akan tetapi kami mengatakan bahwa menyibukkan diri dengan politik bukan sekarang waktunya. Oleh karena itu, wajib atas kita untuk mengajak kaum muslimin kepada dakwah, untuk memahamkan mereka kepada Islam yang benar dan mendidik mereka dengan tarbiyah yang benar.

Adapun menyibukkan mereka dengan urusan-urusan emosional yang menyentil semangat, maka hal itu termasuk dalam hal-hal yang dapat memalingkan mereka dari kemantapan dalam memahami da'wah yang wajib ditegakkan oleh setiap muslim mukallaf, seperti memperbaiki aqidah, ibadah, dan akhlak. Dan hal itu termasuk fardhu 'ain yang tidak bisa dimaklumi orang yang melalaikannya. Sedangkan urusan-urusan lain yang dinamakan pada saat ini dengan "fiqhul waqi" dan sibuk dengan urusan politik yang merupakan tanggung jawab ahlul halli wal aqdi, yang dengan kekuasaan mereka, mereka bisa mengambil manfaat dari hal yang demikian secara praktek. Adapun sebagian orang yang tidak memiliki kekuasaan, maka mengetahui politik dan menyibukkan mayoritas manusia dengan sesuatu yang penting daripada sesuatu yang lebih penting adalah termasuk sebagai hal-hal yang memalingkan mereka dari pengetahuan yang benar!.

Dan inilah yang kami rasakan sesungguhnya pada kebanyakan dari manhaj kelompok-kelompok dan jama'ah-jama'ah Islam pada saat ini. Dimana kami mengetahui bahwa sebagian mereka berpaling dari mengajari pemuda-pemuda muslim yang berkumpul disekitar da'i itu untuk belajar memahami aqidah, ibadah dan akhlak yang benar. Karena sebagian para da'i itu sibuk dengan urusan politik dan masuk ke parlemen-parlemen yang berhukum dengan selain apa-apa yang Allah turunkan!! Sehingga hal itu memalingkan mereka dari hal yang lebih penting dan mereka sibuk dengan hal-hal yang tidak penting dalam kondisi seperti sekarang ini.

Adapun tentang apa-apa yang termuat dalam pertanyaan yaitu tentang bagaimana seorang muslim berlepas diri dari dosa (tanggung jawab) atau bagaimana seorang muslim berperan serta dalam mengubah kenyataan yang pahit ini, maka kami katakan : Setiap muslim berkewajiban berbuat sesuai dengan kemampuannya masing-masing, seorang ulama mempunyai kewajiban yang berbeda dengan yang bukan ulama. Dan sebagaimana yang saya sebutkan dalam kesempatan seperti ini bahwa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan nikmat-Nya dengan kitab-Nya, dan dia menjadikan Al-Qur'an sebagai undang-undang bagi kaum mukminin. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Artinya : Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahuinya". [Al-Anbiya/21 : 7].

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan masyarakat Islam menjadi dua bagian yaitu orang yang berilmu dan yang bukan berilmu (awam). Dan Allah mewajibkan kepada masing-masing di antara keduanya apa-apa yang tidak Allah wajibkan kepada yang lainnya. Maka kewajiban atas orang-orang yang bukan ulama adalah hendaknya mereka bertanya kepada ahli ilmu. Dan kewajiban atas para ulama adalah hendaknya menjawab apa-apa yang ditanyakan kepada mereka. Maka kewajiban-kewajiban berdasarkan pijakan ini adalah berbeda-beda sesuai dengan perbedaan individu itu sendiri. Seorang yang berilmu pada saat ini kewajibannya adalah berda'wah mengajak kepada da'wah yang hak sesuai dengan batas kemampuannya. Dan orang yang bukan berilmu kewajibannya adalah bertanya tentang apa-apa yang penting bagi dirinya atau bagi orang-orang yang berada dibawah kepemimpinannya seperti istri, anak atau semisalnya. Sehingga apabila seorang muslim dari masing-masing bagian ini menegakkan kewajibannya sesuai dengan kemampuannya, maka dia telah selamat, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". [Al-Baqarah/2 : 286]

Kami -dengan sangat prihatin- hidup ditengah-tengah penderitaan dan kejadian-kejadian tragis yang menimpa kaum muslimin yang tidak ada bandingannya dalam sejarah, yaitu berkumpul dan bersatunya orang-orang kafir memusuhi kaum muslimin, sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti dalam hadits beliau yang dikenal dan shahih.

"Artinya : 'Telah berkumpul umat-umat untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya'. Mereka berkata : Apakah pada saat itu kami sedikit wahai Rasulullah ? Beliau menjawab : 'Tidak, pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit Al-Wahn'. Mereka berkata : Apakah penyakit Al-Wahn itu wahai Rasulullah?. Beliau menjawab :'Cinta dunia dan takut akan mati". [Haadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud (4297), Ahmad (5/287), dari hadits Tsaubah Radhiyallahu anhu, dan dishahihkan oelh Al-Albani dengan dua jalannya tersebut dalam As-Shahihah (958)]

Kalau begitu, maka wajib atas para ulama untuk berjihad dengan melakukan tashfiyah dan tarbiyah dengan cara mengajari kaum muslimin tauhid yang benar dan keyakinan-keyakinan yang benar serta ibadah-ibadah dan akhlak. Semuanya itu sesuai dengan kemampuannya masing-masaing di negeri-negeri yang dia diami, karena mereka tidak mampu menegakkan jihad menghadapi Yahudi dalam satu shaf (barisan) selama mereka keadaannya seperti keadaan kita pada saat ini, saling berpecah-belah, tidak berkumpul/bersatu dalam satu negeri maupun satu shaf (barisan), sehingga mereka tidak mampu menegakkan jihad dalam arti perang fisik untuk menghadapi musuh-musuh yang berkumpul/bersatu memusuhi mereka. Akan tetapi kewajiban mereka adalah hendaknya mereka memanfaatkan semua sarana syar'i yang memungkinkan untuk dilakukan, karena kita tidak memiliki kemampuan materi, dan seandainya kita mampu pun, kita tidak mampu bergerak, karena terdapat pemerintahan, pemimpin dan penguasa-penguasa dalam kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin menjalankan politik yang tidak sesuai dengan politik syar'i, sangat disesalkan sekali. Akan tetapi kita mampu merealisasikan -dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala- dua perkara agung yang saya sebutkan tadi, yaitu tasfiyah (pemurnian) dan tarbiyah (pendidikan). Dan ketika para da'i muslim menegakkan kewajiban yang sangat penting ini di negeri yang menjalankan politiknya tidak sesuai dengan politik syar'i, dan mereka bersatu di atas asas ini (tasfiyah dan tarbiyah), maka saya yakin pada suatu hari akan terjadi apa yang Allah katakan:

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ بِنَصْرِ اللَّهِ

"Artinya : Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah". [Ar-Ruum : 4-5]

almanhaj.or.id
[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia TAUHID, Prioritas dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal 44-51, terbitan Darul Haq, Penerjemah Fariq Gasim Anuz]

SALAFIYYAH DAN POLITIK









SALAFIYAH DAN POLITIK

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilaly


Sesungguhnya Salafiyyah meniadakan untuk uluran apa saja kepada Hizbiyah Siasiyyah (gerakan politik) yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dan bukan sebagai wasilah (perantara), mereka yang berusaha mencapai kekuasaan dengan segala makar, kelicikan dan tipu daya, serta menjadikan Islam sebagai syiar (simbol). Jika mereka telah mencapai apa saja yang diinginkan, merekapun berpaling dari jalan Islam !

Yang demikian itu karena makna politik didalam benak mereka adalah : "Kemampuan memperdaya dan menipu, dan seni membentuk jawaban-jawaban yang bermuatan (politis), serta perbuatan-perbuatan yang mempunyai halusinasi, yang diibaratkan dalam bentuk bejana yang diletakkan didalamnya baik itu warna, rasa dan baunya".

Politik seperti ini dalam pandangan Salafiyyin (mereka yang mengikuti pemahaman Salafus Shalih) serupa dengan kemunafikan ; karena dalam politik seperti ini ada sikap tidak konsisten pada aqidah, mereka mengotori jiwa Islam, merusak keimanan, melepaskan ikatan Al-Wala' (loyalitas) dan Al-Bara' (kebencian), serta menipu kaum muslimin, para dai yang fajir (jahat) tersebut menjadikan politik sebagai tangga saja, mereka menggembor-gemborkan dakwaan untuk menolak kedzaliman, menolong kaum muslimin, meringankan bahaya atau menghilangkan kemungkaran. Dan kami telah melihat kebanyakan mereka itu berubah dan tidak merubah. Dan orang yang berbuat seperti cara mereka, tidak akan keluar dengan selamat dari permainan politik, dan tidak akan kembali dengan kemenangan.

Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa Salafiyyah (dakwah yang menyeru kepada Al Qur'an dan sunnah dengan pemahaman sahabat nabi) tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, tidak memahami keadaan/kondisi mereka, tidak berusaha dengan sunguh-sungguh memulai kehidupan Islam yang berlandaskan kepada Manhaj Nubuwah (ajaran nabi), kemudian setelah itu mewujudkan hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala dimuka bumi, agar agama itu seluruhnya menjadi milik Allah Subhanahu wa Ta'ala tiada sekutu bagi-Nya, agar tersebar keadilan dimana-mana. Oleh karena itu salafiyah menjadikan hal diatas sebagai salah satu dari tujuan-tujuannya, berusaha merealisasikan, beramal untuk mencapainya, serta mengajak kaum muslimin, khususnya para da'i Salafi untuk bersatu diatasnya, agar kalimat mereka satu.

Meskipun demikian, kami melihat sebagian orang yang masih ingusan, menyangka/menuduh bahwasan dakwah salafiyyah pada saat ini tidak ada politik didalam manhajnya ! dia beralasan bahwa memulai kehidupan Islam bukan dari tujuan mereka, yang tercantum pada sampul belakang kitab-kitab mereka.

Sesungguhnya tuduhan ini hanyalah untuk merobohkan dakwah Salafiyyah, sekalipun ia berusaha mengatakan akan mendirikannya, semua itu ia lakukan untuk mengelabui teman-temannya. Dibawah ini ada keterangan yang sepatutnya untuk diketahui:

1. Sesungguhnya memulai kehidupan Islam diatas Manhaj Nubuwah (ajaran nabi) dan menumbuhkan masyarakat Rabbani, dan merealisasikan hukum Allah Azza wa Jalla dimuka bumi adalah hal yang ditegaskan oleh dakwah salafiyah dengan (tiada rasa harap dan takut),
karena dakwah salafiyah akarnya kembali kepada generasi sahabat, dan metodenya adalah dasar-dasar yang telah ditetapkan oleh ulama Rabbani. Manhaj salafiyah dalam merubah adalah seperti para sahabat nabi dan ulama, yaitu dengan mengikuti sunnah bukan berbuat bid'ah. Dan manhaj seperti ini bertolak belakang dengan dakwah-dakwah masa kini yang mendakwahkan telah mendahului dalam segalanya dan dakwah-dakwah ini bagaikan tunas yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi tidak dapat tegak sedikitpun.

2. Sesungguhnya tujuan umum yang ditegaskan dakwah salafiyyah semuanya untuk merubah (kepada yang baik) :


(a). Mengembalikan umat kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman sahabat Nabi , ini adalah merubah kondisi umat.

(b). Membersihkan kotoran yang masih melekat pada kehidupan kaum muslimin berupa kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya. Memperingatkan mereka dari perbuatan bid'ah yang munkar dan pemikiran-pemikiran batil yang masuk, mensucikan sunnah dari riwayat-riwayat yang dha'if dan palsu yang mengotori kebersihan Islam dan menghalangi kemajuan kaum muslimin, ini dalam rangka merubah kondisi umat.

(c). Menyeru kaum muslimin untuk mengamalkan hukum-hukum Islam, berhias dengan keutamaan-keutamaan dan adab-adab agama yang membuahkan ridha Allah didunia dan akhirat, serta mewujudkan kebahagiaan dan kemuliaan bagi mereka : ini juga dalam rangka merubah kondisi umat.

(d). Dan sesungguhnya menghidupkan ijtihad yang benar sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah serta pemahaman sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menghilangkan sikap fanatik madzhab, serta melenyapkan fanatik golongan agar kaum muslimin kembali bersaudara, dan bersatu diatas ajaran Allah Azza wa Jalla sebagai saudara, ini juga merubah kondisi umat.

3. Ini yang pertama, adapun hal lainnya, sesungguhnya tujuan-tujuan itu semuanya untuk memulai kehidupan Islam akan tetapi diatas manhaj Nubuwah (metode nabi), dan penyebutan masalah ini pada pembahasan setelahnya adalah termasuk dalam bab penyebutan hal yang khusus sesudah hal yang umum.

4. Adapun sesudah itu sesungguhnya Salafiyyin menempuh manhaj (metode) perubahan berdasarkan Al-Qur'an
yang tidak terdapat kebatilan didalamnya yaitu firman Allah Azza wa Jalla :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah diri-diri mereka." [ar-Ra'd/13 : 11]

Maka medan perubahan ini adalah jiwa-jiwa manusia agar jiwa-jiwa itu tegak, istiqomah diatas manhaj Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan siap untuk menjadi pemimpin.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berjanji untuk mengokohkan (Islam dan kaum muslimin) tapi dengan syarat mereka mau merubah diri-diri mereka sendiri :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Artinya : Jika kalian menolong Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian." [Muhammad/47 : 7]

Oleh karena itu kami melihat guru kami Syaikh Al-Albani memuji kata-kata yang masyhur dibawah ini :

"Tegakkanlah daulah Islam dalam jiwa-jiwa kalian niscaya daulah Islam itu akan tegak dibumi kalian."

Beliau memuji kalimat tersebut karena sesuai dengan Al Qur'an dalam metode memperbaiki masyarakat bukan lantaran beliau terpengaruh dengan pencetusnya.

Barangkali ada orang yang akan berkata : Sesungguhnya metode "Tasfiyah dan Tarbiyah" (mensucikan dan mendidik) itu tidak jelas. Untuk orang-orang seperti ini telah dikatakan : "Sesungguhnya manhaj ini lebih terang dari matahari akan tetapi terkadang mata mengingkari cahaya matahari karena tertutup dengan debu."

Sesungguhnya manhaj ini adalah metode Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus beliau untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dan melahirkan umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kebaikan serta melarang kemungkaran dan beriman kepada Allah Azza wa jalla.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

"Artinya : Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya pada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (As-Sunnah)." [Al-Jumu'ah/62 : 2]

Sesungguhnya ini adalah ilmu dan tazkiyah (pensucian) dan kita tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan tasfiyah (pemurnian), dan sekali-kali tidak akan bisa mewujudkan pensucian melainkan dengan tarbiyah (mendidik).

Ini adalah pemahaman para pewaris Nabi, umat yang adil, yang mana Allah menyingkapkan kekaburan dengan mereka dan menghilangkan serta menghancurkan kezaliman, sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits yang hasan, yang artinya ; "Ilmu ini akan dibawah oleh orang-orang yang adil, mereka meniadakan penyimpangan orang-orang yangmelampaui batas, melenyapkan orang-orang yang batil dan orang-orang yang bodoh."

Manhaj Salaf menyelamatkan para pemuda/generasi umat dari jaring-jaring hizbiyyah, sebagaimana dalam hadits Bukhari dan Muslim (yang artinya) : "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mencabut ilmu sesudah Allah memberikan kepada kalian akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan kematian para ulama hingga jika tidak tersisa seorang ulama, manusia menjadikan pemuka-pemuka mereka orang-orang yang bodoh lalu mereka ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu hingga mereka menyesatkan dan mereka sendiri tersesat."

Dakwah Salafiyyah tidak mengarahkan untuk bentrok (secara frontal) dengan para penguasa dan undang-undang karena dakwah ini menginginkan perbaikan dan bersungguh-sungguh dalam memperbaiki. Karena hukum dan penguasa bukanlah tujuan menurut dakwah Salafiyah tetapi hal itu adalah wasilah/sarana untuk beribadah kepada Allah semata dan agar agama ini menjadi milik Allah seluruhnya.

Bentrok dengan penguasa/kudeta dapat mengakibatkan urusan yang lebih besar, jika tidak percaya maka lihatlah fakta!

Demikian juga sesungguhnya peraturan Islam harus mempunyai penopang dan pembela dari rencana busuk musuh-musuh Islam dan para dai yang menghalangi jalannya :

هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ

"Artinya : Dialah yang menguatkanmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman". [Al-Anfal/8 : 62]

Dan tidaklah kaum muslimin menjadi penopang para rasul sesudah Allah, melainkan jika mereka terdidik diatas manhaj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabat-sahabat beliau (semoga Allah meridhai mereka). (Contoh) "Jihad Afghanistan, jihad ini mempunyai pembela dan penopangnya dari rakyat Afghanistan... akan tetapi kaidah tasfiyah dan tarbiyah ini terlalaikan dengan perlawanan (terhadap musuh) sebelum tarbiyah, sehingga tatkala mencapai singgasana kekuasaan bercerai-berailah sesudah sebelumnya kuat, bermusuhan diantara mereka dan mereka menjadi lemah, dan hilang kekuatan mereka, runtuh dan hancur, dan para musuh pengintai mereka menunggu kesempatan".

Jika demikian (kenyataannya) haruslah dilakukan tashfiyah (pembersihan) dan tarbiyah (pendidikan) diatas manhaj Nabawi yang bersih yang terlahirkan darinya generasi yang menjadikan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebagai panutan.

Disamping itu sesungguhnya Salafiyyin tidak mengingkari orang-orang yang melakukan perubahan, akan tetapi mereka mengingkari metode perubahan, yang tidak bisa "mengenyangkan dan tidak bisa menghilangkan rasa lapar", bahkan orang-orang yang tergesa-gesa dan orang-orang yang mengambil manfaat (dunia) menaiki metode itu untuk mengorbankan para pemuda muslim, mereka membuat kerusakan yang pada akhirnya mereka berguguran di sarang musuh dengan sebab ketergesa-gesaan mereka, dan sunnah Allah Azza wa jalla menimpa mereka sebagaimana yang dikatakan para ulama yang (artinya) : Barangsiapa tergesa-gesa sebelum waktunya maka diharamkan mendapatkannya."

Salafiyyun menolak metode-metode yang mendukung ahli batil serta menghina kaum muslimin menjadikan kaum muslimin berpecah-pecah, berkelompok-kelompok (berpartai-partai), permusuhan diantara mereka sangat sengit. Kemudian dilecehkannya aqidah serta syariat Islam.

Inilah yang diingkari Salafiyyin, dan mereka selalu memperingatkan darinya, pendorong mereka dalam hal ini seluruhnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

"Artinya : Aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada petunjuk bagiku melainkan denga pertolongan Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali." [Hud : 88]

Dan Allahlah yang menjanjikan ..

[Diterjemahkan dari majalah al-Asholah edisi 18 hal 29, Disalin Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi 10/Th II/1425H/2004M, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya]

AHLUSSUNNAH TAAT KEPADA PENGUASA MUSLIM










AHLUS SUNNAH TAAT KEPADA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas



Di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajibnya taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kemaksiyatan, meskipun mereka berbuat zhalim. Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah wajib.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa: 59]

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

لاَطاَعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ.

“Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiyat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan” [1]

Juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ.

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” [2]

Apabila mereka memerintahkan perbuatan maksiyat, saat itulah kita dilarang untuk mentaatinya namun tetap wajib taat dalam kebenaran lainnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

...أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ آمَرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ...

“…Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam...“ [3]

Ahlus Sunnah memandang bahwa maksiat kepada seorang amir (pemimpin) yang muslim merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.” [4]

Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abi al-‘Izz ad-Dimasqy (terkenal dengan Ibnu Abil ‘Izz wafat th. 792 H) rahimahullah berkata: “Hukum mentaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zhalim, karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipatgandakan pahala. Karena Allah Azza wa Jalla tak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga. Ganjaran itu bergantung pada amal perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh memohon ampunan, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan).” [Asy-Syuraa: 30]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” [Al-An’aam: 129]

Apabila rakyat ingin selamat dari kezhaliman pemimpin mereka, hendaknya mereka meninggalkan kezhaliman itu juga.” [5]

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Penjelasan di atas sebagai jalan selamat dari kezhaliman para penguasa yang ‘warna kulit mereka sama dengan kulit kita, berbicara sama dengan lisan kita’ karena itu agar umat Islam selamat:

1. Hendaklah kaum Muslimin bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
2. Hendaklah mereka memperbaiki ‘aqidah mereka.
3. Hendaklah mereka mendidik diri dan keluarganya di atas Islam yang benar sebagai penerapan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d: 11]

Ada seorang da’i berkata:

أَقِيْمُوْا دَوْلَةَ اْلإِسْلاَمِ فِي قُلُوْبِكُمْ، تُقَمْ لَكُمْ فِيْ أَرْضِكُمْ.

“Tegakkanlah negara Islam di dalam hatimu, niscaya akan tegak Islam di negaramu.”

Untuk menghindarkan diri dari kezhaliman penguasa bukan dengan cara menurut sangkaan sebagian orang, yaitu dengan memberontak, mengangkat senjata ataupun dengan cara kudeta, karena yang demikian itu termasuk bid’ah dan menyalahi nash-nash syari’at yang memerintahkan untuk merubah diri kita lebih dahulu. Karena itu harus ada perbaikan kaidah dalam pembinaan, dan pasti Allah menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“... Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa.” [Al-Hajj: 40] [6]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menganjurkan agar menasihati ulil amri dengan cara yang baik serta mendo’akan amir yang fasiq agar diberi petunjuk untuk melaksanakan kebaikan dan istiqamah di atas kebaikan, karena baiknya mereka bermanfaat untuk ia dan rakyatnya.

Imam al-Barbahari (wafat tahun 329 H) rahimahullah dalam kitabnya, Syarhus Sunnah berkata: “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun jika engkau melihat seseorang mendo’akan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah, insya Allah.”

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Jikalau aku mempunyai do’a yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.” Ia ditanya: “Wahai Abu ‘Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata: “Apabila do’a itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

Kita diperintahkan untuk mendo’akan mereka dengan kebaikan bukan keburukan meskipun ia seorang pemimpin yang zhalim lagi jahat karena kezhaliman dan kejahatan akan kembali kepada diri mereka sendiri sementara apabila mereka baik, maka mereka dan seluruh kaum Muslimin akan merasakan manfaat dari do’anya.” [7]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. HR. Al-Bukhari (no. 4340, 7257), Muslim (no. 1840), Abu Dawud (no. 2625), an-Nasa-i (VII/159-160), Ahmad (I/94), dari Sahabat ‘Ali z. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (1/351 no. 181) oleh Syaikh Al-Albani t.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 2955, 7144), Muslim (no. 1839), at-Tirmidzi (no. 1707), Ibnu Majah (no. 2864), an-Nasa-i (VII/160), Ahmad (II/17, 142) dari Saha-bat Ibnu ‘Umar c. Lafazh ini adalah lafazh Muslim.
[3]. HR. Ahmad (IV/126,127, Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205) dan al-Hakim (I/95-96), dari Sahabat ‘Irbadh bin Sariyah . Dishahihkan oleh al-Hakim dan di-sepakati oleh adz-Dzahabi. Lafazh ini milik al-Hakim.
[4]. HR. Al-Bukhari (no. 7137), Muslim (no. 1835 (33)), Ibnu Majah (no. 2859) dan an-Nasa-i (VII/154), Ahmad (II/252-253, 270, 313, 511), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (X/41, no. 2450-2451), dari Sahabat Abu Hurairah .
[5]. Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 543) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki.
[6]. Al-‘Aqiidatuth Thahaawiyyah (hal. 69), tahqiq Syaikh al-Albani, cet. II/Maktab al-Islami, th. 1414 H.
[7]. Lihat Syarhus Sunnah (no. 136), oleh Imam al-Barbahary.

SALAFY PENJILAT PEMERINTAH..?










~:: SALAFY PENJILAT PEMERINTAH....? ::~
-tuntunan belajar bahasa indonesia dengan baik dan benar untuk para penebar Fitnah-

Abu Usaamah Sufyan Bin Ranan


Syubhat yang Amazing ditengah-tengah kaum muslimin khususnya yang Pembenci Dakwah Salafiyyah di Indonesia, bahwa mereka mengatakan dengan dada didepan penuh keangkuhan mereka berkata :

"Salafy adalah Kelompok Penjilat Pemerintah..!!"

Pertama kita dapat menanggapi kalimat 'penjilat'.
saya khawatir orang yang melempar kotoran syubhat ini belum cerdas atau belum membuka kamus apa arti penjilat, atau diantara mereka hanya sebatas penyambung lidah alias 'ikut-ikutan' lantaran ustadznya atau murabbinya berkata demikian al hasil ikut aja.. tanpa ilmu.!!

Perlu diketahui para shahabatku yang semoga Allah merahmati kita semua.
Kalimat 'penjilat' dalam kamus besar bahasa indonesia bahwah :

Penjilat adalah "orang yang senang mencuri perhatian atasannya supaya mendapat pangkat, jabatan, atau apapun yang bisa membuatnya senang."

arti lain :
"seorang yang rajin membuat laporan buruk tentang sikap dan pekerjaan teman-temannya kepada atasan"

Maka dari dua arti diatas cukup kita simpulkan bahwa kalimat 'penjilat' sangat erat hubungannya dengan jabatan, kekuasaan, ambisi, dan sejenisnya maka yang jadi pertanyaan yang sangat mendasar,

Apakah Salafy mempunyai kedudukan di pemerintahan sehingga dikatakan penjilat...?
tidak..!!
Apakah ada Keuntungan Bagi Salafy secara langsung sebagaimana makna 'penjlat' yang berkaitan dengan ambisi jabatan / materi dari pemerintah..?
Tidak..!!
Lalu bagaimana dikatakan 'penjilat' ketika 2 variabel tidak mempunyai korelasi yang jelas satu sama lain.

Maka tampaknya syubhat mereka sangat lemah lebih lemah dari sarang laba-laba.

Ketahuilah hubungan dakwah salafiyyah terhadap pemerintah tidak lain dan tidak bukan lantaran Amanah, Amanah dari Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang beliau sampaikan kepada umat islam yakni :

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh para sahabat tentang akan ada para pemimpin yang dzalim dan tidak berpegang kepada Ajaran Islam [dikatakan tidak berpegang kepada ajaran Rasulullah tentu berkaitan dengan mebuat hukum sendiri, fasiq dan seterusnya], maka Shahabat berkata:

Wahai Rasulullah, tidakkah kita tentang mereka dengan pedang?

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Tidak, selama mereka menegakkan shalat pada kalian”.[HR Muslim 3/1482-1482 no. 1855]

Inilah amanah yang semestinya dijalankan oleh Umat Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, dengan menerima sunatullah yang memang akan datang penguasa yang dzalim dan tak berpegang kepada ajaran Nabi shalallahu alaihi wa sallam, dan jangan anda tanyakan dengan membuat blunder syubhat baru dengan berkata :
"Ta'at kepada pemerintah indonesia meskipun ia memerintahkan kedzaliman..?"

perkataan diatas adalah seolah menjadi paket rentetan syubhat, dan cukup kita katakan katakan epada mereka "hendakla kita lebih menelaah lagi agar kita mengetahui mana kamar singa dan mana kamar pengantin, artinya jika diperintahkan kepada kedzaliman maka hendaknya kita otomatis tahu apa yang kita harus lakukan sebagai muslim, tidak mungkin anda yang sedang menjadi pengantin baru tidak bisa membedakan mana kamar pengantin mana kamar singa..? masya Allah...

Maka cukuplah kita sebagai seorang muslim memegang wasiat Nabi shalallahu alaihi wa sallam :

"“Artinya : Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah"
[shahih al jami']

dan di hadits lain

"“Artinya : Sesungguhnya ketaatan hanya dalam hal yang baik" [HR Bukhari]

Inilah sikap prinsip seorang muslim yang semestinya sudah otomatis tahu, jika diperintahkan ke yang buruk maka jangan diikuti karena ketaatan hanya pada yang baik. maka ketidak ta'atan kepada penguasa muslim dari kebijakan yang buruk tidak serta merta melepaskan keta'atan kita secara keseluruhan berkaitan dengan yang baik. inilah sikap ahlussunnah wal jama'ah.

Maka hendaknya kita jangan terpedaya dari segala syubhat yang terbang laksana kapas tanpa arah, namun bisa menghinggapi kepala-kepala manusia tanpa disadari itulah syubhat karna syubhat itu lembut, selembut kapas.
wallahulmusta'an

BAHAYA MELAWAN PEMERINTAH













BAHAYA KHURUJ (MELAWAN) TERHADAP PEMERINTAH


Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari



Gerakan khuruj (pemberontakan) dan inqilab (melancarkan kudeta) terhadap suatu pemerintahan (yang sah) bukanlah sarana untuk memperbaiki masyarakat. Bahkan justru memicu timbulnya kerusakan di tengah masyarakat.

Khuruj terhadap pemerintah muslim, bagaimana pun tingkat kezhalimannya, merupakan bentuk penyimpangan dari manhaj Ahlus Sunnah (Wal Jama'ah). Ada dua macam bentuk khuruj, (1). Khuruj dengan memanggul senjata (2). Khuruj dengan perkataan dan lisan.

Mereka yang selalu memunculkan perpecahan, pertikaian, dan pergolakan terhadap pemerintahan muslim, pada hakikatnya telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan tersebut. padahal, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh kita untuk bersabar, sebagaimana sabda beliau.

إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَان متفق عليه.

"Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah". [Muttafaq 'alaih]

Renungkanlah perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Kecuali engkau melihat suatu kekufuran". Penuturan beliau tidak terhenti sampai di situ saja, tetapi diiringi dengan keterangan "kekufuran yang sangat jelas". Lantas beliau menambahkan keterangan lebih lanjut" yang dapat engkau buktikan tentang itu di sisi Allah".

Di dalam hadits ini, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan lima buah penekanan untuk mencegah orang dari khuruj dan takfir (mengkafirkan pemerintah atau pun individu muslim) yang merupakan perbuatan sangat buruk dan berbahaya. Karena dapat mengakibatkan kerusakan dan kehancuran di tengah masyarakat.

Bahkan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitabnya, I'lamul Muwaqqi'in : "Tidak ada satu pemberontakan pun terhadap pemerintah muslim yang membawa kebaikan terhadap umat pada masa kapan pun".

Begitu juga hujatan terhadap pemerintah. Manakala sebagian orang menjadikan hujatan terhadap pemerintah sebagai materi ceramah dan "nasihat-nasihat" yang mereka sampaikan untuk memperoleh simpati manusia. Manusia pada dasarnya menyukai hujatan terhadap pemerintah, juga terhadap para penguasa dan pemimpin, serta kepada setiap orang yang mempunyai posisi lebih tinggi dari mereka. Seakan-akan hujatan dan celaan tersebut sebagai hiburan yang dapat menyenangkan hati mereka

Sungguh suatu fenomena yang sangat menyedihkan ketika kita menyaksikan hujatan, makian, serta cercaan terhadap pemerintah, saat ini menjadi materi-materi ceramah dan "masukan" bagi sebagian da'i zaman sekarang, khususnya pada waktu terjadinya fitnah. Hingga materi yang mereka sampaikan akan membuat orang-orang berkomentar :"Masya Allah, Syaikh ini orang yang berani, atau Syaikh ini orang yang kuat". Padahal fakta ini sesungguhnya tidak mendatangkan manfaat apa pun, melainkan hanya akan menghasut dan mengotori jiwa

Sebagian orang justru mengira, tindakan tersebut merupakan bentuk upaya menasehati pemerintah. Padahal terdapat metode dan prosedur dalam menasehati pemerintah, seperti termaktub dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ نَصِيْحَةٌ لِذِيْ سَلْطَانٍ فَلْيَذْهَبْ إِلَيْهِ وَ لْيُِسرَّهَا لَهُ

"Barangsiapa di antara kalian yang ingin menasehati penguasa, maka hendaklah dia pergi kepadanya, dan merahasiakan nasihatnya itu".

Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini menjelaskan bahwa nasihat kepada para penguasa atau pemerintah, hendaklah disampaikan secara rahasia. Karena bila ditempuh secara terang-terangan akan menimbulkan gejolak hati, yang merusak hati.

Kalau di antara kita -para penuntut ilmu- ada yang terjatuh ke dalam suatu kesalahan, kemudian salah seorang menasihatinya di depan umum, ia langsung akan berkata : "Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah. Janganlah kamu membuka aibku di depan umum. Kalau engkau ingin menasihatiku, maka lakukanlah dengan empat mata".

Kalau para penuntut ilmu, para da'i yang mengajak manusia kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam -yang mengetahui keutamaan ilmu, keutamaan al-haq dan kembali kepadanya (setelah mengalami kekeliruan)- tidak menyukai metode seperti ini dalam memberikan suatu nasihat, maka bagaimana mungkin para penguasa yang memiliki kedudukan, kekuasaan, senjata, serta tentara yang banyak -bagaimana mungkin mereka- akan dapat menerima nasihat dengan cara yang tidak simpatik ini. Justru yang lebih utama, tidak menasihati mereka di depan umum ; kalaupun hal ini tidak mendatangkan maslahat bagi pemerintah, paling tidak akan memberi maslahat bagi diri kita sendiri. Hal ini, tentunya apabila mereka (para penguasa) adalah orang-orang muslim.

Batasan yang paling rendah untuk menghukumi mereka sebagai seorang muslim, ialah apabila mereka tunduk dan mengakui kebenaran agama Islam. Meskipun mereka melakukan suatu penyelewangan, mempunyai kesalahan yang banyak dan berbuat dosa-dosa besar. Dan ini semua tidak menjadikan mereka sebagai orang kafir, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَان متفق عليه

"Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah". [Muttafaqun 'alaih]

Kemudian Syaikh Muqbil rahimahullah berkata :

وَلَا نَرَى الْانْقِلَاباَتِ سَبَبًا لِلْإِصْلَاحِ بَلْ لِإِفْسَادِ الْمُجْتَمَعِ

"Kami tidak memandang kudeta sebagai jalan untuk membenahi masyarakat. Bahkan gerakan tersebut, justru menimbulkan kerusakan dalam masyarakat".

Marilah kita simak sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim, dari hadits Arfajah Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ ( رواه مسلم

"Barangsiapa yang datang kepada kalian, ketika kalian bersatu di bawah satu pimpinan, dia berkeinginan untuk memecah belah persatuan kalian, maka bunuhlah dia". [HR Muslim]

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan bahwa pemberontakan terhadap suatu pemerintah, yang dapat menimbulkan suatu perpecahan di kalangan masyarakat merupakan salah satu hal yang mewajibkan seseorang untuk dibunuh. Akan tetapi, perlu diingat, bahwa yang dapat menjatuhkan sanksi ini adalah waliyyul-amr, pemerintah yang memegang kekuasaan

Dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu 'anhu, ia menceritakan.

بَايَعْنَا رَسُولَ للَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَان متفق عليه .

"Kami berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk selalu patuh dan taat, baik terhadap apa yang kami suka maupun yang tidak kami suka, dan dalam keadaan sulit maupun lapang, dan untuk mendahulukan apa yang diperintahkan (di atas segala kehendak kami), dan untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpin yang sah. Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah". [Muttafaqun 'alaih]

Akan tetapi, ketaatan ini tidak boleh berlawanan dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

"Sesungguhnya ketaatan itu hanya terhadap perkara yang ma'ruf (baik) saja". [Muttafaqun 'alaih]

Dan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang lain.

لا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ أخرجه الطبراني في المعجم الكبير

"Tidak boleh taat kepada makhluk di dalam maksiat kepada Al-Khaliq". [HR Thabrani di dalam Al-Mu'jamul Kabir]

Kalau mau merenung sejenak, niscaya kita akan memperoleh fakta bahwa dalam sejarah Islam, tidak ada satu pemberontakan pun yang berhasil. Lain halnya dengan orang-orang kafir, kebanyakan pemberontakan yang mereka gerakkan berakhir dengan keberhasilan. Di sini seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta'ala sedang menghendaki, supaya kita mau melihat dan memperhatikan bahwa cara seperti ini, bukanlah metode syar'i. Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya menginginkan kita supaya menempuh metode syar'i yang telah digariskan oleh-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kitab-Nya.

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". [Ar-Ra'd : 11]

إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ

"Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu". [Muhammad : 7]

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

"Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa". [Al-Hajj : 40]

Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa metode syar'i adalah tidak keluar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa". [Al-An'am : 153]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً خَطًّا ثُمَّ قَالَ :« هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ». ثُمَّ خَطَّ خُطُوطاً عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ :« هَذِهِ سُبُلٌ ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ». ثُمَّ تَلاَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

"Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, ia berkata :"Suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat suatu garis, kemudian beliau berkata : "Ini adalah jalan Allah", kemudian beliau membuat garis-garis yang banyak di bagian kanan dan bagian kirinya, lalu berliau berkata : "Ini adalah jalan-jalan (yang dimaksud oleh Allah), dan pada setiap jalan terdapat setan yang menyeru kepadanya", kemudian beliau membaca ayat : "Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa" .

Dari sini jelaslah bagi kita, bahwa tidak ada jalan untuk memperbaiki kondisi masyarakat melainkan dengan mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menjauhi segala macam bentuk bid'ah. Mari kita simak firman Allah Azza wa Jalla yang sangat agung berikut ini.

وَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ

"Dan adakalanya kami memperlihatkan kepadamu (Muhammad) sebagian dari (siksaan) yang Kami janjikan kepada mereka, atau Kami wafatkan engkau (sebelum itu)". [Yunus : 46]

Banyak diantara manusia yang berkata "kami belum melihat kejayaan Islam". Ketahuilah ! Bahwa tidaklah mesti kita melihat segala apa yang telah dijanjikan Allah kepada kita, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun tidak melihat segala apa yang di jajikan oleh Allah. Coba kita menyimak firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang merupakan janji-Nya kepada orang-orang beriman.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً

"Allah telah menjajikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama telah Dia ridhai bagi mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam, ketakutan menjadi aman sentosa. Asalkan mereka (tetap) semata-mata beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan suatu pun". [An-Nur : 55]

Sungguh ini merupakan janji Allah Subhanahu wa Ta'ala. Apabila kita dapat merealisasikan perintah Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala pun akan merealisasikan apa yang telah Dia janjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kita.

Wallahu 'alam, wa shallallaahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihii wa shahbihi wa sallam.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo - Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
_______
Footnote
[1]. Diterjemahkan oleh ustadz Ahmad Danil dari penjelasan Syaih Ali Hasan Al-Halabi terhadap risalah Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i rahimahullah yang berjudul "Hadzihi Da'watuna Wa Aqidatuna".

PRINSIP MUAMALAH DENGAN PENGUASA [1]









EMPAT PRINSIP MENJALIN HUBUNGAN DENGAN PENGUASA

Oleh
Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar Ruhaili –hafizhahullah-


"Termasuk pengetahuan yang penting, yakni seorang muslim memahami kewajiban, bagaimana cara bersikap kepada penguasa yang ada di negerinya. Apabila orang-orang tidak memahami cara bersikap kepada penguasa muslim, niscaya akan menimbulkan keburukan dan kerusakan."

Pembaca budiman,
Kutipan di atas merupakan penggalan dari muhadharah yang disampaikan Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar Ruhaili –hafizhahullah- dosen Universitas Madinah, pada kajian Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh Yayasan Minhajus Sunnah dan Tasjilat at Taqwa al Islamiyah Bogor. Muhadharah Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar Ruhaili, yang diselenggarakan pada hari Ahad 20 Jumadil Tsani 1427H bertepatan dengan 16 Juli 2006M di Masjid Istiqlal ini, ditranskip dan diterjemahkan oleh Muhammad Ashim Mustofa. Secara lengkap kami hadirkan ke hadapan pembaca. Selamat menyimak dan semoga bermanfaat. (Redaksi).

Saya datang dari kota Rasulullah, kota kaum Anshar. Saya datang dengan membawa perasaan mahabbah (cinta) kepada penduduk negeri ini. Semoga Allah memberi berkah dan memberi pertolongan kepada orang-orang yang ada di dalamnya dan konsisten dengan Islam, yang tiada kemuliaan, ketinggian dan kharisma kecuali dengan Islam. Semoga Allah menyatukan hati kita di atas tauhid dan Sunnah, dan merapikan barisan kita dengan perkara yang agung ini.

Dahulu, keadaan bumi sebelum di utusnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, berada dalam keadaan gelap gulita, dan kejahiliyahan yang parah. Kebodohan mendominasi. Sementara itu, ilmu tidak bernilai. Akal-akal manusia menjadi begitu dungu, sampai-sampai manusia menyembah bebatuan. Salah satu dari mereka sampai membuat tuhan sendiri dari kurma atau makanan. Apabila merasa lapar, maka ia makan dan akan membuat tuhan lagi.

Cara hidup mereka pun berada di atas titik nadir. Salah seorang dari mereka akan tega membunuh anak perempuannya lantaran rasa malu. Kegelapan begitu merata dan kuat. Di saat itulah, kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berkehendak mengutus seorang rasul. Maka, bumi pun terang benderang dengan cahaya kebenaran. Bumi menjadi baik dengannya. Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melaksanakan dakwah dengan sebenar-benarnya. Beliau tidak meninggalkan kebaikan, kecuali telah disampaikan kepada umatnya. Dan tidaklah beliau meninggalkan keburukan, kecuali telah memperingatkan umat darinya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَيْسَ شَيْئٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى الْجَنَّةِ إِلاَّ أَمَرْتُكُمْ بِِهِ وَلَيْسَ شَيْئٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى النَّارِ إِلاَّ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

"Tidak ada sesuatu yang mendekatkan diri kalian kepada surga, kecuali telah aku perintahkan. Dan tidak ada sesuatu yang mendekatkan diri kalian ke neraka, kecuali telah aku larang darinya."

Ada seorang lelaki dari kalangan kaum Musyrikin -dalam riwayat lain- seorang dari Yahudi berkata kepada Salman al Farisi:

قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَة قَالَ أَجَل

"Apakah Nabi kalian mengajarkan segala sesuatu kepada kalian, termasuk adab di kamar mandi?" Ia (Salman al Farisi, Red) menjawab,"Ya."

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajari umatnya segala sesuatu. Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Tinggi, maka para sahabat yang terpercaya lagi bertakwa menyampaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Mereka menyerukan din (agama) Allah sesuai dengan petunjuk Nabi Subhanahu wa Ta'ala, dalam keadaan suci dan murni, menyebarkannya ke seluruh pelosok bumi, serta berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya.

Demikianlah, umat akan senantiasa berada dalam kebaikan selama konsisten dengan Sunnah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tetapi, setan melakukan penyusupan kepada umat dengan memunculkan fitnah yang terjadi di akhir masa sahabat. Maka, kerusakan pun mulai merasuki tubuh umat. Namun, umat ini akan senantiasa dekat dengan kebaikan, selama mendekat dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang murni. Dan sebaliknya, akan semakin jauh dari kebaikan, apabila kian menjauh dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kewajiban atas setiap muslim, harus meyakini dengan teguh, bahwa Allah telah menyempurnakan agama ini, dan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikannya dengan cara yang sangat jelas dan menyeluruh. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman kepada kaum mukmin :

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu." [Al Maidah/5 : 3].

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,"Barangsiapa yang mengada-ngadakan sebuah bid’ah dan memandang itu (sebagai) bagian dari agama, sungguh ia telah menganggap Muhammad n berkhianat terhadap risalah".

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mensyariatkan semua perkara yang bermanfaat dan mencegah perkara yang berbahaya. Termasuk di dalamnya, perkara yang dikandung oleh nash-nash syariat tentang mu'amalah dengan para penguasa. Nash-nash itu memaparkan masalah ini dengan sangat jelas. Dan telah diketahui oleh para cendekia, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan manusia, dan menjadikannya mempunyai kecenderungan untuk suka bergabung dengan orang lain. Sudah diketahui pula, yang namanya kelompok, pasti membutuhkan pemimpin. Kepentingan rakyat tidak akan lurus sampai terwujud eksistensi seorang pemimpin yang akan mewujudkan maslahat dan menolak bahaya melalui kekuasaannya. Seorang amir, pejabat dan penguasa, menjadi sarana penegakan agama dan keadilan. Melalui keberadaannya, kemaslahatan-kemaslahatan dicapai dan bahaya-bahaya dihindarkan. Posisi seorang pemimpin, merupakan cerminan kebaikan di dunia ini. Apabila masyarakat dibiarkan tanpa ada penguasa, niscaya orang yang kuat akan berbuat aniaya kepada kaum yang lemah, harta-harta anak yatim pun akan dirampas, kemaslahatan sosial juga tidak terwujudkan. Termasuk di dalamnya, agama akan disia-siakan di tengah masyarakat.

Oleh karenanya, termasuk pengetahuan yang penting, yakni seorang muslim memahami kewajiban, bagaimana cara bersikap kepada penguasa yang ada di negerinya. Apabila orang-orang tidak memahami cara bersikap kepada penguasa muslim, niscaya akan menimbulkan keburukan dan kerusakan.

Keberadaan penguasa merupakan kebaikan. Ilmu tentang kaidah-kaidah syar’i dalam bersikap terhadap penguasa merupakan kebaikan. Sedangkan kebodohan terhadap ilmu ini, merupakan keburukan besar dan kerusakan yang merata. Karenanya, kewajiban para penuntut ilmu untuk menjelaskan masalah ini kepada kaum Muslimin, hukum-hukum tentang masalah ini, sehingga agar terwujud maslahat umum, dan kebahagiaan akan menyelimuti masyarakat. (Dengan demikian), rakyat ataupun penguasa pun mendapatkan manfaat dari adanya kekuasaan.

Sebelum memulai penjelasan tentang pedoman-pedoman agama tentang cara bersikap kepada penguasa, kiranya kita perlu mengetahui, siapakah gerangan yang disebut sebagai penguasa? Siapakah penguasa yang kita maksudkan? Siapakah penguasa, yang agama kita mengungkap prinsip-prinsip dalam bersikap dengannya?

Menurut para fuqaha kaum Muslimin, al hakim (penguasa) adalah, orang yang (dengannya terjaga) stabilitas sosial di suatu negeri, baik ia mencapai kekuasaan dengan cara yang disyariatkan atau tidak, baik kekuasaan hukumnya menyeluruh semua negara kaum Muslimin, atau terbatas pada satu negeri saja.

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,"Para fuqaha bersepakat atas wajibnya taat kepada imam yang mutaghallib (berkuasa melalui peperangan, kudeta atau cara represif lainnya, Pent.)”. Artinya, para fuqaha telah bersepakat, bila seorang imam berhasil mencapai puncak kekuasaan dengan saif (kekerasan) dan mampu mengendalikan negara dengan kekuatannya, lantas kondisi masyarakat menjadi stabil, maka ia wajib ditaati, karena ia adalah imam dan penguasa bagi kaum Muslimin.

Dan sudah diketahui, bahwa para ulama telah bersepakat wajibnya taat kepada penguasa yang ada, baik jumlah imam satu (yang menguasai seluruh negeri kaum Muslimin atau banyak (yang menguasai negeri-negeri tertentu).

Sesungguhnya kaum Muslimin tidak bersatu di bawah satu pimpinan sejak masa Imam Ahmad sampai sekarang. Dan kita mengetahui, para imam dan ulama Islam telah menetapkan pada kitab-kitab mereka kewajiban untuk taat kepada penguasa, padahal mereka mengetahui kondisi riil yang ada, karena penguasa telah banyak. Jadi, imam adalah seseorang yang stabilitas masyarakat terwujud pada masanya. Demikian ini adalah masalah yang sudah disepakati oleh para ulama. (Maka) harus dipahami dan diketahui agar setan tidak menyusup pada akal dan hati umat.

Dalam majelis ini, saya ingin berbicara tentang empat prinsip yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang membicarakan mu'amalah dengan penguasa, yaitu:

Prinsip Pertama. Berkeyakinan Wajibnya Bai'at Bagi Penguasa.
Apabila kondisi sosial menjadi stabil pada masanya, maka setiap orang yang berada di bawah kekuasaannya, wajib meyakini bahwa sang penguasa berhak dibai'at oleh mereka. Meskipun ia tidak pergi untuk memba'itnya. Karena, agar bai'at itu sempurna, tidak harus melakukannya secara langsung. Masalah ini menurut para fuqaha, apabila ahlu halli wal ‘aqdi (para tokoh yang terpandang) dan kemudian keadaan menjadi stabil pada seorang penguasa, maka bai'at menjadi sah baginya dan berlaku pada semua orang.

Kewajiban setiap orang, ia harus meyakini ada tuntutan bai'at atasnya. Ini merupakan kewajiban syariat. Seorang muslim tidak boleh keluar darinya. Orang yang tidak meyakini kewajiban bai'at kepada penguasa di negerinya yang menjadi kewajibannya, ia terancam dengan ancaman yang keras.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

"Barangsiapa melepaskan ketaatan (dari penguasa), niscaya akan menjumpai Allah tanpa memiliki hujjah (alasan). Dan barangsiapa meninggal tanpa ikatan bai'at, maka kematiannya (seperti) kematian jahiliyah". [HR Muslim, 3441].

Seorang muslim yang berkeyakinan tidak wajib membai'at penguasa, ia terancam, kematiannya layaknya kematian orang jahiliyah -semoga Allah melindungi kita dari keadaan buruk ini. (Oleh karenanya), kewajiban seorang muslim meyakininya dengan mantap. Dan seyogyanya, seorang muslim mengetahui bahwa, bai'at kepada penguasa bukan bagai kalung yang bisa diletakkan dan dicabut kapan saja; jika suka ia letakkan, dan bila tidak suka mencabutnya. Tetapi kewajiban bai'at tetap berlaku selama kekuasaan penguasa masih ada di negeri tersebut. Seorang muslim tidak boleh menarik diri dari bai'at ini.

Prinsip Kedua. Menasihati Para Penguasa Dengan Menjauhi Sikap Khuruj (berontak, membangkang, Pent.), Mencaci-maki Dan Menghina, Serta Menanamkan Antipati Dalam Hati Rakyat Terhadapnya.

Berkaitan dengan tindak-tanduk penguasa, ada dua kelompok yang menyikapinya dengan dua sikap yang keliru. Salah satunya menilai, al hakim (penguasa) adalah manusia yang ma’shum (terjaga) dari segala kesalahan. Segala tindakannya benar adanya, karena ia menghukumi berdasarkan perintah Allah. Kedudukannya, layaknya seorang nabi dalam segala tindakan dan ucapan. Demikian menurut pandangan Rafidhah (Syi'ah).

Sedangkan kelompok kedua memiliki pandangan, memiliki sikap yang berseberangan dengan yang pertama. Yaitu, apabila penguasa melakukan sebuah kesalahan, maka kesalahan itu dibesar-besarkan, bahkan kadang-kadang dikafirkan karenanya. Dan menurut mereka, wajib melakukan pemberontakan kepadanya. Dua golongan itu bertentangan dengan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Seperti biasanya, ahlul haq, Ahli Sunnah berada di posisi tengah, dengan mengatakan, seorang hakim adalah manusia biasa. Dia memiliki potensi melakukan kesalahan dan kebenaran. Sebagian tindakannya ada yang benar, dan ada tindakannya yang salah. Namun, munculnya kesalahan tidak membolehkan untuk memberontak, dicaci, dihina kehormatannya, dan tidak boleh menumbuhkan hati masyarakat menjadi antipati kepadanya. Yang harus dikerjakan, menasihatinya dan menjelaskan kesalahannya melalui mekanisme yang dibenarkan syariat dan mempertimbangkan situasi serta kondisi, berdasarkan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا : (مِنْهِا ): وَأَنْ تَنَاصَحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ

"Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal pada kalian (di antaranya), kalian menasihati orang-orang yang Allah jadikan penguasa atas urusan kalian".[HR Ahmad, 23278; Malik, 1578].

Allah meridhai dari kalangan hambaNya kaum Muslimin, agar mereka menasihati orang-orang yang dijadikan pemimpin atas mereka, agar jujur dalam mu'amalahnya, dan menjelaskan kesalahan dengan cara yang diperbolehkan syariat, dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ لَا يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ وَالنَّصِيحَةُ لِوَلِيِّ الْأَمْرِ وَلُزُومُ الْجَمَاعَةِ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تَكُونُ مِنْ وَرَائِهِ

"Ada tiga hal, hati seorang mukmin tidak dirasuki dengki saat melakukannya. Yaitu : ikhlas beramal untuk Allah, menasihati waliyul amr, dan konsisten bersama dengan jama'ah."[2]

Tiga hal ini, hati seorang muslim tidak dirasuki rasa dengki di dalamnya.

Pertama : Hendaknya amalan seorang manusia ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam semua urusannya, terutama dalam masalah yang sedang kita bicarakan. Hendaknya nasihat dan sikap yang ia berikan kepada penguasa karena Allah dan ditujukan kepada Allah. Apabila berbicara tentang waliyul amr, ia berbicara karena Allah. Ketika menasihati penguasa, maka ia lakukan karena Allah. Tidak menginginkan balasan duniawi. (Kedua) : Apabila seorang manusia benar-benar ikhlas, pasti ia akan menasihati penguasa. Termasuk dalam konsekwensi ikhlas kepada Allah, yaitu seseorang menasihati waliyul amr. (Ketiga) : Dan termasuk dari makna menasihati waliyul amr, yaitu sikap untuk selalu bersama dengan jama'ah. (Maka sungguh) merupakan kedustaan, kedustaan dan kedustaan, (yaitu) orang yang mengklaim menasihati penguasa, tetapi menyingkir dari jama'ah. Tidak ada nasihat yang jujur kecuali dengan bergabung dengan jama'ah muslimin.

Demikianlah yang dijelaskan Nabi dengan bahasa Arab yang fasih. Beliau menjelaskan tiga perkara yang saling berkaitan dengan lainnya. Pertama, ikhlas kepada Allah. Disusul dengan munashahah (menasihat) kepada waliyul amr. Dan berikutnya, selalu bergabung dengan jama'ah kaum Muslimin.

Tentang nasihat kepada penguasa ditempuh dengan cara yang dapat menghasilkan maslahat, bukan yang mendatangkan kerusakan. Sehingga tidak dilakukan di atas podium-podium. Disampaikan kepada penguasa dengan cara yang tidak menyulut emosi masyarakat kepadanya. Orang yang benar-benar ingin menasihati penguasa karena Allah, ia hanya menginginkan perbaikan semata, tidak bermaksud menunjukkan jasa, atau dikatakan sebagai orang kuat yang berani berbicara tentang penguasa. Keinginannya hanyalah, timbulnya kebaikan bagi negara dan masyarakat. Dan kebaikan hanya terwujud jika menjelaskan kesalahan dengan cara yang baik, disertai kesatuan hati masyarakat kepada penguasa agar tidak tersebar fitnah.

Pada zaman Utsman Radhiyallahu 'anhu terjadi fitnah. Ada orang berkata kepada Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'anhuma : “Tidakkah engkau mengingkari ‘Utsman?”
Usamah Radhiyallahu 'anhuma menjawab,"Aku mengingkarinya di depan massa? Aku akan mengingkarinya saat berdua. Aku tidak ingin membuka pintu fitnah bagi orang-orang." [3]

Dalam pandangan para sahabat, sudah menjadi sebuah ketetapan di kalangan para sahabat, bahwa menasihati penguasa di depan umum akan membuka pintu fitnah. Oleh karenanya, Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'anhuma memegangi prinsip yang agung ini. Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

"Barangsiapa ingin menasihati sulthan (penguasa) dengan suatu masalah, janganlah menampilkan kepadanya secara terang-terangan. Tetapi, hendaknya menggandeng tangannya dan untuk berduaan dengannnya. Apabila ia menerima darinya, maka itulah (yang diharapkan). Kalau tidak, berarti telah melaksanakan kewajibannya".[4]

Demikianlah yang dipaparkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maksudnya, orang yang akan menasihati penguasa, tidak memperlihatkannya di depan massa supaya tidak memancing kemarahan masyarakat terhadap penguasa. Adapun komentar tentang kesalahan-kesalahan penguasa di atas mimbar-mimbar, atau dilakukan secara terang-terangan, ini bukan disebut nasihat, tetapi justru merupakan celaan, pendiskreditan, dan penghinaan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

"Barangsiapa menghina sulthan Allah di dunia, niscaya Allah akan menghinakannya".[5]

Saya ingin mengutarakan sebuah kisah yang mengandung dua sikap. Saya berharap setiap dari kita melihat, ia bersama dengan pihak mana.

Ibnu ‘Amir adalah seorang gubernur. Suatu ketika ia keluar untuk melakukan Khutbah Jum’at dengan mengenakan pakaian yang transparan. Maka Abu Bilal al Khariji (dari Khawarij) berkomentar : "Lihatlah pemimpin kita. Dia mengenakan baju orang fasiq,” maka Abu Bakrah Radhiyallahu 'anhu, salah seorang sahabat Nabi, menyanggah: “Diamlah engkau. Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,'Barangsiapa menghina sulthan Allah di dunia, niscaya Allah akan menghinakannya'.” [6]

Lihatlah sikap orang Khawarij terhadap kesalahan pemimpin, dan bandingkan dengan sikap sahabat Nabi tersebut. Maka, seharusnya Anda wahai para hamba Allah, pilihlah cara orang yang engkau cintai. Sesungguhnya pada hari Kiamat, seseorang akan bersama orang yang dicintainya.

Apabila ada orang yang bertanya "apakah hal ini berarti, jika ada kesalahan yang berasal dari pemerintah, kita mendiamkan dan tidak melarang orang-orang berbuat maksiat dan tidak menjelaskannya?"

Tidak demikian! Kewajiban kita, yaitu harus melarang orang-orang berbuat maksiat, dan menjelaskan bahwa perkara itu merupakan maksiat. Tetapi, berkaitan dengan menasihati penguasa dalam masalah maksiat ini, haruslah dengan cara-cara yang tidak menyulut kemarahan masyarakat kepadanya.

Sudah seharusnya kita ketahui, bahwa Ahli Sunnah wal Jama'ah, ketika menetapkan prinsip yang sudah kita sebutkan tadi, bukan berarti memerintahkan untuk mendiamkan kemaksiatan-kemaksiatan tanpa pengingkaran, dengan dalih maksiat itu muncul dari pemerintah. Tetapi, maksiat tersebut tetap wajib diingkari dan dijelaskan kepada masyarakat, bahwa itu (merupakan) kemaksiatan, dan masyarakat dilarang berbuat maksiat seperti itu. Namun pengingkaran terhadap penguasa secara khusus berkaitan dengan kemaksiatan ini atau perkara lainnya, harus dengan prinsip yang telah kita sebutkan.

PRINSIP MUAMALAH DENGAN PENGUASA [2]






Prinsip Ketiga : Mendengar Dan Taat Kepada Penguasa Pada Perkara Yang Bukan Maksiat Kepada Allah. Tidak Ada Kebaikan Bagi Masyarakat Kecuali Dengan Jama'ah. Dan Urusan Jama'ah Tidak Akan Lurus, Kecuali Dengan Kebaradaan Imamah (Kepemimpinan). Dan Tidak Lurus Sebuah Kepemimpinan, Kecuali Dengan Ketaatan.


Oleh karena itu, terdapat banyak nash yang menunjukkan ketaatan terhadap pemimpin negara dalam masalah yang bukan maksiat. Allah berfirman kepada kaum Mukminin :

"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu". [An Nisaa`/4 : 59].

Allah memulai ayat ini dengan "yaa ayyuhalladzi na aamanu". Para ulama tafsir berkata : "Apabila Allah mengawali ayat dengan arah pembicaraan kepada kaum Mukminin, maka ketahuilah, terdapat perkara penting setelahnya".

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan ketaatan kepadaNya dan kepada RasulNya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'la menjelaskan bahwa, yang termasuk dalam ketaatan kepada Allah dan Rasulnya, (yaitu) taat kepada penguasa dalam perkara yang bukan maksiat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa yang taat kepadaku, ia telah taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barangsiapa bermaksiat kepadaku, sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa taat kepada Amir (penguasa), sungguh ia taat kepadaku. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Amir, sungguh ia bermaksiat kepadaku" [HR Bukhari 6604]

Dalam hadits yang shahih lagi muhkam ini, dijelaskan prinsip agung lagi mulia. Bahwa taat kepada Rasulullah merupakan taat kepada Allah Subhanhu wa Ta'ala. Taat kepada amir merupakan ketaatan kepada Rasulullah. Dan berbuat maksiat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, artinya bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Melakukan penentangan kepada amir (bermaksiat) merupakan maksiat kepada Rasulullah.

Dari sini, kita ambil sebuah pedoman penting. Yaitu, saat kita mentaati penguasa pada perkara yang bukan maksiat, sesungguhnya kita sedang mendekatkan diri kepada Allah Subhanhu wa Ta'ala. Ketaatan Anda kepada penguasa dalam masalah yang bukan maksiat, merupakan qurbah (upaya mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Janganlah Anda melihat kepada penguasa, atau polisi, atau apakah ada orang yang melihat kita. Tetapi, kita lakukan itu dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pasalnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan masalah ini kepada kita. Karena itu, para ulama telah sepakat, wajib taat kepada penguasa dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah Ta’ala.

Lantaran agung dan besarnya pengaruh masalah ini bagi terciptanya keamanan bagi negara dan kebahagiaan masyarakat, maka Nabi menutup celah-celah setan ke dalam hati manusia dalam masalah ini. Setan kadang-kadang mendatangi seorang manusia dengan membisikkan, sesungguhnya taat kepada penguasa harus dilakukan ketika penguasa adalah seorang pemimpin adil yang memberikan hak-hak kalian. Adapun pimpinanmu, ia seorang yang zhalim, tidak memenuhi hak-hak kalian. Justru mengambil harta kalian. Ia lebih mengutamakan jabatan-jabatan tertentu bagi diri sendiri. Memperkerjakan orang-orangnya, dan menyingkirkan orang-orang yang sebenarnya lebih berhak. Maka orang ini tidak pantas ditaati. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam langsung menangani penyumbatan celah ini sendiri, tidak beliau serahkan kepada orang lain.

Ada seorang lelaki yang berdiri, lalu bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Wahai Rasulullah. Kalau ada pemimpin yang menguasai kami, ia meminta haknya dari kami dan menghalangi hak kami darinya. Apa yang engkau perintahkan kepada kami (untuk kami kerjakan)?"

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun berpaling. Maka orang tadi bertanya untuk kedua kalinya. Nabi pun berpaling lagi. Orang itu bertanya kembali untuk ketiga kalinya. Maka beliau bersabda : "Dengarlah, dan taati. Sesungguhnya kewajiban mereka adalah kewajiban yang mereka emban. Dan kewajiban kalian adalah yang harus kalian emban”. [HR Muslim 3/1474]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Kewajibanmu adalah mendengar dan taat, dalam kondisi sulit, longgar, semangat ataupun benci serta ketika ia bertindak sewenang-wenang terhadapmu," maksudnya, engkau wajib mendengar dan taat, baik engkau dalam keadaan mudah dan kecukupan harta, dan pikiran yang tenang atau dalam kondisi yang terjepit, atau dalam keadaan engkau melaksanakan perintahnya atau malas untuk melakukannya, atau engkau melihat penguasa mengambil hak darimu tanpa memperdulikan keadaanmu. Sedangkan cara lainnya merupakan cara-cara setan.

Terkadang setan mendatangi orang-orang dengan membisikkan taat kepada hakim itu wajib, bila ia (hakim itu) semisal Abu Bakr dan Umar. Adapun penguasa ini, ia termasuk orang fasik lagi bermaksiat kepada Allah. Mereka tidak menegakkan din Allah, sehingga tidak ada kewajiban taat kepadanya. Nabi pun menutup celah setan ini dengan bersabda:

“Nanti akan ada penguasa-penguasa sepeninggalku, yang tidak memegangi petunjukku dan tidak melaksanakan sunnahku. Di tengah mereka ada orang-orang yang hatinya berhati setan dalam bentuk manusia”.

Perhatikanlah kondisi itu, akan ada penguasa setelah beliau. Apakah yang mereka kerjakan? Mereka tidak memegangi petunjukku dan tidak melaksanakan sunnahku. Alangkah buruk tindakan mereka. Akan ada sejumlah orang yang menunjukkan sebagai penasihat. Hati mereka adalah hati setan dalam wujud manusia.

Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu berdiri dan bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan apabila aku menjumpainya?"

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,"Dengar dan taatilah penguasa, meskipun punggungmu dipukul, dan hartamu dirampas." [HR Muslim : 3/1481]

Dalam kondisi demikian ini, yang telah disebutkan Nabi, beliau menetapkan wajibnya taat kepada penguasa meskipun terjadi tindak kesewanangan kepada rakyat.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sebaik-baik penguasa adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Sejelek-jelek penguasa, adalah mereka membenci kalian, dan yang kalian laknati dan mereka melaknati kalian.”

Lihatlah kondisi ini, sejelek-jelek penguasa, adalah yang kalian benci karena agamanya dangkal. Dan mereka membenci kalian karena tipisnya agamanya. Kalian melaknati mereka dan mereka melaknati kalian.

Para sahabat bertanya : "Apakah kita harus memerangi mereka dengan pedang, wahai Rasulullah?"

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Tidak, selama ia menegakkan shalat dengan kalian. Ketahuilah, orang yang dikuasai oleh seorang penguasa, dan melihatnya mengerjakan maksiat kepada Allah, hendaknya ia membenci maksiat kepada Allah yang ia kerjakan dan tetap tidak melepaskan ketaatan kepadanya”.[HR Muslim : 3/1481]

Lihatlah keseimbangan agung ini.
Apabila kita mengetahui penguasa melakukan kemaksiatan kepada Allah, kita tidak sukai kemaksiatannya, kita tidak katakan pula bahwa itu baik karena penguasa yang mengerjakan. Kita juga tidak menilainya baik di hadapan orang-orang, lantaran sang penguasa melakukannya. Tetapi, kita menilai buruk maksiat itu secara khusus, tanpa dikaitkan dengan penguasa. Kita membenci maksiat, tetapi tanpa melepaskan ketaatan darinya. Justru tetap mentaati penguasa pada masalah yang bukan maksiat.

‘Adi bin Hatim Radhiyallahu 'anhu berkata,"Kami tidak bertanya tentang taat kepaada penguasa yang bertakwa. Tetapi kami menanyakan tentang penguasa yang melakukan ini itu”. Dia menyebutkan bentuk keburukan. Inilah pertanyaannya : "Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya tentang penguasa yang bertakwa karena sudah jelas masalahnya. Tetapi kami bertanya tentang penguasa yang melakukan tindak keburukan".

Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Bertakwalah kepada Allah, dengarlah dan taati ia!,"[1] yaitu taat pada perkara yang bukan maksiat. Ini akan kami jelaskan nantinya.

Di sini muncul persoalan, apakah kita harus mentaati penguasa dalam segala masalah? Apakah jika penguasa memerintahkan kita, kita harus menurutinya terus?

Jawabnya, tidak! Seorang penguasa ditaati, jika ia memerintahkan perintah yang tidak mengandung maksiat. Apabila ia memerintahkan kepada maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat, dengan tetap taat pada selain maksiat itu.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Kewajiban seorang muslim untuk mendengar dan taat dalam perkara yang ia sukai ataupun yang ia benci, selama tidak diperintah untuk bermaksiat. Bila memerintahkan maksiat, maka tidak ada (kewajiban) mendengar dan ketaatan".[HR Bukhari Muslim]

Seorang muslim, ia wajib mentaati penguasa selama tidak memerintakan kepada maksiat. Apabila memerintahkan untuk bermaksiat, maka ketaatan kepada Allah lebih dikedepankan. Dia tidak boleh taat kepada amir, tetapi (juga) tidak melepaskan ketaatan darinya. Taat kepadanya masih wajib pada perkara selain maksiat.

Para sahabat telah memahami ini. Akan saya ceritakan sebuah kisah yang termuat dalam ash Shahih.

Nabi memilih seseorang menjadi komandan pada sebuah sariyyah (ekspedisi perang) dan memerintahkan pasukannya untuk mendengar dan taat kepadanya. Mereka pun berangkat. Dalam perjalanan, mereka membuat sang komandan marah. Ia memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar. Mereka pun mengumpulkan. Setelah mereka mengumpulkannya, ia berkata: “Bakarlah”. Mereka pun membakarnya. Api menjadi menyala-nyala. Lalu ia berkata : Bukankah aku pimpinan kalian?.
Mereka menjawab,"Benar.”
Dia bertanya,"Bukankah Nabi memerintahkan kalian untuk mendengar dan taat kepadaku?"
Mereka menjawab,"Iya.”
"Kalau begitu, masuklah kalian ke dalamnya,” yaitu masukkah ke dalam api.
Sebagian dari mereka menyingsingkan pakaian untuk terjun ke dalamnya, karena mengetahui tentang wajibnya mentaati seorang pemimpin. Tetapi orang-orang yang sigap dari mereka melarang dan mengatakan: “(Tidak kita lakukan), sampai kita mendatangi kepada Nabi".

Ketika mereka telah memberitahukannya kepada Nabi, maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : "Seandainya mereka memasukinya, maka tidak akan pernah keluar darinya selama-lanmanya. Ketaatan hanya pada perkara yang ma’ruf (yang bukan maksiat)," artinya, Nabi menjelaskan bahwa, taat yang ditekankan lagi pasti kepada penguasa atau pimpinan adalah dalam masalah yang ma’ruf, bukan maksiat kepada Allah. Adapun dalam masalah maksiat, ia tidak boleh ditaati, dengan tetap berhak ditaati pada masalah lain yang bukan maksiat.

Article's :

QAULAN-SADIDA.BLOGSPOT.COM

SEKOLAH YUUK..!!