Selasa, 01 Maret 2011

Mengungkap Tabir WAhdah Islamiyyah


FATWA KESESATAN JAMA’AH / ORMAS / YAYASAN WAHDAH ISLAMIYAH (Bag. 1)
Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkhaly [1]– hafidzhohullah –
(Imam Jarh wat Ta’dil)

Wahai penanya yang mulia, pertanyaan-pertanyaan berikut ini seputar jama’ah atau yayasan yang mereka namakan Yayasan Wahdah Islamiyah (YWI-pent). Dari selah-selah apa yang antum ajukan tentang jama’ah ini, maka saya melihat bahwasanya mereka adalah Jama’ah Hizbiyah QutHbiyah Sururiyah berlawanan dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan manhaj mereka bertentangan dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.

Mereka ikut bersama dengan kelompok-kelompok yang sesat dalam perkataan mereka tentang bolehnya berdemonstrasi dan bolehnya ikut pemilu kadang dengan ber-istisyhad (berpatokan, menjadikannya sebagai penguat) pada fatwa sebagian ‘Ulama Ahlussunnah, tetapi kenyataannya, orang yang memperhatikan fatwa-fatwa tersebut dan mengetahui syarat-syarat yang disebutkan oleh para ‘ulama dalam hal bolehnya ikut pemilu, maka dia akan melihat/mendapati bahwasanya mereka tidak konsisten dengan syarat-syarat tersebut, seandainya mereka konsisten dengannya maka mereka tidak akan ikut Pemilu di negeri manapun di antara negeri-negeri yang ada sekarang.

Dan ucapan mereka tentang Tauhid Hakimiyah, mereka mengambilnya dari Sayyid Quthb. Hakimiyah menurut Sayyid Quthb adalah hal yang paling khusus dari Tauhid Uluhiyah (Tauhid Ibadah) dan dengannya (pemahamannnya tentang tauhid hakimiyah ini-pent) ia mengkafirkan seluruh masyarakat muslim tanpa mengecualikan pribadi dan jama’ah pun kecuali orang-orang yang semodel dengannya, tetapi pada saat yang sama dia tidak memberi perhatian dan tidak peduli dari segala bid’ah-bid’ah kekufuran seperti men-Ta’thil (membatalkan, membuang) sifat-sifat Allah, pemahaman hululiyah (pemahaman kufur yang menganggap bahwa Allah menyatu dengan makhlukNya), (pemahaman) wihdatul wujud (menganggap semua yang ada hakikatnya adalah Allah), mencerca shahabat, menikam (baca: merendahkan) sebagian Nabi-nabi, orang ini tidak peduli dengan semua perkara tadi dan (demikian pula) para pengikutnya tidak peduli dengan segala sesuatu dari bentuk kesesatan yang ia (Sayyid Quthb) dan orang-orang yang semisal dengannya jatuh di dalamnya. Bagaimanapun sesatnya seseorang pada ‘aqidahnya dia tidak memandangnya sebagai kesesatan yang menafikan Laa Ilaha Illallah sebagaimana perbuatan (baca:pandangan) Sayyid Quthb dalam kitabnya Ma’alim fit Thoriq yaitu dia menganggap semua masyarakat Islam sesat dan dia tidak melihat kesesatannya itu dalam ‘aqidahnya ataupun selain ‘aqidah dan dia menganggap bahwa kesesatan itu hanyalah dalam masalah hakimiyah saja. Ini semuanya adalah kebodohan dan kesesatan dan pokok yang paling mendasar dari pemahaman Murji’ah ekstrim. Bahkan manhaj ini yang tidak menganggap bahwa bid’ah Rofidhoh (syiah ekstrim), Khawarij (kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar), Shufiyah Quburiyah yang di dalamnya ada istighoshah (meminta tolong) kepada selain Allah, hululiyah dan wihdatul wujud, dia tidak melihat perkara-perkara ini menafikan Laa Ilaha Illallah. Sesungguhnya ini adalah kesesatan yang paling sesat dan dia menetapkan hal ini dalam kitabnya “Ma’alim fit Thoriq” dia tidak menganggap ada dalam masyarakat kaum muslimin perkara-perkara yang mengkafirkan kecuali kalau menyelisihi Hakimiyah saja. Ini adalah kesesatan yang tiada bandingannya melampaui segala kelompok yang sesat, Wal’iyadzu billah.

Dan saya mengetahui banyak dari doktor-doktor dari pengikut manhaj Quthuby yang mentazkiyah Sayyid Quthb bahwasanya tidak ada seorangpun yang menandinginya dalam menjelaskan makna Laa Ilaha Illallah dan saya tidak mengetahui seorangpun sepertinya yang paling merusak makna Laa Ilaha Illallah sebagaimana dalam kitabnya Fi Dzilalil Qur’an dan Ma’alim Fith Thoriq karena dia tidak melihat ada yang menafikan kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah kecuali siapa yang berpaling dari Hakimiyah. Adapun penyimpangan-penyimpangan dalam agama semuanya, maka dia tidak melihatnya sebagai kesesatan. Maka apa yang terdapat pada kelompok-kelompok Islam yang sesat dari aqidah-aqidah yang rusak seperti hululiyah, wihdatul wujud, rhofidhoh, penyembah kuburan, kesyirikan-kesyirikan, kesesatan-kesesatan dan seterusnya semuanya ini sama sekali tidak melihatnya sebagai kesesatan karena (Sayyid Quthb) mengatakan bahwa mereka tidak menyembah kepada selain Allah dan tidak memberikan persaksian ibadah kepada selain Allah. Maka seluruh amalan kesyirikan ini tidak ia anggap sebagai kesyirikan dan amalan-amalan mereka yang bertaqarrub kepada wali-wali dan kuburan-kuburan, dia tidak menganggap mereka menyelisihi manhaj Allah dan menyelisihi Laa Ilaha Illallah. Ini adalah puncak kesesatan dan jika mereka (Yayasan Wahdah Islamiyah) masih berkaitan dengan Tauhid orang ini (Sayyid Quthb) yang ia namakan Tauhid Hakimiyah, maka mereka (Yayasan Wahdah Islamiyah -pent) termasuk kelompok-kelompok sesat yang sangat berbahaya dan jika membela manhaj Sayyid Quthb dan berwala’ dengannya maka dia termasuk kelompok yang paling sesat, waliyadzu billah.

Maka tanyakanlah mereka (Yayasan Wahdah Islamiyah -pent) :

    * Bagaimana pendiriannya terhadap Sayyid Quthb dan sesesatan-kesesatannya?
    * Bagaimana pendirian mereka terhadap celaan Sayyid Quthb terhadap Nabi Allah Musa ‘alaihis Salaam ?
    * Bagaimana pendirian mereka terhadap caci makian Sayyid Quthb kepada shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam ?
    * Bagaimana pendirian mereka dari Ta’thil-nya kepada sifat-sifat Allah Azza wa Jalla ?
    * Bagaimana pendirian mereka tentang ucapannya tentang isytirakiyah (Sosialisme) ?
    * Bagaimanakah pendirian mereka dari ucapan Sayyid Quthb bahwasanya Al-Quran itu Makhluk ?
    * Bagaimana pendirian mereka tentang pengkafirannya terhadap ummat dengan kebodohan dan kedzholiman ?
    * Bagaimana pendiriannya dalam mema’afkan/membiarkan orang-orang sesat yang menisbahkan dirinya kepada Islam dari (perbuatan) syirik akbar seperti menyembelih kepada selain Allah, meminta pertolongan kepda selain Allah, tawaf di kuburan-kuburan, bersujud padanya, menyembelih untuknya, bernazar untuknya, men-Ta’thil sifat-sifat Allah dan banyak diantara mereka berfaham hululiyah, wihdautl wujud dan banyak diatara mereka bathiniyah, bagaimana pendirian mereka (YWI) terhadap mereka ?

Mereka tidak memiliki sikap apapun.

Bahkan ia (Sayyid Quthb) menetapkan semua perkara ini dan tidak memandangnya menafikan Laa Ilaha Illallah, dan kitab ini ada maka bacalah ucapannya dalam Bab Manhajul Hayat. Dia mendatangkan bencana-bencana ini yang dia meletakkan baginya suatu judul yang sangat menarik untuk mengelabui Ahlut Tauhid. Akan tetapi siapa yang membaca dari apa yang dia goreskan di bawah judul ini, maka dia akan melihat bahwa orang ini (Sayyid Quthb) termasuk orang yang paling bodoh terhadap Tauhidullah dan termasuk orang yang paling kuat penetapannya terhadap seluruh kebatilan yang ada pada kelompok-kelompok Islam dan dia tidak mengingkarinya dan tidak melihat adanya penyimpangan kecuali dalam Tauhid Hakimiyah saja. Tauhid Hakimiyah tidaklah sebagaimana yang mereka katakan. Hakimiyah bukanlah hal yang paling khusus dari Uluhiyah. Perkara yang paling khusus dari Uluhiyah adalah apa yang Allah wajibkan dari hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya.

“Dan tidaklah Saya menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku” (QS. Adz Dzaariyaat : 56)

Dan ibadah adalah perkara yang mencakup segala yang dicintai dan diridhoi oleh Allah berupa perkataan dan perbuatan baik yang zhohir maupun yang batin, dan ibadah adalah sholat, zakat, puasa, haji, sedekah, berbuat baik dan kebajikan. Ini ibadah tersebut dan bukan hakimiyah saja dan hakimiyah di sisi kami mempunyai kedudukan dalam Islam. Tetapi hakimiyah itu punya dalil-dalil tersendiri seperti :

“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir”. (QS. Al Maidah : 44)

“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zholim” (QS. Al-Ma`idah : 45)

“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq”. (QS. Al-Ma`idah : 47)

Dan ayat-ayat yang semakna dengannya. Adapun untuk dianggap sebagai hal yang paling khusus dari makna Laa Ilaha Illalllah maka tidak ada seorangpun yang mengatakannya baik dari orang-orang yang terdahulu maupun orang-orang sekarang kecuali Sayyid Quthb dan orang-orang yang taqlid (membebek buta) kepadanya. Ini adalah penafsiran bid’ah dan sesat yang menyebabkan pengikut-pengikutnya terjerumus dalam puncak kesesatan. Hakimiyah termasuk hak-haknya Laa Ilaha Illallah dan dia adalah perkara yang sangat penting dalam Islam tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang kafir. Tetapi kita tidak mengatakan bahwa Hakimiyah adalah hal yang paling khusus dari uluhiyah dan hal yang paling khusus dari makna Laa Ilaha Illallah dan bahwa makna Laa Ilaha Illallah itu adalah tidak ada Hakim selain Allah. Ini adalah sesat yaitu lebih sesat dari penafsirannya orang-orang mutakallimin (ahli Filsafat) yang sesat yang menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan tidak ada pencipta, tidak ada pemberi rezki kecuali Allah. Benar bahwa tidak ada pencipta, tidak ada pemberi rezki kecuali Allah, akan tetapi ini bukanlah makna Laa Ilaha Illallah. Penciptaan, pemberian rezki dan selainnya dari sifat-sifat Allah, telah ada nash-nashnya tersendiri :

“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan” (QS. Al-Hasyr : 47)

“Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rezki Yang Mempunya Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (Adz-Dzariyat : 58)

Ini adalah dalil-dalilnya. Akan tetapi para ulama salaf menafsirkan Laa Ilaha Illallah dengan tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah. Dan mereka menafsirkan ibadah-ibadah yaitu syari’at-syari’at Islamiyah yang telah kami sebutkan dan yang selainnya. Maka jika dia tidak beriman terhadap tauhid hakimiyah menurut cara Sayyid Quthb maka dia adalah sesat. Dan bila mereka memiliki sejumlah perkara (yang telah disebutkan-pent) dengan bertumpu pada ahli bid’ah dan orang-orang sesat maka adalah indikasi kesesatan dan penyimpangan mereka.

Dan apa yang disebutkan dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut dari ucapan-ucapan mereka tentang demonstrasi, ikut pemilu dan tanzhim-tanzhim rahasia maupun terang-terangan serta al-wala’ wal baro’ (Cinta dan Benci karena Allah) , semua ini menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Al Wala’ wal Baro’ adalah prinsip yang paling mendasar dalam Islam dan prinsip yang paling mendasar dalam manhaj As-Salaf Ash-Sholeh dan tidaklah agama Allah yang haq bisa tegak kecuali dengan menjaga prinsip yang agung ini. Sesungguhnya itu merupakan pagar (pembatas) bagi Islam dan tembok bagi manhaj Salaf. Jika kita membuangnya dan menelantarkannya sebagaimana Ikhwanul Muslimin dan para pengikutnya dari kalangan sururiyyin menelantarkannya, maka Islam dan manhaj Salaf akan benar-benar hilang, akan hilang bahkan dia (Islam dan manhaj Salaf) telah hilang dari mereka dan tidak akan tinggal –insyaAllah- kecuali pada orang yang menjaganya dan mengerti kedudukannya dan mereka itu adalah Safiyyin yang hakiki, pengikut Salaf yang murni. Tidak ada padanya membebek buta, tidak kepada Sayyid Quthb dan tidak pula kepada selainnya dari ahlul bid’ah dan sesat. Maka Salafiyah berlepas diri kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dari Sayydi Quthb dan tidak pula kepada selainnya dari ahlul bid’ah dan sesat. Dan mereka berwala’ kepada para Nabi dan Rasul yang mulia dan semua shahabat dan tidak mengecualikan seorangpun dari mereka berwala’ kepada para imam yang mendapatkan petunjuk pada periode yang terbaik dan periode lainnya hinga hari ini, mereka berwala’ kepada para imam yang mendapatkan petunjuk dan da’i-da’i tauhid dan menyeru kepada keikhlasan kepada Allah Robb alam semesta. Dan mereka tidak berwala’ kepada ahli bid’ah, tidak membela mereka bahkan mentahdzir (memperingatkan manusia dari) mereka dan dari bid’ah serta kesesatannya.

Dan pembicaraan tentang mereka (YWI-pent) akan panjang, akan tetapi disini disebutkan tentang pimpinan dari yayasan ini (Muh. Zaitun Rasmin-pent) yang berkata ketika mensyarah kitab “Al Ushul Al-‘Ilmiyah fid Da’wah As-Salafiyah” karangan ‘Abdurrahman ‘Abdul Kholiq, dan ‘Abdurrahman ‘Abdul Kholiq ini mengaburkan da’wah Salafiyah dan mengaburkan pengikutnya dan menyesatkan banyak pemuda di dunia. Dan buku ini termasuk bukunya yang baik dan padanya ada beberapa kritikan. Maka kalau dia (Zaitun-pent) menetapkan tauhid Hakimiyah dengan model seperti ini, maka itu termasuk kesesatan-kesesatan ‘Abdurrahman ‘Abdul Kholiq dan para ‘ulama telah membantahnya tatkala dia menjadikan tauhid Hakimiyah sebagai bagian keempat (dari pembagian tauhid), karena tauhid Hakimiyah bukan bagian tersendiri dari bagian manapun dari jenis-jenis tauhid. Akan tetapi dia termasuk atau bagian dari hukum Laa Ilaha Illallah sebagaimana kata Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, atau masuk ke dalam tauhid rububiyyah atau tauhid uluhiyah. Ini (menjadikan tauhid hakimiyah sebagai tauhid keempat-pent) adalah perkara yang baru yang mereka buat-buat. Kadang-kadang (tauhid Hakimiyah) masuk pada tauhid rububiyah dari satu sisi dan masuk pada tauhid uluhiyah dari sisi yang lain. Dia hanya mengikut dan bukanlah pokok yang berdiri sendiri dan bukan pula bagian tersendiri dari bagian-bagian tauhid.

Footnote :

[1] Silahkan klik http://almakassari.com/biografi-syaikh-robi-bin-hady-al-madkhaly untuk mengetahui biografi beliau.

Sumber : Fatwa Imam Jarh wat Ta’dil, Syaikh Robi’ bin Hady Al-Madkhaly (hafidzhahullah) tentang Kesesatan Jama’ah/Yayasan Wahdah Islamiyah, Penerbit : Ma’had As-Sunnah Makassar (2002). Fatwa ini direkam di rumah beliau di Makkah Al-Mukarramah -semoga Allah menjaganya- pada hari Jum’at, tanggal 23 Ramadhan 1420 H / 31 Desember 1999 dan diterjemahkan dari kaset berbahasa Arab oleh pengasuh Pondok Pesantren As-Sunnah Makassar.
http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/fatwa-kesesatan-jamaah-yayasan-ormas-wahdah-islamiyah.html

34 komentar:

  1. Nasehat Berharga Dari Fadhilatu as Syaikh al ‘Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid –hafidzhahullah-, Kepada Fadhilatu as Syaikh Rabii’e bin Hadi al Madkhaly -hafidzahulloh-, Tentang Sayyid Quthub –rahimahullah-
    Kepada Saudaraku, as-Syaikh Rabi’e bin Hadi al-Madkhaly, yang terhormat

    Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu

    Berikut ini penjelasan dariku tentang keinginan anda agar saya menelaah buku yang anda sertakan, berjudul “Adhwaa’ Islamiyyah ‘Ala ‘Aqidati Sayyid Quthub wa Fiqrih” (Pandangan Islam terhadap akidah dan pemikiran Sayyid Quthub); apa komentar anda terhadap buku ini; adakah buku ini menurut pengamatan anda tidak layak terbit atau adakah perbaikan anda terhadap buku ini hingga membuatnya layak terbit, yang pada akhirnya akan menjadi tabungan kebaikan bagi anda di akhirat dan penjelasan bagi siapa saja yang Allah kehendaki dari hamba-hamba-Nya di dunia. Menjawab keinginan tersebut?, maka berikut ini beberapa ulasan saya;

    1. Ketika membaca halaman pertama dari buku ini (daftar isi), saya dapati buku ini memuat beberapa sisi tentang dasar-dasar pemikiran kufur, ilhaad dan zindiiq yang diusung oleh Sayyid Quthub –rahimahullah-, diantaranya;

    * Selengkapnya cek di :
    http://petualangharakah.wordpress.com/2010/07/02/bukti-salafy-murjiah-menurut-alqaeda-ilmunya-asal2xan-alias-tidak-ilmiyah/

    Silahkan lihat langsung versi originalnya di : http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=94

    BalasHapus
  2. Baarakallohufikum.
    Perlu di camkan bahwa para ulama ahlussunnah wajar dalam masalah ijtihadiyyah dan itu dengan ketinggian ilmu mereka, adapun perselisihan syikh Rabi' dengan syaikh Bakr adalah murni dengan kadar ilmu mereka meskipun kebenaran ada pada syaikh rabi',

    Dan tolong anda camkan syaikh Rabi' dengan Syaikh bakr adalah mereka dalam ushul ilmiyyah dan manhaj mereka sepakat bahawa SAYYID QUTHB MUBTADI, HIZBIYIIN DAN TAKFIRIYUUN, maka perbedaan beliau beliau ini hanya perbedaan pandangan realitas antara syaikh rabi dan syaikh bakr dalam memandang sayid quthb,perlu kita diketahui bahwa dalam jhr { التفريق في مواضع الخلاف بين ماكان مرده إلى المنازعة في الأصول العلمية وبين ماكان مرده إلى التفاوت في تقدير الواقع} ”Membedakan antara khilaf yang timbul dari penyimpangan ushul ’ilmiyyah dengan khilaf yang timbul dari perbedaan memandang realitas”.

    Ketidakpahaman akan hal ini menyebabkan mereka mencela seseorang (ulama) yang sebenarnya tidak pantas untuk dicela. Misalnya saja mereka mencela Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid atau Asy-Syaikh Ibnu Jibrin yang dianggap cenderung membela Sayyid Quthb.

    Permasalahannya adalah jelas. Dalam hal prinsip ilmu, maka Asy-Syaikh Bakr bin ’Abdillah Abu Zaid dan Asy-Syaikh Ibnu Jibrin tidaklah berbeda dengan para masyaikh lainya (seperti misal : Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhaliy). Dan mereka sangatlah berbeda dengan Sayyid Quthb dalam hal prinsip ilmu (baik dalam ’aqidah dan manhaj secara umum).

    Perbedaan di antara para ulama tersebut berkisar apakah kesalahan Sayyid Quthb itu cukup mengeluarkannya dari lingkaran Ahlus-Sunnah. Selain itu, perbedaan itu juga disebabkan perbedaan kedalaman telaahan realitas terhadap karya-karya Sayyid Quthb. Tidak diragukan lagi bahwa dalam hal ini Asy-Syaikh Rabi’ lebih mendekati kebenaran dibandingkan yang lainnya.

    Namun bukan berarti dengan hal ini kita boleh seenaknya mencela Asy-Syaikh Bakr dan Asy-Syaikh Ibnu Jibrin dengan perkataan-perkataan yang tidak layak seperti : Quthbiyyun, bukan ulama, pendukung hizbiyyin, dan yang sejenisnya. Mereka semua kita cintai dan kita dudukkan sebagaimana kedudukan yang semestinya sebagai seorang ahli ilmu. wallohu'alam

    BalasHapus
  3. afwan, antum mngambil data dari almakasari. sedangkan almakasari adalah situs yang suka fitnah di makasar dan afwan ana mantan salafi lj. jadi ana tahu benar akhlak orang - orang mantan salafi lj. jadi afwan menyebarkan fitnah itu berbahaya. apa lagi bersumber dari tukang fitnah. jangankan wahdah, ustadz yazid dan ustaz hakim pun dituduh sururi. hati hat. akhi. terhadap al makasari.

    BalasHapus
  4. Bismillah,

    Kepada : Syarif

    Semoga Allah menjaga kita semua diatas manhaj As Salafushalih, akhuna Syarif smoga Allah menjaga anda dan memberkahi anda baik harta, keluarga serta keturunan anda, Sesungguhnya ahlus sunnah itu sedikit dan jangan disempitkan lagi dengan sikap kita yang mendengki sesama salafiyyin, wallahi ya akhy sedikit dari yang sedikit itu salafiyiin, entah disedikitkan berapa bagian lagi kiranya kalian mendengki.

    Fitnah dimasa lalu dengan adanya Gerakan yang katanya dari 'salafy' yakni Laskar Jihad,biarlah berlalu dan jangan menyimpan dendam, tujuan kita fokus menuntut ilmu, ilmu, ilmu dan ilmu, bermajelis, mentakhrij, dan mengamalkan, bukan saling hasad dan dengki, janganlah kita jadikan diri ini menjadi kerikil-kerikil dakwah.

    Saya faham adanya sebagian assatidz yang saling hajr/tahdzir dst.. namun pada hakikatnya itu semua kembali pada ijtihadiyyah, maka tidak perlu dibesarkan, jangan mereka menuduh kita sururi namun kita balas lagi dengan menuduh mereka Laskar Jihad padahal merek telah taubat, bahkan sekarang sudah tidak ada lagi nama ormas Laskar Jihad, lalu kenapa kita menuduh mereka LJ..?? jika demikian samakah kita dengan mereka yang menuduh kita sururi namun tanpa bukti, begitu juga kita menuduh mereka LJ namun ormas nya Bubar..??

    Alhamdulillah Al Ustadz Dzulkarnaen bin Sanusi Hafidzahullah dan ikhwan-ikhwan maakasar termasuk al makasari.com, insya Allah berlepas diri dari pa yang dituduhkan, dan al Wahdah al Islamiyyah adalah Sururi tulen, bahkan mereka menyanjung qaradhawi. wallahu'alam

    BalasHapus
  5. Qaulan_Sadida mengatakan...
    al Wahdah al Islamiyyah adalah Sururi tulen, bahkan mereka menyanjung qaradhawi.

    Betulkah itu...?
    Hemat saya telusuri lebih dalam tentang wahdah, kemudian temukan fakta sebenarnya. jangan mengenyangkan diri dengan sebatas mendengar (qila wa qala). Lihat, saksikan, tanya langsung ke ustadznya, dan terakhir, silahkan menyimpulkan.

    BalasHapus
  6. Bismillah,

    Tak kenal maka tak sayang, sebagai muslim kita kita wajib mengetahui burhan hujjah yang nyata, dan tidak selayaknya kita taklid buta pada kyai, atau tokoh tertentu, inilah islam karena Termasuk hal yang disepakati oleh ulama bahwa taqlid adalah,

    “Mengambil suatu pendapat tanpa mengetahui dalil (landasannya)”

    adapun Wahdah al Islamiyyah kami katakan sururi tulen bukanlah qila wa qala, sudah nyata dan memang diterapkan oleh mereka, diantara syi'ar sururiyah yang utama dari mereka adalah :

    1. Tauhid Hakimiyyah, kemudian pembelaan terhadap Sayyid Quthb, demonstrasi, muwâzanah dan berwalâ’ kepada ahlul bid’ah Dan ada satu permasalahan yang lupa saya sebutkan tadi dari kesesatan-kesesatan Wahdah Islamiyah, yaitu beraninya memberi fatwa. ‘Hakimiyah’ asalnya adalah kata yang bid’ah dan tidak pernah dikenal di kalangan para ulama salaf terdahulu. Kata ini tidaklah dimunculkan kecuali oleh orang-orang yang mempunyai aqidah Khawarij dan bermanhaj takfiry semacam Sayyid Quthb dan orang-orang bodoh yang mengikutinya (Quthbiyun)

    Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Siapa yang membagi tauhid dengan pembagian seperti ini maka dia adalah mubtadi (ahli bid’ah)”. wallahu'alam

    BalasHapus
  7. Bismillah

    Yaa Akhi..antum sendiri berkata
    "Fitnah dimasa lalu dengan adanya Gerakan yang katanya dari 'salafy' yakni Laskar Jihad,biarlah berlalu dan jangan menyimpan dendam, tujuan kita fokus menuntut ilmu, ilmu, ilmu dan ilmu, bermajelis, mentakhrij, dan mengamalkan, bukan saling hasad dan dengki, janganlah kita jadikan diri ini menjadi kerikil-kerikil dakwah"

    Lalu...
    Apakah antum sendiri telah berfokus demikian??Syukran jazaakumullahu khoyr ya akhi..

    dari sini ana banyak belajar bahwa seseorang hanya bisa menilai dari luar tanpa studi lebih lanjut, ana pun belajar bahwa ternyata berita yang lama dan tidak disertai penegakan hujjah itu sangat2 berbahaya...padahal ana sendiri melihat bagaimana para Masyaikh dengan senang hati mengajar dan berbagi ilmu dengan kader2 wahdah Islamiyah. Lalu apa para Masyaikh itu keliru ataukah tergelincir tanpa terlebih dahulu melakukan studi kelayakan pada Wahdah ISlamiyah ketika mengajarkan ilmu??Wallohul Musta'an, semoga apa yang antum sampaikan pada ummat ini tidak menjadi seperti memakan bangkai saudara sendiri. Adapun tauhid hakimiyyah jelas2 para guru kami menjelaskan kedudukannya berdasarkan kitab Syaikh Dr Nashir bin Abdul Karim Al 'Aql, sejauh ini kami diajarkan tentang 3 jenis tauhid. Coba antum sedikit up date informasi-lah..jgn terjebak berita lama bahkan belum jelas kebenarannya.Wallohu 'alam

    BalasHapus
  8. Pertama, Wahai akhy al karim Baarakallahufikum, antum menukil komentar saya tentang fokus pada ilmu jagan saling tahdzir dan antum mengatakan apakah diri saya ini sudah berfokus pada ilmu..??.

    Jawab : yaa Akhy karim -semoga Allah merahmatimu-, perkataan ana yang antum nukil, dimaksudkan kepada ahlussunnah dengan ahlussunnah salafiyyin bukan dengan hizbiyyin sekelas wahdah, inilah sifat hizbiyyah yang mencari celah-celah perkataan seseorang untuk menguatkan pendapatnya padahal hakikatnya orang tersebut tidak bermaksud dari apa yang dia maksudkan.

    contoh Syaikh Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullah menulis kitab rifqah ahlussunnah bi ahlissunnah, kitab ini dimanfaatkan oleh para hizbiyyin agar salafy jangan keras lagi sebagaimana syaikh abdul muhsin membuat kitab tersebut, padahal tulisan tersebut dibuat syaikh bukan untuk berlemah lembut pada hizbiyyah namun berlemah lembut pada sesama salafy,

    sebagaimana beliau(syaikh Abdul Muhsin) berkata “Kitab yang saya tulis pada akhir-akhir ini (yaitu kitab Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, pent) …tidak ada hubungannya dengan pihak-pihak yang pernah saya sebutkan dalam kitab Madarikun Nazhar, Dengan ini yang dimaksud dengan bersikap lembutlah wahai Ahlus Sunnah terhadap Ahlus Sunnah, bukanlah kelompok Ikhwanul Muslimin, bukan pula orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb, dan yang lainnya dari kalangan harakiyyin (para aktivis pergerakan, pent). Tidak pula yang dimaksudkan (oleh buku tersebut) orang-orang yang terpengaruh pemikiran fiqhul waqi’(orang-orang yang) mencaci maki pemerintah, dan meremehkan para ‘ulama. Bukan mereka yang dimaksudkan sama sekali. Tapi hanyalah yang dimaksudkan (oleh buku tersebut, pent) adalah intern Ahlus Sunnah saja, di mana telah terjadi diantara mereka ikhtilaf, sehingga mereka sibuk dengan sesamanya untuk saling menjarh, memboikot, dan mencela”

    Oleh karena itu, perlu diketahui kepada kaum muslimin bahwa trik para hizbiyyah adalah tipudaya serta mengambil celah menukil perkataan ulama sunnah hanya untuk menguatkan pendapat nya saja, begitu juga Orang-orang Wahdah Islamiyah mereka itu seperti yang dikatakan oleh Waki’ Ibnul Jarrah rahimahullâh,

    يكتبون ما لهم فقط

    “Hanya mengambil apa-apa yang bisa menguatkan mereka saja.” wallahu'alam

    BalasHapus
  9. Yang Kedua, perkataan antum wahai akhy hafidzahullah "Adapun tauhid hakimiyyah jelas2 para guru kami menjelaskan kedudukannya berdasarkan kitab Syaikh Dr Nashir bin Abdul Karim Al 'Aql, sejauh ini kami diajarkan tentang 3 jenis tauhid. Coba antum sedikit up date informasilah..jgn terjebak berita lama bahkan belum jelas kebenarannya."

    Jawab :

    Perlu antum ketahui, Ahlussunnah menghajr wahdah islamiyyah bukan orang perorang didalamnya, namun kami menghajr Yayasannya, kalaupun ada guru-guru antum dari kalangan wahdah yang menentang tauhid hakimiyyah dan memakai tauhid yang 3, kalupun ada itu hanya kalangan minoritas wahdah dan saya faham itu, namun secara umum al wahdah islamiyyah menganut hakimiyyah, sekali lagi kami bukan menghukumi individu2 orang yang didalam wahdah namun kami menghajr yayasan wahdah islamiyyah secara umum, maka jika guru-guru antum mengajarkan yang shahih, maka saya katakan "alhamdulillah, ilmu sudah sampai pada guru antum semoga guru antum pun di beri taufiq untuk melepaskan atribut wahdah maka masya Allah wallahulmuwafiq".

    wallahulmusta'an

    BalasHapus
  10. Bismillah
    Ini butuh dikoreksi kalau antum mengatakan bahwa yg mengilmui bahwa tauhid ada 3 itu kalangan minoritas saja tetapi selama ini seluruh guru kami yang mengajarkan ilmu mengajarkan tentang 3 pembagian tauhid bukan 2 tauhid seperti yg antum sebutkan. kitab2 rujukan kami jelas antara lain Kitab tauhid oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan, Syarah 3 landasan utama juga oleh Syaikh Shalih bin Fauzan dan rujukan lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Semoga ini menjawab sedikit apa yang terjadi di dalam tubuh wahdah Islamiyah kepada antum. Semoga Allah memberikan petunjuknya kepada kami dan antum.Wallohul musta'an

    BalasHapus
  11. Allohuma Amin Baarakallahufikum, jika memang benar demikian keadaannya walhamdulillah kami bersyukur pada Allah 'azza wa jalla yang telah membaiki kaum muslimin ke arah yang benar, dan kami berharap ada perbaikan pula terutama dalam hal manhaj di tubuh WI jika antum dan lainya merjuk manhaj salaf maka tinggalkan atribut WI, dan saya sudah katakan penukilan perkataan ulama salaf bisa dilakukan oleh siapapun sampai orang yang menamakan dirinya al qaeda yang membom sana sini mereka menukil perkataan Imam Ibnu Taimiyyah Imam Ibnu AbdulWahhab namun perkataaan itu diselewengkan dari apa yang dimaksud oleh syaikh, atau yang diambil hanya sebagai penguatnya saja sebagaimana yang telah kami sebutkan :
    Waki’ Ibnul Jarrah rahimahullâh berkata ,

    يكتبون ما لهم فقط

    “(mereka)Hanya mengambil apa-apa yang bisa menguatkan mereka saja.”

    maka kiranya wahdah telah merujuk pada 3 tauhid maka para pengikutnya seharusnya rela melepaskan atribut WI dan menjadi salafi karena Manhaj itu sangat erat kaitannya dengan aqidah. Manhaj secara umum aqidah juga masuk ke dalamnya. Kalau manhajnya ada kerusakan dan kerancuan maka pasti aqidahnya ada kerancuan. Apalagi tentang Tauhid Hâkimiyahnya ini dan lain-lainnya.

    wallahu'alam

    BalasHapus
  12. Bismillah

    Alhamdulillah, Aasif..atribut yang bagaimana maksud antum??Anaa khawatir atribut2 yg antum maksudkan tidak ada pd tubuh wahdah. lalu apabila Wahdah telah melakukan banyak perbaikan dan Insya Allah tanpa bermaksud men-tazkiyah diri berusaha bermanhaj salaf lantas masih belum disebut salafi??Kami memahami bahwa manhaj salaf tak hanya mengenai aqidah tetapi seluruh konsep utuh kehidupan generasi salafus shalih. Kami hanya bisa menjelaskan apa yg kami alami, entahlah jika antum melihat hal2 yang tidak kami lihat, tetapi konsepsi yg diajarkan kepada kami adalah apa yg kami-Insya Allah- rujuk pada manhaj salaf.. Dan juga apa yg diajarkan kepada kami oleh Masyaikh juga Insya Allah manhaj salaf. Selama bertahun2 kami belajar, kami banyak memiliki kesempatan belajar dengan Masyaikh2 timur tengah mengenai bagaimana itu manhaj salaf dalam hal aqidah, tazkiyatunnafs, fikih, ibadah dsbx -semoga Allah merahmati mereka semua-. Wallohul musta'an

    BalasHapus
  13. Atribut yang kami maksud,tidak lain dan tidak bukan melainkan organisasi anda yakni dibawah naungan organisasi, adana baiat (keterikatan) alwala wal bara' sesuai pemimpinya dan hal demikian mau tak mau pasti dilaksanakan jika manhaj kalian berorientasi pada DPP, DPW, DPC dan mengangkat Amir diantara kalian.

    Wahai saudaraku, orang-orang awwam sangat butuh pengarahan untuk diri mereka sendiri bukanlah mereka yang mengarahkanmu dan menguasaimu, sebaliknya kamulah yang harus menjelaskan kepada mereka bahwa belajar agama di masjid adalah lebih utama. Dan bahwasanya kita salafiyyun tidak butuh terhadap organisasi, karena organisasi ini tidaklah mendatangkan sesuatu bagi manusia kecuali percekcokan, penyakit, perpecahan dan perselisihan serta menyempitkan dada.

    Rasulullah Shallalahu `alaihi wa aalihi wa sallam bersabda:

    «من أحدث فى أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد»

    "Barangsiapa yang mengada-ada dalam perkara agama kami ini maka yang ia bukan bagian darinya maka ia tertolak" (Hadist Aisyah Radiyallahu `anha Riwayat Al-Bukahri (2697) dan Muslim (1718))

    Demi Allah ketetapan dan kondisi perkara ini di zaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa aalihi wa sallam sudah ada. Ustman bin Affan radhiyallahu `anhu dia adalah golongan hartawan, Abdurrahman bin `Auf radhiyallahu `anhu ia adalah golongan hartawan dan Abu Thalhah setelah itu menjadi golongan hartawan juga dan sejumlah hartawan dari shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Di sisi mereka ada Ashaabus Suffah. Jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diberi shodaqoh maka beliau mengirimkan shodaqoh itu kepada mereka sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah (diriwatkan Al-Bukhari 6452) dan jika beliau diberi hadiah maka beliau mengambil sebagiannya kemudian beliau memberikan kepada mereka dan beliau tidak berkata "Berkumpullah kalian dan buatlah kotak infaq atau organisasi untuk Ashabus Suffah dan yang semisal dengan Ashabus Suffah".

    dan tentu diantara mereka (para shahabat) tidak satupun berambisi menguasai umat sebanyak-banyaknya dalam naungan organisasi masing-maasing, namun yang mereka lakukan adalah ad Dakwah,Demi Allah organisasi-organisasi ini tidaklah datang dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Saya katakan ini dengan terus terang!! Ia tidaklah datang kecuali dari orang-orang yang menganggap baik dalam agama mereka. Mereka tidak memiliki syara' yang benar yang mereka jalani di dalam agama mereka. Karena itu mereka mendatangkan sesuatu dari mereka sendiri untuk mereka jalani seperti organisasi ini, organisasi itu. Adapun kita, maka agama kita adalah agama rahmah dan agama kita adalah agama yang benar, memberi hak pada setiap yang berhak mendapatkannya.

    «مثل الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ»

    "Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam menyayangi dan mencintai sesama mereka seperti satu jasad." (Muttafaqun 'alaihi dari hadits Nu'man bin Basyir)

    Sedangkan agama kita adalah agama yang mensyariatkan zakat, sedekah, dan berbuat baik kepada orang tua dan memberi hak tetangga, hak persaudaraan dan memuliakan tamu, maka kita tidak butuh terhadap organisasi semacam ini. Kita berjalan di atas jalan salaf kita –rahimahumullah-. wallahu'alam

    BalasHapus
  14. Bismillahirrahmanirrahim

    Yaa Akhi..sebenarnya sudah sangat lama kami ingin menanggapi ini, hanya saja kami khawatir lagi dengan nasehat antum bahwa kami hanya akan mengambil apa2 yang akan menguatkan kami sehingga kami selalu merasa khawatir apabila menjelaskannya kami akan terjatuh dari apa yang antum telah nasehatkan kepada kami. Tapi, kami hanya ingin menyampaikan dan tidak ingin membela diri atau apapun itu dengan apa yang kami pahami bahwa dakwah yang kami pahami bukanlah dakwah ilayna, ilayhim atau dakwah ilayha melainkan dakwah ilallah, Insya Allah. kami berlindung kepada Allah dari niat-niat yang menyimpang. Al wala wal bara pun yang kami pahami hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja. Tanzhim dakwah hanyalah wasaailuddakwah, tanzhim bukan ahdaf, bukan uslub bahkan bukan manhaj kami dalam berdakwah. Sebagaimana yang pernah dijelaskan kepada kami apa perbedaannya oleh guru-guru kami. Kami tidak ingin membenarkan diri kami jika kami salah, hanya saja kami ingin meluruskan apa yang telah antum tuliskan tentang tauhid hakimiyah dan berbagai penyimpangan yang disebutkan sebelumnya yang tidak ada dalam diri kami, kalaupun itu pernah ada sebelum kami maka kami berlepas diri dari hal tersebut. sekali lagi kami hanya menyampaikan apa yang kami alami selama ini. Wallohu a'lam

    BalasHapus
  15. Baarakallahufikum, ana telah mengatakan alhamdulillah kiranya Tauhid hakimiyyah telah tidak nampak di Wahdah, maka wal hamdulillah wa baarakallahufik, semoga Allah memahamkan kita pada manhaj yang lurus.

    Maka tinggal antum merubah manhaj yang menjadikan antum terjun pada hizbiyyah yakni organisasi dalam islam yang berorientasi pada Masa, adanya DPP, DPW, dan seterusnya ini tidak dibenarkan dalam manhaj ini, karena menggiring manusia pada hizbiyyah.

    kiranya Antum berkata "FATWA SYAIKH BIN BAAZ yang menghalalkan ormas islam"

    jawab :

    1. Fatwa tersebut diselewengkan oleh hizbiyyin dari apa yang syaikh maksudkan. dimana maksud syaikh Bin Baaz rahimahullah adalah Organisasi yang berorientasi pada organisir lembaga.
    contoh univ.Madinah,disini ada struktural yang teroganisir dari rektor, penasihat dst.. begitu pula yayasan, inilah yang dimaksud oleh syaikh bin baaz begitu juga lajnah-lajnah pun teroganisir, namun bukan yang beroriantasi pada masa (ormas).

    BalasHapus
    Balasan
    1. to: anonim
      Jika antum berkata "ORMAS HANYA WASILAH DAKWAH BUKAN BERMAKSUD HIZBY:

      Kami katakan :

      1.Apa iya, dan apa benar perkataan antum itu terealisasikan pada perbuatan suatu ormas islam, kiranya anda mengatakan hanya wasilah dakwah maka cukup aja anda membuat Yayasan namun yayasan yang tidak orientasi masa, bukankah ini bisa dilakukan dalam legalitas di instansi dan tak perlu mendirikan ormas.

      2.jika antum mempertahankan ormas wahdah, apakah anda yakin tidak mengikuti alur prosedural pemerintah..? dimana ormas harus mengikuti apa-apa yang ditentukan pemerintah baik yang ma'ruf atau yang tidak ma'ruf. sedangkan agama kita menyuruh mentaati pemerintah hanya yang ma'ruf sesuai Al Qur'an dan Sunnah.

      3. seiring waktu berganti suatu ormas yang telah ditinggalkan tokohnya dan diteruskan murid-muridnya menjamin kah diri antum bahwa pengikut wahdah tidak memiliki ta'ashub, jaminkah diri anda, para pengikut wahdah dikemudian hari tidak akan menyetir ormas tersebut pada hizbiyyah. maka dari sini telah diketahui bahwa ormas lambat laun dikemudian hari akan membawakan pengikutnya pada kefanatikan. karena niat yang baik saja tidak cukup..!! tanpa diiringi nash yang shahih.

      renungilah..!!

      lihat KH.Hasyim Asy'ari..
      Lihat KH.Ahmad Dahlan..
      apakah ormas mereka yang sekarang ini, sesuai dari apa yang dituju keduanya..??
      tidak..!! dengan nama yang sama didirikan oleh keduanya sekarang antum bisa melihat sendiri, fanatik dan ta'ashub mewarnai.. bahkan said aqil siradj (ketum ormas terbesar yang didirikan KH.Haysim Asy'Ari rahimahullah) cenderung pada sekte yang sesat yang tentu jauh dari apa-apa yang diinginkan KH. Hasyim Asy'ari. wallahulmusta'an

      Hapus
  16. Qaulan_sadida
    Artinya : “Barang siapa yang menghendaki pada tengah-tengah surga (masuk surga), maka tetapilah Jama’ah”.

    dan Nabi bersabda HR. Termidzi :”Tangan Alloh (pertolongan Alloh) beserta orang-orang Jama’ah, barang siapa yang keluar (dari Jama’ah) maka keluarnya menuju neraka.
    Selanjutnya :
    Tidak ada seorangpun yang memisahi jama’ah sejengkal(tidak berjamaah) maka mati dia berarti matinya dalam keadaan jahiliyah (HR Bukhari)
    Jazakumullahu khoir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. baarakallahufikum, Sebaiknya dalam penukilan hadist, disertai oleh pendapat para ulama yang dipercaya, bukan menukil lalu ditafsirkan lewat akal dangkal kita, wallahi musibah nantinya, contoh hadist yang antum nukilkan:


      وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً


      “Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak terdapat baiat, maka matinya seperti mati Jaahiliyyah” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1851].

      hadist ini sring dipakai oleh sekte/aliran yang sesat semacam LDII / NII / ataupun Ormas-ormas yang menganut Baiat seperti wahdah Islamiyyah, tidak heran kiranya komentar diatas adalah seseorang yang masuk didalamnya, maka perlu diketahui bahwa Hadist tersebut ada syarah dihadist lain yakni

      حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، عَنِ الْجَعْدِ، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً "
      Telah menceritakan kepada kami Musaddad : telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waarits, dari Ja’d, dari Abu Rajaa’, dari Ibnu ‘Abbaas, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang membenci sesuatu dari amir (pemimpin)-nya (yang sah), hendaknya ia bersabar. Karena barangsiapa yang keluar ketaatan dari sulthan meskipun hanya sejengkal, kemudian mati, maka matinya itu seperti mati dalam keadaan jahiliyyah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7053].
      dari hadist ini telah jelas, bahwa maksud dari baiat disini adalah baiat yang sah yakni pemerintahan yang diakui secara umum oleh masyarakat dinegeri tersebut.

      jika kita ambil hadist ini dengan menafsirkan baiat adalah berbaiat pada imam suatu aliran islam maka anda berfikir, NII punya Imamnya, LDII punya juga, AL Qaeda punya imam nya juga, wahdah punya juga, dan seterusnya lalu kita sampaikan hadist :\

      “Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak terdapat baiat, maka matinya seperti mati Jaahiliyyah” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1851].
      maka imam yang mana yang haq dibaiat, kiranya seluruh kelompok punya masing-masing imam otomatis dampaknya seluruh kelompok mengklaim imam kami lah yang harus dibaiat, kelompok satu lagi berkata "Bukan Imam saya yang harus dibaiat", yang satu lagi berkata "anda sesat imam kamilah yang dibaiat", maka akan kacau galau semua mengklaim, maka telah jelas imam yang dibaiat adalah imam yang sah yakni presiden/raja/perdana mentri disuatu negara.

      Hapus
  17. 'afwan, satu lagi yaa Akhi..

    Wahdah tidak memiliki imam untuk di ba'iat. Kmi tidak pernah di ba'iat sama sekali.\
    Wallohul musta'an
    kami berlindung kepada Allah dari apa2 yg dilontarkan kepada kami dan hal tersebut tidak ada pada diri kami.

    BalasHapus
  18. Baarakallahufikum.
    Jika tidak ada imam baiat, apa aedah antum menukil hadist Rasulullah tersebut, yang mana selama ini hadist tersebut diselewengkan menjadi dalil Imam Baiat aLA LDII / NII dan sempalan lainya. maka inilah terjadi kontradiksi antum menukil hadist tersebut tanpa syarah ulama, bahaya akhy, dan maksud antum bagaimana dan apa menukil hadist-hadist yang biasa diselewengkan aliran sesat...?? jika antum tidak menganut baiat imam didalam jama'ah tertentu, maka rujuklah pada jama'ah kaum muslimin janganlah mendirikan suatu kelompok yang memecah belah. wallahul musta'an

    BalasHapus
  19. Assalamu Alaikum
    Sekiranya antum hidup dinegeri muslim dan hidup dengan syariat islam, maka antum boleh berlepas diri wajibnya mengangkat imam dan bai'at, tapi jika sekiranya tinggal dinegeri kafir atau negeri sekuler seperti negeri kita Indonesia, apakah antum ridho diatur oleh mereka yang lebih condong pada duniawi, politik dll. Anti dengar berita bahwa presiden kita tiap tahun hadir di acara natal kaum nashara, hadir diperayaan imlek kaum musyrikin, apakah itu yang pantas kita imami.
    "Sesungguhnya Allah ridha pada kalian akan tiga perkara; Menyembah Allah dan tidak menyekutukannya, menetapi agama Allah dengan berjamaah dan tidak berfirqoh dan berbakti (taat) kepada orang (imam) yang diserahi (untuk mengurus) perkara kalian". HR. Muslim
    "3 perkara yang hati orang Islam tidak akan berkhianat darinya; ikhlas dalam beramal karena Allah, berbakti (taat) kepada pengatur (imam), dan menetapi jamaatul muslimin (berjamaah), sesungguhnya do'a mereka meliputi dari belakang mereka. Diriwayatkan oleh para imam ahli sunan (Hadits)".
    "…..Nabi Bersabda: Kamu supaya menetapi jama’ahnya orang islam dan imam mereka, berkata aku hudaifah : jika pada waktu itu tidak ada jama’ah dan tidak ada imam, Nabi Bersabda: Maka memisahkan dirilah engkau dari semua golongan2 itu (golongan yg tidak ada imam dan tdk berjam’ah) kamu harus memisahkan diri meskipun sampai2 engkau makan akarnya pohon sampai mati menjemputmu".(HR Bukhari Kitabul manakib)
    Jazakumullohu Khoir

    BalasHapus
  20. Wa'alaikumussalam Warahmatullah.

    Kami jawab dalam dari berapa segi :

    1. Anda membawakan hadist, tolong sertakan syarah ulama mengenai hadist tersebut, wahai saudaraku kiranya anda membawakan hadist diatas dengan penjelasan ahli ilmu, tentu Hadist tersebut bukan dalil yang antum maksudkan.dimana para ulama menjelaskan dalam hadist tersebut tentang makna Al Jama'ah yakni al-jama'ah, makna asalnya adalah sejumlah orang yang mengelompok. Tetapi, yang dimaksud dengan al-jama'ah dalam pembahasan aqidah ini adalah Salaf (pendahulu) dari umat ini dari kalangan shahabat dan orang-orang yang mengikuti kebaikan mereka, sekalipun hanya seorang yang berdiri di atas kebenaran yang telah dianut oleh jama 'ah tersebut. (Ar-Raudah An-Nadiyyah Syarh Al-Aqidah Al-Washitiyyah, hal. 14 Zaid bin )

    Abdullah bin Mas'ud Radhiyalahu anhu berkata :

    "Artinya : Jama'ah adalah apa yang selaras dengan kebenaran, sekalipun engkau seorang diri.

    maka dari sini bukan seperti definisi antum ang mana jama'ah adalah ormas, jama'ah adalah Aliran, jama'ah adalah membuat lembaga NII/LDII/Wahdah/HT dst dibawah bendera pemecah umat, bukan itu ya akhy,, maka lihatlah penjelasan Para Ulama mengenai hal ini, Bukan hanya menukil hadist jika hanya menukil saja anak ingusan juga bisa namun pemahaman hadist tersebut akan menjadi ngawur. wallahulmusta'an

    BalasHapus
  21. yang kedua) anda menyatakan " Pemerintahan kita Sekuler" maka apakah pantas dibaiat..??"

    jawab

    perhatikan Hadist Nabi :

    “Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)

    Dari Hadist ini para Ulama berkata

    Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 368)

    maka sejahat apapun penguasa berdasarkan hadist diatas tetap ta'at pada yang ma'ruf (perintah yang baik), namun jika penguasa kita memerintahkan kearah yang maksiat maka kita jangan ta'ati namun bukan berarti gugur keta'atan padanya. contoh : Presiden menyuruh rakyatnya untuk membatasi keturunan, maka dalam hal ini kita tak ta'at, namun jika disuatu hari ia menyuruh dengan kebijakan yang baik contoh : hari raya Iedul fithri jatuh tanggal sekian, maka kita ta'at meskipun bertentangan dengan ormas tertentu maka kita wajib ikut pemerintah dalam hari raya bukan ikut ormas.

    intinya keta'atan kita pada penguasa pada yang baik, adapun jika menyuruh maksiat kita tidak ta'ati namun bukan berarti menggugurkan ketidak ta'atan kita seluruhnya pada penguasa.

    DAN kita harus mempelajari tanda diantara tanda negeri islam yakni adanya adzan bebas, shalat ied bebas, zakat dst.. alhamdulillah ini semua ada di indonesia dan negeri ini adalah negeri islam, tentunya jika ingin membahas ini ada pembahasan khusus bukan disini tempatnya. jika negeri ini adalah kafir kenapa anda tidak hijrah dari indonesia..? ke negara yang anda anggap muslim.wallahul musta'an

    BalasHapus
  22. Ketiga ) Anda menyatakan "Presiden kita merayakan Natal bersama, imlek dan seterusnya" apa pantas di ta'ati ?

    jawab:

    Islam telah sempurna ya akhy, sebutkan ajaran apa yang belum diajarkan islam..??
    tentu yang anda katakan sudah tergambar di agama mulia ini.

    perhatikan hadist Nabi :

    “Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)

    Masya Allah inilah Islam, Rasululullah sudah menggambarkan kejadian yang kita alami sekarang, Kalimat sabda Nabi "seburuk-buruk penguasa.." artinya ini sudah yang paling buruk, tidak ada lagi keburukan diatasnya,dari sini apakah kita Berontak saja / buat kudeta pada penguasa paling buruk ini, masya Allah Rasulullah langsung menjawab :

    "Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)

    camkan kalimat "selama mereka masih shalat ditengah -tengah kalian". masya Allah indonesia ini masih di berkahi penguasa beragama islam tentu kita melihat beliau muslim, masih shalat, masjid-masjid bebas bertebaran.

    Camkan pula sabdanya "Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)
    Masya Allah kiranya Presiden kita berbuat Natal bersama, Imlek, dan merayakan hari raya kufar, maka bencilah terhadap perbuatanya saja dan jangan meninggalkan keta'atan/perintahnya.

    maka kurang apa lagi Islam ini, sampai hari kiamat pun sudah lengkap dijelaskan..!!

    Al-Imam Al-Barbahari berkata: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya akan mendapat pahala yang sempurna insya Allah. Yakni kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at dan jihad bersama mereka, dan juga berpartisipasilah bersamanya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la, 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hal. 14)wallahu'alam

    BalasHapus
  23. Bismillah

    'Afwan..mungkin ada kerancuan pernyataan dan pertanyaan anonim yang satu dgn yg lain. Kami, adalah anonim 20 dec, 27 dec, 28 dec, 20 jan dan 2 februari. Selain itu bukan pernytaan kami, kami menjelaskan apa yg kami alami.

    wallohu a'lam

    biru.langit44@yahoo.co.id

    BalasHapus
  24. Oleh karena itu, disarankan pada yang berkomentar di Qaulan Sadida Blog's, menyebutkan Nama nya, sebagaimana Hadist RASULULLAH ketika salah seorang shahabat bertamu ke rumah Rasul, Rasulullah bersabda : "Siapa, anda..??" shahabat menjawab " saya..", Rasulullah bersabda (dengan suara marah) " Saya.. saya... ".

    inilah 'adab dalam islam, hendaknya kita memakainya jangan seperti orang-orang yang sesat, dengan metode dakwah sirriyyah agar tidak diketahui identitasnya.

    kami saja tampil dengan nama, anda pun sebutkan nama pula. dan para Hizbiyyin serta Aliran sesat selalu menerapkan sirriyyah.wallahulmusta'an

    BalasHapus
  25. Oghi Saputra

    Assalamu Alaikum.
    Ana tinggal di Makassar, dan ingin menuntut ilmu agama, sekiranya antum bisa memberikan jadwal dan tempat pengajian Ahlussunah Waljama'ah Makassar.
    Antum bisa kirimkan di e-mail ana.
    Jazakumullahu Khoir.

    BalasHapus
  26. Nama : Oghi Saputra
    Alamat : Makassar

    Assalamu Alaikum
    Amal sholeh mohon supaya dikirimkan jadwal pengajian Ahlussunah Wallajama'ah Makassar, ana ingin menjadi jama'ahnya dan menambah ilmu pengetahuan islam ana, kalo bisa dikirim via e-mail saya ( oghisaputra@gmail.com )
    Jazakumullahu Khoir.

    BalasHapus
  27. Na'am, semoga Allah memudahkan antum untuk menuntut ilmu diatas pemahaman salaf.

    antum bisa buka situs dengan page :
    http://almakassari.com/jadwal-kajian-daurah-salafy-makassar?month=feb&yr=2012

    semoga bermanfaat

    BalasHapus
  28. nama: Abdulloh

    Assalamualaikm...
    ana mau bertanya, apakah kita itu harus bersyahadat lagi di dunia ini, atau tidak?
    karena ada yang mengatakan bahwa kita itu sekarang hidup di zaman jahiliyah, dan harus bersyahadat lagi dan mengikuti jamaah agar kita tidak disebut orang kafir...
    mohon jawabannya...
    jazzakumulloh khoiran katsiran.
    Assalamualaikm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumussalam.
      Bismillah,
      =semoga Allah memberkahi anda dan keluarga=

      Seseorang yang asalnya memang sudah muslim, dilahirkan pada keluarga muslim, -karena sudah keturunan (orang tuanya muslim)-, maka ketika dia baligh, maka tidak perlu bagi dia untuk mengucapkan syahadatain. Hal itu karena fitrahnya adalah Islam dan fitrahnya itu tidak mengalami perubahan karena kedua orang tuanya muslim.

      Sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
      “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

      Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik t dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad t dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari t dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim t dalam Kitabul Qadar (no. 2658).

      Oleh karena itu, anak adam hakikatnya Muslim, dari keluarga manapun agamanya ketika seorang manusia lahir maka ia muslim, Namun Orang tuanyalah yang menjadikan mereka secara otomatis apakah Nashranikah..? Yahudikah..? dan Majusikah..?

      sebagaimana Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Setiap anak yang wafat wajib dishalatkan sekalipun anak hasil zina karena dia dilahirkan dalam keadaan fithrah Islam, jika kedua orangnya mengaku beragama Islam atau hanya bapaknya yang mengaku beragama Islam meskipun ibunya tidak beragama Islam selama anak itu ketika dilahirkan mengeluarkan suara (menangis) dan tidak dishalatkan bila ketika dilahirkan anak itu tidak sempat mengeluarkan suara (menangis) karena dianggap keguguran sebelum sempurna, berdasarkan perkataan Abu Hurairah radliallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
      مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
      “Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1270)

      Adapun ada sekte/aliran yang menyatakan zaman ini adalah zaman jahiliyyah, adalah sekte sesat lagi menyesatkan, katakan pada mereka kiranya mereka menganggap ini masih zaman jahiliyyah.. katakan pada mereka, shalatkah mereka..?? zakatkah mereka..?? berpuasakah mereka ketika ramadhan..?? karena Zaman Jahiliyyah belum diturunkan perintah tersebut, dan diantara mereka hakikatnya adalah ingkar sunnah, dan baiat adalah ajaran sesat mereka ini yang dilakukan oleh Sekte NII Atau LDII wallahu'alam

      Hapus
  29. Assalamu alaikum. Satu hal yang sangat menyedihkan dari fatwa itu. Mana pertanyaan dan penjelasan tentang wahdah yang diberikan ke Asy Syaikh Robi hafizhahullah???
    Syaikh tidak mungkin memvonis tanpa ilmu. Beliau adalah Ulama' Sunnah.
    Sekali lagi, tunjukkan bunyi naskah pertanyaan dan penjelasan yang diberikan ke Syaikh Robi' hafizhahullah!!
    Ana tunggu jawabannya.

    BalasHapus
  30. assalamu alaikum
    ada baiknya jika akhy Qaulan sadidan datang langsung ke Markas Wahdah di Makassar untuk mengklarifikasi semua tuduhan yang telah dimuat di blog ini sehingga tidak terjatuh pada perbuatan fitnah. insya Allah saudara-saudara kami di Wahdah beserta para ustadz akan dengan senang hati memberikan informasi seluas-luasnya tentang Aqidah, manhaj, dan hal-hal lain yang anda butuhkan untuk mengambil kesimpulan tentang wahdah islamiyah.
    perdebatan yang panjang lebar antara antum dan anonim
    tidak akan berhenti/ selesai.

    Masyhuri
    Makassar

    BalasHapus
  31. berhati hatilah dalam berucap, mengapa kita tidak saling menyapa lalu mencari kebenaran mengapa juga tak bertemu lalu berdiskusi tentang kebenaran yg berlandaskan Al-Qur'an dan Assunnah lantas pantaskah kita hanya bisa menghina dan menjelekkan saudara seislam tanpa harus mencari tahu kebenaran yg hakiki, lantas kenapa begitu beraninya kita menghina dengan jalan hanya sebatas kabar yg belum jelas kebenarannya, jadi saranku duduklah bersama dalam majelis dan mencari kebenaran dengan pedoman yang Allah SWT telah tetapkan, karena jangan sampai kita menimbulkan fitnah, bukankah kita ini manusia yg berfikir, jangan jadikan hawa nafsu merasuki pemikiran kita lalu melakukan fitnah tanpa landasan yang kuat

    semoga iman kita semakin di kuatkan Allah SWT Insya Allah

    BalasHapus

Article's :

QAULAN-SADIDA.BLOGSPOT.COM

SEKOLAH YUUK..!!