Kamis, 15 Januari 2015

SALAFIYYUN DAN DAULAH ISLAM

SALAFIYYUN DAN DAULAH ISLAM

Oleh
Syaikh Salim bin Id Al-Hilali hafizhahullahu



Pertanyaan.
Syaikh Salim bin Id Al-Hilali ditanya : Bagaimana sikap kita dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan kepadaa as-Salafiyyun, bahwa as-Salafiyyun tidak peduli dengan masalah Iqamatud Daulah atau Khilafah Al-Islamiyah (Mendirikan atau membangun negara dan kekuasaan Islam)?

Jawaban
Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash habihi wa man walah.

Sebagaimana yang tadi telah disebutkan oleh Syaikh Ali Hafizhahullah bahwa syubhat-syubhat itu banyak sekali [1]. Sehingga menjawabnya pun membutuhkan waktu yang panjang. Oleh karena itu beliau meringkasnya. Dan apa yang telah beliau sampaikan sebenarnya sudah cukup.

Namun, tatkala permasalahan yang ditanyakan berkaitan dengan masalah kenegaraan dan pemerintahan, maka permasalahan ini merupakan permasalahan paling besar, dan merupakan sebab terbesar yang telah membangkitkan dan mengobarkan para pemuda untuk sangat mudah melakukan takfir (pengkafiran) dan pemberontakan atau demo-demo, dan bahkan perbuatan anarkis. Sebagian permasalahan ini telah dijelaskan oleh Syaikh Ali Hafizhahullah dan saya akan menjelaskan dari sisi lain, yang kaitannya lebih erat dengan permasalahan politik atau kenegaraan secara ringkas pula, insya Allah.

Pertama kali yang semestinya kita pahami adalah, bahwa negara yang penduduknya kaum Muslimin, di dalamnya dikumandangkan adzan, ditegakkan shalat, mayoritas keadaan kaum muslimin berhukum dengan syari’at Islam, maka negara ini adalah negara Islam. Karena perbedaan antara negara Islam dengan negara kafir, sebagaimana telah disebutkan oleh Al-Muzani dalam kitab Ushulus Sunnah, adalah dikumandangkan adzan dan ditegakkan shalat di dalamnya.

Oleh karena itu, terhadap orang-orang yang mengatakan “kalian tidak peduli dengan iqamatud Daulatil Islamiyah (mendirikan negara Islam)”, maka kita katakan kepada mereka sesungguhnya negara-negara Islam sudah ada dan berdiri! Namun yang menjadi permasalahan, mayoritas hukum-hukum yang kini diterapkan di sebagian negara-negara Islam, baik dalam bidang perekonomian, politik, pendidikan, kebudayaan dan lain-lainnya, hampir secara keseluruhan merupakan hukum-hukum buatan manusia, hukum-hukum import (yang di datangkan dari negara-negara kafir,-red).

Para ulama telah menjelaskan secara terperinci tentang permasalahan ini [2]. Yakni, tentang berhukum dengan hukum-hukum atau undang-undang buatan manusia. Para ulama menerangkan, bahwa seseorang yang berhukum dengan hukum selain hukum Allah, berarti ia telah melakukan sebuah kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari agama Islam. Akan tetapi, mungkin saja kekafiran kecil yang kecil ini mengeluarkannya kepada kekafiran yang besar seperti yang telah saya terangkan secara rinci di Masjid Istiqlal kemarin [3].Yaitu apabila ia menganggap dan berkeyakinan halal atau bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah ; atau ia berkata, saya tidak merasa wajib atau harus berhukum dengan hukum Allah ; atau berkata berhukum dengan selain hukum Allah lebih baik daripada berhukum dengan hukum Allah ; atau berkata, hukum-hukum dan undang-undang lainnya sama saja dengan hukum Allah ; atau berkata, saya bebas (terserah saya mau berhukum dengan hukum Allah atau selainnya, sama saja) ; dan perkataan lainnya yang senada dengannya. Maka, berarti ia –dengan kesepakatan ulama Ahlus Sunnah- telah melakukan kekafiran yang besar (keluar dari Islam, red). Wal ‘iyadzu billahi tabaraka wa ta’ala.

Berarti, selama negara-negara Islam kini sudah ada dan tegak, yang dituntut untuk kita lakukan adalah memperbaiki keadaan negara-negara Islam ini, dengan metode yang telah diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; baik dalam cara berdakwah, pembinaan umat berdasarkan metode at-Tasfiyah wat-Tarbiyah (memurnikan umat dari kesyirikan, bid’ah dan maksiat, kemudian membina membimbing mereka memahami Islam dengan baik dan benar), bukan dengan cara-cara yang saat ini gencar dilakukan oleh sebagian golongan-golongan atau partai-partai. Seperti melakukan kudeta-kudeta militer, pemberontakan-pemberontakan, aksi-aksi mogok, atau bahkan lebih ironis lagi mengadakan aliansi dengan negara-negara kafir, demi mnggulingkan pemerintah negara Islam, atau usaha-usaha lainnya.

Ketahuilah ! Justru semua ini semakin menambah perpecahan dan kelemahan kaum muslimin di banyak negara-negara Islam!

Jadi, yang kita lakukan ialah mengadakan perbaikan-perbaikan pada pemerintah negara-negara Islam saat ini. Kita pun berusaha menyatukan seluruh negara-negara Islam, agar mereka saling bekerjasama, bersatu, menolong antara yang satu dengan yang lainnya ; dan akhirnya mereka seperti firman Allah Azza wa Jalla berikut.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain…” [at-Taubah/9: 71]

Hendaknya kita selalu ingat dan tidak lupa bahwa orang-orang kafir, walaupun kekafiran mereka berbeda-beda, negara mereka pun berbeda-beda, namun hendaknya kita tetap waspada dan siaga bahwasanya mereka senantiasa melakukan penyatuan-penyatuan yang terorganisir sesama mereka, baik dalam masalah politik, perekonomian, ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Karena (merekapun tahu) bahwa bersatu merupakan kekuatan.

Oleh karena itu, di antara tujuan kita (dalam mengadakan perbaikan-perbaikan di segala bidang kehidupan) adalah seperti Syaikh kami (Al-Albani rahimahullah) selalu menuliskan di dalam buku-buku beliau, berupaya menuju kehidupan yang Islami.

Tentu saja, beliau tidak bermaksud bahwa kehidupan Islami saat ini tidak ada sama sekali! Akan tetapi yang beliau maksud, bahwa kehidupan Islami yang ada saat ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari agama Allah Azza wa Jalla. Maka dari itu, kita harus berdakwah kepada manusia dan kaum muslimin seluruhnya, menuju penegakkan syari’at Allah Azza wa Jalla dalam seluruh bidang kehidupan mereka ; baik dalam bidang politik, perekonmian, ataupun ilmu pengetahuan. Demikian pula dalam hubungan nasional maupun internasional, baik bersama kawan atau pun lawan.

Inilah sekilas dan pandangan kita (tentang bernegara) secara umum dan singkat. Metode kita ialah melakukan perbaikan-perbaikan dengan cara berdakwah mengajak manusia kepada Allah Azza wa Jalla, memurnikan mereka dari polusi kesyirikan, bid’ah, dan maksiat, lalu membimbing dan membina mereka kepada pemahaman dan praktek Islam yang baik dan benar. Seperti firman Allah Azza wa Jalla.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik….” [an-Nahl/16: 125]

Kita juga jangan sampai melupakan, wahai saudara-saudaraku, bahwa tegaknya daulah Islamiyah merupakan pemberian dan karunia Allah semata bagi hamba-hambaNya yang shalih dan bertakwa. Jika kita beramal, juga orang-orang shalih beramal, maka sesungguhnya kekuatan, kekuasaan dan kejayaan Islam merupakan janji Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridahiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun denganKu…”[an-Nur/24: 55]

Dan kami berikan kabar gembira kepada anda semua, bahwa masa depan adalah milik Islam yang benar dan lurus, yang berada di atas manhaj as-Salafush Shalih. Manhaj yang diberkahi Allah, yang mengikat menusia agar senantiasa berhubungan dengan Allah dan melaksanakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang akan membawa mereka semua kepada keimanan, keamanan dan kedamaian.

Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memberikan taufiqNya selalu kepada setiap muslim.

(Diangkat dari ceramah Syaikh Salim bin Id Al-Hilali di Jakarta Islamic Center, Ahad 23 Muharram 1428H/11 Februari 2007M)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XI/1428H/2007. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
______
Footnote
[1]. Lihat majalah As-Sunah, liputan edisi 01/XI/1428H/1427M, rubrik Manhaj, Salafiyyun Menepis Tuduhan Dusta, ceramah Fadhilatusy-Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari –haizhahumullahu, di masjid Islamic center Jakarta, hari ahad 23 Muharam 1428H/11 Februari 2007M
[2]. Lihat risalah ilmiah Syaikh Salim bin Id Al-Hilali yang menjelaskan masalah ini secara gamblang dan terperinci, Qurratu Uyun fi Tash-hihi Tafsiri Abdillah Ibni Abbas Li Qaulihi Ta’ala : Wa Man lamYahkum bi Ma Anzalalluhu fa Ula-ika Hummul Kafirun.
[3]. Ceramah di masjid Al-Istiqlal Jakarta, hari Sabtu, 22 Muharram 1428H/10 Februari 2007. Pembahasan yang dimaksud kami angkat pada edisi ini dalam satu rangkaian rubrik Manhaj. Lihat jawaban Fadhilatusy Syaikh Salim bin Id Al-Hilali hafizhahullahu tentang Kufrun Duna kufrin.

KUNCI-KUNCI RIZKI MENURUT AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH

KUNCI-KUNCI RIZKI MENURUT AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH

Oleh
Dr. Fadhl Ilahi


Muqadimah
Sesungguhnya segala puji adalah milik Allah. Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan dan keburukan amal perbuatan kita. Siapa yang ditunjuki Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesemabahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat, salam dan keberkahan dilimpahkan kepada beliau, keluarga, sahabat, dan segenap orang yang mengikutinya. Amma ba’du.

Di antara hal yang menyibukkan hati kebanyakan umat Islam adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sejumlah umat Islam memandang bahwa bepegang kepada Islam akan mengganggu rizki mereka. Tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan lagi bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi, hendaknya menutup mata dari sebagian hukum-hukum Islam, terutama yang berkenaan dengan halal dan haram.

Mereka itu lupa atau pura-pura lupa bahwa Sang Khaliq Azza wa Jalla tidak mensyariatkan agamaNya hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara-perkara akhirat dan kebahagiaan mereka di sana saja, tetapi Allah mensyaratkan agama ini juga untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagian mereka di dunia. Bahkan doa yang sering dipanjatkan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dijadikanNya sebagai teladan bagi umat manusia adalah.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka”[1]

Allah dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia tidak meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam kegelapan, berada dalam keraguan dalam usahanya mencari penghidupan. Tetapi sebaliknya, sebab-sebab rizki itu telah diatur dan dijelaskan. Seandainya umat ini mau memahami, menyadari, berpegang teguh dengannya serta menggunakan sebab-sebab itu dengan baik, niscaya Allah Yang Maha Pemberi Rizki dan memiliki kekuatan akan memudahkannya mencapai jalan-jalan untuk mendapatkan rizki dari setiap arah, serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi.

Didorong oleh keinginan untuk mengingatkan dan mengenalkan saudara-saudara sesama Muslim tentang berbagai sebab di atas dan untuk meluruskan pemahaman mereka tentang hal ini serta untuk mengingatkan orang yang telah tersesat dari jalan yang lurus dalam berusaha mencari rizki, maka saya bertekad dengan memohon taufik dari Allah untuk mengumpulkan sebagian sebab-sebab untuk mendapatkan rizki tersebut dalam buku kecil ini. Buku ini saya beri judul “Mafatih ar-Rizqi fi Dhau’al Kitab wa as-Sunnah”.

HAL-HAL YANG SAYA PERHATIKAN DALAM MAKALAH INI
Di antara hal-hal yang saya perhatikan –dengan karunia Allah- dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Rujukan utama dalam makalah ini adalah al-Qur’an dan Sunnah RasulNya yang mulia.

2. Saya menukil hadits-hadits dari maraji’ (sumber) aslinya. Saya juga menyebutkan pandangan ulama tentang derajat hadits tersebut (shahih, hasan, dha’if dan lain sebagainya,-pent), kecuali apa yang saya nukil dari ash-Shahihain (al-Bukhari dan Muslim). Sebab segenap umat Islam telah sepakat untuk menerima (keshahian keduanya) [2]

3. Ketika menggunakan dalil dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits, saya berusaha mengambil faidah (penjelasan) dari kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab syarah (keterangan) hadits-hadits.

4. Saya memaparkan tentang apa yang dimaksud dengan sebab-sebab yang disyariatkan dalam mencari rizki dengan bantuan keterangan-keterangan –setelah memohon pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala- dari ucapan-ucapan para ulama, untuk menghilangkan keraguan-keraguan di dalamnya.

5. Saya tidak bermaksud membicarakan manfaat-manfaat dari sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan selain masalah rizki. Kecuali disebutkan secara kebetulan. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan saya untuk membicarakan hal-hal tersebut di masa yang akan datang.

6. Saya jelaskan beberapa kata asing yang ada di dalam hadits-hadits, untuk lebih menyempurnakan manfaat, insya Allah.

7. Saya tuliskan beberapa maraji’ (sumber) yang cukup untuk memudahkan siapa saja yang ingin kembali padanya.

8. Saya tidak bermaksud menyebutkan sebab-sebab rizki seluruhnya. Tetapi yang saya bahas adalah apa yang dimudahkan oleh Allah padaku untuk mengumpulkannya.

SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Mukadimah
Pasal Pertama : Istighfar dan Taubat
Pasal Kedua : Takwa
Pasal Ketiga : Tawakal Kepada Allah
Pasal Keempat : Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya
Pasal Kelima : Melanjutkan Haji Dengan Umrah
Pasal Keenam : Silaturahim
Pasal Ketujuh : Infak Di Jalan Allah
Pasal Kedelapan : Memberi Nafkah Kepada Orang Yang Fokus Menuntut Ilmu Syariat.
Pasal Kesembilan : Berbuat Baik Kepada Orang-Orang Yang Lemah
Pasal Kesepuluh : Hijrah Di Jalan Allah
Penutup : Terdiri dari kesimpulan bahasan dan pesan

UCAPAN TERIMA KASIH DAN DOA
Inilah (karya sederhana itu), dan segala puji bagi Allah Yang Maha Esa, tempat meminta segala sesuatu, yang semoga memberi nikmat kepada hambaNya yang lemah ini berupa rahmat, ampunan dan kemuliaan untuk menyelesaikan pembahasan ini. Kami ucapkan terima kasih sekaligus panjatkan doa kepada saudaraku Dr.Sayyid Muhammad Sadati asy-Syinqithi. Saya banyak mengambil manfaat dari beliau dalam penulisan makalah ini. Ucapan terima kasih serta penghargaan juga kami sampaikan kepada para pengurus Maktab at-Ta’awun li ad-Da’wah wa al-Irsyad (Kantor Urusan Kerjasama Dakwah dan Penyuluhan) Divisi Orang-Orang Asing di Batha’, Riyadh yang berada di bawah Koordinasi Departemen Urusan Agama Islam, Wakaf, Dakwah dan Penyuluhan Kerajaan Saudi Arabia. Dimana sebelumnya makalah ini berasal dari dua kali materi ceramah yang saya sampaikan di kantor tersebut. Doa saya juga untuk putra saya tersayang, Hammad Ilahi serta anak-anak saya yang lain. Mereka secara bersama-sama dengan saya, memeriksa naskah yang telah di seting dari buku ini. Mudah-mudahan Allah melimpahkan balasan kepada semuanya dengan sebaik-baik balasan di dunia maupun di akhirat.

Saya memohon kepada Allah yang memiliki keagungan dan kemuliaan, semoga Dia menjadikan pekerjaan saya ini benar-benar ikhlas karena mencari ridhaNya, serta menjadikannya sebagai simpanan saya dan simpanan kedua orang tua saya pada hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. Sebagaimana saya juga memohon kepada Rabb yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus makhlukNya, semoga Dia memberi taufik kepada saya, juga kepada saudara-saudara, anak-anak, karib-kerabat saya serta segenap umat Islam untuk berpegang dan mengambil manfaat dari sebab-sebab rizki yang disyariatkan. Semoga pula Dia memudahkan kebaikan bagi kita di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan. Amin

Semoga shalawat, salam dan keberkahan dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, sahabat, dan segenap pengikutnya.

[Disalin dari kitab Mafatih ar-Rizq fi Dhau’ al-Kitab was-Sunnah, Penulis DR Fadhl Ilahi, Edisi Indonesia Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. Penerbit Darul Haq- Jakarta]
_______
Footnote
[1]. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau berkata :

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ)

"Doa yang sering dipanjatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah : Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka”[Shahih al-Bukhari, Kitab ad-Da’awat, Bab Qaul an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Rabbana Atina fi ad-Dunya Hasanah, 11/191 no. 6389]

[2]. Muqadimah Imam an-Nawawi dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim, hal.14, juga Nuzhat an-Nazhar fi Taudhih Nukhbat al-Fikar, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar, hal.29

EFEK DAN PENGARUH AMARAH

EFEK DAN PENGARUH AMARAH

Oleh
Khumais as-Sa‘id


Amarah memiliki pengaruh-pengaruh yang sangat membahayakan dan kesudahan yang menghancurkan bagi pengemban dakwah, juga bagi kegiatan amal Islami, dan berikut ini adalah sebagian dari efek dan akibat tersebut, di antaranya:

Bagi Para Pengemban Dakwah
Efek amarah terhadap pengemban dakwah adalah:
1. Membahayakan tubuh.
Yang demikian itu bahwasanya amarah timbul dari darah yang naik dalam jantung, lalu terpancar dengan cepat ke seluruh badan sehingga nampak pada wajah dan mata yang memerah. Jika hal itu terus terulang akan menimbulkan tekanan darah pada sebagian besar kondisinya, dan mungkin saja terjadi pengerasan pembuluh darah, lalu ia menjadi lumpuh. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita darinya. Demikianlah akhir amarah bagi tubuh yang membawa kepada keburukan.

2. Kurang Agama.
Amarah terkadang membawa pelakunya kepada ghibah (membicarakan aib orang lain), dan mungkin juga bisa sampai mencaci maki kehormatannya, merampas hartanya dan menumpahkan darahnya. Semua itu merupakan perbuatan dosa dan sebagai tanda kurangnya agama padanya.

3. Tidak Ada Kemampuan Untuk Mengendalikan Diri.
Pada saat marah, akal menjadi sesuatu yang tidak berfungsi seperti sesuatu yang terhalang dan tertutup. Dan jika akal telah terhalang atau tertutup, maka manusia akan menjadi tidak mampu mengendalikan dirinya, dan saat itu akan muncul darinya akibat yang tidak terpuji dan menyebabkan penyesalan, namun hal itu terjadisetelah kejadian tersebut.

Sulaiman bin Dawud berkata: “Hati-hatilah engkau dari banyak marah, karena sesungguhnya banyak marah membuat hati seorang yang pemurah itu akan diremehkan.”

Dari Wahb bin Munabbih, bahwasanya dahulu ada seorang pendeta berada di tempat ibadahnya, lalu syaitan ingin menyesatkannya namun ia tidak mampu, kemudian ia datang kepada pendeta tersebut seraya memanggilnya, syaitan berkata padanya, “Bukalah.” Ia pun tidak menjawabnya. Lalu syaitan kembali berkata, “Bukalah, karena jika aku pergi, kau akan menyesal.” Namun ia tidak menoleh kepadanya. Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Lalu syaitan pergi.” Maka pendeta tersebut berkata, “Tidakkah kau mendengar?” Ia menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku akhlak manusia yang dapat membantu syaitan menggoda mereka.” Ia berkata, “Marah, sesungguhnya apabila seseorang sedang marah, kami memainkannya seperti seorang anak yang memainkan sebuah bola.”

Sebagian orang berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, akal tidak akan tenang saat marah, seperti halnya ruh orang yang hidup tidak akan tenang dalam tungku yang meluap-luap, maka orang yang paling sedikit marah adalah orang yang paling berakal. Apabila marahnya demi dunia, maka menjadi sebuah kelicikan dan tipu daya, dan apabila marahnya demi akhirat, maka menjadi kemurahan hati dan pengetahuan, sesungguhnya dikatakan: ‘Amarah adalah musuh akal, dan amarah adalah bencana bagi akal.’”

4. Jatuh Kedalam Kehinaan.
Bahwasanya orang yang marah akan mendapatkan amarah terhadap apa yang ia tidak ketahui dan tidak ia sadari, hal ini akan menjatuhkannya ke dalam kehinaan.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang melakukan setiap perbuatan yang mengakibatkan (pelakunya) tergelincir ke dalam kehinaan, dengan sabdanya:

(( إِيَّاكَ وَكُلَّ مَا يُعْتَذَرُ مِنْهُ ))

“Hati-hatilah engkau dari setiap apa yang dimintai alasannya.”[1]

Sebagian orang berkata: “Hati-hatilah dengan amarah, karena sesungguhnya dia akan membawamu kepada kehinaan.”

5. Siksa Yang Pedih.
Amarah itu banyak menyebabkan kesalahan dan juga menyebabkan terjatuhnya kita terhadap berbagai macam maksiat dan keburukan. Hal ini akan mengakibatkan siksa yang pedih di akhirat kelak atau di dunia dan di akhirat sekaligus. Mahabenar Allah ketika berfirman:

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Rabb-nya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam adzab yang amat berat." [Al-Jinn/72: 17]

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." [Thaaha/20: 124)

Benarlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda, di mana ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu bertanya kepada beliau:

(( مَا يُنْقِذُنِيْ مِنْ غَضَبِ اللهِ ؟ قَالَ: (( لاَ تَغْضَبْ ))

“(Amalan) apa yang dapat menyelamatkanku dari murka Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Beliau bersabda: “Janganlah engkau marah.”[2]

Terhadap Kegiatan Amal Islami
Adapun pengaruh amarah terhadap kegiatan amal Islami di antaranya:
1. Sedikit Mendapatkan Penolong Dan Pelindung.
Sesungguhnya jiwa itu membentuk orang yang berakal lagi tekun dan bijaksana dalam tindak tanduknya, menerima dan melihat masyarakat sekitarnya, menolong dan melindunginya dengan seluruh kemampuannya. Adapun orang yang ceroboh dan kacau dalam perilaku dan tindak tanduknya, maka sesungguhnya ia memeriksa dan menghindar darinya, hal itu apabila para pengemban dakwah kepada Allah adalah di antara mereka yang marah karena dirinya sendiri dan mengikuti setiap hasratnya, mengikuti setiap hal yang membangkitkan amarahnya tanpa perhitungan akan hasil dan akibat-akibatnya, lalu manusia tidak akan menerima dan tidak akan melindungi mereka, maka kegiatan amal Islami akan rugi dengan hal tersebut dari ketiadaan penolong dan pelindungnya.

2. Bercerai-Berai Dan Berkelompok-Kelompok.
Pengaruh kedua terhadap kegiatan amal Islami akibat amarah yaitu bercerai-berai dan berkelompok-kelompok. Hal itu karena amarah untuk kepentingan pribadi maksudnya bahwa amalnya ditujukan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan setiap hal yang serupa, maka jangan diharapkan darinya timbul rasa saling cinta, atau saling menyatu, namun sebaliknya akan menjadi bercerai-berai dan berkelompok-kelompok.

3. Panjangnya Jalan Dan Banyaknya Beban.
Pengaruh terakhir dari amarah terhadap kegiatan amal Islami adalah panjangnya jalan dan banyaknya beban, ini adalah hal yang alami, karena sesungguhnya penolong dan pelindung yang sedikit bersamaan dengan menyebarnya sikap bercerai-berai dan berkelompok-kelompok akan berakhir dengan pasti pada panjangnya jalan dan banyaknya beban

[Disalin dari Kitab Mawaaqif Ghadhiba fiihan Nabiyyu Shallallahu Alaihi Wa Sallam Penulis Khumais as-Sa‘id, Judul dalam Bahasa Indonesia Pelajaran Penting Dari Marahnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Pertama Sya’ban 1426 H – September 2005 M]
_______
Footnote
[1]. Ash-Shahiihah (no. 354).
[2]. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (II/175), al-‘Iraqi berkata: “Isnadnya hasan sebagaimana terdapat dalam al-Mughni 'an Hamlil Asfaari fil Asfaari.

SEBAB-SEBAB AMARAH

SEBAB-SEBAB AMARAH

Oleh
Khumais as-Sa‘id



Amarah itu memiliki sebab-sebab pemicunya dan juga faktor-faktor pendorongnya. Di antara sebab dan faktor pendorongnya yang terpenting adalah:

a. Lingkungan Yang Melingkupi Seseorang.
Sebab pertama yang memicu seseorang mudah marah adalah kembali kepada lingkungan sekitarnya, pengaruh faktor yang satu ini lebih mencakup daripada lingkungan yang dekat -yaitu rumah- maupun lingkungn yang jauh -yaitu masyarakat-. Terkadang bisa saja seseorang itu dilingkupi lingkungan yang penuh dengan kejahatan di mana mereka menganggap bahwa kebrutalan adalah suatu keberanian, kesewenang-wenangan amarah yang mengakibatkan kezhaliman adalah bentuk kejantanan, lalu ia terpengaruh dengan hal tersebut dan menjadi cepat marah sebagai kebiasaan dirinya dan menjadi ciri khas baginya.

b. Perdebatan Dan Berbantah-Bantahan.
Sebab kedua yang memicu seseorang mudah marah adalah perselisihan dan perdebatan dengan cara yang bathil, yaitu setiap orang yang saling menghina tersebut ingin menjadi pemenang atas yang lainnya walaupun dengan cara yang bathil, dan ketika hal itu tidak ia dapatkan, maka marahlah ia dan berkobarlah kemarahannya dengan maksud menyerang dan balas dendam, apalagi jika ia melihat dirinya lebih kuat atau lebih besar dari lawan debatnya.

Dan mungkin inilah yang menjadi sebab diperingatkannya seseorang dari berdebat dan berbantah-bantahan dalam kebathilan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]

c. Bersenda Gurau Dengan Kebathilan.
Sebab ketiga yang mengakibatkan kemarahan adalah kembali kepada sikap suka bercanda (bergurau) dengan cara yang bathil. Hal itu bahwa jika bergurau itu melampaui batas-batas kebenaran menuju kepada kebathilan, maka ia akan mengakibatkan permusuhan, dan permusuhan itu akan berakhir pada pengobaran api amarah dalam hati dengan gambaran yang nyata pada anggota tubuh yang akan membawa kepada kezhaliman dan balas dendam.

Mungkin inilah yang menyebabkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bercanda dengan cara yang bathil, bukan berarti beliau tidak pernah bercanda, beliau bercanda namun beliau tidak berkata melainkan kebenaran, beliau melarang dari bercanda yang bathil dengan sabdanya:

(( لاَ تُمَارِ أَخَاكَ وَلاَ تُمَازِخْهُ، وَلاَ تَعِدْهُ مَوْعِدَةً فَتُخْلِفَهُ ))

“Janganlah kamu berdebat dengan saudaramu dan janganlah kamu bercanda dengannya, serta janganlah kamu berjanji kepadanya lalu kamu mengkhianatinya.”[2]

d. Memusuhi Orang Lain Dalam Bentuk Apapun Dari Bentuk-Bentuk Permusuhan.
Sebab keempat yang mengakibatkan kemarahan adalah memusuhi orang lain dalam bentuk apa pun dari berbagai macam bentuk permusuhan. Yaitu jika seseorang dimusuhi oleh orang lain dengan bentuk permusuhan apa pun dari bentuk-bentuknya, baik berupa ejekan, hinaan, memata-matai, mencari-cari aurat (aib)nya, ghibah, fitnah, celaan, melukai, penangkapan dan penahanan dipenjara, pemukulan dan siksaan seperti yang dilakukan oleh sebagian besar pemerintahan negara-negara Islam, bahkan negara-negara Arab secara khusus terhadap sebagian pemuda yang beragama dan memiliki semangat tinggi yang mereka telah salah jalan merupakan suatu perkara yang membangkitkan kemarahan dari dalam dirinya, dan membawanya kepada penolakan dengan suatu bentuk alasan atau dengan hal lainnya.

Mungkin inilah sebab dari apa yang diperingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya terhadap orang yang memusuhi orang lain tanpa alasan yang benar, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴿١١﴾أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." [Al-Hujuraat/49: 11-12]

e. Sombong Dan Membanggakan Diri Di Muka Bumi Dengan Tanpa Memiliki Hak.
Sebab kelima yang mengakibatkan kemarahan adalah sifat sombong dan membanggakan diri di muka bumi dengan tanpa hak. Hal itu bahwa orang yang sombong dan membanggakan diri di muka bumi dengan tanpa hak akan mudah terpengaruh setiap kali hilang darinya apa yang diyakininya dalam rangka mengekalkan keagungan dan kedudukannya di antara manusia. Jika seseorang meminta haknya kepadanya, maka hal itu dapat mengobarkan amarahnya, demikian pula jika ia dilarang oleh seseorang dari suatu perbuatan yang hina, atau ada orang yang mengkritiknya dalam suatu perkara yang diyakininya bahwa ia telah sempurna sekali dari segala sisi dalam hal tersebut, maka tidak boleh bagi seseorang untuk memerintahnya, melarangnya atau menghalangi jalannya, padahal kenyataannya kekurangan padanya sangatlah sangat nyata dari segala sisi, ia berusaha untuk memaksa kekurangan tersebut dengan kesombongan dan membangga-banggakan dirinya.

f. Lupanya Jiwa Akan Arti Perjuangan.
Sebab keenam yang mengakibatkan kemarahan adalah lupanya jiwa akan arti perjuangan, yaitu bahwasanya setiap penyakit yang manusia diuji dengannya akan menjadi gawat dan bertambah parah, ia seolah-olah menjadi sebuah bagian dari pangkal kerusakan manusia ketika ia melalaikannya, dan jiwanya tidak berjuang untuk menghilangkan penyakit tersebut darinya atau melepaskan diri darinya.

Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak untuk berjuang dengan firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." [Al-‘Ankabuut/29: 69]

g. Tidak Adanya Orang Lain Yang Menunaikan Kewajibannya Terhadap Orang Yang Sedang Marah.
Sebab ketujuh yang mengakibatkan kemarahan adalah tidak adanya orang lain yang menunaikan kewajibannya terhadap orang yang sedang marah. Hal itu bahwasanya manusia telah mengetahui kekurangan dan aib-aibnya, akan tetapi disebabkan kelemahannya di hadapan jiwanya sendiri, di hadapan tipuan syaitan dari manusia dan jin serta perhiasan dunia, maka ia pun menjadi lemah untuk melepaskan diri dari aib tersebut. Kekurangan ini harus dibantu oleh orang lain yang mendampinginya hingga ia dapat melepaskan dirinya dari aib dan kekurangan tersebut dengan amarah, karena sesungguhnya amarah tersebut akan menjadi parah dan gawat hingga ia seolah-olah menjadi bagian dari pribadi pelakunya yang tidak dapat berpisah sedikit pun.

h. Sebuah Sifat Yang Dipandang Seseorang Masih Kurang Dan Merupakan Perbuatan Aib.
Sebab kedelapan yang dapat mengakibatkan kemarahan adalah sebuah sifat yang diberikan kepada seseorang lalu ia memandang sifat tersebut memiliki kekurangan dan aib. Hal itu bahwasanya manusia bila diberikan sebuah sifat dengan sifat-sifat yang ia pandang masih kurang ataupun memiliki aib yang membuat kedudukan dan kemuliaannya berkurang, seperti dikatakan kepadanya. ‘Seandainya kamu laki-laki maka kamu pasti bertemu dengan fulan dan fulan, saya mengira bahwa kamu tidaklah ingin bertemu fulan hanya karena khawatir dan takut akan kekuatannya,’ demikianlah hal yang menggerakkannya dari dalam dirinya dan terpantul pada anggota tubuhnya, seketika itu ia menjadi orang yang memerah wajah dan kedua matanya, bernoda dan berbuih sehingga berbuat kezhaliman dan balas dendam, seperti alasan yang menyebabkan keluarnya Umayyah bin Khalaf menuju kematiannya pada perang Badar sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata:

(( اِنْطَلَقَ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ مُعْتَمِرًا، فَنَزَلَ عَلَى أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ أَبِيْ صَفْوَانَ، وَكَانَ أُمَيَّةُ إِذَا انْطَلَقَ إِلَى الشَّامِ فَمَرَّ بِالْمَدِيْنَةِ نَزَلَ عَلَى سَعْدٍ، فَقَالَ أُمَيَّةُ لِسَعْد:ٍ انْتَظِرْ، حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ النَّهَارُ، وَغَفَلَ النَّاسُ، انْطَلَقْتُ فَطُفْتُ، فَبَيْنَا سَعْدٌ يَطُوْفُ إِذَا أَبُوْ جَهْلٍ، فَقَالَ: مَنْ هَذَا الَّذِيْ يَطُوْفُ بِالْكَعْبَةِ ؟ فَقَالَ سَعْدٌ: أَنَا سَعْدٌ، فَقَالَ أَبُوْ جَهْلٍ: تَطُوْفُ بِالْكَعْبَةِ آمِنًا، وَقَدْ آوَيْتُمْ مُحَمَّدًا وَأَصْحَابَهُ: فَقَالَ: نَعَمْ، فَتَلاَحَيَا بَيْنَهُمَا، فَقَالَ أُمَيَّةُ لِسَعْدٍ: لاَ تَرْفَعْ صَوْتَكَ عَلَى أَبِي الْحَكَمِ، فَإِنَّهُ سَيِّدُ أَهْلِ الْوَادِيْ، ثُمَّ قَالَ سَعْدٌ: وَاللهِ لَئِنْ مَنَعْتَنِيْ أَنْ أَطُوْفَ بِالْبَيْتِ لأَقْطَعَنَّ مَتْجَرَكَ بِالشَّامِ. قَالَ: فَجَعَلَ أُمَيَّةُ يَقُولُ لِسَعْدٍ: لاَ تَرْفَعْ صَوْتَكَ، وَجَعَلَ يُمْسِكَهُ فَغَضِبَ سَعْدٌ فَقَالَ: دَعْنَا عَنْكَ، فَإِنِّيْ سَمِعْتُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزْعُمُ أَنَّهُ قَاتِلُكَ، قَالَ: إِيَّايَ ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: وَاللهِ مَا يَكْذِبُ مُحَمَّدٌ إِذَا حَدَّثَ، فَرَجَعَ إِلَى امْرَأَتِهِ، فَقَالَ: أَمَا تَعْلَمِيْنَ مَا قَالَ لِيْ أَخِي الْيَثْرِبِيُّ ؟ قَالَتْ: وَمَا قَالَ ؟ قَالَ: إِنَّهُ سَمِعَ مُحَمَّدًا يَزْعُمُ أَنَّهُ قَاتِلِيْ، قَالَتْ: فَوَاللهِ مَا يَكْذِبُ مُحَمَّدٌ، قَالَ: فَلَمَّا خَرَجُوْا إِلَى بَدْرٍ وَجَاءَ الصَّرِيْخُ، قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ: أَمَا ذَكَرْتَ مَا قَالَ لَكَ أَخُوْكَ الْيَثْرِبِيُّ؟ قَالَ: فَأَرَادَ أَنْ لاَ يَخْرُجَ، فَقَالَ لَهُ أَبُوْ جَهْلٍ: إِنَّكَ مِنْ أَشْرَافِ الْوَادِيْ، فَسِرْ يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ، فَسَارَ مَعَهُمْ فَقَتَلَهُ اللهُ ))

“Sa’ad bin Mu’adz Radhiyallahu anhu pergi berumrah, lalu singgah di rumah Umayyah bin Khalaf Abu Shafwan. Dan biasanya, jika Umayyah akan pergi ke Syam ia harus melewati Madinah dan singgah di rumah Sa’ad, lalu Umayyah berkata kepada Sa’ad, ‘Tunggulah hingga tengah hari, di mana manusia telah beristirahat.’ Lalu ia pergi ke Ka’bah dan melakukan thawaf. Ketika Sa’ad thawaf, Abu Jahal melihatnya, maka ia berkata, ‘Siapa orang yang sedang thawaf di Ka’bah?’ Sa’ad berkata, ‘Aku, Sa’ad.’ Abu Jahal berkata, ‘Engkau thawaf di Ka’bah dengan rasa aman padahal engkau telah melindungi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya?’ Ia berkata, ‘Ya.’ Maka keduanya pun saling mencela, lalu Umayyah berkata kepada Sa’ad, Jangan kau tinggikan suaramu terhadap Abul Hakam, karena ia adalah pemimpin penduduk lembah ini.’ Lalu Sa’ad menjawab, ‘Demi Allah, seandainya kau melarangku thawaf di Ka’bah, maka aku akan menghadang kafilah dagangmu yang menuju ke Syam.’” ‘Abdullah berkata, “Lalu Umayyah berkata kepada Sa’ad, ‘Janganlah kau tinggikan suaramu -seraya memegangnya-‘ Lalu Sa’ad marah dan berkata, ‘Jauhkan aku darimu, sesungguhnya aku telah mendengar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwasanya ia akan membunuhmu.’ Ia berkata, ‘Membunuhku?’ Sa’ad berkata, ‘Ya.’ Ia berkata, ‘Demi Allah! Muhammad tidak akan berbohong jika berbicara.’ Lalu ia pulang kepada isterinya seraya berkata, ‘Apakah engkau tahu apa yang dikatakan sau-daraku dari Yatsrib?’ Isterinya berkata, ‘Apa yang dikatakannya?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya ia mendengar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membunuhku.’ Isterinya berkata, ‘Demi Allah, Muhammad tidak akan berbohong.’” ‘Abdullah berkata, “Ketika mereka berangkat menuju Badar dan datang panggilan (orang yang memanggil), isterinya berkata kepadanya, ‘Apakah engkau tidak ingat perkataan saudaramu dari Yatsrib?’” Ia (‘Abdullah) berkata, “Lalu ia ingin agar ia tidak pergi. Abu Jahal berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya kau termasuk di antara orang-orang yang terhormat dari penduduk lembah ini, maka berangkatlah satu atau dua hari.’ Maka ia pun berangkat dan akhirnya Allah membinasakannya.”[3]9

i. Mengingatkan Permusuhan Dan Dendam Kesumat Yang Telah Lama.
Sebab kesembilan yang dapat menimbulkan kemarahan adalah mengingatkan permusuhan dan dendam kesumat yang telah lama terpendam. Hal itu terjadi jika seseorang mempunyai dendam kesumat kepada orang lain, kemudian ia melupakannya demi agama dan imannya, sehingga hati mereka menyatu dan menjadi bersaudara dalam cinta. Dalam hal ini orang-orang yang dengki dan hasad berusaha menghitamkan kembali hati-hati tersebut setelah mencapai persaudaraan dengan satu cara atau dengan berbagai cara lainnya. Cara mereka yang paling efektif dalam merusak hubungan saudara tersebut adalah mengingatkan dendam yang telah lama terpendam. Seperti halnya hubungan yang terjadi pada kaum Anshar antara kabilah Aus dan kabilah Khazraj, pada zaman Jahiliyyah mereka mempunyai dendam dan saling bermusuhan serta berperang. Ketika Islam datang, hilanglah dendam kesumat antara mereka, lalu Islam mempersaudarakan mereka semua dan menyatukan pendapat mereka.

j. Kelalaian Akan Akibat-Akibat Yang Disebabkan Oleh Marah.
Sebab yang terakhir, bahwa terkadang (manusia) lalai terhadap akibat dan efek yang diperoleh dari amarah, baik bagi individu maupun kelompok, dunia maupun akhirat yang merupakan sebab terjadinya amarah, hal itu karena apabila seseorang lalai dari pengaruh-pengaruh dan akibat-akibat yang diperoleh dari suatu perkara, maka ia akan tergelincir kepada perkara tersebut tanpa ia ketahui dan sadari.

[Disalin dari Kitab Mawaaqif Ghadhiba fiihan Nabiyyu Shallallahu Alaihi Wa Sallam Penulis Khumais as-Sa‘id, Judul dalam Bahasa Indonesia Pelajaran Penting Dari Marahnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Pertama Sya’ban 1426 H – September 2005 M]
_______
Footnote
[1]. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( أَنَا زَعِيمُ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ...))

“Aku menjadi pemimpin di sebuah tempat di Surga bagi orang yang mening-galkan perdebatan walaupun dia di pihak yang benar…”, lihat kitab ash-Shahiihah (no. 273).

[2]. Hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, kitab al-Birr wash Shilaah, bab Maa Jaa-a fil Miraa' (no. 2061), Tuhfatul Ahwadzi (VI/109). Dan at-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan.”
[3]. HR. Al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab 'Alaamatun Nubuwwah fil Islaam (Fat-hul Baari VI/780, no. 3632).

MENGOBATI AMARAH

MENGOBATI AMARAH

Oleh
Khumais as-Sa‘id



Setelah kita mengetahui definisi amarah, pandangan Islam terhadapnya, sebab-sebab yang membawa kepadanya, efek dan pengaruhnya terhadap pengemban dakwah dan amal Islami, maka menjadi lebih mudah dan ringan untuk mencari cara pengobatannya, bahkan mendapatkan cara untuk mencegah amalan ini:

Cara dan jalan ini terangkum dalam hal-hal berikut ini:

1. Mengetahui pengaruhnya yang berbahaya dan akibat-akibatnya yang menghancurkan disebabkan oleh amarah, baik terhadap pengemban dakwah maupun terhadap amal Islami, baik duniawi maupun ukhrawi, karena sesungguhnya pengetahuan seperti itu berguna untuk menggerakkan jiwa dari dalam, sehingga ia sedang menuju pengobatan bahkan sampai tindakan protektif dari penyakit ini.

2. Mengobati diri dari perdebatan dan perselisihan, demikian juga dari canda yang bathil. Sesungguhnya pengobatan dari keduanya juga akan menghilangkan jenis-jenisnya pada tingkatan yang penting sekali yang berkaitan dengan amarah tersebut. Hal ini masuk dalam bab menghilangkan penyakit mulai dari menghilangkan penyebab-penyebabnya.

3. Tidak memusuhi orang lain secara zhalim dan membabi buta, karena sesungguhnya permusuhan semacam itu akan membawa kepada penolakan, bagaimanapun biaya yang dikeluarkan dan tindakan penjagaannya, ada beribu-ribu jalan untuk mengobati kesalahan dan yang terakhir adalah permusuhan. Hal ini masuk ke dalam bab akhir dari pengobatan adalah al-kay (pengobatan dengan besi panas).

4. Membebaskan diri dari kesombongan dan takabbur di muka bumi dengan tanpa memiliki hak, bersamaan dengan itu menghiasi diri dengan sifat kebalikannya, yaitu tawadhu’, karena kondisi seperti itu akan membawa orang-orang yang suka marah ketika melihat mereka -telah sembuh dari penyakit mereka- untuk melepaskan diri darinya bahkan mereka harus menjaga diri darinya.

5. Bangkitnya umat -pemerintah maupun rakyatnya- untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap mereka yang suka marah, sekali-kali dengan nasihat, sekali-kali dengan pengingkaran, sekali-kali dengan mengancam, sekali-kali dengan pemberian ganjaran, sekali-kali dengan pengasingan dan pemutusan hubungan dan seterusnya, karena pelaksanaan terhadap kewajiban seperti ini sangat berguna dalam melepaskan diri, bahkan dalam penjagaan diri dari penyakit ini.

6. Menempatkan manusia sesuai dengan derajatnya, memenuhi hak-hak mereka seperti penghormatan dan penghargaan, menghindari pemberian sifat bagi mereka dengan sifat yang tidak pantas atau yang tidak layak, karena hal ini akan membawa kepada melepaskan diri, bahkan tindakan penjagaan dari penyakit ini.

7. Tidak membangkitkan permusuhan dan dendam yang telah lama, karena hal itu akan menghilangkan, bahkan menjaga ketergelinciran kepada penyakit ini.

8. Merubah kondisi orang yang sedang marah dengan menyuruhnya berwudhu’ atau mandi, menyuruhnya duduk bila ia sedang berdiri, menempelkan pipi dan wajahnya pada tanah (berbaring) apabila ia sedang duduk, memperbanyak dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdo’a, bertaubat, beristighfar, memuji Allah Tabaaraka wa Ta’ala, atau menyuruhnya berjalan bila ia sedang diam, dan seterusnya hingga emosinya mereda dan kembali kepada akal sehat dan kesadarannya.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk kepada kita tentang pengobatan ini ketika Sulaiman bin Shard berkata:

(( اِسْتَبَّ رَجُـلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ عِنْدَهُ جُلُـوْسٌ، وَأَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَبًا قَدْ اِحْمَرَّ وَجْهُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( إِنِّي َلأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ! لَوْ قَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ )) فَقَالُوا لِلرَّجُلِ: أَلاَّ تَسْمَعُ مَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ: إِنِّي لَسْتُ بِمَجْنُوْنٍ ))

“Ada dua orang yang saling mencaci di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kami tengah duduk-duduk di sekeliling beliau, salah seorang dari keduanya mencaci yang lainnya seraya marah-marah dengan wajah yang merah, lalu Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat, apabila ia mengucapkannya maka apa yang didapatkannya (marah) itu akan hilang, yaitu apabila ia mengucapkan, ‘أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.” Mereka berkata kepada orang tersebut, ‘Apakah kau tidak mendengar perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ia berkata, ‘Sesungguhnya aku bukan orang yang gila.”[1]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang panjang;

(( ...أَلاَ وَإِنَّ الْغَضَبَ جَمْرَةٌ فِي قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، أَمَا رَأَيْتُمْ إِلَى حُمْرَةِ عَيْنَيْهِ، وَانْتِفَاخِ أَوْدَاجِهِ، فَمَنْ أَحَسَّ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَلْصَقْ بِاْلأَرْضِ ))

“…Ketahuilah, sesungguhnya amarah adalah bara api dalam hati seorang anak Adam, apakah kalian tidak melihat akan merahnya kedua matanya dan membengkaknya urat-uratnya? Maka barangsiapa yang merasakan hal itu, menempellah ke tanah (berbaringlah).”[2]

Dari Abu Harb bin Abil Aswad, dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُـمْ وَهُوَ قَائِـمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ.

“Apabila seseorang di antara kalian marah sedangkan ia dalam keadaan berdiri maka duduklah hingga amarah itu hilang, jika tidak hilang maka berbaringlah.”[3]

9. Mengingatkan orang yang marah dengan kondisinya saat dia marah, karena kondisinya saat itu seperti orang gila atau hewan buas yang sedang menggeram, dan sesungguhnya hal semacam ini tidak pantas bagi seorang manusia yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk yang paling sempurna, dan memuliakannya dari seluruh makhluk di alam semesta ini dengan firman-Nya:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." [Al-Israa'/17: 70]

Dan juga firman-Nya:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." [At-Tiin/95: 4]

Semoga dengan mengingatkannya akan hal ini berguna dalam mengobati bahkan dalam menjaga diri dari amarah.

10. Menolehkan pandangan terhadap pentingnya perjuangan jiwa melawan amarah, karena sesungguhnya perjuangan ini adalah sebagai tanda kekuatan dan keberanian yang sesungguhnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ))

“Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.”[4]

Sesungguhnya cara seperti ini sangat berguna dalam mengobati, bahkan menjaga diri dari penyakit tersebut.

11. Menjelaskan ganjaran yang akan didapat oleh seorang muslim ketika ia berjuang melawan nafsu dan menahan amarahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

"Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf." [Asy-Syuuraa/42: 37]

Dan juga firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ﴿١٣٣﴾الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) manusia. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." [Ali ‘Imran/3: 133-134]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ كَتَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ، يُزَوِّجُهُ مِنْهَا مَا شَاءَ ))

“Barangsiapa menahan amarah sedang ia mampu melaksanakannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memanggilnya di hadapan makhluknya hingga membuatnya memilih bidadari mana saja yang dikehendakinya untuk dinikahinya.”[5]

Sesungguhnya barangsiapa yang melihat cahaya ganjarannya, maka beban dan kesulitan suatu kewajiban terasa mudah (ringan).

12. Selalu hidup bersama Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, Muhammad, karena sesungguhnya hal itu akan menerangi jalan dan mendidik kemampuan ketakwaan, keduanya adalah yang paling baik dalam melepaskan diri dari amarah, bahkan dalam tindakan protektif darinya.

13. Memperhatikan sejarah orang-orang yang dapat menahan amarahnya dan menghiasi dirinya dengan kemurahan hati dan pemaaf, seperti al-Ahnaf bin Qais, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, as-Syafi’i, dan selain mereka. Karena perhatian ini akan membawa kepada sikap meneladani dan mengikuti, atau paling tidak meniru dan menyerupai.

14. Berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menyembuhkan hati-hati yang di dalamnya terdapat sifat amarah, dan agar menggantinya dengan keridhaan, rahmat dan kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena do’a adalah anak panah yang jitu yang hampir saja tidak pernah salah sasaran, bahkan do’a adalah benar-benar ibadah.[6]

[Disalin dari Kitab Mawaaqif Ghadhiba fiihan Nabiyyu Shallallahu Alaihi Wa Sallam Penulis Khumais as-Sa‘id, Judul dalam Bahasa Indonesia Pelajaran Penting Dari Marahnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Pertama Sya’ban 1426 H – September 2005 M]
_______
Footnote
[1]. HR. Al-Bukhari, kitab al-Adab, bab al-Hadzru minal Ghadhab (Fat-hul Baari X/635, no. 6115).
[2]. Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, bab Maa Akhbaran Nabiy Shallallahu ‘alaihi wa sallam Ash-haabahu bimaa Huwa Kaa-ainun ilaa Yaumil Qiyaamah (no. 16, 22), seraya berkata: “Hadits ini hasan,” Tuhfatul Ahwadzi (VI/358).
[3]. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, kitab al-Adab, bab Maa Yuqaalu 'indal Ghadhab (no. 4782), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dengan nomor yang sama, penerbit Baitul Afkar ad-Dauliyyah.
[4]. HR. Al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab Shifatun Nabiy Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Fat-hul Baari VI/702, no. 3560).
[5]. Hadits shahih, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami' (no. 3518) dan at-Targhiib (III/279).
[6]. ‘Aafaatun 'alath Thariiq (II/243-267), dengan sedikit perubahan.

SIAPAKAH USTADZ YAZID JAWAS..?

SIAPAKAH USTADZ YAZID JAWAS..?

Bismillah,

Siapakah Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullahu ta'ala? ‪#‎Biografi‬ singkat tentang Ustadz Yazid hafizhahullah dan ‪#‎Nasihatbermakna‬ dari beliau hafizhahullah. (cerita dari ikhwan yang senantiasa menemani Ustadz Yazid hafizhahullah selama kurang lebih 13 tahun dengan beberapa tambahan dan perubahan) -Semoga Bermanfaat.

‪#‎Sekedar‬ tambahan, ana memiliki teman ikhwan satu kelas dalam belajar bhs.Arab, beliau bercerita bahwa sudah sering menemani ustadz Yazid selama kurang lebih 13 tahun, masya Allah, sehingga banyak faidah yang ana bisa ambil dari ikhwan ini. Diantaranya:

‪#‎Sebagaimana‬ antum ketahaui ustadz Yazid hafizhahullah memiliki banyak keutamaan ya akhi.. salah satu yang ana ketahui dari ikhwan ini adalah bahwa ustadz Yazid telah mampu#menghafal bulughul maram karangan Syaikh Ibnu Hajar diluar kepala, juga ustadz Yazid hafizhahullah (Alhamdulillah) telah diiziinkan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah untuk mengikuti ‪#‎kelas‬ khusus (bukan umum) di dalam majelis khusus Syaikh Utsaimin rahimahullah (selama kurang lebih 9 bulan atau ada yg mengatakan 4 tahun, wallahu a'lam) dan mendapat pujian dari Syaikh Utsaimin (sebagaimana ikhwan tsbt bercerita). Dan juga sebagaimana telah ma'ruf bagi para penuntut ilmu di madrasah Ustadz Yazid akan kesenantiasaan/kebiasaan rutin Ustadz Yazid hafizhahullah untuk meluangkan waktu minimal 2-4 jam atau bahkan lebih dari itu guna ‪#‎membaca‬ kitab-kitab yang bermanfaat, masya Allah.

‪#‎Akan‬ tetapi yang perlu antum ketahui, Ustadz Yazid masih merasa kurang dengan sebab hafalan Al-Qur'annya, ya akhi bukan tanpa alasan, beliau merasa kurang dengan hafal Al-Qur'an karena beliau waktu kecil dahulu sibuk untuk fokus menghafal hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Ustadz Yazid senantiasa ‪#‎menasihatkan‬ kepada ikhwan ini untuk dapat menghafalkan Al-Qur'an (30 JUZ) karena dengan sebab ini, insya Allah, akan membuka pada kita kemudahan-kemudahan di dalam belajar bahasa Arab serta mempelajari ilmu-ilmu Agama ini.

‪#‎Ya‬ akhi.. kalau Ustadz Yazid saja masih mengeluh karena alasan untuk menghafal hadits-hadits, bagaimana dengan kondisi kita (termasuk ana), tidaklah ana mendengar nasihat dari teman ana ‪#‎abdullah‬ dari ‪#‎UstadzYazid‬ melainkan membuat ana malu disatu sisi dan bersemangat di sisi yang lain guna menghafal Al-Qur'an dan As-Sunnah (Hadits).

#Ya akhi.. ustadz Yazid juga menasihatkan bagi para penuntut ilmu jangan menyibukkan diri kedalam lubang fitnah! (http://www.salamdakwah.com/…/nasehat-ustadz-yazid-bin-abdul…), lihat juga(http://abangdani.wordpress.com/…/prinsip-prinsip-imam-asy-s…’i-dalam-beragama-prinsip-kesembilan-habis/).

‪#‎Sibukkanlah‬ dirimu dengan ‪#‎ilmu‬! niscaya ia akan menjagamu! ‪#‎Jauhkanlah‬ dirimu dari#fitnah! karena itu akan memperkeruh hatimu sesama saudaramu!

Ustadz Yazid pernah dalam satu kajiannya mengutip perkataan Imam Syafi'i,

Imam Syafi’i berkata:

قُلْ بِمَا شِئْتَ فِيْ مَسَبَّةِ عِرْضِيْ فَسُكُوْتِيْ عَنِ اللَّئِيْمِ جَوَابُ
مَا أَنَا عَادِمُ الْجَوَابِ وَلَكِنْ مَا مِنَ الأُسْدِ أَنْ تُجِيْبَ الْكِلاَبَ

Berkatalah sesukamu untuk menghina kehormatanku

Diamku dari orang hina adalah suatu jawaban

Bukan berarti saya tidak memiliki jawaban tetapi

Tidak pantas singa meladeni anjing.[Diwan Asy-Syafi’i hal. 44]

رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ لَيْسَ إِلَى السَّلاَمَةِ مِنَ النَّاسِ سَبِيْلٌ. فَانْظُرْ مَا فِيْهِ صَلاَحُ نَفْسِكَ فَالْزَمْهُ وَدَعِ النَّاسَ وَمَا هُمْ فِيْهِ

“Ridho semua manusia adalah tujuan yang tidak mungkin digapai, tidak ada jalan untuk selamat dari omongan orang. Maqka lihatlah kebaikan hatimu, peganglah dan biarkan manusia berbicara sekehendak mereka."[Manaqib Imam Syafi’i hlm. 90 oleh al-Aburri, Hilyatul Auliya’ 9/122 oleh Abu Nu’aim , Al-’Uzlah hlm. 76 oleh al-Khotthobi.]

‪#‎Sebetulnya‬ masih banyak cerita ya akhi yang (Alhamdulillah) ana dapatkan dari ikhwan yang begitu lama bersama Ustadz Yazid tersebut (mulai dari: Kedermawanan, Kesabaran Ustadz Yazid dalam menghadapi fitnah terutama dari mantan murid-muridnya yang mencaci-maki beliau dengan SMS namun Ustadz Yazid hanya membaca sekilas dan menghapusnya, dan lain-lain) akan tetapi ana mencukupkan dengan apa yang ada. Mohon maaf kalau ada kesalahan dan kekeliruan.

Sumber : radio fm nurussunnah semarang

::MALAM CINTA, MALAM SANGKAKALA

::MALAM CINTA, MALAM SANGKAKALA

Sufyan Bin Ranan


1. Mayoritas Manusia malam ini berlomba-lomba menjadi malaikat peniup sangkakala.

2. Sebagaimana tahun sebelumnya Diantara mereka ada yang kiamat malam ini juga, lantaran tiupan sangkakala tersebut.

3. Zina, Khamr, Narkoba, menjadi ritual malam sangkakala ini....

4. Ada pula yang hanya menghabiskan waktu sia-sia, bakar jagung.. nyate.. Menyalakan pesta Majusi kembang api pada saat titik 00:00.

5. Semua larut dalam hingar bingar pesta foya dalam satu malam, Malam Cinta, Malam Sangkakala.

6. Malam Cinta, Malam Sangkakala yang mana mereka larut dalam kecintaan semu, pesta foya dalam kebahagian maksiat berujung Sangkakala yakni kiamatnya jasad mereka.

7. Kiamat jasad antara liang lahat atau tertutup sudah dan berkarat hati mereka dalam kelalaian dunia yang keindahannya lebih busuk dan hina melebihi hinanya bangkai kambing.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

"“Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)

tentu anda tak suka memakan daging kambing yang sudah jadi bangkai..?
dihadapan Allah dunia lebih busuk dan hina dari bangkai kambing, sebagaimana anda tidak akan mau memakan bangkai.

Saudaraku..
Kita tidak melarang orang untuk mencari kesenangan dunia, akan tetapi islam hanya melarang orang yang menjadikan dunia sebagai tuhanya, menjadikan dunia sebagai tujuan.

Prinsip seorang muslim adalah menjadikan dunia sebagai perantara menuju akhirat, harta dan jabatan yang kita miliki di investasikan dilaksanakan karena Allah insya Allah pahala atas keikhlasan anda, bukan menjadikan dunia sebagai tujuan, menjadikan harta dan jabatan sebagai pemuas nafsu dan syahwat.

Anda tentu melihat korban pesawat air asia..
diantara orang yang didalamnya pasti sudah memiliki tujuan masing-masing yang sebagian besarnya adalah berlibur untuk merayakan tahun baru, akan tetapi taqdir berkata lain, dengan demikian apa guna koper yang ia bawa, apa guna harta yang tersimpan di dompet serta pakaian mahal yang ia kenakan ...?

Sia-sia, nyawa pun meregang dalam kematian yang penuh misteri. semoga Allah menjadikan diri kita sebagai seorang yang diwafatkan khusnul khatimah dan jangan jadikan malam tahun baru sebagai malam cinta menjadi malam sangkakala, terjebak atas kebodohan memahami cinta dan kesenangan.

Terompet Tahun Baru penyakitan

::Terompet tahun baru menularkan Penyakit..!!

Sufyan Bin Ranan

Sobat...
bukan karena penyakitnya kita menghindari perayaan tahun baru Lho yaa...
melainkan perayaan semacam ini wajib dihindari oleh setiap muslim dan haram hukumnya semua itu dilakukan karena Allah.

sobat..
tahun baru tak terlepas dengan terompet...
tahu gag sih..
kalau terompet yang mereka tiup adalah terompet menularkan penyakit...

bagaimana tidak sebatang terompet pasti telah melalui beberapa tahapan uji mulut, tahukah anda yang namannya mulut khususnya air liur banyak bakterinya...

Terompet diuji mulut itu dengan tahapan :

1.pastinya uji mulut si pembuatnya..

2. Uji Mulut penjualnya

3. Uji mulut calon pembeli yang sekedar pilah pilih...

4. baru deh pembeli sesungguhnya yg terompetnya dah banyak kuman

tahukah anda...
jika demikian baakteri diterompet menumpuk ..
belum lagi kita gag tahu riwayat penyakit mulut masing masing orang... ada kanker mulut.. ada tbc... bahkan ebola... waiyyadzubillah penularan virus lewat air liur

dengan demikian....
Jaga kesehatan kita dalam naungan islam, kebaikan hanya pada islam dan keburukan ada pada yang lain.

:JIKA KAU CINTA...

:JIKA KAU CINTA...

Sufyan Bin Ranan

Urgensi Kecintaan pada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam adalah bagaimana kita berilmu dan mengamalkan serta ikhlas menjalankannya.

Berbicara bahagia, bergembira, Cinta atas Rasulullah shalallahu alaihi wasallam maka siapa yang tak senang dan cinta bahkan bergembira untuk beliau..?

saya yakin kita sebagai umat islam sangat mencintai beliau shalallahu alaihi wa sallam, jangankan kita sebagai umatnya Abu Lahab saja bergembira.

Paman Nabi shalallahu alaihi wasallam Abu Lahab sangat senang atas kelahiran Nabi namun kesenangan abu lahab lantaran kesenangan yang Normal, senang atas kelahiran ponakannya. berpahala atau tidak..?

Tidak, karena kesenangannya bukan karena Allah, kesenangannya lantaran antara paman ke ponakan, kalau sekiranya abu lahab senang karena Allah tentu dia Iman menerima Islam akan tetapi dia mengikari risalah dan belum berislam.

Sehingga kita dapat mengambil faidah, kecintaan itu harus dibuktikan, dibuktikan secara rutinitas keseharian dalam aspek ibadah dan muamalah, terlalu banyak orang yang mengklaim cinta akan tetapi hakikatnya cinta yang semu.

Jika kau Cinta bukan untuk setahun sekali dikenang....
Jika kau Cinta kerjakanlah sunnahnya..

Jika kau Cinta jagalah hal wajib..
Jika kau cinta tidak lah berbuat kewajiban terhalang dari suatu yang sunnah bahkan bid'ah..

jika kau Cinta kerjakanlah shalat 5 waktu..
Jika kau cinta janganlah bablas shubuh karena perayaan..

Kecintaan itu dibuktikan bukan untuk dikenang...
Dibuktikan seberapa jauh pengorbanan kita kepada sang kekasih..
Bukan dikenang dalam bayangan tanpa tindakan untuk menggapai hatinya...

Selamat mencintai Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam jika hatimu benar -benar cinta. baarakallahufik

Sujud Syukur pada Nikmat yang Terus Menerus

Apakah setiap orang yang mendapatkan nikmat diperintahkan sujud syukur? Bagaimana dengan nikmat yang terus menerus berulang? Karena nikmat ada yang baru dan ada yang sifatnya terus menerus ada.

Dalil disyari’atkannya sujud syukur adalah,

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ.

Dari Abu Bakroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika beliau mendapatkan hal yang menggembirakan atau dikabarkan berita gembira, beliau tersungkur untuk sujud pada Allah Ta’ala. (HR. Abu Daud no. 2774. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Aur, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sujud yang panjang, kemudian beliau mengangkat kepalanya, lantas beliau bersabda,

إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَتَانِى فَبَشَّرَنِى فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَمَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَسَجَدْتُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شُكْراً

“Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam baru saja mendatangiku lalu memberi kabar gembira padaku, lalu berkata, “Allah berfirman: ‘Siapa yang bershalawat untukmu, maka Aku akan memberikan shalawat (ampunan) untuknya. Siapa yang memberikan salam kepadamu, maka Aku akan mengucapkan salam untuknya’. Ketika itu, aku lantas sujud kepada Allah sebagai tanda syukur.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Al Hakim 1: 735. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Dari Al Bara’ bin ‘Aazib bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Ali ke Yaman –lalu disebutkan kelengkapan haditsnya-, lalu Al Bara’ mengatakan,

فَكَتَبَ عَلِىٌّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِإِسْلاَمِهِمْ ، فَلَمَّا قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْكِتَابَ خَرَّ سَاجِدًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ

“Ali menuliskan surat pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi keislaman mereka (penduduk Yaman). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat tersebut, beliau tersungkur untuk bersujud.” (HR. Al Baihaqi 2: 404)

Hadits-hadits di atas menunjukkan akan diperintahkannya sujud syukur. Sujud syukur ini dihukumi sunnah. Sujud ini dilakukan ketika ada sebab yaitu saat mendapatkan nikmat yang baru atau terselamatkan dari suatu musibah, baik sebab tersebut berlaku bagi orang yang sujud ataukah pada kaum muslimin secara umum.

Catatan penting yang perlu diperhatikan bahwa sujud syukur itu ada ketika mendapatkan nikmat yang baru. Adapun nikmat yang terus berulang, maka tidak perlu dengan sujud syukur seperti nikmat Islam, nikmat sehat, nikmat kaya dan semisal itu. Karena nikmat Allah tersebut terus didapatkan dan tidak terputus. Seandainya perlu adanya sujud syukur untuk nikmat yang ada terus menurus, barang tentu umur seseorang akan habis dengan sujud. Cukup syukur yang dilakukan ketika mendapatkan nikmat semacam itu adalah dengan mengisi waktu untuk ibadah dan melakukan ketaatan pada Allah.

Nikmat yang pantas disyukuri dengan sujud syukur seperti nikmat dapat anak, saat menemukan barang hilang, atau ketika Allah menyelamatkan dari musibah.

Setelah memaparkan penjelasan di atas, Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan menyatakan bahwa sujud syukur adalah di antara ajaran Islam yang banyak yang meninggalkannya, marilah ajaran tersebut dihidupkan saat kita menemukan sebabnya. Lihat Minhatul ‘Allam, 3: 262.

Semoga bermanfaat. Kaji lebih jauh tentang: Panduan Sujud Syukur.

BERWISATA KE NEGERI KAFIR




Bagaimana hukum berwisata ke negeri kafir? Hanya untuk sekedar berjalan-jalan, tidak ada sesuatu yang urgent di sana seperti untuk berobat dan melanjutkan studi di sana, bolehkah? Para ulama memberi nasehat, tetap hal itu tidak dibolehkan, termasuk membuang-buang harta dan bahkan bernilai dosa.

Kita diperintahkan berhijrah dari negeri kafir ke negeri kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمْ قَالُواْ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأَرْضِ قَالْوَاْ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُواْ فِيهَا فَأُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءتْ مَصِيراً

إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً

فَأُوْلَـئِكَ عَسَى اللّهُ أَن يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللّهُ عَفُوّاً غَفُوراً

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri , (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An Nisa’: 97-98). Dalam ayat ini, Allah tidaklah memberikan udzur untuk tinggal di negeri kafir kecuali bagi orang-orang yang lemah yang tidak mampu untuk berhijrah dan juga orang-orang yang ingin menegakkan agama di negeri tersebut dengan cara berdakwah kepada Allah dan menyebarkan Islam. Lantas jika ada yang malah mau jalan-jalan ke negeri kafir dari negeri muslim, maka jelas suatu tindakan keliru dan terlarang.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menerangkan, “Tidak boleh seseorang bersafar ke negeri kafir kecuali dengan tiga syarat:

1- Memiliki ilmu untuk membentengi diri dari syubhat atau pemikiran rancu.

2- Memiliki agama yang baik untuk membentengi diri dari godaan syahwat.

3- Butuh untuk bersafar ke negeri kafir seperti untuk berobat atau untuk melanjutkan studi yang tidak didapatkan di negeri Islam, atau bisa pula karena alasan berdagang, ia pergi ke negeri kafir dan nantinya kembali. Intinya, kalau ada hajat (sesuatu yang urgent), maka dibolehkan. Oleh karena itu, aku memandang bahwa siapa yang bersafar ke negeri kafir cuma untuk maksud jalan-jalan (wisata), maka ia berdosa. Segala yang ia keluarkan untuk safar adalah haram dan termasuk membuang-buang harta. Ia pun akan dihisab pada hari kiamat karena hal ini.” (Diolah dari Syarh Riyadhus Sholihin, penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin).

Semoga Allah senantiasa menjaga dan meneguhkan iman kita di atas Islam yang shahih. Wallahu waliyyut taufiq.



@ Maktabah Amir Salman, KSU, Riyadh-KSA, 6 Shafar 1434 H

www.rumaysho.com

Article's :

QAULAN-SADIDA.BLOGSPOT.COM

SEKOLAH YUUK..!!