Sabtu, 01 Desember 2012

MUQADIMAH


Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan =semoga Allah menjaga nya=


Di negeri kaum muslimin tak terkecuali negeri kita ini (SAUDI ARABIA), momentum hari raya biasanya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang-orang kafir (dalam hal ini kaum Nashrani) untuk menggugah bahkan menggugat tenggang rasa atau toleransi –ala mereka- terhadap kaum muslimin. Seiring dengan itu, slogan-slogan manis seperti: menebarkan kasih sayang, kebersamaan ataupun kemanusiaan sengaja mereka suguhkan sehingga sebagian kaum muslimin yang lemah iman dan jiwanya menjadi buta terhadap makar jahat dan kedengkian mereka.

Maskot yang bernama Santa Claus ternyata cukup mewakili “kedigdayaan” mereka untuk meredam militansi kaum muslimin atau paling tidak melupakan prinsip Al Bara’ (permusuhan atau kebencian) kepada mereka. Sebuah prinsip yang pernah diajarkan Allah dan Rasul-Nya .

HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR IDENTIK DENGAN AGAMA MEREKA


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Bahwasanya hari-hari raya itu merupakan bagian dari lingkup syariat, ajaran dan ibadah….seperti halnya kiblat, shalat dan puasa. Maka tidak ada bedanya antara menyepakati mereka didalam hari raya mereka dengan menyepakati mereka didalam segenap ajaran mereka….bahkan hari-hari raya itu merupakan salah satu ciri khas yang membedakan antara syariat-syariat (agama) yang ada. Juga (hari raya) itu merupakan salah satu syiar yang paling mencolok.” (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal. 292)

SETIAP UMAT BERAGAMA MEMILIKI HARI RAYA


Perkara ini disitir oleh Allah didalam firman-Nya

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ

(artinya): “Untuk setiap umat (beragama) Kami jadikan sebuah syariat dan ajaran”. (Al Maidah: 48).
Bahkan dengan tegas Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya bagi setiap kaum (beragama) itu memiliki hari raya, sedangkan ini (Iedul Fithri atau Iedul Adha) adalah hari raya kita.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Akan tetapi muncul sebuah permasalahan tatkala kita mengingat bahwa orang-orang kafir (dalam hal ini kaum Nashrani) telah mengubah-ubah kitab Injil mereka sehingga sangatlah diragukan bahwa hari raya mereka yaitu Natal merupakan ajaran Nabi Isa ?. Kalaupun toh, Natal tersebut merupakan ajaran beliau, maka sesungguhnya hari raya tersebut -demikian pula seluruh hari raya orang-orang kafir- telah dihapus dengan hari raya Iedul Fithri dan Iedul Adha. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya (dua hari raya Jahiliyah ketika itu-pent) dengan hari raya yang lebih baik yaitu: Iedul Adha dan Iedul Fithri.” (H.R Abu Daud dengan sanad shahih)

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR


Menanggapi upaya-upaya yang keras dari orang-orang kafir didalam meredam dan menggugurkan prinsip Al Bara’ melalui hari raya mereka, maka sangatlah mendesak untuk setiap muslim mengetahui dan memahami perkara-perkara berikut ini:

1. Tidak Menghadiri Hari Raya Mereka


Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata: “Berbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram. Sebab, dalam perbuatan tersebut mengandung unsur tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan. Padahal Allah berfirman

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

(artinya): “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong menolong didalam dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah:2)

Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut bersama orang-orang kafir dalam acara hari raya mereka karena hal itu menunjukan persetujuan dan keridhaan terhadap agama mereka yang batil.” (Disarikan dari majalah Asy Syariah no.10 hal.8-9)
Berkaitan dengan poin yang pertama ini, tidak sedikit dari para ulama ketika membawakan firman Allah yang menceritakan tentang sifat-sifat Ibadurrahman

(artinya): “(Yaitu) orang-orang yang tidak menghadiri kedustaan.” (Al Furqan:73)
mereka menafsirkan “kedustaan” tersebut dengan hari-hari raya kaum musyrikin (Tafsir Ibnu Jarir…/….)
Lebih parah lagi apabila seorang muslim bersedia menghadiri acara tersebut di gereja atau tempat-tempat ibadah mereka. Rasulullah mengecam perbuatan ini dengan sabdanya:

“Dan janganlah kalian menemui orang-orang musyrikin di gereja-gereja atau tempat-tempat ibadah mereka, karena kemurkaan Allah akan menimpa mereka.” (H.R Al Baihaqi dengan sanad shahih)

2. Tidak Memberikan Ucapan Selamat Hari Raya


Didalam salah satu fatwanya, beliau (Asy Syaikh Ibnu Utsaimin) mengatakan bahwa memberikan ucapan selamat hari raya Natal kepada kaum Nashrani dan selainnya dari hari-hari raya orang kafir adalah haram. Keharaman tersebut disebabkan adanya unsur keridhaan dan persetujuan terhadap syiar kekufuran mereka, walaupun pada dasarnya tidak ada keridhaan terhadap kekufuran itu sendiri. Beliau pun membawakan ayat yaitu

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ

artinya: “Bila kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian. Dia tidak ridha adanya kekufuran pada hamba-hamba-Nya. (Namun) bila kalian bersyukur maka Dia ridha kepada kalian.” (Az Zumar:7).
Juga firman-Nya

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

artinya: “Pada hari ini, Aku telah sempurnakan agama ini kepada kalian, Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah:3)

Beliau juga menambahkan bahwa bila mereka sendiri yang mengucapkan selamat hari raya tersebut kepada kita maka kita tidak boleh membalasnya karena memang bukan hari raya kita. Demikian pula, hal tersebut disebabkan hari raya mereka ini bukanlah hari raya yang diridhai Allah karena memang sebuah bentuk bid’ah dalam agama asli mereka. Atau kalau memang disyariatkan, maka hal itu telah dihapus dengan datangnya agama Islam.” (Majmu’uts Tsamin juz 3 dan Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Shalih Al Fauzan 1/255)

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka, kalaupun dia ini selamat dari kekufuran maka dia pasti terjatuh kepada keharaman. Keadaan dia ini seperti halnya mengucapkan selamat atas sujud mereka kepada salib. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah)

3. Tidak Tukar Menukar Hadiah Pada Hari Raya Mereka


Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Telah sampai kepada kami (berita) tentang sebagian orang yang tidak mengerti dan lemah agamanya, bahwa mereka saling menukar hadiah pada hari raya Nashrani. Ini adalah haram dan tidak boleh dilakukan. Sebab, dalam (perbuatan) tersebut mengandung unsur keridhaan kepada kekufuran dan agama mereka. Kita mengadukan (hal ini) kepada Allah.” (At Ta’liq ‘Ala Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal. 277)

4. Tidak Menjual Sesuatu Untuk Keperluan Hari Raya Mereka


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan bahwa seorang muslim yang menjual barang dagangannya untuk membantu kebutuhan hari raya orang-orang kafir baik berupa makanan, pakaian atau selainnya maka ini merupakan bentuk pertolongan untuk mensukseskan acara tersebut. (Perbuatan) ini dilarang atas dasar suatu kaidah yaitu: Tidak boleh menjual air anggur atau air buah kepada orang-orang kafir untuk dijadikan minuman keras (khamr). Demikian halnya, tidak boleh menjual senjata kepada mereka untuk memerangi seorang muslim. (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal.325)

5. Tidak Melakukan Aktivitas-Aktivitas Tertentu Yang Menyerupai Orang-Orang Kafir Pada Hari Raya Mereka


Didalam fatwanya, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan: “Dan demikian pula diharamkan bagi kaum muslimin untuk meniru orang-orang kafir pada hari raya tersebut dengan mengadakan perayaan-perayaan khusus, tukar menukar hadiah, pembagian permen (secara gratis), membuat makanan khusus, libur kerja dan semacamnya. Hal ini berdasarkan ucapan Nabi :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (H.R Abu Daud dengan sanad hasan). (Majmu’uts Tsamin juz 3). (semoga Allah menjaga hati kaum muslimin kepada cahaya oslam (red )

TAHUN BARU 2013 ( antara perayaan dan renungan )


betapa angkuhnya wahai manusia bodoh itu, dimana Allah Rabb Semesta Alam pada diri-diri kalian..? apakah kalian ingin merasakan bagaimana dicabutnya nyawa kalian dipergantian tahun nan penuh maksiat..? sudah banyak contoh dengan banyaknya manusia yang tewas di pergantian tahun dalam bermaksiat pada ALLAH, waiyadzubillah. sebelum datangnya malam tahun baru, Dosa kita terlampau banyak sedangkan usia semakin terkuras,Masihkah kita berencana untuk merayakan tahun baru nanti..?

TAHUN BARU 2013 ( antara perayaan dan renungan )

Abu Usaamah Sufyan Bin Ranan Al Bykazi


Segala puji bagi Allah, yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab Al-Qur'an sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad Shalallahu 'alaihi wasalam, yang diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.

Masih teringat dalam ingatan fikiran yang membekas, ketika kami menulis perihal tahun baru 2012 dan saat ini kami menulis kembali di akhir 2012 menuju tahun 2013,betapa cepatnya dunia ini artinya betapa singkat kehidupan kita didunia seiring cepatnya zaman yang menghantarkan kita kepada kematian.

Namun patut disayangkan banyak diantara kaum muslimin yang terbuai dengan melihat pergantian tahun nan meriah, mereka mengagendakan jauh-jauh hari untuk liburan misalkan saja ada yang mengagendakan ke Bali, Lombok, Gunung bromo, dan paket liburan yang sia-sia, terlebih lagi ada yang keluar negeri menghabiskan ratusan bahkan milyaran uang yang ia keluarkan, ada yang ke sydney, ke paris, berlin dan seterusnya guna hanya menghabiskan waktu semalam. belum lagi ada yang mengagendakan kearah yang lebih parah yakni Pesta Sex, party - party dengan yang bukan mahramnya, memakai narkoba dan minuman keraas, betapa angkuhnya wahai manusia bodoh itu, dimana Allah Rabb Semesta Alam pada diri-diri kalian..? apakah kalian ingin merasakan bagaimana dicabutnya nyawa kalian dipergantian tahun nan penuh maksiat..? sudah banyak contoh dengan banyaknya manusia yang tewas di pergantian tahun dalam bermaksiat pada ALLAH, waiyadzubillah. sebelum datangnya malam tahun baru, Dosakita terlampau banyak sedangkan usia semakin terkuras,Masihkah kita berencana untuk merayakan tahun baru nanti..?

RENUNGILAH DOSAMU.. SEBELUM DICABUT NYAWAMU..!!

Betapa banyak dosa - dosa kita dimata Allah, bayangkan adakah hari-hari atau menit bahkan detik kita, yang terbebas dari dosa..? dalam pergantian Tahun Baru Masehi ini semestinya tak pantas diri kita sebagai jiwa pendosa untuk merayakan maksiat dimata Allah, laksana memory yang bermuat 1GB, rasanya sudah 999Mb terisi oleh dosa, kiranya kita bisa melihat dosa-dosa kita tentu kita lebih banyak menangis daripada tertawa..!!

Wahai Saudaraku... Manusia adalah makhluk yang lalai. Tidak hanya lalai untuk mengerjakan amal ketakwaan namun juga lalai dari dosa-dosa. Lebih memilukan lagi jika manusia acap mengentengkan dosa atau maksiat yang ia perbuat. Seolah-olah dengan sikapnya itu, ia aman dari adzab Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia ataupun di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan bumi dan menghiasinya dengan berbagai perhiasan yang indah dan menawan untuk menguji hamba-Nya, siapa di antara mereka yang taat kepada-Nya dan siapa yang membangkang perintah-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى اْلأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً. وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang ada di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus. ” (Al-Kahfi: 7-8)

Perhiasan(urusan)yang ada di bumi adalah pada hakikatnya melalaikan manusia, diantara mereka sibuk mencari nafkah namun lalai shalat lima waktu, diantara mereka kaya raya namun lalai bersedekah, diantara mereka memiliki waktu luang namun tidak dimanfaatkan, camkan wahai saudaraku,, sesungguhnya kita akan menemui akhirat yang mana sudah jauh-jauh hari Allah mengingatkan kita :

“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian dan takutlah suatu hari yang (pada hari itu) seorang ayah tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong ayahnya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayamu dan jangan pula penipu (syaitan) memperdayamu dalam menaati Allah. ” (Luqman: 33)

Dosa kita terlampau banyak sedangkan usia semakin terkuras, Masihkah kita berencana untuk merayakan tahun baru nanti..?

RENUNGILAH..!! SUDAH TERLALU BANYAK ORANG YANG SU'UL KHATIMAH DI MALAM TAHUN BARU

Keinginan untuk hidup di tahun yang baru malah berakhir tragis, kecacatan kena petasan sampai nyawa hilang tewas mengenaskan..!!, itulah potret dari perayaan tahun baru, lalu.. Masihkah kita berencana untuk merayakan tahun baru nanti..?
berikut kejadian tragis sepanjang perayaan tahun baru di bumi ini..:

1)Sepasang Penzina Gay diBandung tewas dalam keadaan BUGIL di kamar mandi saat malam tahun baru 2012. (http://wanasedaju.blogspot.com/2012/01/dua-kejadian-tragis-di-malam-tahun-baru.html)

2)2 Tewas karena meminum minuman keras disaat malam tahun baru (http://www.passopatifm.com/index.php?option=com_content&view=article&id=31:pesta-miras-di-tahun-baru-2-warga-tewas-&catid=2:national&Itemid=12)

3)Tempat Dugem kebakaran, 54 orang tewas dimalam tahun baru (http://berita-dunia.infogue.com/klab_malam_terbakar_54_tewas_di_malam_tahun_baru)

itulah segelintir tragedi dimalam tahun baru 2012 lalu, dan pastinya masih banyak tragedi yang lebih tragis dan mengenaskan yang semestinya membuat kita menjadi lebih takut kepada Allah dengan kekuasaannya Dia bisa mematikan sesuatu yang hidup, baik dalam khusnul khatimah maupun su'ul khatimah. Masihkah kita berencana untuk merayakan tahun baru nanti..?

PANDANGAN ISLAM MENGENAI PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI DAN TAHUN BARU ISLAM


Ada seorang yang dianggap Ustadz mengatakan "Merayakan tahun baru masehi adalah HARAM, kalau merayakan Tahun Baru Islam adalah Wajib".

kami akan katakan kepada sosok yang dianggap Ustadz ini :

Wahai Ustadz bukankah hari raya dalam islam hanya ada 2 saja :
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, dalam keadaan penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bergembira padanya, maka beliau bertanya, “Apakah dua hari ini?” maka mereka menjawab, “(Hari besar) yang kami biasa bergembira padanya pada masa jahiliyyah.
Maka Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“
Kalau seandainya hari-hari besar dalam Islam itu mengikuti adat kebiasaan, maka manusia akan seenaknya menjadikan setiap kejadian penting sebagai hari raya, dan hari raya syar’i tidak akan ada gunanya. Demikian keterangan dari Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin –rahimahullah dalam Majmû Fatâwâ wa Rasâ`il pertanyaan no. 8131

maka dari itu tidak ada perbedaan hukum dalam merayakan Tahun Baru Masehi Maupun Tahun baru Islam kedua-duanya adalah Haram..!! jika kita mengatakan merayakan tahun baru masehi saja haram maka semestinya kita jangan menyerupakan atau mengadopsi kebiasaan kafir ke dalam islam dengan merayakan tahun baru islam.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4031.

Inilah yang disebutkan Tasyabuh(menyerupai ibadah-ibadah/kebiasaan yang menjadi khas orang kafir dan ditirukan dalam islam) hukum tasyabuh hukumnya haram.

Asy-Syaikh Muqbil -rahimahullah- juga berkata dalam Ijabah As-Sail pada pertanyaan no. 167 ketika beliau ditanya tentang perayaan maulid, Isra` Mi’raj, dan tahun baru, maka beliau menjawab:

“(Semuanya adalah) bid’ah sedangkan Rasul -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak”.

Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir bahwa perayaan ini adalah bid’ah, tidak tsabit (shahih) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-, tidak pula dari para sahabat dan para tabi’in.

Kemudian beliau berkata, Rasul -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah bersabda:
قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ, وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“Saya terutus kepada kalian sedang kalian (dulunya) mempunyai dua hari raya yang kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyah, dan sungguh Allah telah mengganti keduanya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) hari Nahr (idul Adh-ha) dan hari Fithr (idul Fithri)”.

Hari raya selainnya merupakan hari-hari raya jahiliyah yang kami berlepas diri darinya. Maka kaum muslimin, wajib atas mereka untuk mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-. Inipun kalau perayaan maulid itu selamat dari ikhtilath (percamburbauran antara lelaki dan perempuan), pelaksanaan perbuatan fahisy (keji), dan selamat dari bentuk-bentuk kesyirikan, dan selainnya. Semua ini adalah kebatilan-kebatilan yang tidak akan hilang kecuali dengan menyebarkan sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-”.

Semoga kita diberikan perlindungan oleh Allah dan dijaga dari setiap perbuatan yang sia-sia olehNya. dan senantiasa memperbaiki amalan shalih untuk kehidupan akhirat kelak. amin.

ISA ADALAH NABI ( BUKAN TUHAN DAN BUKAN ANAK TUHAN )


“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.” (Terj. QS. Ali Imran: 59)

Kelahiran Nabi Isa tanpa seorang bapak tidaklah musatahil, bukankah Nabi Adam ‘alaihis salaam lahir tanpa seorang bapak dan seorang ibu dan bukankah Hawaa’ lahir dari laki-laki (tulang rusuk Adam). maka Isa adalah Nabi, Bukan Tuhan dan Bukan Anak Tuhan



ISA ADALAH NABI ( BUKAN TUHAN DAN BUKAN ANAK TUHAN )


Abu Yahya Marwan Bin Musa

Maryam adalah seorang wanita yang salihah, yang dididik dan dibesarkan oleh Nabi Zakariya. Maryam tinggal di mihrab masjid beribadah kepada Allah Ta'ala dan berdzikr kepada-Nya.

Suatu hari, Maryam didatangi oleh para malaikat dalam wujud manusia, mereka menyampaikan pujian Allah kepadanya dan mendorongnya untuk terus taat beribadah dan melakukan shalat, mereka berkata, "Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).--Wahai Maryam! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang ruku'." (Terj. QS. Ali Imran: 42-43)

Selanjutnya, para malaikat itu memberitahukan kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak darinya yang akan menjadi Nabi dan Rasul yang mulia yang diperkuat dengan mukjizat, mereka berkata, :
"Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat[i] (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih[ii] Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),--Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk orang-orang yang saleh." (Terj. QS. Ali Imran: 45-46)

Mendengar berita itu, maka Maryam merasa heran, yakni bagaimana dirinya akan melahirkan anak, sedangkan ia tidak mempunyai suami dan tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhnya, maka Allah memberitahukan, bahwa demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya cukup berkata kepadanya, "Jadilah!" lalu jadilah dia (lihat Ali Imran: 47).

Ketika itu, Maryam hanya pasrah terhadap ketetapan itu dan berharap agar Allah memberikan jalan keluar baginya karena khawatir kaumnya akan menuduh yang tidak benar kepadanya.

Kelahiran Nabi Isa tanpa seorang bapak tidaklah musathil, bukankah Nabi Adam ‘alaihis salaam lahir tanpa seorang bapak dan seorang ibu dan bukankah Hawaa’ lahir dari laki-laki (tulang rusuk Adam).


Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.” (Terj. QS. Ali Imran: 59)

Pada suatu hari, saat Maryam sedang menyendiri, Allah mengutus Malaikat Jibril kepadanya dalam wujud manusia yang sempurna. Ketika Maryam melihatnya, maka ia segera terperanjat dan takut kepadanya, ia pun segera berlindung kepada Allah dari orang itu, maka malaikat Jibril langsung menenangkannya dan memberitahukan kepadanya, bahwa dia adalah utusan Allah untuk mengaruniakan kepadanya seorang anak yang suci (lihat QS. Maryam: 18-19).

RUH DTIUPKAN OLEH MALAIKAT JIBRIL

Malaikat Jibril pun langsung meniupkan ruh ke leher baju Maryam, lalu tiupan itu masuk ke farjinya, maka Maryam pun hamil.

Waktu pun berlalu, maka tibalah saatnya bagi Maryam untuk melahirkan anak, maka ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Dan rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma, Maryam berkata, "Wahai kiranya, aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan."

Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, "Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.-Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,--Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, maka Katakanlah, "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini." (Lihat QS. Maryam: 23-26)

MARYAM DITUDUH BERZINA, NABI ISA BERBICARA DALAM USIA BAYI

Selanjutnya, Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Lalu kaumnya yang terdiri dari orang-orang Yahudi berkata, "Wahai Maryam, Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara perempuan Harun[iii], ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina."

Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka pun berkata, "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"
Ketika itulah Allah Subhaanahu wa Ta'ala menjadikan Isa putera Maryam berbicara, Beliau berkata,

"Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi---Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi (mengajarkan kebaikan) di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup;---Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka---Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." (Terj. QS. Maryam: 30-33)

Meskipun begitu, orang-orang Yahudi tetap saja menuduh Maryam berzina, dan ketika Maryam merasa khawatir terhadap tindakan jahat mereka terhadap dirinya dan anaknya, maka Maryam membawa puteranya ke tempat yang jauh agar mereka tidak menyakitinya.
Ketika Nabi Isa 'alaihis salam sudah besar, maka Maryam membawa lagi Nabi Isa ke tempat kelahirannya Baitlahm (dekat Baitulmaqdis) di Palestina.

Ketika Nabi Isa 'alaihis salam kembali ke kaumnya, maka Beliau melihat ternyata kaumnya telah menyimpang dari jalan yang diajarkan Nabi Musa 'alaihis salam. Mereka sibuk dengan dunia dan tidak mengisi hidupnya dengan beribadah kepada Allah Ta'ala.
Bahkan di antara mereka ada yang mengingkari hari Kiamat, mereka berkata, "Tidak ada hisab dan pembalasan pada hari Kiamat."

Sebagian dari mereka lagi ada yang kelewatan batas dalam mencintai dunia, sehingga mereka dengan tega mengambil harta manusia dengan berbagai cara.
Kondisi Bani Israil ketika itu benar-benar butuh diperbaiki, maka sungguh tepat diutusnya Nabi Isa 'alaihis salam kepada mereka untuk membimbing mereka ke jalan yang lurus. Maka mulailah Nabi Isa 'alaihis salam mengajak mereka beribadah kepada Allah Ta'ala dan meninggalkan kebodohan dan kesesatan yang menimpa mereka.

MUKJIZAT NABI ISA

Allah Ta'ala menguatkan Nabi Isa 'alaihis salam dengan mukjizat yang besar yang sesuai dengan zamannya sebagai bukti bahwa Beliau adalah utusan Allah Ta'ala[iv].

Allah Ta'ala memberikan mukjizat kepadanya dengan mampu menghidupkan orang yang telah mati, menyembuhkan orang yang sakit yang tidak sanggup disembuhkan penyakitnya oleh para tabib, Allah juga mengajarkan sebagian ilmu gaib kepadanya.

Oleh karena itu, Beliau mengetahui apa yang dimakan orang-orang dan apa yang mereka simpan di rumah. Maka mulailah Nabi Isa 'alaihis salam mengajak kaumnya ke jalan yang lurus serta menguatkan ajakannya itu dengan mukjizat yang Allah berikan, Beliau berkata, "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.

Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman--Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (Terjemah QS. Ali Imraan: 49)


Meskipun mukjizat telah ditunjukkan oleh Nabi Isa 'alaihis salam, tetapi tidak ada yang beriman dari mereka kecuali sedikit saja, dan mereka terus-menerus di atas kekafiran dan penentangan di samping mereka menuduhnya sebagai pesihir.

Namun demikian, Nabi Isa 'alaihis salam tidak berputus asa dan terus mengajak mereka beribadah kepada Allah Ta'ala, hingga akhirnya Nabi Isa 'alaihis salam meminta kepada kaumnya untuk membantunya menolong agama Allah, lalu Allah menunjuki segolongan kaum fakir dan miskin kepada keimanan, dan mereka inilah yang menjadi pengikut setianya (hawariyyun) yang dipilih Allah Ta'ala untuk mengemban dakwah yang hak dan menolong Nabi Isa 'alaihis salam.

Jumlah mereka hanya 12 orang saja.
Ibnu Ishaq berkata: Nabi Isa ‘alaihis salam memiliki hawariy (sahabat setia yang membelanya), yang jumlahnya ada 12 orang, yaitu Petrus, Ya’qub bin Zabda, Yohanes saudara Ya’qub, Andraawes, Falibas, Ibritslima, Mata, Tomas, Ya’qub bin Halqiya, Tadaawus, Fataatiya, Yudas Karyaayota. Dan Yudas inilah (yang murtad) yang menunjukkan orang-orang Yahudi tentang keberadaan Isa.”

Suatu hari para pengikuti setia Nabi Isa 'alaihis salam (kaum hawari) meminta kepada Nabi Isa 'alaihis salam agar Beliau berdoa kepada Allah Ta'ala agar Dia menurunkan hidangan untuk mereka langsung dari langit, lalu Nabi Isa 'alaihis salam menasihati mereka agar bertakwa kepada Allah dalam hal itu, lalu para hawari berkata, "Kami ingin memakan hidangan itu dan agar hati kami tenteram dan agar kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." (Terj. QS. Al Ma'idah: 113)

Tetapi ketika Nabi Isa 'alaihis salam melihat ternyata para hawari tetap saja meminta hidangan dari langit, maka Nabi Isa 'alaihis salam berdiri shalat dan berdoa, "Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada Kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling utama." (Terj. QS. Al Ma'idah: 114)

Maka Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu. Barang siapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia." (Terj. QS. Al Ma'idah: 115)

Tidak berapa lama kemudian, Allah menurunkan hidangan dari langit, dan manusia melihatnya, sedangkan hidangan itu terus mendekat sedikit demi sedikit. Hidangan tersebut pun sampai berada di hadapan Nabi Isa 'alaihis salam, lalu Nabi Isa dan orang-orang yang berada di dekatnya bersujud kepada Allah sambil bersyukur karena dikabulkannya permintaan mereka.

Selanjutnya, Nabi Isa 'alaihis salam membuka penutup hidangan itu, dan ternyata dalam hidangan itu terdapat sesuatu yang disukai jiwa dan enak dipandang mata[v], lalu para hawari memakan hidangan itu. Dan ikut pula bersama mereka ribuan manusia yang datang kepada Nabi Isa agar mereka disembuhkan dari penyakitnya dengan izin Allah. Dan turunnya hidangan itu menjadi hari raya bagi kaum hawari dan para pengikut Nabi Isa 'alaihis salam untuk masa yang panjang.

================
Maraji’: Al Qur'anul Karim (Terjemah Depag), Mausu'ah Al Usrah Al Muslimah, Fathul Bari (Al Hafizh Ibnu Hajar), Shahih Qashashil Anbiya' (Salim Al Hilaliy), dll.


[i] Maksudnya dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak, yaitu Nabi Isa 'alaihis salam.
[ii] Beliau disebut Al Masih karena apabila Beliau mengusap orang yang berpenyakit niscaya akan sembuh dengan izin Allah. Ada pula yang berpendapat, bahwa Beliau disebut Al Masih, karena perjalanan yang Beliau lakukan di bumi membawa agamanya karena menjaga diri dari fitnah, dimana ketika itu orang-orang Yahudi mendustakannya dan menuduh dusta dirinya dan ibunya.
[iii] Maksud “Saudara perempuan Harun” adalah bahwa Maryam seperti halnya Harun seorang ahli ibadah di zamannya, atau seperti Harun saudara Musa ‘alaihis salam karena mirip sekali dengan ibadahnya.
[iv] Para ulama menjelaskan, bahwa Allah Ta’ala mengutus setiap nabi dengan membawa mukjizat yang sesuai dengan kondisi zaman itu. Di zaman Nabi Musa, sihir merebak di mana-mana, dan para tukang sihir dimuliakan, maka Allah Ta’ala mengutus Nabi Musa ‘alaihis salaam dengan mukjizat yang membuat mata terbelalak dan membuat heran para tukang sihir, para tukang sihir akhirnya yakin bahwa hal itu dari sisi Allah, mereka pun masuk Islam dan menjadi orang-orang salih. Adapun di zaman Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam, ilmu pengobatan sedang masyhur, maka Allah Ta’ala mengutus Nabi ‘Isa ’alaihis salam dengan mukjizat yang tidak bisa ditandingi oleh para dokter, bagaimana bisa dilakukan oleh dokter menghidupkan benda mati, mengobati orang yang buta sejak lahir dan yang terkena penyakit sopak, demikian juga Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah mengutusnya di zaman para fushaha’ (pandai bahasa) dan para syu’araa (ahli sya’ir), Allah Ta’ala memberikan kepada Beliau kitab yang tidak bisa ditandingi oleh siapa pun meskipun jin dan manusia berkumpul untuk membuatnya.
[v] Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah, bahwa hidangan tersebut turun kepada Nabi Isa putera Maryam, dimana pada hidangan itu ada tujuh buah roti dan tujuh buah ikan besar. Mereka makan sepuasnya.

ORANG YANG DI SALIB BUKANLAH NABI ISA alaihissalam


Allah Ta'ala berfirman, "Dan karena Ucapan mereka, "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah[i], " padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.-- Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya[ii]. dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Terj. QS. An Nisa: 157-159)


ORANG YANG DI SALIB BUKANLAH NABI ISA alaihissalam

Abu Yahya Marwan Bin Musa


Berita Nabi Isa pun tersebar ke pelosok negeri, dan banyak kaum fakir dan miskin yang beriman kepadanya sehingga para dukun dan kaum kaya dari kalangan Yahudi dengki kepada Beliau dan mereka ingin Beliau disingkirkan, maka mulailah mereka mengatur tipu muslihat. Mereka pun pergi mendatangi raja ketika itu dan memberitahukan, bahwa Isa adalah seorang pemberontak yang mengajak manusia memberontak dan ia sedang merencanakan perlawanan dengan pemerintahannya.

Mereka yang dengki ini terus saja memfitnah Nabi Isa di hadapan raja, mereka beritahukan kepada raja itu bahwa Isa menyesatkan orang-orang, menghalangi orang-orang taat kepada raja, memisahkan antara bapak dan anaknya, dan mereka juga membuat kedustaan-kedustaan lainnya terhadap Isa, seperti mengatakan bahwa ia (Nabi ‘Isa) adalah anak zina sehingga membuat amarah raja semakin memuncak. Hingga akhirnya raja mengeluarkan keputusan untuk membunuh Nabi Isa 'alaihis salam dan menyalibnya.

Di tengah susana itu, Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman kepada Nabi Isa, "Wahai Isa! Sesungguhnya aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." (Terj. QS. Ali Imran: 55)

Nabi Isa 'alaihis salam juga berpamitan kepada para hawariy dan memberikan kabar gembira kepada mereka dengan kedatangan rasul setelahnya yang akan menyempurnakan apa yang telah dimulainya, dan dengan kedatangan Rasul tersebut, maka nikmat Allah menjadi sempurna kepada makhluk-Nya.

Nabi Isa 'alaihis salam berkata kepada mereka, "Wahai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." (Terj. QS. Ash Shaff: 6)

ALLAH MENYELAMATKAN NABI ISA DARI PENYALIBAN

Maka raja pun mengirimkan tentaranya untuk menangkapnya, menyalibnya dan menghukumnya. Ketika tentara raja yang siap menangkapnya sampai ke tempat Nabi ‘Isa seraya mengepungnya, maka Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam, Allah Ta’ala mengangkat Beliau dalam keadaan tertidur lewat lubang angin di rumahnya ke langit, dan Allah Ta’ala menjadikan rupa orang yang di dekat Nabi Isa di dalam rumahnya itu mirip dengan Nabi Isa ‘alaihis salaam.

Ketika tentara raja masuk di malam hari, mereka anggap bahwa orang itu Nabi ‘Isa, mereka pun menangkapnya, menghinakannya dan menyalibnya serta menaruh di kepalanya duri. Demikianlah tindakan Allah Ta’ala terhadap tipu daya mereka, Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi-Nya dan mengangkatnya di tengah-tengah mereka, serta membiarkan mereka bergelimang dalam kesesatan, mereka mengira telah berhasil menyalib Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam dan membunuhnya, padahal tidak.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan karena Ucapan mereka, "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah[i]," padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.-- Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya[ii]. dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Terj. QS. An Nisa: 157-159)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Ketika Allah hendak mengangkat Nabi Isa 'alaihis salam ke langit, maka Beliau keluar menemui para sahabatnya. Ketika itu, di rumah ada 12 orang yang di antara mereka termasuk hawariy.

Maka Beliau keluar menemui mereka dari sebuah mata air yang ada di rumah, sedangkan rambutnya meneteskan air, lalu Beliau berkata, "Sesungguhnya di antara kamu ada yang kafir kepadaku 12 kali setelah beriman kepadaku."

Selanjutnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam berkata, “Siapa di antara kamu yang mau disamakan dengan rupaku, sehingga nanti ia dibunuh menggantikanku dan akan bersama denganku dalam derajatku?"

Maka bangkitlah salah seorang di antara mereka yang paling muda usianya, lalu Nabi Isa berkata, "Duduklah!" Kemudian Nabi Isa mengulangi lagi, tetapi pemuda itulah yang berdiri, maka Nabi Isa berkata, "Duduklah!" Kemudian Nabi Isa mengulangi lagi, maka bangkitlah pemuda itu dan berkata, "Saya."

Beliau pun berkata, "Engkaulah orangnya." Maka Allah serupakan orang itu dengan rupa Nabi Isa dan mengangkat Nabi Isa dari lubang angin di rumahnya ke langit. Lalu datanglah pencarian dari orang-orang Yahudi, kemudian mereka menangkap orang yang mirip itu dan membunuhnya serta menyalibnya, lalu sebagian mereka kafir kepada Nabi Isa sebanyak 12 kali setelah beriman. Mereka pun terpecah belah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok berkata, "Allah berada di tengah-tengah kita selama yang ia kehendaki, kemudian naik ke langit," mereka ini adalah kelompok Ya'qubbiyyah.
Sekelompok lagi berkata, "Di tengah-tengah kami ada putera Allah sampai yang dia kehendaki, kemudian naik ke langit," mereka ini adalah kelompok Nasthuriyyah, dan ada lagi kelompok yang berkata, "Di tengah-tengah kami ada hamba Allah dan rasul-Nya selama yang dia kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya kepada-Nya," mereka inilah kaum muslim."

Kemudian dua kelompok yang kafir itu (Ya'qubiyyah dan Nasthuriyyah) saling bantu-membantu untuk menghancurkan kelompok yang muslim, sehingga agama Islam sejak itu sirna sampai Allah membangkitkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Allah 'Azza wa Jalla menurunkan kitab Injil kepada Nabi Isa 'alaihis salam dan kita diperintahkan beriman kepadanya. Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah (wahai orang-orang mukmin), "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (Terj. QS. Al Baqarah: 136)

Akan tetapi Ahli Kitab telah merobahnya dengan memberikan tambahan atau menguranginya, atau menghapusnya, serta mengganti banyak ayat dan hukum-hukumnya.
Allah Ta’ala mengajarkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam kitab (menulis), hikmah, Taurat dan Injil, Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam hapal semua itu.

ALLAH ADALAH TUHAN NABI ISA DAN TUHAN SEMESTA ALAM

Allah Ta’ala menjadikan Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam dapat berbicara di masa buaian sebagai mukjizat dari-Nya, ia mengajak orang-orang di masa kecilnya agar hanya beribadah kepada Allah Ta’ala saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, juga di masa dewasa. Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam berkata, "Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus." (Terj. QS. Maryam : 36)

Nabi Isa 'alaihis salam adalah Nabi terakhir Bani Israil, dan tidak ada setelah Beliau Nabi lagi selain penutup para nabi dan rasul, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Salman, ia berkata, "Masa fatrah (kekosongan rasul) antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah 600 tahun."
Namun menurut Qatadah adalah 560 tahun. Ada pula yang mengatakan, 540 tahun. Menurut Adh Dhahhak, 430 tahun lebih, namun yang masyhur adalah 600 tahun. Di antara Ahli sejarah ada pula yang berpendapat, bahwa masa kekosongan rasul itu adalah 620 tahun dengan tahun Qamariyyah sehingga sama saja 600 tahun Syamsiyyah, wallahu a'lam. (Lihat Shahih Qashashil Anbiya' hal. 498)

Dalam hadits shahih diterangkan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika dinaikkan (mi’raaj) ke langit bertemu Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam di langit kedua.

Setelah Nabi Isa 'alaihis salam diangkat ke langit, maka kaum nasrani tersesat, bahkan mereka sampai mengatakan, bahwa Isa adalah putera Allah, Mahasuci Allah dari perkataan ini. Allah Subhaanahu wa Ta'ala membantah mereka dengan firman-Nya,
"Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah," maka jadilah ia." (Terj. QS. Maryam: 35)

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.” (terjemah Ali Imran: 59)

PADA HARI KIAMAT NABI ISA DITANYA OLEH ALLAH TENTANG KETUHANANNYA YANG DIKLAIM NASHRANI, NAMUN NABI ISA MEBANTAHNYA BAHWA DIRINYA ADALAH HAMBA BUKAN TUHAN

Dan pada hari Kiamat nanti, Allah Ta'ala akan bertanya kepada Nabi Isa 'alaihis salam -dan Dia lebih mengetahui- tentang kesesatan kaumnya dan perbuatan mereka yaitu menuhankan Beliau, Dia berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, "Wahai Isa putera Maryam! Apakah kamu mengatakan kepada manusia, "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?" Isa menjawab, "Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).

Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib."--Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya Yaitu, "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha menyaksikan segala sesuatu.--Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Terj. QS. Al Ma'idah: 116-118)

HARI KIAMAT NABI ISA AKAN TURUN UNTUK MEMATAHKAN SALIB

Di akhir zaman nanti sebelum tiba hari kiamat, Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam akan turun lagi ke bumi membawa syari’at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau mematahkan salib yang menjadi syiar orang-orang Nasrani, membunuh babi, meniadakan jizyah (pajak) dan membunuh Dajjal yang matanya buta sebelah.

Beliau turun di Menara Putih Damaskus, ketika itu shalat Subuh sudah diiqamatkan, kemudian imam kaum muslim berkata, "Majulah wahai ruh (ciptaan) Allah! Shalatlah (menngimami kami)." Maka Nabi Isa berkata, "Tidak. Sebagian kamu menjadi imam bagi sebagian yang lain sebagai pemuliaan Allah terhadap umat ini."

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Isa berkata kepada imam kaum muslim, "Sesungguhnya shalat itu ditegakkan untukmu." Lalu ia shalat di belakangnya, kemudian Nabi Isa menaiki kendaraannya dengan diikuti kaum muslim untuk mencari Al Masih Ad Dajjal, sehingga Beliau berhasil menemuinya di pintu Lud, lalu Beliau membunuhnya.

Di dalam hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
« وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَماً مُقْسِطاً فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ » .
“Demi Allah yang diriku di Tangan-Nya, pasti akan turun kepada kalian putera Maryam (Isa) sebagai hakim yang adil, ia akan mematahkan salib, membunuh babi, meniadakan pajak dan harta akan melimpah ruah sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerima.” (HR. Bukhari)

Kata-kata “sebagai hakim yang adil” maksudnya bahwa ia akan turun sebagai hakim yang memutuskan dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kata-kata “akan mematahkan salib” maksudnya ia benar-benar mematahkan salib dan membatalkan anggapan Nasrani bahwa dirinya memuliakan salib.

Sedangkan kata-kata “meniadakan pajak” maksudnya bahwa ketika itu orang-orang masuk ke dalam Islam, sehingga tidak ada lagi ahludz dzimmah yang membayar pajak, karena mereka semua masuk Islam. Ada juga yang mengatakan bahwa ketika Nabi Isa ‘alaihis salam turun harta melimpah ruah sehingga tidak ada lagi orang yang mungkin diberi harta jizyah, sehingga jizyah (pajak) ditinggalkan. Ada juga yang berpendapat bahwa hadits di atas menunjukkan bahwa syari’at jizyah berlaku sampai turunnya Nabi ‘Isa (lihat Fat-hul Bari).

Ibnu Ishaq berkata, "Nabi ‘Isa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar ajalnya ditangguhkan, agar dia dapat menyampaikan dakwah, menyempurnakan dakwahnya dan memperbanyak orang masuk ke dalam agama Allah.”
Oleh karena itu, setelah Nabi Isa ‘alaihis salam turun ke dunia dan mengajak manusia kepada Islam, banyak orang-orang yang masuk Islam, bahkan sebelum wafatnya Nabi Isa ‘alaihis salam nanti, semua Ahli Kitab akan beriman kepadanya dengan memeluk Islam (lihat QS. Al Maa’idah: 159)
Nabi ‘Isa tinggal di bumi setelah turunnya selama tujuh tahun, lalu wafat. Jika ditambah dengan umur ketika Beliau belum diangkat ke langit adalah tiga puluh tiga tahun. Sehingga umur Beliau adalah 40 tahun di bumi, hal ini sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir dalam Al Bidayahnya.
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalhihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Qur'anul Karim (Terjemah Depag), Mausu'ah Al Usrah Al Muslimah, Fathul Bari (Al Hafizh Ibnu Hajar), Shahih Qashashil Anbiya' (Salim Al Hilaliy), dll.


[i] Mereka menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan Isa itu.
[ii] Ayat ini adalah sebagai bantahan terhadap anggapan orang-orang Yahudi, bahwa mereka telah membunuh Nabi Isa 'alaihis salam.

UCAPAN "SELAMAT NATAL" HARAM..!!


Mafhum nya disini adalah Agamamu ya urusi agama mu. Agama ku ya.. kebenaran bagiku. maka prinsip ini adalah suatu prinsip toleransi dalam islam, oleh karena itu hal yang dianggap wajar perihal mengucapkan "SELAMAT NATAL/MERRRY CRISTMAS/dan sejenisnya" adalah suatu prularisme dalam agama.

UCAPAN "SELAMAT NATAL" HARAM..!!


Abu Usaamah Sufyan Bin Ranan al Bykazi


Segala puji bagi Allah, yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab Al-Qur'an sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad Shalallahu 'alaihi wasalam, yang diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.

Pluralis dan sekulerisme rasanya bukan barang tabu dalam kehidupan sebagian kaum muslimin, diantara mereka sudah tidak melihat lagi batasan-batasan agama sebagaimana firman Allah :

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” Maksud ayat ini sebagaimana firman Allah,

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41)

atau juga ditafsirkan dengan ayat lain :

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ

“Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.” (QS. Asy Syura: 15)
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah)

Semestinya sebagai seorang muslim hendaknya memegang teguh ayat ini, dan jangan anda katakan ayat diatas adalah ayat yang anti toleransi..!! ketahuilah wahai saudaraku, toleransi bukan berarti kita menghargai secara berlebihan dengan mengikuti ritual agama lain, dengan memberikan keselamatan bagi pemeluk agama lain, tapi pahamilah toleransi adalah sikap saling menghargai antar pemeluk agama tanpa melibatkan kita masuk kedalamnya, saya ambil contoh:

"Setiap diantara kita pasti memiliki suatu Hobi, namun kita menyadari pula orang lainpun mempunyai hobi, apakah kita mengganggu hobi orang lain..? tidak.. (inilah toleransi), apakah konsekwensi toleransi kita harus mesti mencicipi hobi orang lain..? maka kita jawab : "tidak", kenapa..? karena jika kita mencicipi hobi orang lain maka hakikatnya kita tidak memiliki hobi, mana mungkin dikatakan kita mempunyai suatu hobi namun hobi orang lain kita lakukan juga, maka tidak ada spesially dalam diri"

maka hakikatnya ayat diatas adalah toleransi yang agung dalam ajaran Islam yakni sikap menghargai tanpa melakukan ritual umat lain, Allah mengatakan :
“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Mafhum nya disini adalah Agamamu ya urusi agama mu. Agama ku ya.. kebenaran bagiku. maka prinsip ini adalah suatu prinsip toleransi dalam islam, oleh karena itu hal yang dianggap wajar perihal mengucapkan "SELAMAT NATAL/MERRRY CRISTMAS/dan sejenisnya" adalah suatu prularisme dalam agama. Ibnu Al-Qayyim -rahimahullah- di dalam kitabnya Ahkam Ahlu Adz-Dzimmah’. Beliau berkata,
“Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syiar-syiar kekufuran yang menjadi kekhususan mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar dan puasa mereka, sembari mengucapkan, ‘semoga hari raya anda diberkahi’ atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya."

Telah jelas bahwa mengucapkan selamat pada hari raya kekufuran adalah Haram, dan jelas-jelas adalah Tasyabuh yakni bentuk penyerupaan kepada penganut agama lain sedangkan Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata di dalam kitabnya Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim fii Mukhalafah Ashhab Al-Jahim, “Menyerupai mereka di dalam sebagian hari-hari besar mereka mengandung konsekuensi timbulnya rasa senang di hati mereka atas kebatilan yang mereka lakukan, dan barangkali hal itu membuat mereka antusias untuk mencari-cari kesempatan (dalam kesempitan) dan menghinakan kaum yang lemah (imannya).”

Dengan demikian tiada lagi kabut putih tentang hukum ini, tiada pula ada duri yang merintang dihadapan kita ketika kita hendak jalan maka telah jelaslah laksana langit biru nan cerah, telah tampaklah mentari dipagi hari, hukum mengucapkan selamat natal adalah HARAM..!! wallahu'alam

FATWA MUI "NATAL BERSAMA"



Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia
,
Memperhatikan:

Perayaan Natal bersama pada akhir-akhir ini disalah-artikan oleh sebagian ummat Islam dan disangkakan sama dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi1 Besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal.

Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.

Menimbang:


Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.

Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan aqidah dan ibadahnya dengan aqidah dan ibadah agama lain.

Ummat Islam harus berusaha untuk menambah iman dan taqwanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar Ummat Beragama di Indonesia.



Meneliti kembali:


Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:

Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:

al-Qur’an surat al-Hujurat (49) ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah iaalah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

al-Qur’an surat Luqman (31) ayat 15: “Dan jika keduanya (orangtuamu) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

al-Qur’an surat al-Mumtahanah (60) ayat 8: “Allah tidak melarang kamu (ummat Islam) untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain, berdasarkan:
al-Qur’an surat al-Kafirun (109) ayat 1-6: “Katakanlah: Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”

al-Qur’an surat al-Baqarah (2) ayat 42: “Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.”

Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan ‘Isa al-Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka (ummat Islam) kepada para Nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan atas:

al-Qur’an surat Maryam (19) ayat 30-32: “Berkata ‘Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. dan berbakti kepada ibuku (Maryam), dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

al-Qur’an surat al-Ma’idah (5) ayat 75: “al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan (sebagaimana manusia yang lain). Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).”

al-Qur’an surat al-Baqarah (2) ayat 285: “Rasul (Muhammad) telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya,” dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa:) “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.””

Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan ‘Isa al-Masih itu anaknya, bahwa orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan atas:

al-Qur’an surat al-Ma’idah (5) ayat 72: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam,” padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.”
al-Qur’an surat al-Ma’idah (5) ayat 73: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,” padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”
al-Qur’an surat at-Taubah (9) ayat 30: “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata: “al-Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?”
Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan ‘Isa, apakan dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui ‘Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. ‘Isa menjawab; “Tidak.” Hal itu berdasarkan atas:

al-Qur’an surat al-Ma’idah (5) ayat 116-118: “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.

Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang engkau berikan kepadaku (untuk mengatakan)nya, yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.””

Islam mengajarkan Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu hanya satu, berdasarkan atas al-Qur’an surat al-Ikhlas (112): “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat meminta. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.”

Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas:
Hadits Nabi dari Nu’man bin Basyir: “Sesungguhnya apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat, kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barangsiapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah
jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan, maka mungkin sekali binatang itu makan di daerah larangan tersebut. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu yang haram itu janganlah didekati).”
Kaidah Ushul-Fiqih mengatakan: “Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasid-nya yang diperoleh, sedangkan mashalih-nya tidak dihasilkan).”

Memutuskan
Memfatwakan:

Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang telah diterangkan diatas.
Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dianjurkan2 untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H
7 Maret 1981
Komisi Fatwa
Majelis Ulama Indonesia
Ketua
K.H.M. Syukri G.

Sekretaris
Drs. H. Mas’udi
Catatan Kaki:

^ Merayakan Maulid Nabi tidak pernah diperintahkan oleh Nabi, bahkan ini merupakan hal yang baru yang diada-adakan (bid’ah) oleh manusia dalam agama ini pada abad-abad belakangan, maka perubahan ini ditolak.Hari kelahiran sudah dikenal sejak zaman Nabi, namun Nabi tidak pernah memperingati, begitu pula para sahabat dari Abu Bakar, Umar, Utsman hingga Ali yang pernah jadi khalifah. Sahabat lain juga tidak pernah merayakannya.Tidak perlu dengan merayakan hari kelahiran Nabi jika bertujuan untuk mengajarkan berita-berita yang berkait dengan kelahiran beliau, sejarah pada masa jahiliyah dan masa Islam, karena semua ini bisa diajarkan di sekolah-sekolah dan di masjid-masjid serta lainnya. Jadi tidak perlu menyelenggarakan perayaan yang tidak disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya dan tidak ada dalil syar’i yang menunjukkannya.

Dan lagi tanggal kelahiran Rasulullah pun di kalangan ahli sejarah termasuk menjadi hal yang diperselisihkan. Lantas kenapa kita mesti merasa lebih berhak untuk memperingati dan merayakannya?Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada semua kaum Muslimin agar mereka merasa cukup dengan sunnah dan waspada terhadap bid’ah.

^ Yang benar adalah bukan hanya dianjurkan, bahkan ummat Islam diharamkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan Natal sebagaimana telah dijelaskan dalam dalil-dalil yang dipaparkan diatas.

ANTARA CINTA DAN BENCI


Al Wala’ wal Bara’

Abu Yahya Marwan Bin Musa


Al Walaa’ dan Al Baraa’ termasuk bagian ‘Aqidah Islam. Al Walaa’ maksudnya memberikan rasa cinta dan pembelaan kepada Allah, rasul-Nya dan kaum mukminin (lihat Al Maa’idah: 55-56). Sedangkan Al Baraa’ maksudnya berlepas diri, memusuhi dan membenci musuh-musuh Allah.

KEUTAMAAN AL WALAA' DAN AL BARAA'




Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Ikatan keimanan yang paling kuat adalah berwala’ karena Allah, berbara’ karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Thabrani dalam Al Kabir, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahiihul Jami’ 2536)

Beliau juga bersabda,
« ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ : أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ » .
“Ada tiga yang jika ada semuanya (dalam diri seseorang) niscaya ia akan mendapatkan manisnya iman; Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya, cinta kepada seseorang karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilempar ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Contoh memberikan wala’ kepada kaum muslimin


Sebagaimana diketahui, bahwa kita diperintahkan berwala’ kepada kaum muslimin. Berikut ini contoh-contohnya:

1.Berhijrah (pindah) ke negeri kaum muslimin dan meninggalkan negeri kaum musyrikin.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَنَا بَرِيْءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيْمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِيْنَ
“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah kaum musyrik.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Adh Dhiyaa’, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1461)

2.Membantu kaum muslimin dan menolong mereka baik dengan jiwa, harta maupun lisan dalam hal yang mereka butuhkan baik yang berkaitan dengan dunia maupun agama.

3.Merasa sakit jika mereka sakit dan merasa gembira jika mereka bergembira.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالْحُمَّى والسَّهَرِ
“Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti sebuah jasad; jika salah satunya sakit, maka yang lain ikut merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim dan Ahmad)

4. Bersikap tulus (nashiihah) kepada mereka, senang apabila mereka mendapatkan kebaikan, tidak menipu mereka, menghina mereka dan tidak membiarkan mereka dalam kesulitan serta menjaga darah, harta dan kehormatan mereka.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحْقِرُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ ولايُسْلِمُهُ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh menghinanya, membiarkannya dan menyerahkannya kepada musuh. Cukuplah, seseorang berbuat jahat jika menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim dengan muslim lainnya adalah terpelihara; baik darah, harta maupun kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Menghormati mereka, memuliakan mereka dan tidak menjelekkan atau mencela martabat mereka.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam brsabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَ يَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua, menyayangi yang muda dan mengetahui hak orang berilmu di antara kami.” (HR. Ahmad dan Hakim, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5443)

6. Bersama mereka dalam keadaan mudah maupun susah, lapang maupun sempit.


Inilah perbedaan orang mukmin dengan orang munafik, di mana orang munafik senang jika kaum mukmin dalam kesusahan, dan tidak mau memikul beban secara bersama. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman tentang orang-orang munafik:

“(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi kemenangan untukmu dari Allah, mereka berkata, "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?" dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata, "Bukankah Kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" (terj. An Nisaa’: 141)

7.Mengunjungi mereka, senang bertemu dan berkumpul bersama mereka.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
« أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِى قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِى فِى هَذِهِ الْقَرْيَةِ . قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّى أَحْبَبْتُهُ فِى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ . قَالَ فَإِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ » .
“Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kampung lain, maka Allah mengirimkan seorang malaikat untuk memperhatikannya. Ketika bertemu, malaikat itu bertanya, “Ke mana anda hendak pergi?” Ia menjawab, “Ke saudaraku di kampung ini.” Malaikat itu bertanya, “Apakah ia berhutang budi kepadamu?” Orang itu menjawab, “Tidak, hanyasaja saya cinta kepadanya karena Allah Azza wa Jalla.” Maka malaikat itu berkata, “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepadamu untuk memberitahukan bahwa Allah cinta kepadamu, sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)

8. Memuliakan hak mereka, oleh karena itu tidak meminang wanita yang sudah dipinang mereka, membeli barang padahal sudah dibeli oleh mereka dsb.

9. Menyayangi orang-orang yang lemah di antara mereka dan memuliakan orang yang sudah tua di kalangan mereka

10. Mendo’akan dan memintakan ampunan untuk mereka.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
“Dan mohonkanlah ampunan untuk dosamu dan untuk (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (terj. surat Muhammad: 19)

Larangan memberikan walaa’ (rasa cinta dan pembelaan) kepada orang-orang kafir
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman -menjelaskan bahwa tidak mungkin kaum mukminin memberikan wala’ kepada orang-orang kafir-,
“Kamu tidak akan mungkin mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (terj. Al Mujaadilah: 22)

Mungkin timbul pertanyaan, “Bukankah dalam surat Al Mumtahanah ayat 8 diterangkan bahwa kita dibolehkan berbuat baik dan bersikap adil kepada orang kafir yang tidak memerangi kita?”

Syaikh Shalih Al Fauzan berkata, “Maksud ayat tersebut adalah bahwa kaum kafir mana saja yang menahan diri; tidak memerangi kaum muslimin dan tidak mengusir kaum muslimin dari kampung halaman, maka kaum muslimin boleh membalas sikap mereka dengan berbuat baik dan bersikap adil dalam mu’amalah duniawi, namun tidak disertai rasa cinta kepada mereka dengan hatinya, karena Allah mengatakan, “(Allah tidak melarang kamu) untuk berbuat baik dan Berlaku adil kepada mereka.” (terjemah Al Mumtahanah: 8)
Tidak mengatakan “(Allah tidak melarang kamu) untuk memberikan wala’ dan rasa cinta kepada mereka.”

Contoh memberikan walaa’ kepada orang-orang kafir

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa kita dilarang memberikan wala’ kepada orang-orang kafir, berikut ini contoh-contoh berwala’ kepada mereka:

1. Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir


Yakni dalam hal ciri khas mereka. Kita tidak boleh menirunya, baik berupa kebiasaan, ibadah, akhlak maupun jalan hidup mereka. Termasuk contoh meniru mereka adalah mengadakan peringatan tahun baru, memperingati hari kelahiran, merayakan hari Valentine dan mengenakan pakaian khusus berwarna hitam ketika ta’ziyah dan berziarah.

2. Tinggal di negeri mereka dan tidak mau berpindah ke negeri kaum muslimin


Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyuruh kaum muslimin berhijrah ke negeri saudaranya ketika mampu, dan melarang tetap terus tinggal di sana kecuali jika tidak mampu. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?" mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (terjemah An Nisaa’: 97)

Dibolehkan juga tinggal di negeri orang-orang kafir jika bertujuan untuk dakwah (menyiarkan agama Islam).

3. Bersafar (bepergian) ke negeri kaum kafir hanya semata-mata untuk bersenang-senang atau tamasya

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Safar ke negeri orang kafir tidak boleh kecuali jika terpenuhi tiga syarat: Pertama, Dia memiliki ilmu yang bisa menangkal syubhat (tipu daya pemikiran orang-orang kafir) yang dating. Kedua, dia memiliki agama yang kuat yang bisa menjaganya dari berbagai syahwat. Ketiga, dibutuhkan.”
Yakni dibutuhkan untuk pergi ke sana seperti untuk berobat, mempelajari tekhnologi untuk kemajuan kaum muslimin, berdagang dsb.
Demikian juga boleh bersafar ke negeri mereka dengan tujuan dakwah.

4. Membantu mereka memerangi kaum muslimin

Perbuatan ini menurut ulama termasuk hal yang dapat membatalkan keislaman –wal ‘iyadz billah-.

5. Meminta bantuan kepada mereka, mempercayakan urusan kepada mereka dan memberikan mereka (orang-orang kafir) jabatan yang di sana terdapat rahasia kaum muslimin serta menjadikan mereka teman akrab dan sebagai anggota musyawarah yang dimintai pendapatnya.

6. Menggunakan kalender mereka dengan meninggalkan kalender kaum muslim.


7. Berpartisipasi dengan orang-orang kafir dalam upacara mereka atau membantu mereka mengadakannya atau bahkan mengucapkan selamat kepada mereka atau menghadiri acara tersebut.

Termasuk contoh dalam hal ini adalah mengucapkan “Selamat natal”. Hal ini adalah haram. Karena mengucapkan selamat natal sama saja ia tidak mengingkari, bahkan menyetujui upacara tersebut yang di dalamnya terdapat syirk. Bukankah kita dilarang mengatakan kepada orang yang meminum minuman keras, “Selamat meminum minuman keras”,
apalagi dalam hal ini yang dosanya (yakni syirk) melebihi dosa meminum minuman keras.

8.Membantu mereka atau menjunjung tinggi peradaban mereka serta kagum dengan akhlak dan kepintaran mereka tanpa melihat kepada keyakinan mereka yang rusak dan agama mereka yang batil.


9. Menamai anak dengan nama-nama mereka
Misalnya menamai dengan nama George, Petrus, Diana, Suzan dsb. Meninggalkan nama-nama Islami (seperti Abdullah atau Abdurrahman) dan nama-nama kaum muslimin.


10. Memintakan ampun dan rahmat untuk mereka

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
“Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik.” (terjemah At Taubah: 113)

Catatan:
Diharamkannya memberikan wala’ kepada orang-orang kafir bukanlah berarti diharamkan juga bermu’amalah dengan mereka, mengimpor barang-barang yang didatangkan dari mereka, menggunakan alat-alat buatan mereka dsb. Bukankah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyewa orang kafir yang bernama Ibnu Quraith untuk menunjukkan jalan menuju Madinah dan pernah membeli kambing milik salah seorang yang musyrik?”
Ibnu Baththal mengatakan,

“Bermu’amalah dengan orang kafir adalah boleh kecuali jual-beli yang (jelas-jelas) membantu orang-orang kafir mememerangi kaum muslimin.”
Contohnya menjual perlengkapan perang dan persenjataan kepada orang-orang kafir.
Penggolongan manusia dalam masalah Wala’ dan Bara’

Dalam masalah wala’ dan bara’, manusia digolongkan menjadi tiga golongan:
Golongan pertama, orang-orang yang diberikan kecintaan (wala’) murni tanpa dimusuhi sama sekali.
Mereka adalah kaum mukmin yang bersih, yang terdiri dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih.
Golongan kedua, orang-orang yang dibenci dan dimusuhi murni tanpa ada raca cinta dan wala’.
Mereka adalah kaum kafir dari kalangan orang-orang yang kafir, orang-orang musyrik, orang-orang munafik, orang-orang murtad dan orang-orang atheis dengan berbagai macamnya.
Golongan ketiga, orang-orang yang dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi lain.
Mereka adalah kaum mukmin yang berbuat maksiat. Mencintai karena iman yang mereka miliki, dan membenci karena maksiatnya yang tingkatannya di bawah kufur dan syirk. Hal ini menghendaki untuk menasehati mereka, dan tidak mendiamkan kemungkaran yang mereka lakukan.

Maraaji’: Al Wala’ wal Baraa’ fil Islam (DR. Shalih Al Fauzan), Al Wala’ bal Bara’ Fil Islam (M. bin Sa’id Al Qahthani), dl

INGATLAH... TUJUANMU DIDUNIA


INGATLAH... TUJUANMU DIDUNIA

Ust. Abu Yahya Marwan bin Musa


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'd:

Allah Subhaanahu wa Ta'ala memiliki nama Al Hakim, yang artinya Mahabijaksana. Dia Mahabijaksana dalam perkataan-Nya, perbuatan-Nya, taqdir-Nya terhadap alam semesta, dan dalam menetapkan syariat. Oleh karena perbuatan-Nya di atas kebijaksanaan, maka Dia tidaklah menciptakan manusia main-main tanpa ada hikmah di balik itu.

Dia berfirman,
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?" (Terj. QS. Al Mu'minuun: 115)

Allah Subhaanahu wa Ta'ala menciptakan manusia dan jin tidak lain agar mereka hanya menyembah dan beribadah kepada-Nya serta mengisi hidup mereka di dunia dengan beribadah yang nantinya Dia akan membalas mereka dengan balasan yang besar, berupa surga dan tambahannya. Inilah beban yang dipikulkan kepada mereka selama mereka hidup di dunia. Dia berfirman, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Terj. QS. Adz Dzaariyaat: 56)

1)Kesiapan manusia menerima beban beribadah


Beban beribadah ini sebelumnya telah Allah tawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun mereka menolaknya karena khawatir di tengah perjalanan mereka tidak mampu memikulnya. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh." (Terj. QS. Al Ahzaab: 72)

Amanah di ayat ini adalah beban beribadah, tugas-tugas keagamaan, atau menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan.

2)Tujuan diutusnya para rasul

Ketika manusa lengah terhadap tujuan ini, yakni tujuan mereka diciptakan di dunia, maka Allah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya untuk mengingatkan mereka terhadap tujuan ini. Kemudian pelaksanaan ibadah itu diperinci dalam kitab-Nya dan dalam sunnah Rasul-Nya karena keadaan manusia yang tidak mengetahui bentuk dan tatacara ibadah yang dicintai Allah dan diridahi-Nya.

Oleh karena itu, di antara tujuan diutusnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah mengajarkan tatacara atau bentuk ibadah yang diridhai Allah subhaanahu wa Ta'ala setelah mengajak manusia hanya beribadah dan menyembah kepada Allah 'Azza wa Jalla saja. Dari sini, kita ketahui tidak dibenarkannya mengada-ada dalam beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala, karena yang mengetahui tatacara yang diridhai Allah adalah utusan-Nya yang mendapatkan wahyu dari-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

3)Sanksi bagi manusia yang menyimpang dari tujuan diciptakannya


Selanjutnya, apabila manusia keluar dari tujuan mereka diciptakan, maka berarti ia telah bersikap melampaui batas dan tidak memenuhi kewajibannya. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
"Adapun orang yang melampaui batas,--Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,--Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).--Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya--Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (Terj. QS. An Naazi'at: 37-47)

Oleh karena itu, hidup manusia di dunia bukanlah sekedar untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Ia tidaklah sama seperti hewan yang tidak terkena beban untuk beribadah, dimana hidup mereka (hewan-hewan) hanya makan, minum, dan bersenang-senang saja.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka." (QS. Muhammad: 12)

Maka dari itu, isilah hidup ini dengan beribadah dan bertakwa kepada-Nya.
Ta'rif (definisi) ibadah
Ibadah adalah istilah untuk semua perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tampak (dengan lisan dan anggota badan) maupun yang tersembunyi (dengan hati). Contoh: shalat, zakat, puasa, haji, jujur dalam berbicara, menunaikan amanah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahim, memenuhi janji, beramar ma'ruf dan bernahi munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, budak, manusia secara umum dan hewan, takut kepada Allah dan kembali kepada-Nya, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, sabar terhadap hukum-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, ridha terhadap taqdir-Nya, bertawakkal kepada-Nya, berharap kepada-Nya, takut akan azab-Nya, dsb.

Dengan demikian, ibadah itu ada yang bisa dilakukan oleh hati, ada yang bisa dilakukan oleh lisan dan ada yang bisa dilakukan oleh anggota badan. Contoh ibadah yang dilakukan oleh hati adalah berniat ikhlas, mencintai kebaikan didapatkan orang lain, memiliki ‘aqidah yang benar dsb. Contoh ibadah yang dilakukan oleh lisan adalah membaca Al Qur’an, berdzikr, bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, berkata jujur dsb.

Sedangkan contoh ibadah yang dilakukan oleh anggota badan adalah berbakti kepada orang tua, membantu orang lain, menyambung tali silaturrahim, berbuat baik kepada teman dan tetangga dsb. Dan ada ibadah yang dilakukan secara sekaligus oleh hati, lisan dan anggota badan, yaitu shalat. Oleh karena itu, shalat adalah ibadah yang paling utama sebagaimana akan diterangkan setelah ini.

4)Ibadah yang paling utama


Di antara sekian ibadah, yang paling utama dan paling dicintai Allah setelah tauhid adalah shalat pada waktunya. Dalilnya adalah hadits berikut:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي اللَّه عنه قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ أََحَبُّ إِلىَ اللَّهِ تَعَالَى ؟ قَالَ :الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: «بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : «الجِْهَادُ فِيْ سَبِيِلِ اللَّهِ
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Amal apa yang paling dicintai Allah Ta’ala?” Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Berjihad fii sabiilillah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Pembagian hukum ibadah


Ibadah ada yang wajib dan ada yang sunat. Yang wajib misalnya shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dsb. Sedangkan yang sunat misalnya shalat sunat rawatib, sedekah sunat, berpuasa sunat, dsb. Antara yang wajib dengan yang sunat ini yang didahulukan dan yang lebih utama adalah yang wajib, dan yang sunat dilakukan setelah kewajiban telah dikerjakan. Yang wajib itu mesti dikerjakan, dimana meninggalkannya adalah dosa, sedangkan yang sunat hanya dianjurkan saja (tidak wajib), sehingga meninggalkannya tidak berdosa. Tetapi jangan sampai karena menganggap suatu perbuatan sebagai amalan sunat lalu kita meremehkannya, terlebih meninggalkannya setelah sebelumnya merutinkannya.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepada Abdullah bin 'Amr bin 'Aash:

يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيلِ
"Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si fulan; sebelumnya ia biasa melakukan qiyamullali, tetapi selanjutnya ia meninggalkan qiyamullail." (Muttafaq 'alaih)
Landasan dalam beribadah

Landasan yang harus ada pada seseorang yang beribadah itu ada tiga:

1. Rasa cinta kepada Allah Ta’ala.
2. Rasa takut dan tunduk kepada Allah Ta’ala.
3. Rasa berharap kepada Allah Ta’ala

Ketiga hal ini mesti ada pada seseorang, yakni ketika kita beribadah, kita harus memiliki rasa cinta kepada Allah Ta’ala, memiliki rasa takut dan rasa berharap[i].
Oleh karena itu, kecintaan saja yang tidak disertai dengan rasa takut dan kepatuhan, seperti cinta kepada makanan dan harta, tidaklah termasuk ibadah. Demikian pula rasa takut saja tanpa disertai dengan cinta, seperti takut kepada binatang buas, maka itu tidak termasuk ibadah. Tetapi jika suatu perbuatan di dalamnya menyatu rasa takut dan cinta maka itulah ibadah. Dan ibadah tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Ta'ala.

Golongan yang keliru dalam beribadah


Ada tiga golongan yang keliru dalam menilai ibadah, yaitu sbb:


1.Golongan yang mengira bahwa ibadah itu hanya sebatas di masjid saja, sehingga ia memisahkan antara urusan dunia dengan agama/ibadah dan antara urusan negara dengan agama.
Ibadah dalam Islam tidak hanya dilakukan di masjid saja, bahkan di luar masjid pun ada ibadah.
Bergaul dengan manusia mengikuti perintah Allah Ta’ala, maka mengerjakannya adalah ibadah.
Contoh: Berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada orang lain, seperti kepada teman dan tetangga. bersilaturrahim, beramr ma’ruf dan bernahi munkar, bersedekah, menyantuni anak yatim, orang miskin, janda dan ibnus sabil (musafir yang kehabisan bekal), membantu orang lain, menyingkirkan hal yang mengganggu jalan, menjaga lisan dan tangan kita dari mengganggu orang lain, bekerja untuk menafkahi diri, istri dan anaknya dari rezeki yang halal. Ini semua merupakan ibadah dan dicintai oleh Allah Ta’ala.

Bahkan perbuatan mubah atau suatu kebiasaan harian jika diniatkan ibadah atau agar dapat membantu beribadah, dapat berubah menjadi ibadah. Misalnya seseorang yang makan, minum dan istirahat dengan niat agar dapat beribadah kepada Allah Ta’ala adalah ibadah, bekerja agar dapat memperoleh rezeki yang halal adalah ibadah, demikian juga menikah dengan niat menjaga diri dari yang haram juga ibadah.

2.Golongan yang berlebih-lebihan dalam beribadah.


Golongan yang berlebih-lebihan dalam beribadah maksudnya adalah golongan yang melampaui batas sampai melewati aturan. Misalnya mewajibkan yang sunat, mengharamkan yang halal, menjauhi yang mubah dan sebagainya. Golongan ini juga salah.

3.Golongan yang mengada-ngada dalam beribadah.

Maksudnya golongan yang beribadah tidak mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia beribadah atas dasar perkiraan atau menurutnya baik, ia membuat cara sendiri dalam beribadah. Padahal syarat diterimanya ibadah di samping ikhlas adalah harus mengikuti contoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Keutamaan beribadah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, "Wahai anak Adam! Luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi kecukupan pada hatimu dan menutupi kekuranganmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku akan memenuhi kedua tangan-Mu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 1914)

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan firman Allah Tabaraka wa Ta'ala yang isinya mengingatkan kita agar beribadah kepada-Nya dan mengisi hidup ini dengan ibadah. Dia juga menjamin akan memberikan kecukupan kepada kita serta menutupi kekurangan kita.

Sungguh besar keutamaan beribadah kepada Allah, di samping mendapatkan kecintaan dari Allah, dekat dengan-Nya, diberikan kecukupan dalam hidup, diberikan ketenangan, dan di akhirat seseorang yang beribadah akan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, dimana orang yang memasukinya akan hidup kekal selama-lamanya dan tidak akan mati, akan senang selamanya dan tidak akan sedih, akan sehat selamanya dan tidak akan sakit, akan muda selamanya dan tidak akan tua, dan akan mendapatkan kenikmatan terus-menerus tanpa usaha dan kerja keras seperti halnya di dunia, bahkan semua yang diinginkan akan diberikan. Maka, kesenangan dan kenikmatan apakah yang lebih baik daripada ini?

Allahumma a'innaa 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni 'ibaadatik.
Selesai, Wal hamdulillahi Rabbil 'aalamiin.
QAULAN-SADIDA.BLOGSPOT.COM

SEKOLAH YUUK..!!