Rabu, 16 September 2015

BANTUAN SAUDI UNTUK TRAGEDI MEKKAH / KORBAN CRANE.




BERITA INI TAK AKAN DIPUBLIKASIKAN OLEH MEDIA BARAT - MEDIA SEKULER DAN PARA PEMBENCI PEMERINTAH KERAJAAN ARAB SAUDI







Atas perintah raja Salman Bin Abdul Aziz Hafidzahullah selaku pelayan dua tanah suci (al Haramain), bahwa pemerintah kerajaan Arab Saudi akan memberikan bantuan kepada para korban meninggal dan terluka pada peristiwa jatuhnya alat berat craine tanggal 11 Dzulqo'dah 1436 H di Masjidl Haram. Diantara bantuan yang akan diberikan adalah sebagai berikut :

1. Memberikan bantuan sebesar 1.000.000 SR ( kisaran 3.8 M Rupiah ) kepada setiap keluarga korban yang wafat pada kejadian ini.

صرف مبلغ مليون ريال لذوي كل شهيد توفاه ـ الله سبحانه وتعالى ـ في هذه الحادثة

2. Memberikan bantuan sebesar 1.000.000 SR ( kisaran 3.8 M Rupiah ) kepada para korban yang cacat seumur hidup.

صرف مبلغ مليون ريال لكل مصاب بإصابة بالغة نتج عنها إعاقة دائمة

3. Memberikan bantuan sebesar 500.000 SR (kisaran 1.9 M Rupiah ) kepada setiap korban yang tidak wafat (terluka).

صرف مبلغ ( خمسمائة ألف ريال ) لكل واحد من المصابين الآخرين

Beliau Hafidzahullah juga menjelaskan bahwa semua bantuan ini tidak akan diberikan kecuali kepada mereka yang berhak (dari keluarga korban) setelah melapor kepada bagian khusus yang mengurusi. Tentu dalam perihal ini tidak lain demi menjaga amanah dan agar bantuan ini tersampaikan kepada yang benar benar berhak menerimanya.

Atas perintah Raja Salman Bin Abdul Aziz Hafidzahullah bahwa pemerintahan kerajaan Arab Saudi juga akan memberikan bantuan bantuan lain. Bantuan tersebut adalah :

1. Menghajikan 2 orang dari keluarga korban yang wafat sebagai tamu kehormatan kerajaan pada musim haji tahun 1437 H ( tahun depan).

باستضافة اثنين من ذوي كل متوفى من حجاج الخارج ضمن ضيوف خادم الحرمين الشريفين لحج عام 1437 هـ

2. Memberikan keleluasaan untuk menyempurnakan haji di tahun berikutnya bagi korban yang tidak bisa melaksanakan haji pada tahun ini. Sebagai tamu kehormatan kerajaan pada musim haji 1437 H (tahun depan).

تمكين من لم تمكنه ظروفه الصحية من المصابين من استكمال مناسك حج هذا العام من معاودة أداء الحج عام 1437 هـ ضمن ضيوف خادم الحرمين الشريفين

3. Dan memberikan visa kunjungan khusus kepada keluarga korban untuk mengunjungi / merawat korban yang masih menetap di rumah sakit selama periode yang tersisa dari musim haji tahun ini. Dan pula visa kembali ke negaranya.

ومنح ذوي المصابين الذين يتطلب الأمر بقاءهم في المستشفيات تأشيرات زيارة خاصة لزيارتهم والاعتناء بهم خلال الفترة المتبقية من موسم حج هذا العام والعودة إلى بلادهم

Untuk informasi secara detail bagi yang bisa berbahasa arab lebih jelasnya langsung membaca kabar berita ini pada link berikut :

http://www.al-madina.com.sa/…/%D8%A8%D8%A3%D9%85%D8%B1-%D8%…

Inilah sekilas pemberitahuan mengenai kebaikan dan perhatian pemerintah kerajaan Arab Saudi kepada korban yang wafat dan terluka pada musibah ini.

Semoga Allah ta'ala senantiasa menambah keberkahan pada negri ini dan kepada raja Salman Bin Abdul Aziz Hafidzahullah beserta keluarganya.

Dan semoga Allah ta'ala memberikan kekuatan dan kesabaran bagi keluarga korban yang ditinggal. Menerima segala amal sholih para jamaah haji yang wafat, mengampuni segala khilaf, dosa dan kesalahan serta memasukkan mereka ke dalam Surga firdausi-Nya.

Semoga korban yang masih sakit pula segera lekas diberi kesembuhan hingga sehat wal afiat dan pulih kembali sedia kala. Aamiin ya Rabbal Aalamiin...

‪#‎Diterjemahkan‬ secara bebas dengan sedikit penyesuaian bahasa dan penambahan penjelasan agar mudah untuk difahami.

Penghujung malam kota nabi al Madinah al Munawwaroh. Akhukum fillah Afza Fajri Khatami Masyhadi melaporkan @Afkm_

___________________________________________________
Madinah I Selasa 2 Dzulhijjah1436 H / 15 September 2015 M

Jumat, 10 Juli 2015

:Bagimu yang 'Sengaja' tidak Puasa Ramadhan.












:Bagimu yang 'Sengaja' tidak Puasa Ramadhan.

Sufyan Bin Ranan


Saudaraku...
Kenapa kau tidak merasa malu kepada Dzat yang menciptakanmu..?
Kenapa dirimu sangat nyaman makan dan minum dikeramaian..?
disaat kaum muslimin tengah berpuasa, sedangkan anda pun adalah seorang muslim.

Secara fisik anda masih muda..
Secara badan anda bukanlah seorang yang busung lapar...
Secara udzur anda pun belum terlalu udzur terlebih menjadi seorang yang pikun.

Anda terlalu nyaman sekali makan dan minum dikeramaian..
Anda terlalu bebas merokok dipinggir jalan...

Bagimu yang 'sengaja' meninggalkan puasa Ramadhan...
Apakah anda termasuk dari orang-orang yang udzur syar'i sehingga anda secara nyaman untuk tidak berpuasa..?

Mari kita simak..
Masuk kategori mana diri anda yang diberi udzur :

(mungkin)anda seorang yang Safar..
Akan tetapi tidak semestinya anda sebagai musafir, pecicilan dipinggir jalan tanpa ada rasa hormat untuk makan dan minum didepan orang yang mukim. hormatilah... seyogyanya hadiah yang Allah berikan pada anda jangan menodai bulan Ramadhan.

(Mungkin) anda adalah orang yang sedang sakit, akan tetapi orang yang sakit tentu lemah terkapar dikasur dan dirumah, adapun anda apakah hati anda yang sakit..? apakah iman anda yang keropos ?

Ataukah (mungkin) anda sedang haidh atau nifas...
sekali lagi hadiah dari Allah jangan disalah gunakan untuk terbuka makan dan minum tanpa ada rasa malu dihadapan khalayak. namun apakah para lelaki jugasedang haid ataukah nifas..? jika ya.. besok anda dipinggir jalan mulai pakailah rok dan jang lupa plus pembalutnya.

Saudaraku...
Sekiranya udzur syar'i tidak terjadi pada anda...
lalu mengapa anda tidak berpuasa..?
cukup kuatkah mulut anda diakhirat akan dirobek..?
kuatkah.. urat leher anda ditarik bergelantungan hingga sampai tumit.

Abu Umamah menuturkan Rasulullah bersabda:
",....tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya,”Suara apa itu?”

Mereka menjawab,”Itu adalah suara teriakan para penghuni neraka.”
Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah.

Kemudian aku (Abu Umamah)bertanya,”Siapakah mereka itu?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum waktunya). (HR. an Nasa'i)

Lihatlah siksaan bagi orang yang membatalkan puasa.
Saat ini anda bebas tanpa hambatan dalam makan dan minum anda nikmati sesuka hati anda.

Akan tetapi ingatlah Allah 'azza wajala tidak tidur...
Adzab Allah amatlah pedih.

Mulailah bertaubat dari sekarang.
Buat apa menggadaikan pahala dan memelihara dosa hanya diperuntukan perut yang lebar dan panjangnya hanya sejengkal.

:: AKHIRAT ITU TERNYATA TIDAK ADA...?














:: AKHIRAT ITU TERNYATA TIDAK ADA...?

Sufyan Bin Ranan


Sy pernah membaca sebuah tulisan berbentuk pertanyaan kepada salah seorang 'Ulama :

"Ya Syaikh bagaimana saat kita diwafatkan ternyata akhirat itu tidak ada..?"

Syaikh dengan cerdas menjawab (gag muluk-muluk dan sangat singkat mematahkan syubhat ini) apa jawaban beliau :

syaikh menjawab :
" Bagaimana jika anda diwafatkan ternyata akhirat itu ada..?"

=====∞=====
tanggapan :

Subhanallah...
jawaban yang singkat namun memuaskan,
Sebuah ungkapan ada yang pernah mengatakan :
"jangan harap manis jika masih ada pahit"

(mungkin) dikalangan yang kurang iman ingin berandai-andai jika akhirat itu tidak ada, tentu tidak ada hisab, tidak ada surga dan neraka pemahaman atheis ini menjadikan seorang yang wafat adalah wafat tanpa adanya pembalasan yang mereka sebut REST in Peace (RIP).

Padahal alam kubur adalah awal dari kehidupan, awal perjalanan manusia dan itu pasti terjadi, segala sesuatu yang Allah turunkan dalam kitabNya adalah Benar adanya, sebagai orang yang iman tentu kita meyakini tanpa ada sedikitpun keraguan sebab Allah ta'ala berfirman :

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

Kitab (al-Qur‘ân) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa (yakni) mereka yang beriman kepada yang ghaib”. [QS. al-Baqarah:2-3]

Sehingga seorang muslim tentu wajib iman kepada Akhirat dan pembeda dari keyakinan orang kafir, maka sangat aneh jika seorang yang mengaku muslim namun meragukan adanya Akhirat.

Allah ta'ala menerangkan dalam firmanNya :
"jika datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata,
“Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang shalih yang telah aku tinggalkan. Sekalikali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada Barzakh (pembatas) hingga hari mereka dibangkitkan. [QS. al-Mukminûn:100]

Semestinya ini menjadikan kita mawas diri, giat dalam beramal sekecil apapun amalan kita lakukanlah sebab kita tidak tahu letak diterimanya Amal meskipun kita hanya sekedar menyingkirkan penghalang dijalan sekiranya Allah ridha dan terima amalan kecil itu masya Allah bukankah seorang Pelacur dimasukan ke surga lantaran memberikan minum kepada anjing..? ini menunjukan rahmat Allah yang luas.

Akan tetapi harapan harus diiringi rasa takut, takut kepada Allah untuk berbuat maksiat, karena akhirat itu Nyata bukan sua
tu Khayalan.

semoga kita di berikan keteguhan Iman dan kemudahan dalam beramal shalih dan berharap surga. Aamiin

Yuuk 'itikaf

Dan ingat lagi testimoni dari Aisyah radhiyallahu anha,

"Nabi kalau sudah masuk 10 hari terakhir bln Ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam2nya dan membangunkan keluarganya."

Lihat disini baik2, kalau orang sekaliber Nabi yg sudah dijamin masuk Syurga (Yg akan membuka pintu Syurga pertama kali di hari kiamat) masih mencari mlm tsb, lalu bgmn dgn kita?

Kalau Nabi terbaik saja masih mencari mlm lailatul qadr, lalu bgm dgn kita?

Kalau pemimpin umat manusia pd hari kiamat saja masih mencari mlm tsb, lalu bgm dgn kita?

Kalau Kekasih Allah dan seseorang yg sudah diampuni dosa2nya yg telah lalu masih mencari mlm lailatul qadr lalu apakah kita tenang2 saja?

Kalau Seorang Nabi terbaik bangun utk menghidupkan malam2nya, lalu kita membaca doa tidur?

Rasul shallallahu alaihi wassalam sibuk membaca Alquran lalu org seperti kita sibuk nongkrong di luar?? Lalu kita meremehkan??

Kita sibuk di Mall?? Sibuk menonton TV acara yg tdk bermanfaat??

10 hari terakhir ini saudaraku, maksimalkanlah! Maksimalkanlah! Kita tidak ada opsi lain selain benar2 memaksimalkan setiap malamnya. Kenapa?? Karena kita tidak tahu kapan tepatnya malam lailatul qadr itu datang di 10 malam terakhir tsb.

Sourch: Ust. Nuzul Dzikri.

ORANG AWAM PUN BISA LEBIH HEBAT DARI KITA.






ORANG AWAM PUN BISA LEBIH HEBAT DARI KITA.


Sufyan Bin Ranan


Pada hakikatnya saya tak setuju dengan pelabelan orang Awam karena dengan adanya pelabelan ini seolah kita sudah jadi orang pinter, 'alim,.. dan seorang yang melabeli 'awam' pada orang yang belum kenal sunnah akan membawakan ia pada kesombongan, sedangkan orang awam berbeda dengan orang bodoh, jika orang awam belum tentu ia bodoh dan orang bodoh ya jelas awam Artinya banyak diantara 'orang awam' ternyata ia adalah seorang yang sedang bersayembara mencari kebenaran dan bukankah kita dahulu juga begitu(awam) sampai pada titik nadirnya Allah berikan hidayah bi'idznillah.

Maka pelabelan orang'awam' hakikatnya sangat berbahaya bagi yang mengucapkan atau vonis terhadap seseorang dengan seolah merendahkan. sehingga pola pikir yang seperti ini menjadikan seorang yang GAK AWAM bersifat kaku pada orang yang dipandang Awam, sehingga tidak heran orang seperti ini bisa menjadi kerikil dakwah.

Teringat setahun yang lalu disaat saya ber'itikaf disalah satu masjid besar dijakarta, pertama saya ber'itikaf masjid ini...

Ramadhan lalu sengaja saya sesekali ingin menyendiri ber'itikaf tanpa ada yang mengenali saya, sy amati dan (sebagian besar) peserta 'itikaf orang awam.

Masya Allah... setelah sy amati (mungkin) diantara kita masih mandang mereka awam, akan tetapi kecemburuan mereka terhadap agama dan giat beribadah sangat kita acungkan jempol, terlebih jika datang malam ganjil masjid tersebut tarawih penuh dan tilawah tak henti hingga sahur.

Tak mengapa anda sesekali datangi masjid besar disuatu kota dan ber'itikaf disana (biasanya jika masjid besar, peserta itikaf bebas alias tak terikat pada agenda masjid atau panitia), coba sesekali menjadikan kita bersikap adil kepada orang awam,(mungkin) kita kalah tilawahnya oleh mereka dan ini motivasi, dan masuki mereka dakwah tentunya.

Dengan demikian jangan jadikan orang yang sudah bermanhaj selangkah lebih maju dari orang awam, ya... memang berbeda antara ahli ilmu dengan orang yang tidak berilmu derajatnya pun beda akan tetapi yang dimaksud adalah jangan jadikan kesombongan melekat pada diri lantaran kita 'lebih paham' dengan merendahkan manusia yang dipandang lebih bodoh dr kita sebagai tolak ukur penilaian.

seolah 1 ibadah orang bermanhaj lebih baik daripada 1000 ibadah syar'i yang dilakukan orang awam... tidak wahai akhy... krn mereka(kaum awam) juga muslim punya hak untuk berlomba bukan..?

LUPAKAN CELAANNYA, LALU JAUHI DIA DENGAN CARA YANG BAIK…










LUPAKAN CELAANNYA, LALU JAUHI DIA DENGAN CARA YANG BAIK…



Orang yang menerapkan kebenaran, apalagi yang mendakwahkannya dan ingin memperbaiki keadaan, tentu akan banyak menuai celaan dari manusia.

Dan itu adalah sunnatullah yang biasa dialami oleh para pembawa dan pejuang kebenaran.

Tapi ingatlah, Allah berkehendak demikian bukan untuk menghukum mereka yang baik, namun untuk memuliakan mereka dan memberikan banyak pahala.
Semakin berat cobaan yang mereka alami, tentu semakin besar PAHALA yang Allah berikan, dan semakin tinggi kedudukan yang mereka dapatkan.

Oleh karena itu, lupakanlah celaan mereka, dan ingatlah pahalaNya, lalu jauhilah para pencela itu dengan cara yang baik.

Ingatlah perintah Allah kepada Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, Sang Pejuang kebenaran:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

“Bersabarlah terhadap apapun yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik”. [Al-Muzzammil:10]

Ya… kita tidak hanya diperintah untuk bersabar, tapi juga diperintah menjauhi mereka.
Karena dengan itu hati kita akan terjaga, dan kita bisa terus berjalan untuk mendakwahkan kebenaran kepada yang lainnya, wallohua’lam.

Semoga kita bisa teguh dan istiqomah di atas jalan kebenaran, di atas Alquran dan Sunnah sesuai pemahaman para salafush shalih, aamiin

📝
Ustadz Musyaffa Ad Dariny,

HIDAYAH ITU DICARI BUKAN DITUNGGU..!









::HIDAYAH ITU DICARI BUKAN DITUNGGU..!!

Sufyan Bin Ranan


Sobat...
Hidayah itu dikejar bukan ditunggu..
Hidayah itu mesti dicari sebagaimana Ibrahim 'alaihissalam mencari Tauhid ditengah kemusyrikan yang merajalela...
Hidayah itu Harus diperjuangkan sebagaimana Salman al Farisi mencari dan berjalan untuk menemui kebenaran..

Sobat..
Janganlah kita lalai...
Janganlah kita cukupkan dari yang sudah ada..
Janganlah kita ikut-ikutan dalam beragama..
Jika kita masih lalai, mencukupkan ajaran turunan tanpa mengetahui dan mencari dasar pokok suatu agama,
jangan salahkan jika hati kita kering...
jangan salahkan sekiranya kita mudah ikut-ikutan dalam agama tanpa mengetahui 'ilmunya..
Yang ada [mungkin] kita bisa terjerumus dalam kesyirikan, dalam kebid'ahan dan kejahilan.

sobat..
Ingatlah Hidayah itu Di Cari...
Dibumi ini kita hanya mempunyai 1 Matahari, seluruh manusia dapat melihatnya Akan tetapi tinggal bagaimana kita maukah kita membuka jendela rumah untuk dimasuki sinar matahari..?

maka dari itu setiap muslim tentu mengetahui al Qur'an , Al Hadits, tinggal bagaimana kita maukah kita membuka hati untuk menuntut 'ilmu sehingga sinar hidayah hinggap pada hati kita.\

Oleh : Sufyan Bin Ranan

TIKAMAN JAMA'AH TAHDZIR







Tidak jadi masuk agama islam diakibatkan Jama'ah Tahdzir.

(Semoga Allah melindungi kita dari keburukan mereka).

Ustadz Dr. Syafiq Basalamah hafidzahullah bercerita:

Bahwasanya kawannya yang juga selaku ustadz di Kalimantan bernama Ustadz Abdu******* pernah bercerita.

Ada seorang kafir hindu yang suka mendengarkan radio Rodja. Dia memang tertarik untuk menyimak kajian-kajian islam walaupun dia masih memeluk agama hindu.

Suatu saat, ustadz abdu****** mengetahui ketertarikannya kepada islam, lantas sang ustadz memberikannya hadiah berupa buku-buku bertajuk islam.Orang hindu ini adalah orang kaya yang memiliki beberapa pegawai, dan salah satu pegawainya adalah orang islam yang aktif ikut kajian ustadz Ask*** (aktif dengan tahdzirannya) di Kalimantan.

Ketika sang pegawai mengetahui bahwasanya majikannya sering mendengarkan radio Rodja, sang pegawai tiba-tiba mentahdzir sang majikan dengan sikap konyolnya yang tidak masuk akal. Mengatakan bahwasanya Rodja seperti ini dan itu.

Sang majikan konsultasi ke ustadz Abdu******* dan mengatakan:

Ustadz, saya tidak jadi masuk islam. Kalian saja masih saling bertengkar dan mencela. Maka bagaimana saya yakin untuk mau masuk islam..

"Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Lihat, bagaimana citra islam menjadi buruk karena sikap konyol jama'ah tahdzir yang tidak masuk akal.

Semoga Allah melindungi kita dari keburukan mereka. Amiin.

Saya semakin yakin akan firman Allah ta'ala:

ِ "Dan seandainya kamu bersikap bengis dan keras hati niscaya mereka akan lari darimu.

" QS Ali Imran: 159

Kekerasan dan tahdzir hanya akan memalingkan manusia dari islam agama lembut dan kasih sayang

Kamis, 25 Juni 2015

PUASA TAPI Gak SHOLAT




::PUASA TAPI Gak SHOLAT.

Sufyan Bin Ranan

Saudaraku...
Apakah ada seorang yang ia berpuasa di bulan Ramadhan akan tetapi meninggalkan sholat..?

Kita tak begitu heran bertanya perihal masalah ini karena jawabanya adalah Ada, bahkan mungkin banyak seorang yang berpuasa yang mana puasanya hanya mendapatkan lapar dan haus saja dengan beberapa sebab lantaran cuma ikut-ikutan, berghibah/gosip, melayani syahwat, dan salah satu yang kita fokuskan adalah orang yang berpuasa akan tetapi ia meninggalkan shalat.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang menjadi saksi betapa banyaknya orang yang berpuasa akan tetapi pahalanya tidak ia peroleh :

“Betapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus saja....” (HR. Ahmad ).

Mirisnya lagi umumnya dikalangan kaum muslimin yang meninggalkan shalat disaat ia berpuasa adalah terjangkit pada para pemuda, pemuda dan pemudi islam yang secara dzhahirnya mungkin ia belum paham terhadap amalan pokok dalam agama, mereka lebih bersantai dalam puasanya, tidak membuka mushaf namun sering mendengar musik, tidak shalat akan tetapi lebih memilih ngabuburit (berjalan ke Mall, tempat hiburan bioskop, dan sejenisnya sedangkan perutnya berpuasa)

sedangkan Allahta'ala berfirman :

"Jagalah seluruh shalat, dan jaga shalat wusthaa (ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [QS. Al-Baqarah [2]: 238]

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar, maka terhapuslah amalannya.” (HR. Bukhari ; 553)

al Imam ibnul Qayyim menjelaskan hadits diatas yakni

"Barang siapa yang meninggalkan shalat tertentu (diantara shalat yang 5 waktu) dalam satu hari. Maka ini menyebabkan terhapusnya amal di hari tersebut. "

dengan demikian wahai saudaraku...
sekiranya ada diantara kaum muslimin yang ia berpuasa akan tetapi tidak shalat di satu shalat saja ia tak menunaikan maka puasanya BATAL ATAU TIDAK SAH.

Terhapus amalan tidak hanya puasa saja melainkan kebaikan yang lainya pada hari dimana ia meninggalkan satu shalat saja terlebih shalat ashar.

wallahulmusta'an semoga Allah memudahkan kita dalam beramal kepada Allah.Aaamiin

KUATKAN TEKAD DIATAS SUNNAH MESKIPUN KAU DIMUSUHI







: KUATKAN TEKAD DIATAS SUNNAH MESKIPUN KAU DIMUSUHI.

Sufyan Bin Ranan

Saudaraku....
Mungkin diantara kita pernah dinyinyir lantaran mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, diantara kita pernah diolok-olok lantaran Jenggot yang kita amalkan laksana kambing gibas umpamanya, hijab yang kita pakai dikaitkan dengan misi arabisasi dan sejenisnya nyinyiran yang membuat hati ini mungkin goyang serta goncang sejenak.

Ketahuilah wahai saudara saudariku...
hal tersebut tidaklah mengherankan bagi kita yang mencoba beristiqamah dizaman fitnah ini, anehnya diantara orang yang membenci pengikut sunnah, diantara mereka meloyalkan hatinya kepada orang-orang yang tak sholat, orang orang secara dzhahir tidak condong pada keshalihan dengan bersenda gurau dan bersahabat.

Salah satu sebab kita di ledeki, diolok-olok selain berusaha berpegang kepada sunnah adalah lantaran kita tidak mengamalkan suatu perkara yang tidak ada tuntunan dari Rasulillah shalalllahu alaihi wa sallam dan para shahabatnya padahal telah jelas bagi kita :

sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam :

“Barang siapa mengamalkan sebuah amalan yang kami tidak mencontohkannya maka amal itu tertolak”. [HR. Muslim]

kita sepakat...
"kita tidak akan mengeluarkan keringat kecuali disana ada surganya"
kita sepakat
"kita tidak boleh menambahkan apalagi mengurangi syari'at sekiranya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tidak memerintahkannya"

kita sepakat...
"dalam beramal ada keikhlasan dan ittiba' kepada Rasulullah sehingga al Imam fudhail bin iyadh mengatakan:

“Sesungguhnya sekiranya seorang mengamalkan suatu amalan atas agama dengan ikhlas akan tetapi tidak sesuai dari apa yang Nabi amalkan,, maka amalan itu tidak diterima. Dan dan begitupun seorang yang beramal sesuai sunnah namun tidak ikhlas maka amalan tersebutpun tak diterima, hingga ia melakukannya dengan ikhlas dan benar. Ikhlas semata karena Allah, dan benar apabila sesuai dengan tuntunan Nabi ”.

Sehingga ketika seseorang beriltizam kepada agamanya, berusaha mengamalkan yang diajarkan dan menolak apa apa yang di larang terlebih suatu perkara amalan yang baru, maka sudah seyogyanya anda bersiap di nyinyirkan.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda dalam haditsnya seolah memberikan khabar gembira bagi diri-diri kita :

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (bahagialah/beruntunglah) orang-orang yang asing.” (HR Muslim).

Asy-Syaikh Abu Usaamah Salim bin ied al-Hilali hafizhahullah berkata,
“Tidak ada riwayat yang sah tentang makna al-Ghuraba’ (orang-orang asing) selain dua tafsiran yang marfu’ yaitu:

a. Orang-orang yangtetap istiqamah dikala orang-orang rusak mengitarinya.(meledekinya, nyinyir dll)

b. orang yang shalih yang hidup diantara masyarakat yang buruk agamanya. sehingga yang memusuhi tentu lebih banyak.

maka tak heran wahai saudaraku...
Anda berjenggot dihina...
sedangkan tidak jauh dari tempat tinggal anda mungkin ada orang yang tidak shalat tidak dikucilkan sama sekali.

anda berhijab lebar laksana mukena berjalan...
sedangkan tidak jauh dari anda berpijak banyak wanita wanita berpakaian akan tetapi seolah telanjang, selamat dari ledekan.

saudaraku...
kuatlah sekuat mungkin berpegang teguh kepada sunnah...
istiqamahlah..
dibalik kesedihan akibat ledekan tak akan membahayakanmu diakhirat kelak.

ISLAM PRASMANAN






:: Islam Prasmanan

Sufyan Bin Ranan



Tahukah antum apa itu islam prasmanan..?
seorang yang berjalan diatas agamanya bagaikan mencomot makanan, minuman dan buah-buahan sesuai yang ia suka.

Terkadang mencomot makanannya dengan apa yang ia suka, apa yang perutnya minta.

inilah sebuah perumpamaan bagi mereka yang berislam akan tetapi mencampaki syariat islam, memperkosa aqidah islam guna bersesuaian diatas nafsunya, diatas keinginannya.

sedangkan Islam adalah agama yang sangat mudah, kurang mudah apa anda berislam..?

lihat ketika anda shalat ketika anda tak mampu berdiri, Allah mudahkan duduk bagi anda, tak mampu duduk Allah berikan keistemawaan untuk berbaring, jika tak mampu juga maka dengan isyarat. ini amalan shalat yang mana adalah praktik ibadah kepada Rabb Allah 'azza wa jalla, ibada yang bersifat vertikal hubungan anda dengan Allah akan tetapi Allah berikan kemudahan sekiranya anda tak menyanggupi.

Apa yang membuat anda merasa berat dalam berislam..?

Ketahuilah saudaraku...

Islam adalah agama yang mudah dan islam pun adalah agama yang berprinsip mempunyai karakter, maka tak perlulah anda mencampak-kan syariat islam, memperkosa agama, mendikotomikan agama yang saat ini marak diperbincangkan dengan sebutan Islam Nusantara.

Saudaraku..
apa.. yang memberatkanmu dari Islam...?

Rabu, 17 Juni 2015

DO'A MENYAMBUT RAMADHAN





Doa menjelang ramadhan banyak dipertanyakan orang. Karena mereka perhatian untuk menyambut ramadhan.

Pertanyaan:

Aslmalkm,

Kalo mau datang ramadhan, doanya apa? Kasih teks arabnya ya.. Thnk’s

Wass..wr. wb.

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kami tidak menjumpai adanya doa khusus ketika menyambut ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat. Hanya saja para sahabat dan para ulama generasi setelahnya, menyambut bulan ramadhan ini dengan penuh kegembiraan dan suka cita. Mereka ungkapkan kegembiraan ini dengan kalimat-kalimat yang mengandung doa kebaikan dan harapan.

Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan satu riwayat yang menunjukkan semangat mereka dalam menyambut ramadhan. Ibnu Rajab menyebutkan keterangan Mu’alla bin Al-Fadhl – ulama tabi’ tabiin – yang mengatakan,

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Satu harapan yang luar biasa. Karena mereka menilai, Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Sehingga mereka tidak akan menjadikannya kesempatan yang sia-sia.

Kemudian Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan salah satu contoh doa yang mereka lantunkan. Diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir – seorang ulama tabi’in –, bahwa beliau mengatakan,

Diantara doa sebagian sahabat ketika datang Ramadhan,

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Kedua, ada satu doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika masuk ramadhan. Doa itu adalah doa melihat hilal. Akan tetapi sejatinya doa ini adalah doa umum, berlaku untuk semua awal bulan, ketika seseorang melihat hilal dan tidak khusus untuk bulan ramadhan.

Teks doa itu,

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا نُحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

Allahu akbar, ya Allah jadikanlah hilal itu bagi kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan islam, dan membawa taufiq yang membimbing kami menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhan kamu (wahai bulan), adalah Allah.” (HR. Ahmad 888, Ad-Darimi dalam Sunannya no. 1729, dan dinilai shahih oleh Syua’ib Al-Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad, 3/171).

Keterangan:

Doa ini hanya dibaca ketika seseorang melihat hilal di awal bulan. Karena itu, bagi yang tidak melihat hilal, tidak disyariatkan membaca doa ini ketika masuk awal bulan. Sebagaimana keterangan Dr. Sa’id Al-Qahthani dalam syarh Hisnul Muslim, hlm. 262.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

HUKUM PUASA TANPA SAHUR




Hukum Puasa Tanpa Sahur

Pak ustadz saya mau tanya apa hukum nya, orang melakukan puasa tanpa sahur ???

Dari: Eka

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada satu pernyataan tentang sahur yang banyak tersebar di masyarakat kita. Pernyataan itu adalah: inti puasa adalah sahur.

Allahu a’lam, dari mana asal pernyataan ini, dan siapa yang membuatnya. Yang jelas, gara-gara pernyataan ‘ngawur’ ini, sebagian kaum muslimin ada yang meragukan keabsahan puasanya karena pagi harinya dia tidak sahur. Sampai ada yang membatalkan puasanya, gara-gara dia tidak sahur. Padahal membatalkan puasa wajib tanpa alasan yang dibenarkan, termasuk dosa besar. Dan tidak sahur, tidak boleh dijadikan alasan pembenar untuk membatalkan puasa.

Untuk itu perlu kita tegaskan dengan setegas-tegasnya, kita tanamkan dalam diri kita – untuk memberikan penekanan – bahwa inti puasa BUKAN sahur. Pernyataan ‘inti puasa adalah sahur’ adalah pernyataan tidak berdasar, dan membahayakan. Sahur hukumnya dianjurkan ketika puasa, namun bukan inti puasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan bahwa diantara syarat sah puasa adalah makan sahur. Karena itu, puasa seseorang tetap sah sekalipun paginya tidak sahur.

Dalil tegas yang menunjukkan hal ini adalah hadis dari ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan:

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال: «هل عندكم شيء؟» فقلنا: لا، قال: «فإني إذن صائم»

“Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami, dan bertanya, ‘Apakah kalian punya makanan?‘ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan puasa.”. (HR. Muslim 1154, Nasai 2324, Turmudzi 733).

Pada hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi istrinya di pagi hari. Beliau menanyakan kepada istrinya, apakah di rumah ada makanan untuk sarapan. Artinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki niat puasa ketika itu. Kemudian ketika Aisyah menjawab bahwa beliau tidak memiliki makanan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan puasa. Ini menunjukkan bahwa pada malam harinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak makan sahur, karena pada malam itu, tidak ada keinginan dari beliau untuk berpuasa. Beliau baru menyatakan berpuasa di pagi harinya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

YANG BUKAN PEMBATAL PUASA





bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Beberapa hal lainnya yang dianggap masyarakat sebagai pembatal puasa yang layak dikritisi adalah

Menangis
Berkumur
Menelan ludah
Membersihkan lubang telinga
Keluar darah

InsyaaAllah pada kesempatan ini, akan kita bahas masing-masing,

Pertama, menangis


Kami tidak menjumpai satupun dalil yang menunjukkan bahwa nangis bisa membatalkan puasa. Baik dalil yang menunjukkan makna tegas maupun isyarat. Terlebih, nangis tidak identik dengan menelan air mata, sehingga tidak bisa dihukumi sama dengan minum.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah pernah ditanya, apakah air mata yang keluar ketika memotong dan merajang bawang bisa membatalkan puasa?

Jawaban Tim Fatawa Syabakah Islamiyah,

فالدموع النازلة بسبب تقطيع البصل وشم رائحته لا تبطل الصيام

“Air mata yang keluar karena memotong bawang atau disebabkan aroma bawang, tidak membatalkan puasa.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 106644)

Kedua, berkumur

Salah satu pertanyaan yang banyak nyangkut di KonsultasiSyariah.com, bolehkah berkumur ketika puasa? Apakah berkumur bisa membatalkan puasa?

Kita sepakat bahwa yang menjadi permbatal puasa adalah makan, minum atau yang semakna dengannya. Dan kita juga sepakat, berkumur tidak termasuk makan atau minum. Karena itu, berkumur bukan pembatal.

Lebih dari itu, terdapat dalil sangat tegas yang menunjukkan bahwa berkumur tidak membatalkan puasa. Hadis dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

هَشَشْتُ يَوْمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا، قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ؟ ” قُلْتُ: لَا بَأْسَ بِذَلِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” فَفِيمَ؟

Suatu hari, syahwatku naik hingga aku mencium istri, padahal aku sedang puasa. Akupun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku katakan: ‘Hari ini aku melakukan perkara besar. Aku mencium istriku padahal aku sedang puasa.’ Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apa pendapatmu jika kamu berkumur dengan menggunakan air ketika kamu sedang puasa?’ ‘Boleh saja, tidak masalah.’ Jawab Umar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menimpali, ‘Lalu mengapa bingung?’ (HR. Ahmad 138, Ibnu Khuzaimah 1999, dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Maksud Hadis

Mencium ketika puasa, selama tidak sampai keluar mani, tidak membatalkan puasa. Sebagaimana orang berkumur dengan air ketika puasa, selama tidak menelan air dengan sengaja, puasanya tidak batal.

Ini menunjukkan para sahabat sangat memahami bahwa berkumur tidak memberikan pengaruh terhadap puasa seseorang. Karena itulah, Ibnu Qudamah menegaskan, ulama sepakat, berkumur tidak membatalkan puasa. Beliau mengatakan,

ولا يفطر بالمضمضة بغير خلاف، سواء كان في الطهارة أو غيرها

“Berkumur tidak membatalkan puasa tanpa ada perselisihan, baik ketika wudhu maupun di luar wudhu.” (Al-Mughni, 3/123).

Ketiga, menelan ludah

Ibnu Qudamah memberikan rincian tentang masalah ini,

وما لا يمكن التحرز منه، كابتلاع الريق لا يفطره، لأن اتقاء ذلك يشق، فأشبه غبار الطريق، وغربلة الدقيق

Sesuatu yang tidak mungkin dihindari ketika puasa, seperti menelan ludah, tidak membatalkan puasa. Karena menghindari semacam ini sangat memberatkan. Kasusnya sebagaimana debu jalanan atau tebaran tepung.

Kemudian Ibnu Qudamah melanjutkan,

فإن خرج ريقه إلى ثوبه، أو بين أصابعه، أو بين شفتيه، ثم عاد فابتلعه، أو بلع ريق غيره، أفطر؛ لأنه ابتلعه من غير فمه، فأشبه ما لو بلع غيره

Jika ludah itu telah keluar ke bajunya atau diletakkan diantara jarinya atau berada di antara bibirnya, kemudian kembali dia telan, atau dia menelan ludah orang lain, maka puasanya batal. Karena berarti dia menelan ludah selain dari mulutnya. Sehingga sama dengan ketika dia menelan benda lainnya. (Al-Mughni: 3/122).

Hal senada juga disampaikan Sayyid Sabiq. ketika membahas tentang hal-hal yang dibolehkan bagi orang yang berpuasa, beliau mengatakan:

وكذا يباح له ما لا يمكن الاحتراز عنه كبلع الريق وغبار الطريق، وغربلة الدقيق والنخالة ونحو ذلك.

“Demikian pula, dibolehkan untuk menelan benda-benda yang tidak mungkin bisa dihindari. Seperti menelan ludah, debu-debu jalanan, taburan tepung, atau dedak…” (Fiqh Sunnah, 1/462)

Keempat, membersihkan lubang telinga


Kami tidak tahu, dari mana masyarakat bisa menyimpulkan hal ini, membersihkan lubang telinga atau korek-korek hidung bisa membatalkan puasa. Jelas ini adalah salah paham yang akan sangat sulit dicari pembenarannya. Jika alasannya adalah memasukkan satu benda ke badan, ini tidak bisa diterima. Karena tidak semua bentuk memasukkan benda ke badan bisa dihukumi makan atau minum.

Andaikan semua bentuk memasukkan benda ke badan bisa membatalkan puasa, tentu berkumur bisa membatalkan puasa. Padahal di awal, telah ditegaskan, berkumur tidak membatalkan puasa dengan sepakat sahabat dan para ulama.

Kelima, keluar darah

Barangkali yang menjadi pendekatan di sini adalah hukum bekam ketika puasa. Apakah bekam ketika puasa membatalkan puasa ataukah tidak? Berangkat dari kasus bekam, sebagian ulama memberikan hukum yang sama untuk semua tindakan yang mengeluarkan darah, seperti sayatan, operasi ringan, dst.

Sebagian ulama berpendapat bahwa bekam bisa membatalkan puasa. Berdasarkan hadis Syaddad dan Rafi bin Khadij, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أفطر الحاجم والمحجوم

“Orang yang membekam dan yang dibekam, puasanya batal.” (HR. Abu Daud 2367, Turmudzi 774, Ibn Majah 1679, dan dishahihkan Al-Albani).

Diantara ulama yang mengambil pendapat ini adalah, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, Al-Auza’i, Ad-Darimi, dan Ishaq bin Rahawih. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikhul Islam, dan Ibnul Qoyim.

Sementara jumhur (mayoritas ulama), hanafiyah, Malikiyah, dan Syafiiyah, bekam tidak membatalkan puasa. Dan insyaaAllah, inilah pendapat yang lebih kuat, berdasarkan beberapa dalil dan riwayat, diantaranya,

1. Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتَجَمَ ، وَهْوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهْوَ صَائِمٌ .

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam ketika beliau ihrom dan ketika berpuasa. (HR. Bukhari no. 1938)

2. Riwayat dari Tsabit Al-Bunani, beliau pernah bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

أَكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الْحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ قَالَ لاَ . إِلاَّ مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ

“Apakah dulu kalian (para sahabat) tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?” Anas mengatakan, “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah.” (HR. Bukhari no. 1940).

3. Keterangan Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

رَخَّصَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْقُبْلَةِ لِلصَّائِمِ وَالْحِجَامَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi rukhsoh (keringanan) bagi orang yang berpuasa untuk mencium istrinya dan berbekam.” (HR. Ibnu Khuzaimah 1976, Ad-Daruquthni 2268, dan sanadnya dinilai shahih oleh Al-Albani).

Keterangan Abu Said radhiyallahu ‘anhu, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi rukhshah’, menunjukkan bahwa sebelumnya bekam dilarang untuk orang yang puasa. Karena namanya rukhshah, berarti ada laranngan yang mendahuluinya. Sebagaimana keterangan Ibn Hazm dalam Al-Muhalla (4/337).

Karena itu, mengeluarkan darah dengan sengaja, sekalipun dalam jumlah banyak, tidak membatalkan puasa, kecuali jika dikhawatirkan menyebabkan badan lemes, hukumnya terlarang sebagaimana keterangan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Sementara luka yang mengeluarkan darah, para ulama menegaskan bahw itu tidak mempengaruhi keabsahan puasa seseorang sedikitpun.

Allahu a’lam

Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

KEUTAMAAN PUASA








KEUTAMAAN PUASA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله



عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :((قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ ,وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ صَوْمِهِ))مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذََا لَفْظُ رِوَايَةِ الْبُخَارِيِّ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لَهُ: يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أجْلِيْ، اَلصِّيَامُ لِيْ وَأنَا أجْزِيْ بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أمْثَالِهَا وَ فِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، اَلْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : (إِلاَّ الصَّوْمَ فَإنَّهُ لِيْ وَأنَا أجْزِيْ بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أجْلِي). لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ . وَلَخُلُوْفُ فِيْهِ أطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ المِسْكِ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Semua amal perbuatan anak Adam untuk dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.’Puasa adalah perisai. Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji (cabul) dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Demi Allâh yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allâh daripada aroma minyak kesturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.’”[Muttafaq ‘alaihi, dan ini lafazh al-Bukhâri]

Dalam suatu riwayat lain imam al-Bukhâri, “Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya. Setiap satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipatnya.”

Dalam riwayat Muslim, “Semua amalan anak Adam dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa.Sesungguhnya puasa itu untuk Aku, dan Aku-lah yang membalasnya.Dia meningalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.’Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.Sungguh, bau mulut orang berpuasa itu lebih harum di sisi Allâh daripada aroma minyak kesturi.”

TAKHRI HADITS:
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (no. 1894, 1904, 5927, 7492, 7538); Muslim (no. 1151); Ahmad (II/232, 266, 273); Ibnu Mâjah (no. 1638); an-Nasa-i (IV/163-164), dan Ibnu Khuzaimah (no. 1896, 1900).

KOSA KATA HADITS:
جُنَّةٌ : Benteng, pelindung dari api Neraka dan kemaksiatan.
اَلرَّفَثُ : Ucapan kotor dan keji.
الصَّخَبُ : Bertengkar dan berteriak.
خُلُوْفٌ : Perubahan bau mulut.

SYARH HADITS
Betapa agungnya hadits ini karena didalamnya disebutkan amalan secara umum, kemudian disebutkan puasa secara khusus, keutamaannya, kekhususannya, pahala yang akan diperoleh dengan segera maupun yang akan datang, penjelasan hikmahnya, tujuannya, dan apa-apa yang harus diperhatikan seperti adab-adab yang mulia. Semua hal tersebut tercakup dalam hadits ini.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan pokok yang menyeluruh, bahwa semua amal shalih, dilipatgandakan (amal shalih tersebut) sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga berkali-kali lipat lebih dari itu.

Ini menunjukkan keagungan dan luasnya rahmat Allâh dan kebaikan-Nya kepada para hamba-Nya yang beriman, karena Allâh Azza wa Jalla membalas satu perbuatan buruk dan menyelisihi syari’at dengan satu balasan.

Adapun balasan kebajikan, maka pelipatgandaan minimal sepuluh kali, dan bisa lebih dari itu dengan sebab-sebab lain. Di antaranya yaitu kuatnya iman seorang hamba dan kesempurnaan ikhlasnya. Jika iman dan ikhlas semakin bertambah kuat, maka pahala amal shalih pun akan berlipat ganda.

Di antaranya juga yaitu amalan yang memiliki porsi besar, seperti berinfak dalam rangka jihad di jalan Allâh dan menuntut ilmu syar’i, serta berinfak untuk proyek-proyek agama Islam secara umum. Dan juga seperti amalan yang semakin kuat karena kebaikannya dan kekuatannya dalam menolak hal-hal yang bertentangan dengan syari’at, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah orang yang tertahan dalam gua[1] , dan kisah pezina yang memberi minum seekor anjing lalu Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya[2] . Dan juga seperti suatu amalan yang dapat menumbuhkan amalan lain dan diikuti oleh orang lain. Dan juga seperti menolak bahaya-bahaya yang besar atau menghasilkan kebaikan-kebaikan yang besar. Dan juga seperti amalan-amalan yang berlipat ganda karena keutamaan waktu dan tempat, serta keutamaan seorang hamba di sisi Allâh Azza wa Jalla . Semua pelipatgandaan ini mencakup semua amalan.

Kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengecualikan puasa dan menyandarkannya kepada-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang akan membalasnya dengan keutamaan dan kemuliaan-Nya, dengan tidak melipatgandakannya seperti amalan yang lain. Ini adalah suatu hal yang tidak dapat diungkapkan, bahkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak didengar oleh telinga, dan tidak terlintas dalam benak manusia.

Ulama berbeda pendapat tentang makna :

فَإنَّهُ لِيْ وَأنَا أجْزِيْ بِهِ

Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya

Padahal semua amal perbuatan adalah untuk Allâh Azza wa Jalla dan Dia-lah yang akan membalasnya, sebagai berikut:

Pertama : Di dalam puasa tidak terdapat unsur riya’ sebagaimana yang terjadi pada ibadah lainnya.

Kedua : Bahwa yang dimaksud dengan “dan Aku-lah yang akan membalasnya,” adalah “Hanya Aku-lah yang mengetahui besarnya balasan orang tersebut dan berapa banyak kebaikannya dilipatgandakan. Adapun ibadah lainnya, karena ia dapat dilihat orang.”

Ketiga: Yang dimaksud dengan “dan Aku-lah yang akan membalasnya,” yaitu bahwa puasa adalah ibadah yang paling Aku cintai dan yang akan didahulukan di sisi-Ku.

Keempat: Idhâfah (penyandaran) dalam redaksi ini merupakan idhâfah tasyrîf (kemuliaan) dan ta’zhîm (keagungan), sebagaimana dikatakan “Baitullah (rumah Allâh), meskipun seluruh masjid sebenarnya adalah milik Allâh.” az-Zain Ibnul Munayyir t berkata, “Pengkhususan pada konteks redaksi umum seperti ini tidaklah dipahamiselain dengan makna pengagungan dan pemuliaan.”

Kelima: Tidak membutuhkan makan dan syahwat-syahwat lainnya merupakan salah satu sifat Allâh Azza wa Jalla . Dan karena orang yang berpuasa mendekatkan dirinya dengan salah satu sifat-Nya, maka Dia pun menyandarkan ibadah tersebut kepada diri-Nya.

Keenam: Maksudnya sama seperti di atas; hanya saja hal tersebut sesuai dengan sifat malaikat. Karena tidak membutuhkan makan dan tidak memiliki syahwat merupakan salah satu sifat mereka.

Ketujuh: Maksudnya bahwa puasa tersebut murni hanya untuk Allâh Azza wa Jalla , dan tidak satu bagian pun dari ibadah tersebut yang ditujukan kepada sesama hamba. Demikian yang dikatakan oleh al-Khaththabi dan demikian pula pendapat yang dinukil oleh ‘Iyâdh dan yang lainnya.

al-Baidhawi rahimahullah berkata, “Ada dua hal yang menjadi alasan mengapa ibadah puasa diistimewakan dengan kelebihan seperti ini. Pertama, karena ibadah-ibadah lainnya dapat dilihat oleh manusia, berbeda dengan puasa karena ia merupakan rahasia antara hamba dan Allâh Azza wa Jalla . Ia melakukannya dengan ikhlas dan mengerjakannya karena mengharap ridha-Nya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allâh Azza wa Jalla dalam sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa salla, (hadits qudsi, yang artinya) , ‘Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku.’

Kedua, karena seluruh perbuatan baik dilakukan dengan cara mengeluarkan harta atau mempergunakan fisik. Sementara puasa mencakup pengekangan hawa nafsu dan membuat fisik menjadi lemah. Dalam ibadah puasa terdapat unsur kesabaran menahan rasa lapar, haus, dan meninggalkan syahwat. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allâh Azza wa Jalla dalam sabda beliau n (hadits qudsi, yang artinya), ‘Dia meninggalkan syahwatnya karena-Ku.’”[3]

Para Ulama berkata, “Puasa dikecualikan karena ia mencakup tiga macam sabar, yaitu (1) sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allâh, (2) sabar (menjauh) dari maksiat kepada Allâh, dan (3) sabar terhadap takdir Allâh.”

Adapun sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh, yaitu seorang hamba membebani dirinya untuk berpuasa walaupun terkadang ia tidak menyukainya karena ada kesulitannya, bukan karena Allâh telah mewajibkannya. Jika seseorang membenci puasa karena Allâh mewajibkannya, maka akan semua amalnya akan terhapus. Seseorang yang tidak menyukai puasa karena sulit, namun ia tetap memaksa dirinya untuk berpuasa, ia bersabar (menahan diri) dari makan, minum, dan jima’ karena Allâh Azza wa Jalla .Oleh karena itu disebutkan dalam hadits qudsi di atas, Allâh berfirman :

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أجْلِيْ

Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku.”

Sedangkan sabar (menahan diri) dari maksiat kepada Allâh, ini didapat dari orang yang berpuasa, karena ia menyabarkan dirinya dan menjauhkan dirinya dari berbuat maksiat kepada Allâh. Ia menjauhi hal yang sia-sia, berkata kotor, bodoh, dusta, dan selainnya dari apa-apa yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala haramkan.

Adapun sabar terhadap takdir Allâh, yaitu seseorang diuji ketika ia berpuasa -apalagi jika pada musim panas yang panjang- dengan rasa malas, bosan, dan haus, tetapi ia tetap bersabar karena mengharapkan ridha Allâh Subhanahu wa Ta’ala .Ketika puasa mencakup tiga macam sabar tersebut, maka ganjarannya tidak terbatas. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

مَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“…Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” [az-Zumar/39:10]

Hikmah dari pengkhususan tersebut yaitu bahwa orang yang berpuasa ketika dia meninggalkan hal-hal yang dicintai oleh hawa nafsunya karena Allâh, maka itu artinya ia telah mendahulukan kecintaannya kepada Allâh dari segala kecintaan jiwanya, ia lebih mengharap ridha-Nya dan ganjaran-Nya daripada meraih keinginan hawa nafsu. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla mengkhususkan puasa untuk diri-Nya dan menjadikan pahala orang yang berpuasa di sisi-Nya.

Coba Anda pikirkan, bagaimana dengan ganjaran dan balasan yang diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla , Yang Mahapengasih, Mahapenyayang, Mahadermawan, Mahapemberi, yang pemberian-Nya menyeluruh kepada semua makhluk yang ada, lalu Allâh mengkhususkan untuk para wali-Nya bagian yang banyak dan sempurna, dan Allâh mentakdirkan buat mereka sarana yang dengannya mereka bisa meraih apa-apa yang ada di sisi Allâh berupa perkara-perkara yang tidak pernah terlintas dalam benak dan dalam khayalan?! Bagaimana dengan apa yang akan Allâh Azza wa Jalla lakukan kepada mereka, orang-orang yang berpuasa dengan ikhlas?!

Itulah karunia yang Allâh berikan kepada siapa yang dikehendaki

Hadits ini juga menunjukkan bahwa puasa yang sempurna yaitu jika seorang hamba meninggalkan dua perkara:

Pertama, pembata-pembatal puasa seperti makan, minum, jima’ (bersetubuh) dan lainnya.

Kedua, hal-hal yang mengurangi (kesempurnaan) amalan, seperti berkata kotor, jorok, cabul dan berteriak-teriak, mengerjakan perbuatan haram dan pembicaraan haram. Jauhkanlah semua maksiat, pertengkaran, dan perdebatan yang menyebabkan dendam. Karena inilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, "Janganlah berkata kotor/keji (cabul).”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, yang artinya, "Janganlah berteriak-teriak!" Yaitu perkataan yang menyebabkan fitnah dan permusuhan. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang lain:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, maka Allâh tidak butuh kepada (puasanya) yang hanya meninggalkan makan dan minumnya[4]

Barangsiapa menerapkan dua perkara tersebut di atas maka sempurnalah pahala puasanya. Siapa yang tidak menerapkannya, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuki orang yang puasa bahwa apabila ada yang mengajak untuk bertengkar dan mencelanya, hendaklah ia mengatakan:

إِنِّي صَائِمٌ

Sesungguhnya aku sedang berpuasa

Faidahnya yaitu bahwa seakan-akan ia berkata, “Ketahuilah bahwa aku bukannya tidak bisa membalas apa yang engkau katakan, tapi sesungguhnya aku sedang berpuasa. Aku menghormati puasaku dan menjaga kesempurnaannya, serta perintah Allâh dan rasul-Nya. Dan ketahuilah bahwa puasa mengajakku untuk tidak membalas semua itu dan memerintahkanku untuk bersabar. Maka apa yang aku lakukan ini lebih baik dan lebih mulia dari apa yang engkau perbuat kepadaku, wahai orang yang mengajak bertengkar!”

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ

Puasa adalah perisai

Yaitu penjaga yang menjaga seorang hamba dari dosa-dosa di dunia, membiasakannya untuk mengerjakan kebajikan, dan menjaga dari siksa neraka.

Ini adalah hikmah syari’at yang paling agung dari faidah puasa, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman!Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [al-Baqarah/2:183]

Jadi, puasa menjadi perisai dan sebab untuk mendapat ketakwaan. Karena puasa mencegah dari perbuatan haram dan apa-apa yang dilarang serta memerintahkan untuk memperbanyak amal ketaatan kepada Allâh dan Rasul-Nya.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya

Kedua ganjaran ini, ganjaran pertama, segera didapat dan ganjaran kedua, ganjaran yang didapatkan di akhirat. Yang langsung didapat yaitu ketika orang yang berpuasa itu berbuka, ia gembira karena nikmat Allâh yang diberikan kepadanya sehingga bisa menyempurnakan ibadah puasanya.

Sedangkan ganjaran yang akan datang yaitu kegembiraannya ketika bertemu Rabb-nya dengan keridhaan-Nya dan kemuliaan-Nya.

Kegembiraan yang didapat langsung di dunia ini adalah contoh dari kegembiraan yang akan datang, dan Allâh akan mengumpulkan keduanya bagi orang yang berpuasa.

Dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa orang yang berpuasa jika sudah mendekati waktu berbuka, maka ia mendapat kegembiraan. Itu merupakan balasan dari apa yang telah ia lalui pada siang hari berupa kesulitan menahan nafsu.

Ini untuk menumbuhkan semangat dan berlomba dalam berbuat kebaikan.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ

Sungguh, bau mulut orang berpuasa itu lebih harum di sisi Allâh daripada aroma minyak kesturi

al-Khulûf yaitu pengaruh bau dalam mulut ketika kosong dari makanan dan naiknya uap. Walaupun ini tidak disukai oleh orang, tapi janganlah engkau bersedih, wahai orang yang berpuasa! Karena sesungguhnya ia lebih wangi di sisi Allâh daripada minyak kesturi dan berpengaruh pada ibadah dan pendekatan diri kepada-Nya. Dan semua yang meninggalkan pengaruh dalam ibadah berupa kesulitan dan ketidaksukaan, maka itu dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla . Dan kecintaan Allâh bagi orang Mukmin lebih didahulukan dari segala sesuatu.[5]

FAWAA-ID
1. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjamin balasan puasa seseorang dengan balasan yang istimewa

2. Apapun yang berhubungan dengan ibadah puasa, baik kadar keikhlasan hamba, diterima atau tidak, maupun kadar jerih payah dalam melaksanakannya, hanya Allâh yang mengetahuinya.

3. Semua amalan memiliki pahala tertentu, yang kemudian dilipatgandakan sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Karena pahala puasa tidak terbatas hitungannya.

4. Puasa adalah benteng, sebagai pelindung dari api neraka dan dosa-dosa yang bisa menjerumuskan ke neraka, serta penghalang dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan syari’at. Oleh karena itu orang yang berpuasa wajib menjaga dirinya dari perbuatan dosa dan maksiat serta menjauhkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

5. Orang yang berpuasa tidak boleh berkata kotor, jorok, keji, cabul, perkataan yang membawa kepada persetubuhan, dan lainnya.

6. Orang yang berpuasa tidak boleh berteriak-teriak, tidak boleh bertengkar, dan tidak boleh mengganggu orang lain.

7. Orang yang berpuasa tidak boleh berkata bohong, dusta, membohongi dan menipu orang, dan lainnya.

8. Orang yang terus menerus berbohong dan berlaku bodoh, ghibah, fitnah dan mengadu domba, maka Allâh Azza wa Jalla tidak butuh kepada puasanya.

9. Orang yang berpuasa wajib menjaga lisannya dan anggota tubuh lainnya dari yang terlarang. Dia harus selalu taat, berdzikir, membaca al-Qur'ân, berdo’a, sedekah, dan ibadah lainnya.

10. Puasa melatih dan mendidik diri untuk taat, membiasakan diri bersabar terhadap penyakit dan gangguan karena mengharapkan ridha Allâh Azza wa Jalla .

11. Boleh memberitahukan amal ketaatan kepada orang lain apabila dapat membuahkan maslahat dan menolak keburukan. Misalnya ucapan orang yang berpuasa, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Ucapan ini digunakan untuk menghindari kata-kata makian seseorang atau ajakan untuk bertengkar.

12. Bau mulut orang yang berpuasa kelak di hari kiamat lebih harum aromanya dari aroma minyak kesturi.

13. Orang yang berpuasa pasti bergembira dengan puasanya. Apalagi menjelang buka puasa, maka semua orang yang berpuasa bergembira karena makan, minum, jima’ yang halal yang tadinya tidak boleh dilakukan selama siang hari, menjadi boleh dengan terbenamnya matahari.

14. Kegembiraan orang yang berpuasa di saat berbuka jangan sampai berlebihan sehingga melanggar syari’at.

15. Orang yang berpuasa atau orang yang beribadah dengan ikhlas, jika ia gembira karena ibadahnya, maka kegembiraannya itu tidak mengurangi pahalanya sedikit pun di akhirat kelak.

16. Kegembiraan yang sempurna didapatkan ketika bertemu Allâh Azza wa Jalla, yakni ketika orang-orang yang sabar dan yang berpuasa diberikan pahalanya secara utuh tanpa dibatasi oleh hitungan.

Maraaji’:
1. Kutubus sittah, Musnad Ahmad, dan Shahih Ibni Khuzaimah.
2. Fat-hul Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, al-hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni.
3. Syarh Shahîh Muslim, Imam an-Nawawi.
4. Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
5. Bahjatu Qulûbil Abrâr bi Syarh Jawâmi’il Akhbâr, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di.
6. Syarh Riyâdhish Shâlihîn, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
7. Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhish Shâlihîn, Syaikh Salîm bin ‘Ied al-Hilâli.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR. al-Bukhâri, no. 2272 dan Muslim, no. 2743 [100].
[2]. HR. al-Bukhâri, no. 3467 dan Muslim, no. 2245
[3]. Diringkas dari Fat-hul Bâri (IV/107-108).
[4]. HR. al-Bukhâri, no. 1903 dan 6057, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[5]. Bahjatu Qulûbil Abrâr bi Syarh Jawâmi’il Akhbâr, hlm. 191-196, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dan Syarh Riyâdhis Shâlihîn,hlm. 267, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.

TIGA KUNCI SUKSES MENJADI ORANG BERTAKWA DIBULAN RAMADHAN






TIGA KUNCI SUKSES MENJADI ORANG BERTAKWA DIBULAN RAMADHAN

Oleh
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA



Allâh Azza wa Jalla telah mewajibkan ibadah puasa bulan Ramadhan atas umat Islam, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla juga telah mewajibkannya atas umat-umat sebelumnya. Fakta ini membuktikan betapa ibadah puasa sangat penting bagi kehidupan beragama setiap umat. Karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ibadah puasa atas kamu sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. [Al Baqarah/2:183].

Telah sekian kali kita berpuasa Ramadhan, walau demikian hingga kini nilai-nilai takwa dalam diri kita seakan tidak pernah bertambah. Padahal pada ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa dengan berpuasa idealnya kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Mungkinkah ayat di atas tidak lagi relevan dengan kondisi kehidupan umat manusia di zaman ini? Tentu sebagai seorang Muslim, kita meyakini bahwa ayat-ayat al-Qur`ân senantiasa relevan dengan berbagai perkembangan zaman hingga Hari Kiamat.

Hanya ada satu kemungkinan atau jawaban atas kondisi yang sedang terjadi pada diri kita saat ini. Adanya kekurangan dan khilaf dalam menjalankan ibadah puasa, sehingga nilai-nilai takwa kurang kita rasakan walaupun kita telah berpuasa untuk sekian lamanya.

Fenomena yang ada pada diri kita ini sudah sepantasnya cepat-cepat kita benahi, agar segera terjadi perubahan ke arah yang positif. Harapannya, puasa bulan Ramadhan yang akan datang, semoga kita masih berkesempatan mendapatkannya- kondisi kita telah berubah.

Sebatas renungan saya yang terbatas ini, ada tiga pelajaran penting yang dapat kita petik dari ibadah puasa agar nilai-nilai takwa segera terwujud dalam diri kita:

1. Puasa Adalah Media Training Center Bagi Pola Pikir Dan Perilaku Umat Islam.
Dalam kondisi haus dan lapar di siang hari selama bulan Ramadhan, seakan semua makanan dan minuman terasa lezat dan segar. Tak ayal lagi, bayangan menikmati lezat dan segarnya berbagai makanan mendorong kita untuk membuatnya dan membelinya. Bahkan sering kali kita hanyut dalam badai ambisi untuk menguasai semuanya seorang diri. Akibat dari sikap hanyut dalam badai ambisi ini, sering kali kita lupa daratan, sehingga membuat makanan melebihi dari kebutuhan.

Namun ketika matahari telah terbenam, hanya sedikit yang kita konsumsi dan bahkan banyak dari makanan yang terlanjur dibuat atau dibeli tidak tersentuh sama sekali.

Bahkan lebih parah dari itu, sebagian kita walaupun tetap bernafsu untuk makan, hingga seluruh rongga perutnya penuh, namun tetap saja masih tersisa hidangan yang melebihi apa yang telah ia konsumsi.

Perilaku semacam inilah salah satu faktor yang menjauhkan nilai-nilai takwa dari diri kita. Andai selama bulan puasa kita meluangkan waktu sedikit saja untuk memikirkan sikap yang benar dalam hal makan dan minum, niscaya kita terhindar dari kondisi-kondisi semacam yang diungkapkan di atas.

Untuk urusan makan dan minum, sejatinya yang benar-benar kita butuhkan jauh dari yang selama ini kita makan. Dan tentunya jauh dari apa yang selama ini kita olah atau kita beli. Buktinya, setiap hari kita membuang atau paling kurang terpaksa menyingkirkan banyak makanan hingga akhirnya rusak atau basi.

Andai kita semua mengindahkan teladan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan makan dan minum, niscaya kita semua menjadi orang-orang yang bertakwa. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرَّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْب ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يَقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidaklah ada kantung yang lebih buruk untuk engkau penuhi dibandingkan perutmu sendiri. Sejatinya engkau cukup memakan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang rusukmu. Andai engkau tetap ingin makan lebih banyak, maka cukuplah engkau memenuhi sepertiga perutmu dengan makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk ruang pernafasanmu.” [HR. at-Tirmidzi dan lainnya].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa dalam urusan makan, kita dihadapkan kepada tiga hal:

1. Ambisi.
2. Kemampuan memakan atau memiliki.
3. Kebutuhan yang sejati.

Hadits ini mengajarkan kepada kita agar dalam urusan makan dan minum kita mengikuti standar kebutuhan dan tidak menuruti kemampuan apalagi ambisi.

Untuk urusan kemampuan memakan, masing-masing perut kita memiliki daya tampung yang berbeda-beda, dan masing-masing kita mampu untuk memenuhi seluruh ruang perut kita. Namun, Anda juga sadar bahwa penuhnya ruang perut Anda pastilah mendatangkan masalah, bahkan menjadi ancaman tersendiri bagi kesehatan kita.

Demikan juga bila kita berbicara tentang ambisi, maka setiap dari kita memiliki ambisi masing-masing. Dan saya yakin Anda sendiri juga tidak memiliki batasan yang jelas apalagi menghentikan ambisi Anda terhadap makanan lezat dan minuman enak.

Kalaupun Anda telah menikmati makanan dan minuman yang paling lezat, namun tetap saja ambisi Anda terus melaju. Selama hayat masih di kandung badan, Anda pasti masih berselera dan berambisi untuk menikmati makanan dan minuman yang lezat. Hanya ada satu hal yang dapat menghentikan ambisi kita, yaitu ajal alias kematian.

Kondisi serupa juga terjadi pada ambisi kita pada ambisi kita terhadap berbagai kenikmatan dunia lainnya. Karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ ثَالِثٌ وَلَا يَمْلَأُ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Andai manusia telah memiliki dua lembah emas, niscaya ia masih berambisi untuk memiliki lembah ketiga. Dan tiada yang daat memenuhi mulut (menghentikan ambisi) manusia selain tanah kuburannya. Sedangkan Allâh senantiasa menerima taubat setiap orang yang sadar dan kembali kepada-Nya.” [Muttafaqun ‘alaih dan at-Tirmidzi].

Setiap sore hari, selama bulan puasa, Anda senantiasa berhadapan dengan ketiga hal di atas. Dan akhirnya sering kali Anda terpaksa berhenti pada batas kebutuhan Anda. Betapa tidak, setelah Anda meneguk segelas air sekejap, ambisi Anda dan kemampuan Anda seakan sirna. Ternyata segelas minuman mampu menjadikan Anda berpikir dengan jernih tentang makanan dan minuman. Sejatinya, makanan yang Anda butuhkan jauh lebih sedikit dari yang mampu Anda sajikan, apalagi dari yang Anda bayangkan.

Andai pelajaran penting ini benar-benar Anda hayati dan terapkan dalam hidup Anda, niscaya Anda menjadi orang yang bertakwa. Dengan semangat puasa ini, Anda mampu membedakan antara kemampuan dan kebenaran. Ternyata dalam hidup di dunia ini, kita semua dituntut untuk membedakan antara kebenaran dengan kemampuan apalagi ambisi. Tidak semua yang kuasa kita lakukan kemudian kita lakukan. Sebagai orang yang bertakwa, kita berpikir jernih dalam setiap kondisi sehingga senantiasa bersikap dengan benar dan berguna dalam setiap kondisi.

Pendek kata, dengan semangat puasa kita senantiasa sanggup mengontrol ucapan dan perbuatan kita. Anda senantiasa menimbang ucapan dan perbuatan Anda, walaupun dalam kondisi sulit, semisal ketika emosi Anda dipancing atau harga diri Anda dinodai orang lain.

Dahulu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan arahan kepada umatnya melalui hadits qudsi berikut:

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ امْرَؤٌ صَائِمٌ

“Ibadah puasa adalah sebuah perisai, sehingga bila engkau sedang berpuasa hendaknya engkau menghindari perbuatan keji, dan berteriak-teriak. Bila ada seseorang yang mencelamu, atau memusuhimu, hendaknya engkau (menahan diri dan) berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku orang yang sedang berpuasa”. [Muttafaqun ‘alaih].

Andai pengalaman-pengalaman yang terulang setiap kali berbuka puasa ini Anda terapkan pada setiap aspek kebutuhan Anda di dunia ini, niscaya Anda menjadi orang yang benar-benar bertakwa. Namun, apa boleh dikata bila ternyata selama ini pelajaran berharga ini selalu berlalu begitu saja, dan bahkan sering kali Anda keluhkan untuk kemudian Anda lupakan. Wallâhul Musta’ân.

2. Berpuasa Hanya Di Siang Hari.
Seluruh umat Islam di berbagai belahan bumi sepakat bahwa puasa dalam Islam hanya dijalankan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari, umat Islam masih tetap bebas untuk makan dan minum. Hal ini selaras dengan firman Allâh Azza wa Jalla berikut:

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allâh untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. [Al-Baqarah/2:187]

Ketentuan berpuasa pada siang hari sepanjang sejarah Islam tidak pernah ada yang menggugatnya. Padahal zaman telah berkembang, dan tuntutan perkembangan zaman semakin kompleks. Walau demikian, tetap saja umat Islam sepakat bahwa puasa dalam Islam hanya bisa dijalankan pada siang hari, sedangkan pada malam hari semuanya berhenti dari berpuasa. Semua umat Islam dalam urusan ini menerima dan patuh sepenuhnya dengan ketentuan yang diajarkan dalam al- Qur`ân dan Sunnah, tanpa ada rasa keberatan sedikit pun. Sebagaimana puasa wajib hanya dijalankan di bulan Ramadhan, dan pada hari pertama bulan Syawal seluruh umat Islam merayakan Idul Fitri dengan menikmati makanan dan minuman alias berhenti dari berpuasa.

Maha Besar Allâh Azza wa Jalla yang telah menjadikan berhenti dari makan dan minum di bulan Ramadhan sebagai ibadah dan sebaliknya menjadikan makan dan minum sebagai ibadah pada hari raya. Adanya perbedaan hukum makan dan minum ini menjadi bukti dan pelajaran penting bagi umat Islam agar dalam hidup terlebih dalam urusan ibadah sepenuhnya berserah diri dan patuh kepada tuntunan syariat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Karena itu salah satu indikator ibadah puasa yang baik adalah dengan menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur. Salah satu hikmah dari ketentuan ini ialah untuk semakin mengukuhkan arti kepatuhan kepada perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya n . Ketika fajar telah terbit seketika itu pula Anda berhenti dari makan dan minum, walaupun Anda masih berselera untuk makan atau minum. Sebaliknya, ketika matahari terbenam, saat itu pula Anda berhenti puasa, walau Anda masih kuat dan mungkin merasa lebih mantap atau hebat bila meneruskan puasa hingga malam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ

Umat Islam akan senantiasa berjaya selama mereka menyegerakan buka puasa mereka. [Muttafaqun ‘alaih].

Ibadah puasa Ramadhan seyogyanya menumbuhkan kesadaran untuk patuh sepenuhnya dengan syariat Allâh dalam segala aspek kehidupan kita. Hanya dengan cara inilah nilai-nilai takwa yang sejati dapat terwujud dalam diri Anda. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allâh dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.[An-Nûr/24:51]


3. Berpuasa Hanya Karena Allâh Azza Wa Jalla .
Ibadah puasa dengan menahan lapar dan haus semakin membuktikan betapa besar karunia Allâh Azza wa Jalla kepada umat manusia yang telah memberikan rezki makanan dan minuman. Nikmat Allâh Azza wa Jalla berupa makanan dan minuman semakin terasa nikmat di bulan Ramadhan, sehingga wajar bila bisnis kuliner di bulan Ramadhan laris manis.

Namun senikmat apapun makanan yang Anda miliki dan sesegar apapun minuman yang ada di hadapan anda, semuanya Anda tinggalkan sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Anda melakukan itu semua bukan karena sedang sakit, atau tidak mampu membelinya atau telah bosan mengkonsumsinya. Semua itu Anda lakukan hanya keran mengharapkan pahala dari Allâh Azza wa Jalla . Inilah satu-satunya semangat dan motivasi Anda dalam menjalankan ibadah puasa, sebagaimana ditegaskan dalam hadits qudsi berikut:

قَالَ اللهُ : "كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ".

Allah berfirman, “Seluruh amalan anak manusia adalah miliknya, kecuali puasa. Sejatinya puasa adalah milik-Ku, dan hanya Aku yang mengetahui balasannya”. [Muttafaqun ‘alaih].

Demikianlah seharusnya kita bersikap selama hidup di dunia. Semua aktifitas kita, baik ucapan atau perbuatan ditujukan hanya untuk Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allâh, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allâh)". [Al-An’âm/6:162-163].

Anda menyadari bahwa segala bentuk keuntungan dunia hanyalah semu dan sesaat lagi pastilah Anda tinggalkan. Sebagaimana Anda juga beriman bahwa segala manfaat dan mudharat ada di Tangan Allâh Azza wa Jalla . Kesadaran ini menjadikan Anda pupus pamrih dari selain Allâh Azza wa Jalla.

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا ﴿١﴾ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

Maha Suci Allâh yang telah menurunkan al-Furqân (al-Qur`ân) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya..” [Al-Furqân/25:1-2].

Pada saat yang sama, Anda juga beriman sepenuhnya bahwa keberadaan Anda di dunia ini untuk mengabdikan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Hanya dengan pengabdian kepada Allâh Azza wa Jalla inilah hidup Anda menjadi berarti. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴿٥٦﴾مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. [Adz-Dzâriyât/51:56-57]

Andai ketiga hal di atas benar-benar Anda aplikasikan dalam hidup anda, niscaya Anda menjadi orang yang bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla. Semoga Allâh Azza wa Jalla membenahi kondisi kita, dan memberikan kesempatan untuk menikmati indahnya puasa bulan Ramadhan di masa-masa yang akan datang, Âmîn. Wallâhu Ta’ala A’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

MENJAGA WAKTU DIBULAN RAMADHAN



MENJAGA WAKTU DIBULAN RAMADHAN


Sejatinya, waktu bagi manusia adalah umur mereka. Waktu merupakan modal bagi manusia untuk kehidupannya yang abadi kelak di akhirat, apakah dia akan berada surga yang penuh kenikmatan ataukah dalam neraka yang penuh siksa yang teramat pedih?

Waktu terus berjalan tak pernah terhenti. Siang dan malam datang silih berganti, berlalu dengan cepat mengurangi jatah usia dan semakin mendekatkan kepada waktu kematian. Dahulu siang dan malam menyertai kaum Nabi Nûh Alaihissallam , kaum ‘Âd, Tsamûd, dan beberapa generasi setelah mereka. Mereka telah menghadap Rabb mereka (meninggal) dan menerima balasan dari amal perbuatan mereka, sementara siang dan malam terus saja berlalu dan tetap baru menemani ummat dan generasi berikutnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. [al-Furqân/25:62]

Maka selayaknya seorang Mu’min mengambil dan memetik ibrah (pelajaran) dari perjalanan siang dan malam terutama pada bulan Ramadhan, bulan yang sangat berharga dan momen yang teramat agung. Berapa banyak Ramadhan yang telah kita lalui, datang lalu pergi begitu cepat. Siang dan malam terus berlalu membuat segala hal yang baru menjadi usang, yang tadinya jauh menjadi semakin dekat, jatah usia menjadi semakin berkurang. Perjalanan siang dan malam telah membuat anak kecil menjelma menjadi orang dewasa yang beruban, dan memusnahkan yang tua. Semua peristiwa ini mengingatkan kita akan perjalanan dunia yang semakin jauh sementara hari kiamat semakin mendekat.

Ali bin Abi Thâlib Radhyallahu anhu pernah mengatakan:

ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ

Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menghadap. Keduanya memiliki anak-anak, maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena sesungguhnya hari ini (maksudnya dunia) tempat beramal tanpa ada hisab, sedangkan besok (di akhirat) tempat hisab (perhitungan) tanpa ada kesempatan untuk beramal[1]

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan, "Sesungguh dunia bukanlah tempat menetap bagi kalian. Dunia adalah tempat yang Allâh tetapkan sebagai tempat yang fana’ (dia akan sirna-red), dan Allâh Azza wa Jalla menetapkan bahwa penduduknya akan meninggalkan dunia. Betapa banyak penghuni yang terikat (betah) tiba-tiba dia meninggal dunia, dan betapa banyak makmur hidupnya tiba-tiba meninggal dunia. Oleh karena itu, wahai para hamba Allâh, semoga Allâh Azza wa Jalla merahmati kalian, perbaguslah kepergian kalian darinya dengan membawa bekal terbagus yang kalian punya! Carilah perbekalan, sesungguhnya perbekalan yang paling baik adalah ketakwaan."[2]

Sesungguhnya manusia sejak terlahir ke dunia ini terus-menerus menghabiskan umur mereka, - bahkan sebagaimana dikatakan oleh imam Hasan al-Basyri rahimahullah ,"Manusia merupakan kumpulan hari-hari, setiap ada satu hari berlalu maka sebagian dari manusia itu pergi. Satu hari dari (umur) manusia menghancurkan satu bulan, satu bulan menghancurkan tahun, satu tahun menghancurkan umur. Setiap waktu yang berlalu dari seorang hamba, maka itu semakin mendekatkannya kepada ajal."

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu mengatakan, "Aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku atas satu hari yang telah berlalu, pada hari itu umurku berkurang, sementara amalanku tidak bertambah."

Ini menunjukkan keseriusan beliau Radhiyallahu anhu dalam menjaga waktu.
Imam al-Hasan rahimahullah mengatakan, "Saya pernah bertemu beberapa kaum, perhatian mereka terhadap waktu-waktu mereka melebihi perhatian kalian terhadap dirham dan dinar-dinar kalian."

Oleh karena itu, barangsiapa melewati harinya bukan untuk menunaikan apa yang menjadi kewajibannya, atau bukan untuk mencapai hal-hal yang terpuji, atau tidak pula untuk mendapatkan ilmu, maka sungguh dia telah mendurhakai harinya, menzhalimi diri dan harinya.

Sesungguhnya siang dan malam dia merupakan modal manusia dalam hidupnya, sedangkan keuntungan (yang hendak driraihnya) adalah surga, kerugian (yang ingin dihindari)nya adalah neraka. Waktu satu tahun bagaikan sebuah pohon, bulan-bulan bagaikan dahannya, hari-hari bagaikan rantingnya, sementara jam bagaikan dedaunannya, dan nafas yang dihembuskan bagaikan buahnya. Barangsiapa nafasnya digunakan dalam ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla maka buah yang dihasilkan bagus, penuh berkah, dan manis rasanya. Sebaliknya orang yang nafasnya digunakan untuk bermaksiat pada Allâh Azza wa Jalla , maka buah yang dihasilkan pahit.

Banyak nash dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan pentingnya waktu dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar umatnya memanfaatkannya serta tidak menyia-nyiakannya. Banyak juga nash yang menjelaskan bahwa seorang hamba akan ditanya tentang waktunya kelak pada hari kiamat. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah yang lima sebelum datangnya yang lima: usia muda sebelum datang usia tua, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu dan masa hidupmu sebelum datang masa kematian.[3]

Dari Abi Barzah al-Aslami Radhiyallahu anhu, beliau Radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أفنَاهُ ؟ وَعَنْ عِلمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أيْنَ اكْتَسَبَهُ ؟ وَفيمَ أنْفَقَهُ ؟ وَعَنْ جِسمِهِ فِيمَ أبلاهُ ؟

Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya, "Untuk apa dihabiskan?" Tentang ilmunya, "Dalam hal apa ilmunya diamalkan?" Tentang hartanya, "Dari mana dia mendapatkannya dan diinfakkan dimana?" Tentang jasadnya, "Dipergunakan untuk apa?"[4]

Dalam sebuah hadits shahih lainnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua nikmat yang banyak sekali orang tertipu dengannya, nikmat sehat dan waktu luang.[5]

Maka hendaknya pada bulan yang mulia, penuh berkah serta momen agung ini, kita memanfaatkan segala yang bisa kita manfaatkan untuk melakukan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla .

Hendaknya kita memanfaatkan masa hidup ini sebelum kematian datang menjemput secara tiba-tiba.

Orang-orang yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan kesehatan, hendaknya mereka memanfaakan kesehatan mereka sebelum Allâh Azza wa Jalla menguji mereka dengan penyakit yang akan menghalangi dan melemahkan mereka.

Orang-orang yang Allâh Azza wa Jalla berikan kelonggaran waktu, hendaknya mereka memanfaatkan waktu luang tersebut sebelum mereka tersibukkan oleh berbagai kesibukan yang menghalangi mereka dari beribadah.
Para pemuda hendaknya memanfaatkan waktu muda mereka sebelum datang masa tua yang identik dengan kerapuhan, kelemahan dan berbagai macam penyakit.

Orang-orang kaya yang telah Allâh anugerahi rezeki melimpah, hendaknya memanfaatkan kekayaan yang mereka miliki sebelum didera kemiskinan dan dikejar berbagai kebutuhan.

Hendaknya mereka semua memanfaatkan momen yang agung ini supaya mereka bertambah dekat dengan Allâh Azza wa Jalla , dan supaya lebih terbuka peluang untuk mendapatkan berkah dan rahmat Allâh dengan cara bertaubat kepada-Nya seraya memperbanyak perbuatan baik dan menjauhi perbuatan yang terlarang.

Ibnu Rajab rahimahulllah berkata, "Tidak ada satu momen pun diantara momen-momen yang memiliki keutamaan kecuali ada padanya tugas ketaatan yang bisa digunakan oleh para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla ; dan pada musim-musim tersebut Allâh Azza wa Jalla juga memiliki tiupan-tiupan yang dengan keutamaan dan kasih sayang Allâh yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang bisa memanfaatkan momen-momen bulanan, harian dan jam-jaman untuk mendekatkan diri kepada Allâh dengan melakukan ketaatan yang ada pada momen-momen tersebut. Semoga dia mendapatkan salah satu dari tiupan-tiupan yang Allâh miliki sehingga dengan tiupan tersebut dia akan mendapatkan kebahagian, dan aman dari jilatan api neraka)[6]

Barangsiapa menyia-nyiakan waktu luang yang dia miliki pada momen-momen seperti ini dan dia tidak memanfaatkan kesehatannya pada bulan yang mulia ini, maka kapan lagi dia akan bisa mengambil manfaat dan beristiqamah?!

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, "Barangsiapa menggunakan kesehatan dan waktu luang yang dimilikinya untuk ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla maka dia adalah orang yang patut ikuti. Dan barangsiapa menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allâh Azza wa Jalla maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh saat sibuk, dan sehat akan berganti sakit akan salah satu tanda kemurkaan (Allâh)." Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Menyianyiakan waktu lebih dahsyat dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutus hubungan antara kamu dengan Allâh Azza wa Jalla dan akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan (hubungan) antara kamu dengan dunia dan penduduknya."[7]

Seorang Muslim seharusnya tidak tergoda dengan dunia karena sesungguhnya yang sehat di dunia pasti akan sakit, yang baru akan menjadi usang, kenikmitan dunia akan sirna, dan yang muda akan menjadi tua. Seorang Muslim di dunia berjalan menuju akhirat. Usianya yang dimiliki terus berkurang, sementara amalan-amalannya terus dicatat dan kematian akan datang tiba-tiba.

Barangsiapa menanam kebaikan maka dia akan memetik pahala dan kebaikan, sebaliknya orang yang menyemai keburukan maka dia pasti akan merasakan getirnya kerugian dan pasti akan ditimpa penyesalan. Semua orang pasti akan memetik buah dari tanaman yang dia tanam.

Wahai Allâh! Limpahkahlah berkah-Mu kepada kami! Berkahilah usia-usia kami dan amal ibadah kami! Berilah petunjuk kepada kami dan berikanlah taufiq kami agar kami bisa memanfaatkan waktu-waktu yang ada untuk melakukan amal-amal shalih!

Ya Allâh! Tuangkanlah ke dalam hati-hati kami rasa cinta terhadap perbuatan-perbuatan baik dan benci terhadap semua bentuk kemungkaran!

Ya Allâh! Jadikanlah ibadah puasa yang kami lakukan sebagai wasilah untuk meraih ridha-Mu dan meraih surga-Mu

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri secara mu’allaq dalam kitab Riqâq
[2]. Diriwayatkan oleh Abu Nuaim di dalam Hilyatul Auliya ( 5/292 )
[3]. Riwayat Imam Hâkim dalam al-Mustadrak, no. 7846
[4]. Riwayat Imam Tirmizi, no. 2602
[5]. Riwayat al-Bukhâri ( 6412 )
[6]. Kitab Lathâ'if al-Ma’ârif, Ibnu Rajab, hlm. 6
[7]. Kitab Al-fawaid Milik Ibnu Qoyyim ( hal:44 )

BULAN RAMADHAN ANUGRAH TERAGUNG





BULAN RAMADHAN ANUGRAH TERAGUNG

Oleh
Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin hafizhahumallâh



Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kepada para hamba-Nya nikmat yang sangat banyak dan tidak terhitung. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Dan jika kamu menghitung nikmat Allâh, kamu tidak akan dapat menghitungnya [Ibrahim/14:34]

Nikmat-nikmat itu ada yang bersifat mutlak dan ada pula yang bersifat muqayyad (terikat); ada yang bersifat keagamaan dan ada pula yang bersifat keduniaan. Allâh Azza wa Jalla menunjukkan para hamba-Nya kepada kenikmatan- kenikmatan tersebut lalu Allâh Azza wa Jalla juga membimbing mereka untuk meraih kenikmatan tersebut. Allâh Azza wa Jalla juga menyeru para hamba untuk masuk ke dalam dâris salâm (surga). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allâh menyeru (manusia) ke dârus salâm (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). [Yûnus/10:25]

Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kesehatan akal dan fisik kepada mereka, memberikan rezeki yang halal, menundukkan untuk mereka apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Semua anugerah ini berasal Allâh Azza wa Jalla diberikan kepada para hamba-Nya agar mereka bersyukur kepada-Nya, beribadah hanya kepadanya serta tidak menyekutukannya. Dengan melakukan itu semua, mereka akan meraih ridha Allâh Azza wa Jalla dan bisa selamat dari siksa-Nya.

Salah satu contoh nikmat agung yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya yang beriman yaitu disyari'atkannya buat mereka puasa pada bulan yang penuh berkah yaitu Ramadhan. Allâh Azza wa Jalla menjadikan puasa ini sebagai salah satu rukun agama Islam. Oleh karena puasa itu merupakan nikmat agung yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada hamba-Nya, maka Allâh Azza wa Jalla menutup ayat yang mengandung perintah untuk puasa pada bulan ramadhan dengan firman-Nya:

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Supaya kamu bersyukur [al-Baqarah/2:185]

Karena bersyukur merupakan tujuan dari penciptaan makhluk dan pemberian beragam kenikmatan.

Hakikat syukur adalah mengakui nikmat tersebut datang dari Allâh Azza wa Jalla dibarengi dengan ketundukan kepada-Nya, merendahkan diri dan mencintai-Nya.

Barangsiapa tidak mengetahui suatu nikmat maka dia tidak bisa bersyukur.
Barangsiapa mengetahui sebuah kenikmatan akan tetapi dia tidak mengetahui Pemberinya maka dia juga tidak akan bisa mensyukurinya.

Barangsiapa mengetahui kenikmatan dan mengetahui Pemberinya namun dia mengingkari kenikmatan tersebut maka itu artinya dia telah kufur terhadap nikmat tersebut.

Barangsiapa mengetahui kenikmatan dan mengetahui Pemberinya dan dia juga mengakui kenikmatan tersebut, hanya saja dia tidak tunduk kepada-Nya, tidak mematuhi-Nya, dan tidak mencintai Pemberinya serta tidak ridha dengan-Nya, maka dia belum dianggap bersyukur.

Barangsiapa mengetahui kenikmatan dan mengetahui pemberinya lalu dia tunduk kepada-Nya, mencintai Permberi nikmat, ridha terhadap-Nya serta menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang dicintai-Nya dan dalam rangka menaati-Nya, maka dialah orang yang dikatakan bisa bersyukur terhadap sebuah kenikmatan.

Dari penjelasan ini, tampak jelas bahwa syukur itu terbangun di atas lima kaidah :

• Ketundukan orang yang bersyukur kepada Allâh
• Mencintai-Nya,
• Mengakui nikmat yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepadanya,
• Memuji-Nya karena Dia telah memberikan nikmat kepadanya,
• Menggunakan nikmat tersebut dalam rangka mentaat-Nya,

Lima hal ini merupakan pondasi syukur. Ketika salah satu dari lima pondasi ini hilang atau tidak ada, maka rasa syukur tersebut tidak dianggap atau nilainya berkurang. Dan semua orang yang berbicara tentang syukur serta pengertiannya, maka perkataannya tidak akan pernah keluar dari lima hal di atas[2].

Dalam upaya merealisasikan rasa syukur ini, manusia atau para hamba Allâh Azza wa Jalla terbagi menjadi berbagai tingkatan tergantung sejauh mana mereka mengenal Pencipta yang Mahaagung, Pemberi nikmat yang Mahamulia. Diantara mereka ada yang memahami nama dan sifat Allâh Azza wa Jalla secara terperinci, memahami betapa agung ciptaan-Nya dan perbutatan-NYa, mengetahui betapa indah ciptaan Allâh. Orang seperti ini hatinya akan penuh dengan kecintaan kepada Allâh, lisannya akan dipenuhi dengan pujian, anggota badannya akan selalu melakukan hal-hal yang diridhai oleh Allâh. Dia mengakui semua nikmat yang diberikan kepadanya, dan mempergunakannya pada hal-hal yang dicintai dan diridhai oleh Allâh Azza wa Jalla. Diantara manusia juga ada yang tenggelam dalam kelalaian dan kejahilan tentang Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang seperti ini akan semakin jauh dari Allâh Azza wa Jalla dengan sebab pengingkaran yang dia lakukan terhadap nikmat Allâh, atau dia tidak mengingkarinya akan tetapi dia tidak mau tunduk dan patuh terhadap perintah dan syari’at Allâh Azza wa Jalla .

Bulan Ramadhan yang penuh berkah merupakan anugrah ilahi kepada seluruh hamba, agar mereka yang beriman bertambah keimanan mereka, sementara orang-orang yang melampui batas (yang melakukan berbagai pelanggaran-red) serta yang meremehkan syari'ah bisa bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla mengistimewakan bulan ini dengan berbagai kekhususan dan keistimewaan yang tidak ada pada bulan yang lainnya.

Berikut akan disebutkan beberapa keistimewaan bulan ini dengan harapan agar kita bisa bisa memahami betapa agung nikmat bulan Ramadhan ini supaya kita semakin tergerak untuk bersyukur dengan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya.

a. Bulan Ramadhan teristimewa dengan al-Qur’ân, karena pada bulan ini al-Qur’ân diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) [al-Baqarah/2:185]

Dalam ayat tersebut, Allâh Azza wa Jalla menyanjung bulan Ramadhan diantara bulan-bulan lainnya, dengan memilihnya sebagai waktu diturunkannya al-Qur’an, bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa bulan Ramadhân merupakan waktu diturunkan seluruk kitab-kitab Allâh Azza wa Jalla kepada para nabi. Dalam Musnad karya Imam Ahmad dan Mu’jamul Kabîr karya Imam Thabrani dari shahabat Wâtsilah bin ‘Asqa’, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُنْزِلَتِ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

Shuhuf Nabi Ibrâhim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat pada hari keenam bulan Ramadhan, sedangkan Injil pada hari ketiga belas dari bulan Ramadhan, sedangkan al-Qur’ân diturunkan pada hari kedua puluh empat dari bulan Ramadhan[3].

Hadits ini menunjukkan bahwasanya kitab-kitab samawiyah diturunkan kepada para rasul di bulan Ramadhan, hanya saja kitab-kitab itu diturunkan sekaligus (tidak bertahap), sementara al-Qur’ân karena kemulian dan keagungan yang dimilikinya, dia diturunkan sekaligus ke Baitil Izzah di langit dunia (pertama) dan itu terjadi saat lailatul qadar pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'ân) pada malam kemuliaan [al-Qadr/97:1]

Dan firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [ad-Dukhân/44:3]

Kemudian setelah itu, diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap. Ini menunjukkan keistimewaan bulan Ramadhan. Dan bulan ini menjadi istimewa dengan sebab al-Qur’ân, yang mana pada bulan ini ummat manusia mendapakan keutamaan yang besar dari Allâh, yaitu turunnya wahyu Allâh Azza wa Jalla yang membawa hidayah bagi ummat manusia, bagi kebaikan mereka di dunia maupun di akhirat. al-Qur’an juga merupakan pembeda antara petunjuk dan kesesatan, pembeda antara haq dan bathil, antara cahaya dan kegelapan.

b. Bulan Ramadhan menjadi istimewa karena padanya ada lailatul qadar yang Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar (malam kemuliaan) itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [al-Qadr/97:2-3]

Maksudnya adalah amalan yang dilakukan pada saat lailatul qadr lebih baik daripada amalan yang dilakukan pada seribu bulan selain bulan Ramadhan.

c. Bulan Ramadhan menjadi istimewa juga karena ada ibadah puasa. Puasa pada bulan ini bisa menjadi sebab terhapusnya dosa. Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhâri dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni [4]

Yang dimaksud dengan penuh keimanan adalah keimanan yang penuh kepada Allâh Azza wa Jalla dengan mengharapkan pahala dan ganjaran dari-Nya, tidak benci terhadap kewajiban puasa serta tidak ragu terhadap pahala yang akan didapatkannya. Orang seperti ini, akan diampuni semua dosa yang telah lalu oleh Allâh Azza wa Jalla. Disebutkan dalam Shahîh Muslim dari shahabat Abi Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّراتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ

Shalat lima waktu, antara Jumat yang satu dengan yang lainnya, dan antara Ramadhan yang satu dengan yang lainnya, dosa diantara semua itu akan diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla , jika dosa-dosa besar telah dijauhi[5]

Pada bulan ini juga para syaitan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan Allâh Azza wa Jalla pada setiap malam dari bulan Ramadhan membebaskan banyak orang dari api neraka.

d. Pada bulan ini juga Allâh Azza wa Jalla memenangkan kaum Muslimin atas musuh-musuh mereka diperang Badr, padahal jumlah musuh pada saat itu tiga kali lipat dari jumlah kaum Muslimin. Pada bulan ini juga, Allâh Azza wa Jalla menaklukkan kota Mekah melalui tangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mensucikan kota Mekah dari kotoran berhala, dan ada tiga ratus enam puluh patung yang berada di Ka’bah dan sekitarnya. Rasulullah menghancurkan patung-patung tersebut seraya membaca:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah, "Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap". Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. [al-Isrâ’/17:81]

(Dengan ini semua), maka bulan Ramadhan merupakan bulan untuk bersungguh-sungguh dan bulan untuk beramal, bulan ibadah serta jihad di jalan Allâh.

Dengan keutamaan yang dimiliki oleh bulan ini serta berbagai anugrah yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya yang beriman pada bulan ini, maka sudah selayaknya para hamba mengagungkan bulan ini dan menjadikan bulan ini sebagai momen untuk beribadah serta menambah bekal akhirat.

Ya Allah Azza wa Jalla jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengerti kedudukan dan kehormatan bulan Ramadhan ini! Berikanlah taufiq kepada kami untuk melakukan amalan-amalan yang mendatang ridha-Mu! Sesungguhnya Engkau maha Mendengar doa

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Tharîqul Hijratain, Ibnul Qayyim, hlm. 172
[2]. Madârijus Sâlikin, Ibnul Qayyim, 2/244
[3]. Musnad Imam Ahmad, 4/107, no. 16921; at-Thabrani, no. 17646. lafazh ini milik Imam Ahmad
[4]. Muttafaq 'alaih; Imam al-Bukhâri, no. 2014 dan Imam Muslim, no. 760
[5]. HR. Imam Muslim, no. 233

Article's :

QAULAN-SADIDA.BLOGSPOT.COM

SEKOLAH YUUK..!!