Minggu, 07 Juli 2013

BERPUASA IKUT PEMERINTAH, NAMUN APAKAH PEMIMPIN YANG BURUK WAJIB DIIKUTI..?




BERPUASA IKUT PEMERINTAH,
NAMUN APAKAH PEMIMPIN YANG BURUK WAJIB DIIKUTI..?

==================
Abu Usaamah Sufyan Bin Ranan
------

‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu berkata:

“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)

Dalil diatas sebenarnya telah jelas menyambar bagaikan gelombang lautan dahsyat untuk orang-orang yang berpaham mengkafirkan pemerintah, dengarlah wahai saudaraku... dengarlah... jurus ngeyel apa lagi yang kalian letakan untuk memposisikan penguasa negeri ini dengan mutlak tidak menta'atinya.

Lihatlah Rsulullah telah mewanti-wanti jauh-jauh hari akan ada penguasa yang memang tidak diatas jalan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam artinya jauh dari penerapan syariat islam namun apa fatwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam :

“Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)

dengarlah bagi yang memiliki pendengaran..
tundukan hati bagi yang masih mempunyai hati...
langkahkan kaki ke jejak yang lurus bagi yang mempunyai kaki..
akankah kita tetap mengeyel dan menganggap penguasa negeri ini kafir..?
Subhanallah...

Ketahuilah..
Salahkan diri-diri kita...
salahkan jiwa-jiwa kita...
sesungguhnya penguasa tergantung pada rakyatnya..
penguasa adalah cerminan rakyatnya...

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Miftah Daaris Sa’adah, mengatakan :
"dizaman kita, tidak mungkin terdapat Umar bin Abdul Aziz, tidak mungkin ada muawiyyah bin abi sufyan, karena penguasa adalah cerminan rakyatnya"
beliau berkata "Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak"

Lihat saudaraku... Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah hidup pada abad ke 7 hijriyyah, abad ke 7 hijriyyah, sudah menyatakan pada zman beliau tidak ada penguasa yang seadil umar bin abdul aziz, apa yang dilakukan beliau berdemo..? tidak.. kudeta..? tidak.. beliau dalah ulama alim tentu mengikuti tauladannya Rasululllah shalallahu 'alaihi wa sallam "“Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).”

Anehnya.. syari'at islam selalu ditunjukan kepada penguasa, bukan pada diri- diri masing-masing tidakah kita tahu dan hafal hadits dimana Nabi shalalllahu 'alaihi wa sallam bersabda :

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 844 dan Muslim no. 1829)

Maka syariat islam bukan hanya dibebankan pada pemerintah, tapi pada diri-diri kita, mka prioritas bebankan syariat pada diri dan keluarga kita dan menjadi hal lucu jika ada oknum yang senantiasa menghujat pemerintah untuk penegakan syariat akan tetapi istrinya tidak dibimbing, anaknya tidak di bina, dia hanya sibuk orasi-orasi,,,, ini musibah...!!!

Berbicara penegkn syariat islam adalah berbicara ilmu bukan kebodohan, maka penegakn syariat islam tidak cukup dengan famlet-famlet, spanduk besar, slogan tegakan khilafah-tegakan khilafah demi Allah tidak cukup, apalagi terjun ke partai...
maka penegakan syariat harus dilakukan dengan ilmu artinya kita belajar agama dan ini merupakan jihad yang agung pada zaman ini.

maka menjelang detik-detik ramadhan hendknya kita berintropeksi dirilah, tidk perlu rakyat senantiasa menylahkan penguasa, karena semuanya bermula dari rakyatnya, jika rakyatnya buruk berbuat syirk, bid'ah dan maksiat maka begitupulalah penguasanya, maka yang harus dibenahi adalah diri kita masing-masing, dan janganlah kita berharap pada zaman kita hadir umar bin khathab, jangan berharap hadirnya umar bin abdul aziz, krna rakyat pada zamanya dua umar bukan seperti rakyatnya zaman kita sebagaimana Ali Ibnu abi thalib berkata kepada khawarij :

“Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau? Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah,rakyatnya adalah aku, utsman dan para shahabat, sedangkan pada zaman aku rakyatnya adalah kalian-kalian [pengerusak]”[Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51.].

maka menjelang Ramadhan tidak ada lagi yang berkata penguasa kita buruk bagaimana kita ta'ati... tidak ada lagi yang beragumen pemerintah korup koq dita'ati..? cukup hadits Rasulullah :

“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)

maka dari itu Ramadhan demii syiar yang agung adalah kebersamaan, kebersamaan dalam persatuan islam dibawah naungan penguasa.

Rasulullah bersabda
“Shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.”. wallahu'alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Article's :

QAULAN-SADIDA.BLOGSPOT.COM

SEKOLAH YUUK..!!