Jumat, 01 April 2011

SETETES AIR DARI SYAIKH ABDUL MUHSIN (1)


LAGI SETETES AIR DARI SYAIKH ABDUL MUHSIN UNTUK AHLUSSUNNAH
( kepedulian ulama senior kepada ahlussunnah agar tidak bertikai )

Penulis : al Muhaddits Asy Syaikh Abdul Muhsin AL 'Abbad
( GURU Syaikh Rabi' Bin Hadi al Madkhali ) =semoga alloh menjaga keduanya=

Saya telah menulis pembahasan seperti ini sebelumnya dalam
risalah yang berjudul "Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis
Sunnah", yang dicetak pertama kali tahun 1424 kemudian
dicetak lagi pada tahun 1426, lalu dicetak kembali di dalam
kumpulan buku dan risalah saya (Majmû’ al-Kutub war Rosâ'il
Syaikh al-Abbâd) juz VI hal. 327-381 pada tahun 1428. Saya
paparkan di dalamnya sejumlah besar teks ayat al-Qur'an,
sunnah dan ucapan ulama muhaqqiq (peneliti) dari kalangan
ahlus sunnah. Di dalam risalah ini, setelah muqoddimah
terkandung beberapa bab pembahasan sebagai berikut :
• Nikmat berbicara dan lisan
• Menjaga lisan di dalam berbicara kecuali dalam hal kebaikan
9
• Prasangka dan tajassus (mencari-cari kesalahan)
• Ramah dan lemah lembut
• Sikap ahlus sunnah terhadap seorang alim yang jatuh kepada
kesalahan maka beliau diberikan udzur tidak malah dibid'ahkan
dan dihajr (diboikot)
• Fitnah tajrih (mencela) dan hajr pada sebagian ahli sunnah di
zaman ini dan jalan keluarnya
• Bid'ah menguji manusia dengan perseorangan
• Peringatan dari fitnah tajrih dan tabdi' (vonis bid'ah) pada sebagian
ahli sunnah di zaman ini.
Namun amat disayangkan, akhir-akhir ini malah keadaannya
semakin runyam dengan adanya sebagian ahlus sunnah yang
sibuk dengan celaan, vonis bid'ah hingga muncul sikap saling
menghajr. Pertanyaan seperti ini senantiasa berulang-berulang
ditanyakan : "Apa pendapatmu terhadap fulan yang menvonis
bid'ah fulan", "apakah saya membaca buku si fulan yang
dibid'ahkan oleh Fulan?"
Bahkan sampai-sampai ada sebagian penuntut ilmu junior
berkata
terhadap sesama mereka : "apa sikapmu terhadap
fulan yang dinvonis bid'ah fulan? Kamu harus punya sikap
terhadap hal ini, jika tidak kamu akan kami tinggalkan!!!" Hal ini
semakin diperburuk dengan terjadinya hal seperti ini di sebagian
negara Eropa dan semisalnya yang para penuntut ilmu ahlis
10
sunnah di dalamnya memiliki perbendaharaan ilmu yang masih
sangat minim, padahal mereka lebih sangat membutuhkan
untuk mencari ilmu yang bermanfaat dan melepaskan diri dari
fitnah saling menghajr yang disebabkan oleh sikap taklid di
dalam tajrih (mencela).
Manhaj seperti ini serupa dengan thoriqoh Ikhwanul Muslimin,
yang mana pendirinya mengatakan tentang jama'ahnya :
...
!!
"Dakwah kalian lebih utama untuk didatangi manusia bukan
mendatangi seseorang... Karena jama'ah ini mengumpulkan
semua kebaikan, sedangkan selain (jama'ah ini) tidak lepas dari
kekurangan" (Mudzakkarât ad-Da'wah wad Dâ'iyah hal 232 cet.
Dâr asy-Syihâb karya Syaikh Hasan al-Bannâ)
Beliau juga berkata :
!!
"Sikap kita terhadap dakwah-dakwah yang beraneka ragam yang
memampoi batas di zaman ini, yang memecah belah hati dan
memporakporandakan fikiran, adalah kita timbang dengan
11
timbangan dakwah kita, apabila selaras dengan dakwah kita maka
marhaban (kita sambut), dan apabila menyelisihinya, maka kita
berlepas diri darinya!!!" (Majmû’ah ar-Rosâ'il Hasan al-Bannâ
hal. 240 cet. Dar ad-Da'wah th. 1411)

Termasuk kebaikan bagi mereka, para penuntut ilmu, ketimbang
sibuk dengan fitnah ini, lebih baik mereka sibukkan diri dengan
membaca buku-buku yang bermanfaat karya ahlus sunnah,
terutama buku-buku ulama zaman ini seperti fatwa-fatwa syaikh
kami ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz, fatwa-fatwa Lajnah ad-Dâimah lil
Iftâ`, karya tulis Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn dan selainnya. Karena dengan demikian mereka akan memperoleh ilmu yang bermanfaat dan selamat dari "qîla wa qôla" (desas-desus) dan
memakan daging saudaranya sesama ahlus sunnah.
Ibnul Qoyyim berkata di dalam "al-Jawâbul Kâfi" (hal. 203) :
̄
12
­
"Sungguh aneh, ada orang yang mudah di dalam menjaga dan
memelihara dirinya dari memakan yang haram, berbuat aniaya,
berzina, mencuri, minum khamr, memandang suatu yang haram
dan perbuatan haram lainnya, namun ia berat di dalam menjaga
gerakan lisannya. Sampai-sampai dapat anda lihat, ada seorang
lelaki yang dipuji agamanya, zuhudnya dan ibadahnya, namun ia
berbicara dengan suatu ucapan yang dimurkai Alloh, yang ia
anggap remeh. Dengan satu kata dari ucapan tersebut derajatnya
turun sejauh timur dan barat. Betapa banyak orang yang anda
lihat, menjaga diri dari perbuatan keji dan aniaya, namun
lisannya gemar berbuat fitnah terhadap kehormatan manusia,
baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dan ia
tidak mempedulikan apa yang diucapkannya."
Apabila didapati ada ucapan seorang ahli sunnah yang masih
global dan terperinci, maka hendaknya berbaiksangka
dengannya dan membawa ucapannya yang global kepada yang
terperinci, sebagaimana ucapan 'Umar Radhiyallâhu ‘anhu :
"Janganlah sekali-sekali kamu berprasangka terhadap ucapan
yang disampaikan saudara mukminmu melainkan dengan
persangkaan yang baik dan kamu dapati ucapannya memang bisa
dibawa kepada kemungkinan yang baik",
13
Ucapan ini disebutkan oleh Ibnu Katsîr dalam menafsirkan Surat
al-Hujurât.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitab ar-Radd
'alal Bakri (hal 324) :

"Suatu hal yang sudah diketahui bersama bahwa ucapan yang
terperinci itu menentukan ucapan yang global, dan ucapan yang
jelas (shârih) itu lebih didahulukan daripada ucapan yang bersifat
samar (kinayah)."

Beliau rahimahullâhu juga berkata di dalam kitab ash-Shôrimul
Maslûl (2/512) :
"Mengambil pendapat yang masih bersifat umum dari madzhab-
madzhab ahli fikih tanpa kembali kepada apa yang bisa
menafsirkan perkataan merka dan yang dikehendaki oleh ushul
madzhab mereka, akan menghantarkan kepada madzhab yang
buruk"
Beliau juga berkata dalam kitab al-Jawâbush Shahîh liman
Baddala Dînal Masîh (4/44) :
14

"Wajib menafsirkan ucapan seseorang dengan ucapannya yang
lain dan mengambil perkataannya dari sana dan sini, sehingga
bisa diketahui dari kebiasaannya apa yang dimaksudkan dan
dikehendaki dari lafal yang ia kemukakan itu."
Orang yang mengkritik dan dikritik itu tidak ma'shum dan tidak
ada seorangpun dari mereka yang lepas dari kekurangan dan
kesalahan. Mencari kesempurnaan itu memang yang diinginkan,namun jangan sampai hal ini mengecilkan bahkan menghilangkan kebaikan pada selainnya. Karena itu tidak layak
mengatakan : "Kalau tidak sempurna berarti tidak ada", atau
"Kalau bukan cahaya sempurna berarti kegelapan", bahkan
seharusnya menjaga cahaya yang kurang tersebut dan berupaya
untuk menambahnya. Apabila tidak bisa mendapatkan dua
lentera atau lebih, maka satu lentera cahaya itu lebih baik
daripada kegelapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Article's :

QAULAN-SADIDA.BLOGSPOT.COM

SEKOLAH YUUK..!!