Senin, 01 Oktober 2012

BEKAL SEORANG USTADZ


BEKAL SEORANG USTADZ

Ustadz Abu Yahya Marwan Bin Musa

Bekal yang perlu disiapkan seorang da'i (juru dakwah) dalam berdakwah adalah sebagai berikut:

1. Memiliki ilmu dan mengamalkannya

Perlu diketahui, bahwa sebelum berdakwah, seseorang harus memiliki ilmu dan mengamalkan ilmu tersebut. Demikianlah keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam; di mana Beliau diutus Allah di atas hudaa (ilmu) dan diinul haq (amal saleh),

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (Terj. QS. Ash Shaff: 9)

Mendahulukan ilmu kemudian amal adalah manhaj (jalan yang ditempuh) oleh para nabi dalam berdakwah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

“Katakanlah, "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik." (Terj. QS. Yusuf: 108)

Bashirah atau hujjah yang nyata di sini adalah ilmu yang yakin; yang tidak disusupi syubhat dan keraguan, ilmu ini tegak di atas dalil naqli (Al Qur’an dan As Sunnah). Oleh karena itu, hendaknya seorang da’i benar-benar paham dan yakin dengan ilmu yang diketahuinya serta mengamalkannya.

Di antara ulama ada yang menafsirkan bashirah di ayat tersebut dengan memiliki ilmu terhadap tiga perkara:

1. Memiliki ilmu terhadap dakwah yang diserukannya.

Oleh karena itu, seorang da'i tidak berbicara kecuali jika diketahuinya bahwa hal itu benar, atau menurut perkiraannya yang kuat bahwa seruannya benar, jika memang yang diserukan itu masih dalam perkiraan. Adapun jika ia berdakwah di atas kejahilan, maka kerusakan yang diakibatkan masih jauh lebih besar daripada perbaikan yang dilakukannya.

2. Mengetahui kondisi mad'u (orang yang didakwahi).

3. Mengetahui uslub (cara) berdakwah.

Mengetahui kondisi mad'u dimaksudkan agar para da'i dapat memposisikan manusia pada tempatnya. Tidak mungkin seorang da'i menyamaratakan antara berdakwah kepada orang yang masih awam sama sekali dengan yang sudah mengetahui, namun tetap berpaling.

Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka[i], dan katakanlah, "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." (Terj. QS. Al 'Ankabut: 46)

Terhadap orang-orang yang zalim, maka kita tidak membantah dengan cara sama dengan yang lain, bahkan membantah mereka dengan cara yang layak bagi mereka.

Demikian juga seorang da'i harus mengetauhui uslub (cara) berdakwah. Apakah dalam berdakwah ia menampakkan kekerasan dan kemarahan serta mengkritik langsung aliran yang mereka ikuti ataukah dalam berdakwah kepada manusia ia menampakkan kelembutan serta menghias seruannya agar mereka mau menyambutnya tanpa perlu menyudutkan langsung aliran mereka?

Perhatikanlah firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Nabi-Nya dan sekaligus kepada hamba-hamba-Nya, "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. " (Terj. QS. Al An'am: 108)

Kita semua mengetahui, bahwa memaki sesembahan kaum musyrik adalah perkara yang diperintahkan, karena memang penyembahan kepada mereka adalah hal yang batil, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (Terj. QS. Al Haj: 62)

Memaki hal yang batil dan menerangkan kebatilannya di tengah-tengah manusia adalah perkara yang diperintahkan. Akan tetapi, apabila yang demikian dapat menimbulkan mafsadat yang lebih besar, padahal masih ada cara lain untuk menyingkirkan kebatilan itu maka memaki sesembahan tersebut dilarang.

Berdasarkan hal ini, apabila seorang da'i melihat orang lain berada di atas kebatilan, namun orang itu menyangka dirinya benar, maka bukan termasuk cara dakwah yang diajarkan Allah kepada Rasul-Nya mengkritik langsung apa yang dipegangnya itu, karena yang demikian dapat membuatnya menjauh, bahkan terkadang membuatnya mengkritik kebenaran yang ada pada da'i tersebut. Cara yang benar adalah menerangkan kebenaran dan menjelaskannya, karena kebanyakan manusia –terutama kaum muqallid (yang ikut-ikutan)- tertimpa kesamaran terhadap kebenaran disebabkan hawa nafsu yang dominan dan taqlid (ikut-ikutan).

Kita yakin, bahwa kebenaran akan diterima oleh fitrah yang masih selamat, dan lambat laun kebenaran ini akan mewarnai pikirannya dan membekas di hatinya. Kita tidak mengatakan bahwa pengaruhnya segera, karena merubah hati manusia tidak semudah membalikan tangan, bahkan biasanya pengaruhnya akan tampak setelah beberapa lama.
Di samping hal di atas, seorang da'i harus sudah mengamalkan ilmunya. Janganlah ia seperti lilin yang menerangi sekitarnya namun dirinya habis terbakar.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَ يَنْسَى نَفْسَهُ مَثَلُ الْفَتِيْلَةِ تُضِيء ُلِلنَّاسِ وَ تُحَرِّقُ نَفْسَهَا
“Perumpamaan orang yang mengajar kebaikan kepada manusia, namun ia melupakan dirinya sendiri adalah seperti sebuah sumbu, ia menerangi manusia sedangkan dirinya sendiri terbakar.” (HR. Thabrani dari Abu Barzah dan Jundab, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5837)

2. IKHLAS

Seorang da'i hendaknya Ikhlas dalam berdakwah, tidak ada unsur riya’, mencari popularitas, martabat, jabatan, kekuasaan, harta dan segala ambisi dunia lainnya. Demikian pula tidak berdakwah kepada dirinya dan untuk membesarkan dirinya. Perhatikanlah kata-kata para nabi, “Wahai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?" (Terj. QS. Huud: 51)

Ini salah satu bukti keikhlasan mereka, dimana Perhatian mereka tertuju kepada keridhaan Allah dan pahala-Nya. Ingatlah selalu bahwa orang yang tidak ikhlas itu ibarat seorang musafir yang berbekal dengan mengumpulkan pasir, di mana apa yang dikumpulkannya tidak bernilai apa-apa dan menjadi sia-sia.

3. BERSABAR

Dalam berdakwah hendaknya seorang da’i bersabar ketika menghadapi rintangan dan tantangan. Karena sejak dahulu, dakwah itu tidak berjalan mulus begitu saja, tetapi penuh hambatan dan rintangan, maka hadapilah tantangan dan rintangan itu dengan kesabaran. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan Sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka.” (Terj. QS. Al An’aam: 34)

Lihatlah para nabi, mereka dihina, dicaci-maki, diberi gelar dengan gelaran yang buruk, diancam akan dibunuh atau diusir dan lain-lain, tetapi mereka bersabar dan tidak lekas marah.

Perhatikanlah keadaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebelum Beliau diutus, Beliau dikenal di kalangan orang-orang Quraisy sebagai orang yang jujur lagi terpercaya, namun setelah Beliau diangkat menjadi rasul, Beliau dikatakan pendusta, pesihir, penyair, dukun, orang gila dan sebutan-sebutan buruk lainnya.

Begitulah seorang da'i, ia akan mengalami rintangan dan gangguan baik dengan lisan maupun perbuatan. Namun semua rintangan itu akan luluh oleh kesabaran yang dimilikinya.

Ketahuilah, semakin besar gangguan yang menimpa da’i, maka semakin dekat pertolongan Allah. Ketahuilah, pertolongan Allah tidak mesti pada masa hidup seorang da’i, bahkan pertolongan Allah bisa diberikan kepada da’i setelah wafatnya, yakni dengan dijadikan-Nya hati-hati manusia menerima dakwahnya.

Tempuhlah jalan para nabi, mereka menghadapi tantangan, rintangan dan gangguan dengan kesabaran dan tidak membalas keburukan orang itu, tetapi membalasnya dengan kebaikan, mereka pun tidak marah karena dirinya disakiti, tetapi marah jika larangan Allah yang dilanggar. Ingatlah baik-baik firman Allah Ta'ala, “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Terj. QS. Asy Syuuraa: 43)

Untuk mencapai kesabaran, hendaknya seorang da’i meminta pertolongan kepada Allah, karena Allah-lah yang memberikan kesabaran dan membantunya untuk bersabar.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
“Bersabarlah dan tidak ada kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (penolakan) mereka serta janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (Terj. QS. An Nahl: 127)

4. JANGAN BOSAN

Seorang da’i pun hendaknya tidak bosan dalam berdakwah dan tetap bersabar, karena dengan begitu ia akan mendapatkan pahala kesabaran dan akan mendapatkan kesudahan yang baik. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
“Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Hud: 49)

Perhatikanlah Nabi Nuh 'alaihis salam yang berdakwah selama 950 tahun. Beliau berdakwah di siang dan malam tanpa bosan, dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, namun dakwah yang Beliau lakukan tidak membuat kaumnya kembali, bahkan membuat mereka menjauh dan malah menjauh. Setiap kali Beliau berdakwah, kaumnya sengaja menaruh jari-jemarinya ke telinga dan menutup kepala dengan bajunya karena tidak suka terhadap seruan Nabi Nuh 'alaihis salam (lihat Surat Nuh: 5-9).

Namun Beliau menghadapi semua itu dengan bersabar. Bayangkan selama 950 tahun lamanya Beliau berdakwah; waktu yang tidak sebentar (lihat surat Al 'Ankabut: 14), tetapi Beliau tidak bosan.

Jangan pula seorang da’i tidak bersabar sampai langsung mendoakan keburukan kepada mad’unya (orang yang didakwahi).

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (Terj. Al Ahqaaf: 35)
Ingatlah kewajiban da’i hanyalah menyampaikan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
“Karena Sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” (Terj. QS. Ar Ra’d: 40)

Da’i tidaklah dibebani agar orang-orang menerima hidayah, Allah-lah yang memberi hidayah. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
“Dan kalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya[i]. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Yunus: 99)


Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man waalaah.

Maraaji': Zaadu Daa'iyah (Syaikh Ibnu 'Utsaimin), Silsilah Ta'limil Lughatil 'Arabiyyah (mustawa 4 tentang Uslub dakwah), Ta'aawunud du'aat (Syaikh Ibnu 'Utsaimin), Ad Da'wah Ilallah (Syaikh Ibnu Baaz), Taisirul Karimir Rahman (Syaikh Abdurrahman As Sa'diy), Tafsir Al 'Usyril Akhir wayaliih ahkaam tahummul muslim, Maktabah Syaamilah, Mausu'ah Haditsiyyah Mushaghgharah, dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Article's :

QAULAN-SADIDA.BLOGSPOT.COM

SEKOLAH YUUK..!!