Kamis, 01 Desember 2011

UMAHAT FACEBOOKERS


UMAHAT FACEBOOKERS
(Menanggapi Fenomena say hello dengan suami SERTA update perasaan terkini di FB)


maka hendaknya kalian para Umahat jadikanlah diri-diri kalian mempunyai ke kemuliaan, apakah hadir kalimat kemuliaan kiranya anda bertingkah seperti orang jahiiyah, bermesraan di publik ?
apakah hadir kemuliaan pada diri kalian sebagai umahat yang mengajari anaknya untuk tidak bermaksiat kepada Allah akan tetapi kalian sebagai orang tua bermesraan di Facebook?

Abu Usaamah Sufyan Bin Ranan Al Bykazi
Bismillah,

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan shalawat serta salam tertuju pada sayidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam serta para shahabatnya yang semoga Allah meridhoi dan melaknat Syi'ah Ar Rafidhah dengan sekejam-kejamnya laknat..!!

Fenomena yang kagak kalah mesra dengan orang yang berpacaran dipinggir jalan atau PSK yang dipinggir sungai, adalah fenomena yang menaungi sebagian Umahat, mereka telah faham agama, mereka insya Allah terlepas dari fitnah pacaran dan menikah dengan se Syar'i syar'inya, hari-hari mereka insya Allah menuntut ilmu namun syaithan mencetak 1 Gol kegawang hati kecil para umahat sehingga mereka tiada 'izzah, tiada wibawa nan mulia dimata orang yang melihat dan membacanya, yakni Bermesraan say hello, mizz u to, di tempat terbuka dengan produk rendahan sekelas Facebook, dan inilah macam-macam dari Update Status seorang Wanita/akhwat/ibu muda de el el berkata :
"Suami ku lum puyang...."
"ana uhibukafillah jauzi"
"masak apa yah.... ehm sayangku lagi kerja.."
"aku cinta sayng padamu, ehm aku cemburuuuuuuuu.."
"sayang sudah makan belum..!!

Dan BuAAAAANYAK lagi update status yang ngalor ngidul, timur barat gag jelas dan wallahi, demi Allah tidak ada faedahnya sedikitpun,, seujung rambut tidak ada faedah komentar-komentar diatas.., inilah tulisan saya kedua kalinya menyoroti facebook stelah artikel "Facebook is my life", sekali lagi saya tidak menyalahkan Facebook karena facebook adalah tekhnologi sama seperti Handphone, yang saya salahkan adalah Manusia yang kurang memiliki kemuliaan diri dengan menmpilkan serendah-rendahnya dan murahnya mahligai rumah tangga yang mereka jalani dengan mudahnya ditembus dan diterawang oleh orang lain lewat account Facebook.

Alhamdulillah Allah memudahkan tekhnologi yang ada dan saya tidak menafikan bahwa Istri saya punya account facebook namun insya Allah saya mengawasinya, dan saya tidak mempunyai facebook,dan sengaja untuk tidak bergabung difacebook dengan beberapa pertimbangan, dan terlepas dari itu, istri saya melihatkan kepada sya tentang banyaknya umahat baik yang sudah bertahun-tahun menikah,atau yang midle, sampe yang baru Menikah, diperlihatkan komentar-komentar yang tidak layaknya para umahat mengupdate status demikian dengan tidak tau malu atau urat malunya hilang sehingga bermesraan bagaikan suami dan istri tak bertemu 10 tahun,dan seperti tiada waktu lagi untuk bertemu dan bermesraan dirumah, mereka nekat untuk membongkar harga diri rumah tangga mereka, dari yang menyenangkan, yang intim, yang mesra sampe frustasi dengan suami di update status.. waiyadzubilllah..

wahai para umahat Simaklah dengarkanlah kiranya anda memiliki telinga yang sehat :

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati seperti syaithan wanita dan syaithan laki2 yang sdg berhubungan di pinggir jalan dan dilihat orang2. (HR. Ahmad, VI/456-457)

Dizaman Nabi, hanya dipinggir jalan wahai ibu-ibu... wahi mba-mba.. wahai umahat.. dizaman Nabi hanya dipinggir jalan yang melihat cuma 1, 2,3 orang, ini saja yang bermesraan tersebut dikatakan syaithan laki-laki dan syaithan perempuan, lalu bagaimana dengan anda yang update di facebook ratusan bahkan jutaan orang melihat update status anda yang sedang bermesraaan, say hello, ngeluh, dan seterusnya pada suami di account Facebook, wallahulmustaa'an.

UPDATE STATUS :"ANA UHIBUKA ILLAH WAHAI SUAMINKU, AKU CINTA PADAMU"

Kami katakan :

Ibu-ibu.. mba-mba atau para akhwat yang baru nikah dan bertahun-tahun menikah, apakah tidak ada waktu dan tempat yang lain untuk mengatakan "aku cinta padamu"? apakah suami anda tidak bertemu anda dirumah..?
sampai anda mengikhlaskan kalimat mesra terlontar di dinding facebook??

Camkanlah wahai umahat firman Allah “Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

maka hendaknya kalian para Umahat jadikanlah diri-diri kalian mempunyai ke kemuliaan, apakah hadir kalimat kemuliaan kiranya anda bertingkah seperti orang jahiiyah, bermesraan di publik ?
apakah hadir kemuliaan pada diri kalian sebagai umahat yang mengajari anaknya untuk tidak bermaksiat kepada Allah akan tetapi kalian sebagai orang tua bermesraan di Facebook?

wallahi musibah.. melanda kalian waiyyadzubillah.

UNTUKMU.. PARA UMAHAT


Tidaklah menjadi rahasia lagi bagi setiap muslim bahwa segala kenikmatan –yang dilimpahkan Allah Ta’ala kepada kita– tidak terhitung jumlahnya. Di antara nikmat-nikmat tersebut adalah ketersediaan Media maya atau Internet. Allah Ta’ala yang memudahkannya untuk kita, dengan segala kemurahan dan kemuliaan-Nya. Seorang muslim yang cerdas tidak akan salah menyikapi nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. Allah Maha Mengetahui, siapa saja hamba yang bersyukur di antara sekian banyak hamba yang kufur (ingkar).

Hendaknya kita tergolong orang yang pandai bersyukur atas nikmat-nikmat tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

وَاشْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan syukurilah nikmat Allah, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (Q.s. An-Nahl: 114)

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (Qs. An-Nahl : 53)

Akan tetapi kiranya Media Internet yang kalian pakai, media yang kita pakai ini diselewengkan dengan sesuatu yang idak ada sedikitpun manfaat, yang sedikitpun tidak pantas untuk dilakukan, maka kita akan dipertanyakan, terlebih lagi sesuatu yang kita bisa lakukan dirumah dengan suami atau dengan istri, entah dipaksakan atau Hoby tiada malu untuk bermesraan di account Facebook.

Wahai Umahat.. INGAT SUAMIMU

DIsisi lain dari tingkah laku sebagian Umahat Facebookers, yang bermesraan dengan suami nya dan membongkar aktivitas keseharian mereka dari bangun tidur sampe beli sayurpun diupdate di Fb, selain itu Sebagian Umahat tak tau malu yakni menghadirkan dan menjadikan TEMAN Fb dari kalangan laki-laki,Tentu sudah tidak asing lagi namanya bagi kita. Telah ada artikel yang menasehatkan tentang bahayanya jika kita melakukan “add” atau “confirm” terhadap lawan jenis atau artikel tentang cara ber-FB agar kita tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Akan tetapi, hanya sebagian orang yang mengambil hikmahnya.

Renungkanlah …. Bukan berarti jika kita tidak melakukan “add” atau “confirm” terhadap lawan jenis lantas kita telah aman dari fitnah (godaan). Kembali ingatlah perkataan Ibnu Mas’ud, bahwa inti ilmu adalah rasa takut kepada Allah Ta’ala.

Sebaiknya kita pun cerdas dalam menilai suatu pesan itu penting atau tidak jika kita kirimkan untuk lawan jenis. Bisa saja tidak terlalu penting, namun dibuat agar terkesan penting. Bisa jadi pula, pertanyaan yang diajukan tidak terlalu bermanfaat, namun dibuat-buat agar terlihat bermanfaat. Semua fenomena ini bisa saja terjadi pada ikhwan maupun akhwat. Masalah ini hendaknya jangan diremehkan. Jangan sampai kita tenggelam dalam dosa hanya gara-gara penggunaan FB yang melampaui batas.

Cermatilah sebuah syair dari Ibnu Mu’taz berikut ini.

“Tinggalkan dosa-dosa, baik yang kecil maupun yang besar
Itulah takwa
Bersikaplah seperti orang yang berjalan di atas tanah berduri
Ia akan berhati-hati kepada perkara yang dilihatnya
Janganlah kau remehkan sesuatu yang kecil
Karena gunung itu berasal dari kerikil-kerikil kecil.” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, I:402)

Mungkin kita pernah mendengar sebagian orang menjawab seperti ini jika menjumpai pembahasan “add” atau “confirm“ terhadap orang yang bukan mahramnya, “Cuma seperti itu saja diributkan. Yang penting ‘kan niatnya baik. Tujuannya ‘kan baik, yaitu untuk berdakwah. Jadi, kalau ada FB ikhwan atau akhwat di FB kita, ya tidak apa-apa lah! Jangan dibuat ribet!”

Mari kita tanyakan kepada hati kita yang paling dalam, apakah kita bisa menjamin keadaan hati kita dari adanya fitnah (godaan)? Apakah kita sudah mampu mendirikan benteng kokoh agar tidak ada fitnah yang datang menggerogoti kehidupan kita? Ataukah kita telah memiliki kemampuan untuk menerka waktu akan datangnya fitnah (godaan) ke dalam hari-hari kita? Sementara, hati kita ini diciptakan dalam keadaan lemah ….

Allah Ta’ala berfirman,

وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً

“Manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah.” (Q.s. An-Nisa’: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah. Fitnah yang bagaikan potongan gelapnya malam; seseorang yang beriman di pagi hari kemudian menjadi kafir di sore hari, atau seorang yang beriman di sore hari kemudian menjadi kafir di pagi harinya. Dia menukar agamanya dengan sebagian perhiasan dunia.” (H.r. Muslim, no. 328)

Ingatlah, hati kita ini terletak di antara dua jari-jemari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.” Kemudian ada yang bertanya tentang doa tersebut. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya, tidaklah anak Adam melainkan hatinya berada di antara dua jari dari jemari-jemari Allah. Siapa saja yang dikehendaki maka Allah akan luruskan dia, dan siapa yang dikehendaki maka Allah akan simpangkan dia.” (H.r. Tirmidzi, no. 3517; Syekh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Mungkin juga, kita meremehkan dosa-dosa kecil dengan melakukan “add” atau “confirm”, hingga akhirnya kita bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahram kita, lalu penghujungnya adalah datangnya badai musibah dalam kehidupan kita.

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.s. Asy-Syura`: 30)

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al-Jawabul Kafi, hlm. 87)

Perkataan Ali radhiallahu ‘anhu tersebut selaras dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.s. Asy-Syura`: 30)

Para ulama salaf pun mengatakan yang serupa dengan perkataan di atas.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari perbuatan dosa adalah hilangnya nikmat, dan akibat dosa adalah datangnya bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula, datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al-Jawabul Kafi, hlm. 87)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Tidaklah suatu kejelekan (kerusakan) disandarkan pada sebuah hal melainkan pada disandarkan pada dosa karena semua musibah disebabkan oleh dosa.” (Latha’if Al-Ma’arif, hlm. 75)

Wahai para lelaki muslim, pahami dan renungilah perkataan-perkataan berikut ini!

Umar bin Abdul Aziz mewanti-wanti penasihatnya, Maimun bin Mahran, agar tidak berdua-duaan dengan wanita meskipun dengan alasan mengajarkan Alquran, “Aku memberi wasiat kepadamu dengan wasiat yang harus kau jaga. Janganlah engkau berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahrammu, walau batinmu berkata bahwa kau akan mengajarinya Alquran.” (Lihat kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, V:272)

Hendaknya, kita pun memegang erat-erat wasiat Umar bin Abdul Aziz tersebut. Jangan merasa diri kita aman dari fitnah (godaan).

Oleh karena itu, semoga Allah merahmatimu …. Berhati-hatilah dalam menghadapi faktor-faktor bencana. Orang yang mendekati fitnah akan sulit selamat darinya. Sebagaimana kehati-hatian diiringi oleh keselamatan, tindakan mendekati fitnah itu akan diiringi oleh kebinasaan. Jarang ada orang yang selamat dari fitnah setelah dia mencoba mendekatinya. Yaitu, ia tidak terbebas dari memikirkan, membayangkan, dan menginginkannya. Semua ini menggelincirkan. (Dzammul Hawa’, hlm.153)

Melanjutkan perkataan di atas, Ibnul Jauzi menguraikan nasihat, “Seandainya berduaan dengan wanita ajnabiyyah (bukan mahram) diperbolehkan, kamu tetap tidak dapat selamat dari penyakit-penyakit ini. Terlebih lagi, ternyata itu diharamkan.” (Dzammul Hawa’, hlm.153)

Terdapat sebuah nasehat dari seorang sahabat wanita muslimah di seberang sana, ketika saya bertanya padanya apakah dia melakukan “add” atau “confirm” pada lelaki yang bukan mahram. Jawabannya sederhana dan membuat saya kagum.

Ketika itu saya bertanya, “Maaf, Ukhti. Apakah anti melakukan ‘add‘ atau ‘confirm‘ kepada yang bukan mahram?”

Beliau menjawab, “Tidak, Ukhti. Di facebook saya hanya ada mahram saya, sehingga hanya ada 35 orang yang memang jelas mahram saya.” Kemudian beliau pun berkata kepada saya “Wahai saudariku, kapan kita akan menaati perintah Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertakwa kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika bukan sekarang!!”

Padahal tidak pernah sedikit pun kita mengetahui arah kedatangan maut. Memiliki facebook bukan untuk bermaksiat, namun seharusnya setiap kaum muslimin semakin hati-hati dalam menggunakan kenikmatan tersebut agar tidak terjerumus ke dalam lubang hitam kemaksiatan. Begitulah jawabannya. Padahal beliau telah menikah dan memiliki tiga orang anak. Lantas, bagaimana kita yang belum menikah? Apakah kita telah merasa aman dari fitnah? Tentu saja, ini berlaku bagi para lelaki muslim maupun wanita muslimah.

Allah berfirman,

وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“… Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.s. Al-Baqarah: 231)

وَاتَّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

“Dan peliharalah dirimu (dari azab yang terjadi) pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan sempurna sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (Q.s. Al-Baqarah: 281)

Penutup

Kesimpulan dari pembahasan ini yakni :

1. Jagalah 'izzah keluarga, jangan sampai semua orang tahu kepribadian rumah tangga kita, kiranya ada suatu kesenangan curhatlah dan tumpahkan kesenangan itu kepada keluargamu niscaya berkah, dan kiranya ada suatu permasalahan dalam rumah tangga demi Allah, Rabbuna Allah 'azza wajalla lebih layak untuk bercuhat dengan nya maka Facebook bukan lah tempat meluahkan kesenangan sehingga melewati batas semua di update, facebook bukan pula tempat curhat kesedihan, akan tetapi Facebook hanya media biasa, tidak lebih dari itu, maka gunakan sewajarnya.

2. Janganlah kalian di dalam facebook untuk bebas bergaul, ikhwan dan akhwat bercampur di FB dan Chating, maka suatu kefasikan. maka jagalah diri dari ikhtilath. wallahu'alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Article's :

QAULAN-SADIDA.BLOGSPOT.COM

SEKOLAH YUUK..!!